NusantarasaTravelog

Sarapan dengan Semangkuk Lontong Kari Kebon Karet

Guys, besok pagi kita mau sarapan apa?” tanya salah satu teman saya sebelum kami bergerak untuk tidur di malam hari. “Terserah”, “ikut aja”, dan “bebas” adalah jawaban dari teman-teman saya yang lainnya. Seorang teman kemudian memberikan beberapa pilihan makanan kepada kami. Dari beberapa pilihan yang ia tawarkan, kami sepakat memilih lontong kari karena lokasinya tidak jauh—berkisar 800 meter—dari tempat kami menginap di daerah Braga, Bandung. Segera, kami menuju Gang Kebon Karet, Jalan Otto Iskandar Dinata untuk menyantapnya.

Sebenarnya ada banyak lokasi lontong kari lainnya, namun menurut teman saya, di mesin pencari Google dan media sosial, Lontong Kari Kebon Karet mendapatkan rekomendasi paling banyak sebagai salah satu lontong kari terenak di Kota Bandung.

Lontong Kari Kebon Karet
Jalan kaki menuju Lontong Kari Kebon Karet/Nita Chaerunisa

Perjalanan Menuju Lontong Kari Kebon Karet

Bermodal arahan dari Google Maps, saya dan teman-teman saya berjalan kaki menuju lokasi Lontong Kari Kebon Karet mulai sekitar pukul 08.45 WIB. Dari Braga, kami belok kiri ke Jalan Suniaraja, kemudian kami menyeberang Jalan Perintis Kemerdekaan. Tidak jauh dari situ, kami putar balik tepat di depan Kantor Pusat PT Kereta Api Indonesia, menuju Jalan Kb. Jukut. Setelah kurang lebih 300 meter menyusuri Jalan Kb. Jukut, kami belok kanan menuju Jalan Jalan Otto Iskandar Dinata. Kurang dari 100 meter setelah belok, di sebelah kanan jalan, terpampang gapura bertuliskan Kebon Karet di depan sebuah gang sempit. Ya, kami sudah hampir sampai lokasi. Tak jauh dari gapura, mungkin hanya berkisar kurang lebih 50 meter, kami segera tiba.

Gang Kebon Karet
Gang Kebon Karet yang dipenuhi spanduk dan banner/Nita Chaerunisa

Dari awal masuk gang sampai ke depan rumah makan lontong kari banyak spanduk dan banner yang berisi info Lontong Kari Kebon Karet. Saya jadi bergumam dalam hati, “Mengapa nama tempatnya dipasang sebanyak ini dan bahkan ada yang terpasang di tempat yang tinggi? Apakah mungkin supaya dapat dilihat orang dari banyak sisi? Supaya orang dapat mudah menemukannya, karena lokasinya yang berada di gang sempit?” Gang ini terbilang sempit karena motor dan pejalan kaki yang dapat melaluinya.

Sesampainya di sana, kami tidak bisa langsung masuk ke dalam rumah makan untuk memesan makanan. Kami harus menunggu terlebih dahulu di luar rumah makan dengan berdiri dan berjejer, karena kondisi rumah makan penuh pengunjung. Sebenarnya, saat masih di jalan, kami sudah mendapat info rumah makan penuh dari salah dua teman kami yang tiba terlebih dulu. Mereka berangkat dari tempat yang berbeda dengan saya, jaraknya pun lebih dekat.

Meski sudah mendapatkan kabar melalui pesan WhatsApp bahwa rumah makan Lontong Kari Kebon Karet sedang penuh pembeli, namun hal itu tidak menghentikan langkah kami yang sedang berjalan kaki menuju ke sana. Kami sudah terlanjur jalan, bayangan semangkuk lontong kari yang katanya enak terus mengitari dalam pikiran.

Tak harus menunggu lama, kami mendapat tempat untuk makan. Namun dengan jumlah kami yang mencapai 14 orang, kami tidak dapat makan di kursi dan meja secara berdekatan. Saat itu waktu menunjukkan pukul 9 pagi, waktu yang pas untuk menyantap lontong kari sebagai menu sarapan. Tak heran, pembeli yang datang jauh lebih banyak.

Seperti Makan di Rumah Teman

Saya dan 8 orang teman saya makan di suatu ruang depan dari sebuah rumah yang seperti disulap menjadi tempat makan. Ada meja dan kursi panjang seperti di rumah makan pada umumnya. Bedanya, ini diletakkan di ruang depan dari sebuah rumah. Ruangan ini dipisahkan dengan ruang tengah rumah hanya dengan lemari kayu yang di sampingnya terdapat akses menuju ruang tengah tersebut. Melalui akses itu kami dapat melihat langsung kondisi ruang tengah yang terdapat sofa dan mainan anak. 

Rumah ini berada persis di samping tempat makan utama Lontong Kari Kebon Karet. Kami merasa seperti mendapat tempat VIP karena hanya kami yang makan di sini, bahkan dengan suasana homey yang didapatkan membuat kami merasa seperti sedang makan di rumah teman. Sementara itu teman saya yang lainnya makan di tempat makan utama, yang bangunannya didominasi keramik berwarna merah tua.

Tak lama setelah mendapat tempat, kami langsung memesan makanan pilihan kami sesuai dengan menu yang tersedia. Ada dua pilihan menu kari, yaitu lontong dan mi. Ada lontong kari  dan mi kari spesial. Namun ada pula lontong kari biasa. Untuk pilihan minuman pendampingnya ada es campur, beberapa pilihan jus, brand teh dalam botol, air mineral, dan teh tawar.

Saya sendiri memilih untuk makan lontong kari biasa dan minum teh tawar hangat. Sedangkan teman saya yang lain ada yang memesan lontong kari spesial dan ada pula yang memesan mi kari spesial. Saya lebih memilih lontong kari biasa daripada spesial karena saya pikir porsi spesial akan lebih banyak dan saya takut tidak habis. Namun ternyata saat pesanan saya datang, porsi lontong kari biasa juga banyak. Sedangkan untuk minuman, di suasana yang masih pagi, saya pikir teh tawar hangat merupakan pilihan yang tepat untuk masuk ke dalam tubuh. 

Meskipun situasi rumah makan sedang ramai, pesanan kami tidak datang terlalu lama. Melihat seporsi lontong kari yang penuh di dalam mangkuk, saya langsung menggerakkan sendok dan garpu saya untuk melihat lebih jelas komponen apa saja yang ada di dalamnya. Satu mangkuk lontong kari biasa terdiri dari lontong, irisan daging sapi tanpa lemak, telur puyuh rebus, kentang rebus, kacang dan bawang goreng serta emping. 

Perpaduan isi dan kuah kari yang cukup kental langsung menggoyangkan lidah saya, saat suapan pertama masuk ke mulut. Untuk suapan pertama, saya memilih untuk tidak terlebih dahulu menambahkan sambal dan acar timun yang disediakan di atas meja, saya ingin mencoba rasa originalnya. Ketika ditambah dengan sambal dan acar timun, rasa kuah kari menjadi lebih segar. 

Saya melihat di mangkuk teman saya yang memesan lontong kari spesial terdapat tambahan sepotong telur rebus. Saya dan teman-teman saya saling mencoba makanan kita yang berbeda satu sama lain. Meskipun berbeda karbohidrat pendamping kari, tetapi rasanya tetap sama nikmat. Bahkan ada teman saya yang mengaku sebenarnya ia tidak terlalu suka kuah kari, namun kuah kari di lontong kari Kebon Karet sangat enak, sampai ia berharap sang pemilik bisa membuka cabang di Jakarta, supaya ia dapat membelinya dengan sering tanpa harus jauh-jauh ke Bandung.

Saat sedang makan, saya baru menyadari bahwa di salah satu kaca ruangan terpasang kertas bertuliskan komposisi rempah-rempah yang terkandung di kuah kari. Uniknya di dalam kertas itu juga terdapat harapan semoga itu bermanfaat bagi tubuh. Tampak baik sekali pemilik warung ini membeberkan komposisi rempah-rempah untuk kuah kari dan doa bagi para pembelinya. 

Bukan hanya komposisi rempah-rempah yang terpampang di kaca ruangan, di salah satu dinding ruangan juga terpampang beberapa foto dan artikel berita tentang lontong kari Kebon Karet. Salah satu yang menarik mata saya adalah foto Pak Ridwan Kamil, mantan Wali Kota Bandung yang kini menjadi Gubernur Jawa Barat.

Tak butuh waktu lama untuk saya dan teman-teman menghabiskan satu mangkuk lontong dan mi kari kami masing-masing. Satu mangkuk lontong kari biasa yang saya santap sangat membuat saya kenyang. Rasa lapar selama jalan kaki kurang lebih 15 menit untuk menuju rumah makan sudah terbalaskan, energi saya juga terpenuhi untuk menjalani hari.

Soal harga, menurut saya, masih sebanding dengan porsi penuh satu mangkuk dan nikmatnya rasa kari yang tersaji. Satu mangkuk lontong kari biasa yang saya pesan memiliki harga Rp26.000, sedangkan untuk lontong dan mi kari spesial harganya tidak jauh berbeda dengan yang biasa. Untuk teh tawar hangat yang saya pesan, ternyata gratis. Namun untuk pilihan minuman lainnya memiliki harga yang tidak berbeda jauh dengan rumah makan pada umumnya.

Saat jalan pulang kembali ke Braga saya berpikir bahwa pantas saja Lontong Kari Kebon Karet direkomendasikan banyak orang. Lokasinya yang unik, karinya yang nikmat, porsinya yang banyak dan harganya yang masih dalam batas wajar adalah kombinasi yang tepat untuk mengisi perut yang keroncongan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Perempuan Jakarta yang tertarik dengan keindahan alam, budaya, dan cerita masyarakat Indonesia.

Perempuan Jakarta yang tertarik dengan keindahan alam, budaya, dan cerita masyarakat Indonesia.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Kembali ke Fatubraun

    Pilihan EditorTravelog

    Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

    Perjalanan LestariTravelog

    Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.