NusantarasaTravelog

Mencicipi Dawet Jabung Ponorogo

Ketika melintas di salah satu sudut Kota Reog, saya langsung ingat sate ayam Ponorogo yang tersohor itu. Lucunya, kala itu tak satu warung sate Ponorogo pun yang saya jumpai. Justru saya lebih banyak melihat warung dawet Jabung.

Kata Pakde Gendut yang pagi itu menjadi teman perjalanan saya, dawet Jabung adalah salah satu kuliner tenar di Ponorogo. Nama minuman tradisional ini berasal dari nama desa asalnya, yakni Desa Jabung. Kini, Desa Jabung dikenal sebagai sentra kuliner dawet.

dawet jabung
Rumah Makan Ngebrugan Ponorogo/Mauren Fitri

Penasaran, saya lalu mengajak Pakde mampir ke salah satu warung dawet Jabung. Supaya tak susah-susah mencari tempat parkir di pinggir jalan, kami berhenti di Rumah Makan Ngebrugan yang lahan parkirnya lumayan luas.

Beberapa panci tersaji di meja yang membentuk letter U. Isinya gempol, tape ketan hitam, irisan buah nangka, gula Jawa cair, dan, tentu saja, cendol. Setumpuk gorengan hangat juga tersaji, lengkap dengan cabai hijau muda Jawa Timuran yang besar-besar namun tidak pedas.

dawet jabung
Meja saji Rumah Makan Ngebrugan/Mauren Fitri

Seorang ibu paruh baya lalu menawari saya, “Dawetnya pakai es, Mbak?”

Setelah mendengar jawaban saya, sang ibu kemudian meracik semangkuk dawet. Tangannya tampak lihai sekali. Setelah mengisi mangkuk dengan es batu, dimasukkannya gempol, tape ketan hitam, irisan buah nangka, gula merah cair, dan cendol yang kemudian disiram dengan air santan gurih.

dawet jabung
Semangkuk dawet ala Desa Jabung sedang diracik/Mauren Fitri

Dawet Jabung agak beda dari dawet kebanyakan

Lalu semangkuk dawet disodorkan oleh sang ibu kepada saya yang sedang kehausan.

Sekilas, dawet Jabung mirip dawet-dawet pada umumnya. Namun kalau diperhatikan lebih cermat, dawet khas Ponorogo ini agak beda. Cendolnya ternyata terbuat dari tepung aren dan tidak diberi pewarna. Selain itu, ada satu unsur yang jarang sekali ditemukan pada dawet-dawet daerah lain, yakni gempol.

Uniknya, gempol di Ponorogo dibiarkan polos begitu saja, tak diberi pewarna seperti gempol pleret yang sering dijumpai di Solo atau Semarang. Namun justru inilah yang menjadi ciri khas.

dawet jabung
Gempol dan rasa gurih membuat dawet ini beda dari dawet-dawet lainnya/Mauren Fitri

Soal rasa, dawet ala Ponorogo ini lebih gurih dibanding dawet-dawet pada umumnya yang cenderung lebih manis. Mungkin karena ada unsur garam pada kuahnya.

Semangkuk kesegaran dalam dawet Jabung bisa kamu tebus dengan uang Rp5.000 saja. Bagi saya yang tinggal di kota besar, ini murah minta ampun.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Suka gendong ransel, suka motret, kadang nulis.

Suka gendong ransel, suka motret, kadang nulis.
Artikel Terkait
Travelog

Sepenggal Kisah di Balik Pembangunan Sirkuit Mandalika

Travelog

Singgah ke Masjid Tiban

Travelog

Jejak Tsunami Aceh di Monumen Kapal PLTD Apung

Travelog

Mengenal Lebih Dekat Kehidupan di Tepian Waduk Jatigede

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *