Pilihan EditorTravelog

Tak Sengaja Mencicipi Sate Ambal di Kebumen

Beberapa waktu lalu, Rabu, 12 Juni 2019, saya pelesiran ke Kebumen. Bukan pantai maupun bukit yang menjadi tujuan saya, melainkan pacuan kuda yang diadakan setahun sekali menyambut lebaran. Hanya saja, ternyata bukan cuma pacuan kuda yang menarik untuk diceritakan dari perjalanan saya ke Kebumen, namun juga makanan khasnya, yakni sate Ambal.

Yang menggiring saya ke sate Ambal adalah aroma asap sate sedang dipanggang yang menguar di sekitar Arena Pacuan Kuda Tegalrejo, Desa Ambalresmi. Gerai sate Ambal memang berjejeran di sekitar venue. Ada yang menyediakan kursi dan meja, ada pula yang lesehan.

sate ambal
Asap sate Ambal menguar di areal pacuan kuda/Dewi Rachmanita Syiam

Saya dan kawan memilih salah satu gerai yang lebih besar ketimbang yang lain. Ukuran tempat makan itu sebanding dengan pelanggannya. Saat tiba, kami tak dapat meja sehingga tepaksa menunggu beberapa saat sampai ada tempat yang lowong.

Sembari menunggu pesanan jadi, saya mengintip proses pembuatannya.

Pertama-tama ketupat yang kelewat matang saat dikukus dibelah dan dipotong dalam ukuran cukup besar. Lalu sang koki yang juga pemilik lapak sate itu mengangkat puluhan sate yang sudah matang, menata ulang arang di atas panggangan, kemudian meletakkan puluhan sate itu di besi panas. Nyesss!!!  

sate ambal
Puluhan tusuk sate Ambal sedang dipanggang/Dewi Rachmanita Syiam

Sambil menata sate-sate itu, ia mengipas-ngipas dengan pelan. Kepulan asap pun menyebar mengisi ruang. Lelehan bumbu yang disapukan dengan kuas tampak terbakar sempurna dan makin lama kian keemasan. Perlahan, warna sate semakin gelap.

Uniknya rasa daging ayam dan kuah sate Ambal

Tak lama setelah saya kembali ke tempat duduk, dua piring sate Ambal pun terhidang di meja. Ada sepuluh tusuk sate lengkap dengan ketupat. Daging ayamnya yang lembut terbakar cukup sempurna, tak banyak bagian yang gosong. Bumbunya tampak cukup encer, beda dari sate Madura atau sate khas Solo. Kuahnya lebih mirip sate Padang dengan warna yang tentunya berbeda.

sate ambal
Ketupat pelengkap sate Ambal yang siap untuk disajikan/Dewi Rachmanita Syiam

Waktunya mencicipi.

Rasanya cenderung manis-gurih, barangkali karena sebelum dibakar daging ayam yang dipotong kecil-kecil terlebih dahulu dibubuhi bumbu, seperti “dibacem.” Berbagai rempah—bawang-bawangan, merica, kemiri, ketumbar, pala, kunyit, dan jahe—berinteraksi harmonis dengan kecap.

sate ambal
Seporsi sate Ambal/Dewi Rachmanita Syiam

Bumbunya juga unik. Bahannya dari tempe yang dihaluskan dan tanpa kacang. Wajar saja aroma kedelai menguar saat sate saya aduk dengan bumbu. Rasa manisnya yang terasa beda bukan dari kecap, melainkan gula merah yang meresap hingga ke dalam. Ketika disantap dengan ketupat, rasa manisnya terasa luar biasa di lidah.

Lumayan. Seporsi sate Ambal yang saya santap bisa jadi bahan bakar untuk menikmati pacuan kuda.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Dewi Rachmanita Syiam

Menggemari perjalanan, musik, dan cerita.
Related posts
Travelog

Perjalanan ke Alasa, Nias Utara

Travelog

Tak Sengaja Singgah ke Limanjawi Art House

Travelog

Mengunyah Kapur Sirih di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah

Travelog

Seminggu di Kota Kembang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *