Pilihan EditorTravelog

Semalam di Tli’u

Kami akan ke So’e!

Tidak pernah ada di bayangan kalau saya akan mengunjungi tempat kelahiran kawan baik saya saat kuliah dulu. Bukan untuk liburan tetapi untuk summer school. Beberapa teman menyarankan saya membeli jeruk So’e saat tiba di sana. Hm… patut dicoba.

Pagi itu, saya dan rombongan memenuhi bus kecil Mitra Kokoh yang warnanya hijau tua mengilap. Sepanjang perjalanan dari Kupang menuju So’e, saya dan teman-teman yang menjejali kursi paling belakang bergantian bernyanyi mengikuti lagu-lagu yang diputar.

Jalan mulai beralih ke jalan aspal yang lebih sempit, keluar dari jalanan kota Kupang. Di tengah perjalanan, bus berhenti di depan jejeran penjual jeruk. Aha! Ini dia jeruk So’e. Saya dan teman-teman berhamburan keluar bus menuju para penjaja jeruk. Ternyata tidak hanya jeruk yang dijual. Bersisian dengan jeruk yang sudah ditumpuk berdasarkan harga, ada juga ubi ungu, keladi, sirih, bubuk kapur, dan buah pinang.

Kios-kios penjual jeruk So’e/Vidiadari

Saya baru saja menerima kembalian setelah membeli jeruk ketika Rachel, teman dari Amerika, memanggil saya. Dia rupanya penasaran bagaimana rupa singkong dan keladi, sebagaimana Vitali, kawan dari Moldova, penasaran dengan bentuk pohon pisang. Alhasil, setiap bertemu pohon pisang, dia minta difoto.

“Tenang, Vi, kamu nanti juga akan kagum kalau lihat salju. Mampirlah ke Moldova,” ujarnya pada saya sambil terkekeh.

Sayangnya, hari itu tidak ada singkong yang dijual. Hanya keladi saja. Rachel berkali-kali menurunkan kacamatanya, memperhatikan bentuk keladi lalu terkagum-kagum. Ah… rupanya standar rasa kagum itu bukan karena kehebatan atau kemewahan, tapi ketika menemukan sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Bus bergerak lagi. Di setengah perjalanan ini saya sudah menghabiskan tiga buah jeruk. Rasanya segar sekali. Pantas jeruk So’e disebut-sebut terus oleh teman-teman saya.

Beberapa kendaraan sedang antre menyeberangi jembatan kayu/Vidiadari

Di bus, ketika berbincang dengan Yohanes, salah seorang panitia, saya baru tahu kalau rombongan kami persisnya akan menuju sebuah desa bernama Tli’u. Nama ini asing di telinga saya. Pengetahuan saya hanya sampai kata So’e saja.

Bus terus melaju di jalan mengular. Saya bosan lalu tertidur. Entah berapa lama saya terlelap sampai badan saya diguncang-guncang, “Turun, Vi! Jembatannya tidak kuat, kita harus turun.”

Ternyata Adam, suami Rachel.

Dengan nyawa yang sepertinya baru setengah, saya turun bus. Kaki saya menjejak balok-balok kayu hitam yang rangkaiannya sudah renggang. Di bawah sana hanya ada batu-batu kali berwarna hitam. Air sungai nyaris kering. Saya berjalan menuju seberang jembatan. Tanahnya berwarna putih dan memantulkan cahaya matahari yang menusuk mata. Putihnya tanah kontras dengan pohon-pohon hijau dan langit biru. Setelah seluruh penumpang tiba di seberang, bus melaju dengan kencang di atas jembatan yang terus bergetar. Ketika bus berhasil sampai di seberang, kami semua bertepuk tangan, merayakan kesuksesan Mitra Kokoh melalui jembatan goyang.

Demam sirih pinang

Kami tiba di Tli’u saat makan siang. Bus berhenti di sebuah SD. Ruang kelas SD itu disulap menjadi tempat istirahat sebelum kami disebar untuk menginap di rumah-rumah penduduk. Halaman SD itu cukup luas, bisa muat untuk bermain sepak bola. Di sebelah kiri ada pohon asam. Di bawah pohon yang rindang itu sudah tersusun beberapa baris kursi plastik serta meja berisi camilan dan tempat air minum. Setelah makan siang, kami memulai acara perkenalan dengan tetua dan pejabat desa setempat.

Irwan, kawan saya yang duduk di samping, bertanya apakah saya pernah mencoba sirih pinang. Saya menggeleng. Dia lalu mengambil kotak kayu berisi sirih pinang, mengambil tiga lembar sirih, menyerahkan satu lembar ke saya dan satu lagi ke Kiki, kawan saya yang lain.

“Saya contohin, ya. Tapi nanti jangan ditelan, ya, apa pun yang terjadi.”

Saya dan Kiki mengangguk. Sirih tadi diberi sedikit bubuk kapur, digulung, lalu dikunyah. Rasanya pedas, tapi berbeda dari rasa pedas cabe. Saya terus mengunyah seperti suruhan Irwan. Lalu ia mengambil buah pinang yang sudah setengah terkupas.

“Kunyah dikit dulu aja,” ujarnya dengan lafal kumur-kumur. Air liur memenuhi mulutnya.

Saya mengikuti instruksinya, menggigit lalu mengunyah. Liur membanjir di dalam mulut. Rasanya bercampur aduk antara pedas dan pahit. Tidak tahan dengan liur yang terus menerus mengisi rongga mulut, saya pun meludah. Air liur saya berwarna jingga. Irwan tertawa melihat ekspresi saya. Saya kosongkan mulut saya dari sirih, pinang, dan liur, lalu saya ambil air mineral dan meneguknya banyak-banyak. Sepertinya, saat inilah ada sirih pinang yang terteguk. Saya tidak menyadarinya.

Diskusi di bawah pohon asam di Tli’u/Vidiadari

Acara perkenalan selesai, kami dipersilakan beristirahat. Angin dingin mulai membelai-belai pipi. Langit sudah jingga. Saya pun antre mandi di toilet sekolah.

Selesai mandi dengan air yang sejuk seperti baru keluar dari kulkas, saya merasakan dingin menguasai perut dan diafragma. Mulai gemetar, pelan-pelan saya berjalan menuju kelas. Di sana ada Aigoul, kawan saya serombongan, tengah tidur menyamping. Saya lalu mengambil jaket dan syal. Syal ini cukup besar dan hangat untuk dijadikan selimut. Saya pun berbaring di sebelah Aigoul yang sudah terlelap. Tak lama, saya tidak mendengar apa-apa lagi.

Saya bangun saat mendengar suara tetabuhan dan riuh rendah dari luar. Malam pentas seni sudah mulai tapi saya tidak bisa mengangkat kepala. Saya demam. Badan saya gemetar di balik syal. Saya berupaya duduk. Entah dari mana, di saat yang bersamaan, Irwan masuk kelas. Wajahnya berubah saat melihat saya.

“Heh, kamu kenapa pucat?” tanyanya panik

“Aku demam,” jawabku singkat. Dengan cepat Irwan menyimpulkan: bisa jadi karena sirih pinang yang tadi siang. Saya mengutuk dalam hati. Ah… seandainya saya ngeyel saja tadi siang!

Beberapa teman satu per satu masuk ke ruang kelas. Kiki dan beberapa teman lain yang tadi mencoba sirih pinang juga terkena efek samping meskipun berbeda dengan saya. Mereka pusing, saya demam. Akhirnya, kami menghabiskan sisa malam dengan pijat berantai, berupaya saling menyembuhkan diri dari mabuk sirih pinang.

Di waktu-waktu setelahnya, tiap kali saya menceritakan cerita demam karena sirih pinang ini, saya sukses ditertawakan lalu dinasihati, “Sudah. Nggak usah dicoba lagi, Nona.”


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Merantau dari Banjarmasin ke Yogyakarta sejak 2005. Kadang mencuri waktu untuk jalan-jalan di antara kesibukan meneliti dan mengajar di universitas.

Vidiadari

Merantau dari Banjarmasin ke Yogyakarta sejak 2005. Kadang mencuri waktu untuk jalan-jalan di antara kesibukan meneliti dan mengajar di universitas.
Artikel Terkait
Pilihan EditorTravelog

Mengulang Waktu di Timur: Sumba (1)

Pilihan EditorTravelog

Di Pecinan Glodok Aku Mencari Kue Bulan dan Menemukan Gus Dur

Travelog

Berbincang dengan Dalang Muda Jogja

Travelog

Beberapa Hari di Surakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *