Pilihan EditorSemasa Corona

Tangan yang Terentang dalam Sebongsang “Donasi Sayur”

Ada mata rantai yang terputus. Di hulu sana, Dusun Tunggilis Pojok, Cianjur, Jawa Barat, para petani resah. Panenan sayur tak terserap dengan baik. Tak sedikit yang terbuang. Sudah pula dibagi-bagikan. Pun jika berhasil terjual, dihargai sangat murah. Keuangan bandar tak lancar, tak sanggup membeli banyak panenan para petani seperti biasa, sekaligus tak mampu memenuhi dengan baik permintaan dari hilir, yakni pasar-pasar di Jakarta. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah pandemi virus corona.

Seorang teman, Anastasia Ika, kemudian memutar otak. Di buku kecilnya, ia menarik garis, membuat dua kolom, kiri dan kanan. Kolom kiri, ia beri judul “Petani.” Kolom kanan, “Warga Miskin.” Ia tuliskan juga kebutuhan pada tiap kolom itu, lalu menemukan satu kesamaan: vitamin.

Ketika pandemi ini mulai menjalar, vitamin berada pada deretan atas rangkaian kebutuhan yang berguna untuk menjaga imunitas tubuh, selain arahan untuk berada di rumah saja guna memutus rantai penyebaran virus corona.

Di suatu sore, Ika mengirim sebuah pesan di grup WhatsApp. Pesannya cukup panjang. Kalimat itu dimulai dengan, “Selamat siang, Bapak-Ibu-Oom-Tante sekalian. Saya mewakili teman-teman petani sayur di sekitar Tunggilis dan Sarongge….”

Kang Dudu sedang memanen cabe di Dusun Tunggilis Pojok/Donasi Sayur

Ika menjelaskan tentang sebuah program donasi; menyumbang sejumlah uang yang akan dikonversi menjadi 200-300 paket sayur-mayur panenan petani Dusun Tulinggis Pojok yang dikemas dalam satu bongsang atau keranjang anyaman bambu berlapis daun pisang tanpa plastik. Paket bongsang sayur itu kemudian akan diberikan kepada warga miskin atau kelompok-kelompok paling rentan terdampak pandemi. Satu bongsang dihargai Rp25.000, setimpal dengan harga sayur-mayur yang ada di dalamnya, upah memanen dan menata paket, pun keringat-keringat yang mengucur di tubuh petani.

Beberapa hari sebelum pengiriman, Ika akan berkeliling ladang, mendata sayur yang siap dituai. Ia juga memutar otak agar sayur satu keranjang itu bisa diolah menjadi satu atau dua jenis masakan untuk empat orang dalam tiga kali makan, berharap tidak ada yang terbuang.

Paket-paket itu akan dibawa dengan mobil pikap yang mampu menampung 200-300 bongsang dalam satu kali ekspedisi ke satu lokasi dan diserahkan kepada penerima lalu dibagi-bagikan kepada warga yang membutuhkan. Sebenarnya, satu pikap bisa memuat lebih dari 300 bongsang, tapi jika hal itu dipaksakan sayur-mayur bisa rusak.

Barangkali mengajak orang lain berdonasi adalah perkara mudah, tapi bagaimana 300 bongsang itu bisa diantarkan ke satu titik dan tersalur dengan baik?

“Sementara aku sebar di Facebook, ya, Ika. Aku enggak tahu titik sasarannya. Biar ketemu banyak kemungkinan,” tulis saya menyambung obrolan.

Tangan terentang. Pesan pun estafet dari satu laman ke laman lainnya, disebarkan ke kelompok-kelompok teman terdekat yang barangkali punya potensi.

Empat orang warga Dusun Tunggilis Pojok sedang menata bongsang/Donasi Sayur

Lalu bersambut. Unggahan di media sosial itu kemudian sampai dan terbaca oleh Dimas Jayasrana, inisiator Lumbung Pangan, sebuah gerakan yang kurang lebih memiliki kesamaan visi-misi dengan program yang Ika inisiasi; pemenuhan kebutuhan dapur dan lauk untuk warga. Lumbung Pangan juga akhirnya menjawab pertanyaan perihal pendistribusian 300 bongsang itu. Satu pintu akan bertemu dengan pintu lainnya yang senada.

Program ini kemudian berkembang menjadi gerakan Donasi Sayur dengan tagar #bantupetanibantusesama. Banyak orang tergerak membantu. Tanpa diminta, bersama-sama merentangkan tangan, menyambung rantai vitamin yang semula terputus. Orang-orang menyisihkan sebagian uang untuk disumbangkan. Bahkan ada yang rela menerjang hujan kemudian mengirimkan foto bukti transfer berupa kertas resi basah dan lusuh yang tak mungkin tidak menggugah mata yang melihat.

Isi bongsang yang hendak disalurkan/Donasi Sayur

Pandemi ini mengubah banyak hal yang menurut saya bergerak ke arah positif. Orang-orang mengubah perilaku, menjadi sadar kebersihan dan kesehatan diri, peduli terhadap sesama karena rasa empati, serta lebih peduli kepada lingkungan sekitar. Corona membuat kita menuju era peduli kemanusiaan dan kelestarian alam raya.


Jumat, 29 Mei 2020. Donasi tahap pertama sudah memenuhi target 200 bongsang. Lepas istirahat siang, langit Tunggilis semu pucat mengantar halimun beranjak turun, menyisakan pemandangan Gunung Gede-Pangrango yang ikut-ikut memucat. Sebentar lagi hujan. Ika baru saja selesai berkeliling ladang, mendata sayur-mayur yang siap panen untuk isi bongsang.

Seturut rencana esok hari, para petani memungkas tuaian pada pagi hingga siang, ketika matahari bungah memancarkan semangat. Lalu pada sore ibu-ibu berkumpul di sanggar, melapisi bongsang dengan daun pisang, mengepak sayur-mayur.

Antrean warga yang menunggu penyaluran bongsang sayur/Lumbung Pangan

Pada subuh di hari berikutnya, mobil pikap hitam melaju dari Cianjur, menyusuri Jalan Raya Puncak yang meliuk-liuk dan dingin. Di balik kemudi, Kang Ojek ditemani Kang Dudu yang mengepalai Kelompok Tani Satria Mandiri, membawa 200 bongsang berisi sayur-mayur hasil panen menuju Gondangdia, Jakarta. Mereka tiba di kantor Lumbung Pangan pada jam setengah tujuh pagi.

Jam tujuh pagi, warga mengantre dalam dua baris, mengikuti protokol keselamatan dengan menjaga jarak sepanjang satu meter dan mengenakan masker, siap menerima bongsang sayur dan kebutuhan dapur lainnya.

Seorang warga menerima sebongsang sayur/Lumbung Pangan

Kang Dudu tidak melepaskan sarung tangannya selama di Jakarta. “Nanti kena virus,” katanya. Namun, barangkali hatinya bahagia melihat tuaian vitaminnya sampai ke orang lain.

Saya menyaksikan itu semua dari balik layar gawai, menggeser satu per satu foto yang dikirimkan Ika, melihat semangat teman relawan Lumbung Pangan mendata dan mengatur warga—katanya mereka datang tanpa diminta, melihat senyum-senyum yang mengembang.

“Ika, kira-kira boleh enggak aku pakai foto Lumbung Pangan untuk tulisan? Tolong izinkan ke Mas Dimas,” tulis saya mengirim pesan ke Ika.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mengalir sampai jauh. Terbang hingga menghilang.

Perempuan Banyu

Mengalir sampai jauh. Terbang hingga menghilang.
Artikel Terkait
Pilihan EditorTravelog

Mengulang Waktu di Timur: Sumba (1)

Pilihan EditorTravelog

Di Pecinan Glodok Aku Mencari Kue Bulan dan Menemukan Gus Dur

Pilihan EditorTravelog

Ciremai dan Kesempatan Kedua

Semasa Corona

Akhir Perjalanan Tiga Tahun di Kota Istimewa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *