Travelog

Tak Sengaja Menemukan Tugu Helm Kopral Syarif

Iseng-iseng ngelayap merayapi salah satu sisi selatan kawasan Cianjur, Jawa Barat, akhirnya malah menemukan lokasi Tugu Kopral Syarif. Siapakah dia? Dan apa jasanya bagi Indonesia?

Minggu (2/10/2022) pagi, saya iseng dolan ke kawasan Cibeber, salah satu kecamatan di Kabupaten Cianjur. Dari ibu kota Kabupaten Cianjur, Cibeber berjarak sekitar 17 kilometer ke arah selatan. Adapun dari Bandung, ibu kota Provinsi Jawa Barat, Cibeber berjarak sekitar 80 kilometer ke arah barat daya.

Terdapat sejumlah rute yang dapat kita pilih dari Bandung menuju Cibeber. Rute mainstream yaitu melalui jalan nasional, Jalan Raya Bandung–Cianjur via Lingkar Selatan yang menuju Terminal Pasir Hayam. Dari Pasir Hayam, kita masih terus ke selatan mengikuti jalur jalan yang mengarah ke Sindang Barang, di kawasan Laut Kidul. Jarak dari Pasir Hayam ke Cibeber sekitar 11 kilometer—tak begitu jauh.

sawah
Hamparan Sawah di Cibeber/Djoko Subinarto

Minggu pagi di awal Oktober itu, dari arah Bandung, saya memilih tak sepenuhnya menggunakan rute mainstream untuk menuju Cibeber. Saya merayapi Jalan Raya Bandung–Cianjur hanya sampai kawasan Cipeuyem. Persis sebelum Stasiun Kereta Api Cipeuyeum, ada jalan ke arah kiri. Nama jalannya adalah Jalan Hegarmanah. Saya masuk ke jalan tersebut. 

Beberapa kali meneliti peta Google, jalan tersebut tampak bisa tembus ke kawasan Cibeber. Saya pikir kenapa tidak mencoba menjelajahi jalan ini. 

Beberapa meter memasuki Jalan Hegarmanah, yang tak terlalu lebar itu, saya jumpai seorang penjual roti bakar. Sekalian saja saya istirahat sembari membeli roti bakarnya. Penjual roti bakar itu seorang pria. Sudah rada sepuh. Ia menjual roti bakar menggunakan sebuah gerobak dorong. 

“Mau yang mana? Ada yang lima ribu. Ada yang tiga ribu,” katanya, dalam bahasa Sunda aksen Cianjuran.

Saya memilih yang tiga ribu. Saya memesan tiga potong roti. Bapak penjual roti bakar itu segera menyiapkan pesanan saya.

Sembari menunggu pesanan, saya menanyakan rute menuju Cibeber kepadanya.

“Ikuti terus saja jalan ini. Nanti bisa sampai Cibeber. Sudah bagus jalannya. Dulu mah, jalannya rusak. Cuma ke sana nggak ada angkot. Kalau pun mau pakai sepeda motor, harus yang mesinnya bagus dan remnya juga pakem. Ke selatan, jalannya nanjak-mudun,” jelasnya.

Penjual roti bakar itu menambahkan bahwa untuk menuju Cibeber bisa juga naik kereta api Siliwangi, dari Stasiun Cipeuyeum. Kereta ini melayani trayek Sukabumi–Cianjur–Cipatat. Ia mengatakan hal tersebut sembari membungkus tiga potong roti bakar pesanan saya dan kemudian memberikannya kepada saya.

Saya masukkan roti bakar dalam bungkusan plastik putih dan masih terasa hangat itu ke dalam ransel. Kemudian saya sodorkan selembar uang kertas Rp5.000 dan dua lembar Rp2.000. Saya pun segera pamit.

Suasana perdesaan kental terasa. Sawah maupun ladang terlihat membentang di sela-sela permukiman. Di kejauhan, tumpukan gunung serta bukit juga terlihat jelas berkat cuaca cerah pagi itu.

Benar kata bapak penjual roti bakar, mendekati kawasan Cibeber, kontur jalan turun-naik. Di beberapa titik, turunannya lumayan curam. Beruntung, jalan sudah berupa cor beton. Cukup mulus.

Di salah satu titik jalan yang agak landai, saya berhenti persis di bawah naungan sebuah pohon pisang yang tumbuh di kebun milik warga. Di depan saya, terbentang hamparan sawah. Terlihat samar-samar, nun jauh di sisi barat, Gunung Gede–Pangrango.

Saya teruskan perjalanan. Tiga atau empat tanjakan tebal saya lewati. Termasuk juga beberapa jembatan. 

Di sebuah titik lain, kembali saya berhenti. Yang membuat saya berhenti adalah deretan pohon bunga zinnia yang menjadi pembatas antara tepi jalan dengan lahan sawah yang terlihat sedang dipersiapkan untuk ditanami. Saya menyaksikan beberapa kumbang mungil dan kupu-kupu kuning kecil terbang hilir mudik mengitari rumpun bunga zinnia itu.

  • Bunga Zinia/Djoko Subinarto (1)
  • Bayam ekor kucing

Bergegas lagi menuju lebih ke selatan, kali ini yang saya temui sebagai pembatas antara tepi jalan dan sawah yang masih belum digarap adalah bunga bayam ekor kucing (boroco). 

Beberapa tanjakan tipis kembali harus saya lewati. Cuaca yang kian terik membuat butir-butir peluh bermunculan menghiasi sudut-sudut wajah saya. Saya perlu menepi mencari warung untuk membeli air minum. Tak jauh dari sebuah pertigaan, ketika celingukan kanan-kiri mencari warung itulah, pandangan mata saya tertumbuk pada sebuah tugu yang ada di seberang jalan.

Saya segera dekati tugu itu. Tertulis di dinding belakang tugu: “Tugu Pahlawan Revolusi Kemerdekaan.” Adapun tulisan yang tertera di tugu berbunyi: ”Gugurnya Kopral Syarif 1949”. Di atas tugu teronggok sebuah helm tentara.

Lantas, siapakah Kopral Syarif? Dan mengapa ada tugu untuknya? Pertanyaan itu terngiang di kepala saya.

Beberapa literatur menyebut nama lengkap Kopral Syarif adalah Kopral Syarif Waluyo. Ia adalah anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dari Resimen Tangerang yang, saat masa Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia, sempat ditugaskan di kawasan Cianjur.

Konon, suatu ketika, satu kompi pasukan Belanda melintas di wilayah Cijaruman, Cibeber. Kopral Syarif, bersama dua temannya, melihat hal ini dan segera memutuskan melakukan penghadangan. Kontak senjata tak terhindarkan. Namun, karena ketiga pejuang itu kalah jumlah dan juga kalah dalam hal amunisi, ketiganya terkepung oleh pasukan Belanda. Kopral Syarif bersama dua rekannya akhirnya gugur di medan laga.

Untuk menghormati dan mengingat jasa Kopral Syarif inilah, warga lantas membuat tugu di lokasi di mana berlangsungnya pertempuran yang menewaskan Kopral Syarif dengan dua rekannya—yang hingga kini tidak pernah diketahui namanya.

Tugu Kopral Syarif
Tugu Kopral Syarif di Cibeber Cianjur/Djoko Subinarto

Tugu Kopral Syarif sendiri telah ada sejak tahun 1950. Tahun 2013 silam, tugu ini direnovasi. Posisi Tugu Kopral Syarif berada di sisi kanan jalan menuju arah Cibeber, yang berbukit-bukit, sekitar lima kilometer sebelum Kantor Kecamatan Cibeber.Tentu saja, sampai kapanpun, saya tak akan pernah mengetahui keberadaan Tugu Kopral Syarif ini andai tidak iseng ngelayap ke Cibeber via jalur Hegarmanah di awal Oktober itu.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Kembali ke Fatubraun

    Pilihan EditorTravelog

    Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

    Perjalanan LestariTravelog

    Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.