ItineraryNusantarasa

Santapan yang Lahir dari Kesengsaraan

Tak bisa ditampik, hubungan manusia dan makanan terjalin sangat erat. Makanan adalah pengalaman universal manusia dalam bertahan hidup. Dan bukan tiba-tiba jatuh dari langit, tiap-tiap makanan memiliki cerita masing-masing untuk sampai di meja makan kita. Seperti kata Jonathan Safran Foer, penulis asal Negeri Paman Sam, makanan adalah budaya, kebiasaan, keinginan, dan identitas.

Di samping itu, tidak semua makanan memiliki kisah menyenangkan, lho. Tidak seperti croffle atau nugget pisang yang muncul atas inovasi dari para koki, ada pula makanan yang lahir dari kesengsaraan rakyat biasa kala kondisi krisis melanda.

Tak mengherankan apabila kisah-kisah demikian jarang diketahui orang, lantaran kini makanan tersebut telah menjadi santapan bagi semua kalangan, bahkan menjadi hidangan incaran wisatawan kuliner.

Apa sajakah makanan yang memiliki kisah unik tersebut? Ini dia!

1. Tengkleng Kambing

Siapa sangka, tengkleng kambing lahir dari keterbatasan rakyat Solo dalam menghadapi zaman penjajahan Jepang. Kala itu, Jepang merampas semua beras untuk kebutuhan perang dan memaksa petani di desa menjadi romusha, sehingga krisis pangan terjadi.

Sejarawan Heri Priyatmoko menjelaskan, dalam kondisi tersebut, rakyat terpaksa mengolah bahan pangan apapun menjadi makanan, termasuk limbahnya. Tak terkecuali limbah kambing, seperti tulang dan jeroan—sesuatu yang tidak umum dikonsumsi terutama bagi kaum bangsawan yang gemar menyantap daging.

Tengkleng-Tempo/Ukky Primartantyo
Tengkleng via TEMPO/Ukky Primartantyo

Adapun hidangan ini dinamai tengkleng karena mencerminkan sulitnya kehidupan rakyat zaman dulu. Dilansir dari kompas.com, Guru Besar Universitas Gadjah Mada Prof Dr. Ir Murdijati Gardjito menjelaskan, “Itu dinamakan tengkleng karena kalau ditaruh di piringnya orang miskin dulu, yang terbuat dari gebreng [semacam seng], itu, bunyinya kleng-kleng-kleng.”Sekarang, tengkleng telah berkembang dan menjadi kuliner khas Solo. Buat kamu yang ingin mencoba santapan ini, bisa merapat ke Solo. Ada tiga restoran legendaris yang bisa kamu kunjungi yakni Tengkleng Rica Pak Manto di Jalan Honggowongso Nomor 36, Tengkleng Klewer Bu Edi di Pasar Klewer, dan Tengkleng Bu Jito Dlidir di Jalan Kolonel Sugiono Nomor 67. Cocok juga untuk kamu yang mengidap darah rendah, lho!

2. Tiwul

Pernah menyantap tiwul? Pasti masih ingat dengan rasanya yang manis-gurih khas singkong! Saat ini, kita kerap menjumpai tiwul di deretan jajanan pasar. Namun, sebelumnya, tiwul merupakan makanan pokok setara dengan nasi, lho, terutama di kalangan masyarakat daerah Wonosobo, Wonogiri, Pacitan, dan Blitar. 

Seorang ibu membuat tiwul dari singkong kering via TEMPO/Arie Basuki

Menyitir laporan kompas.com, sejarawan Heri Priyatmoko menerangkan, “Tiwul yang berbahan baku singkong dijadikan pengganti nasi ketika harga beras tidak terbeli oleh masyarakat pada era penjajahan Jepang tahun 1960-an.” Masyarakat menjemur singkong hingga kering dan menjadi gaplek untuk kemudian ditumbuk halus lalu dikukus. Dengan begitu, perut-perut lapar dapat tetap terisi.

Saat ini, selain dihidangkan bersama gula merah, gula pasir, dan parutan kelapa, tiwul juga disandingkan dengan coklat dan keju. Kamu bisa menjumpai tiwul di berbagai daerah di Indonesia, terutama di Jawa dengan harga terjangkau. Ada pula tiwul kemasan instan yang bisa dibeli via e-commerce, lho!

3. Sate Kere

Istilah kere tentu tak asing bagi orang Jawa. Kere memiliki arti miskin atau tidak punya harta. Dan kisah sate kere memang tidak jauh-jauh dari kemelaratan. 

Serupa dengan kisah tengkleng kambing, sate kere berawal dari ketidakmampuan masyarakat miskin yang ingin menyantap daging di masa penjajahan. Daging adalah makanan mewah yang hanya disantap oleh kaum bangsawan pada masa pendudukan Belanda.

Akhirnya, masyarakat berkreativitas membuat sate tanpa daging. Memanfaatkan limbah pangan yang ada, masyarakat menggunakan jeroan sapi dan gembus yang berasal dari ampas pembuatan tahu sebagai bahan dasar sate kere.

Seporsi Sate Kere di Pasar Bringharjo/Syaima Sabine Fasawwa
Seporsi Sate Kere di Pasar Bringharjo/Syaima Sabine Fasawwa

Sebaliknya, kaum bangsawan sangat anti terhadap jeroan dan gembus. Bahkan, mengutip laporan krjogja.com, pada masa tersebut kaum elite bekerja sama dengan penguasa lokal untuk mengatur abattoir (tempat penyembelihan hewan) supaya tidak menjual daging bercampur jeroan kepada restoran Belanda. Hal ini dilakukan demi menjamin konsumsi daging bagi para bangsawan.

Saat ini, sate kere menjadi santapan kuliner semua kalangan. Hidangan ini banyak ditemukan di daerah Solo dan Yogyakarta. Di Solo, salah satunya kamu bisa mampir di warung legendaris Mbak Tug di Jalan Arifin Nomor 63. Sedangkan di Yogyakarta, kamu bisa menyantap sate kere di trotoar sekitaran Pasar Beringharjo.

4. Bubur

Siapa sangka bahwa menu yang kerap menemani sarapan warga +62 ini lahir dari keprihatinan negeri Tiongkok pada masa krisis. Dilansir dari bobo.grid.id, bubur tercatat sejarah pertama kali sejak sebelum masehi, ketika Kaisar Kuning atau Kaisar Xuanyuan Huangdi berkuasa. Pada masa itu, tepatnya tahun 238 SM, terjadi musim paceklik atau kekurangan bahan makanan yang disebabkan musim kemarau berkepanjangan.

Bubur ayam bunut
Bubur ayam bunut via TEMPO/Rully Kesuma

Kaisar memikirkan cara untuk mengatasi kondisi tersebut. Dimulai dari kaisar yang sedang makan dan menuangkan sup panas ke dalam nasinya, di dapatilah nasi tersebut mengembang, menjadi lembek, dan bertambah banyak. Sejak itu, kaisar meminta juru masak untuk mengolah beras sampai menjadi bubur, sehingga ada persediaan makanan yang lebih banyak untuk rakyatnya dalam menghadapi masa paceklik.

Saat ini, kita bisa menemui bubur di berbagai daerah di Indonesia dengan berbagai topping, mulai dari ayam, telur, hingga sate usus dan sate ati.

5. Intip

Dalam bahasa Jawa, intip berarti kerak nasi. Kerak nasi ini biasanya menempel di dasar kuali atau ketel, perkakas yang digunakan orang zaman dulu untuk menanak nasi. 

Untuk bertahan hidup di masa krisis, lagi-lagi masyarakat memutar otak dengan memanfaatkan segala bahan pangan yang ada, termasuk kerak nasi di dasar kuali. Ketika itu, warga mengkonsumsi kerak nasi dengan cara ditaburi parutan kelapa. Perkembangannya, intip yang juga dijadikan sebagai pakan ternak ayam atau bebek ini kemudian diolah dengan cara lain, yakni dijemur dan digoreng, lalu diberi tambahan bumbu manis-gurih dan asin.

Intip Goreng Oleh-oleh Khas Solo
Pedagang intip tradisional megucurkan cairan gula via [TEMPO/Suryo Wibowo

Kudapan ini banyak digemari masyarakat, sehingga kemudian dibuat secara sengaja. Alias bukan lagi berasal dari nasi yang menempel di kuali, melainkan dibuat dengan cara meletakkan nasi di atas penggorengan, ditekan hingga menempel di dasar  penggorengan, dan dibakar di atas api sebelum kemudian dijemur hingga kering. Baru setelah itu digoreng lagi dalam rendaman minyak panas.

Semakin lama, intip pun hadir dengan berbagai ukuran dan rasa. Intip bisa ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, seperti di Solo dan Cirebon.

Sudah pernah mencoba semua makanan di atas? Mana yang menjadi favoritmu? Menjajal 5 makanan di atas akan menjadi pengalaman unik. Selain kenyang, kita bisa belajar sejarah sekaligus memahami bahwa makanan erat dengan sejarah sosial-budaya manusia!


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu
!

Mahasiswa tingkat akhir. Suka menghabiskan waktu dengan membaca novel dan menonton drama.

Mahasiswa tingkat akhir. Suka menghabiskan waktu dengan membaca novel dan menonton drama.
    Artikel Terkait
    EventsNusantarasa

    30 Menit di Pameran ‘Rijsttafel: Cita Rasa Indonesia dalam Memori’

    ItineraryNusantarasa

    Ada Apa dengan Babi dalam Budaya Masyarakat Batak?

    ItineraryNusantarasa

    Menyantap Tiram Bakar Khas Barru

    NusantarasaTravelog

    Sarapan dengan Semangkuk Lontong Kari Kebon Karet

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Menyantap Bubur Bali di Rumah Ibu