Pilihan EditorTravelog

Harapan di Tanah Perantauan

Merantau adalah kebiasaan manusia sejak zaman dahulu. Pergi dari suatu tempat menuju ke tempat lainnya; mencari sumber makanan yang melimpah, tanah yang nyaman untuk ditinggali, ataupun keserasian dengan alam sekitar. Banyak yang rela berpindah dari tempat lahirnya menuju ke tempat yang baru dengan harapan yang besar; hidup berubah menjadi lebih baik.

Riyadi adalah salah satu orang yang bertekad merubah hidupnya dengan merantau. Hidupnya di Pulau Jawa, tidak mengalami kemakmuran seperti yang ia harapkan. Riyadi kemudian mencoba peruntungannya keluar pulau, menuju Kalimantan bagian Selatan. Dengan harapan akan kehidupan yang lebih baik, Riyadi dan istri mengikuti program kerja transmigrasi yang diadakan oleh PTPN. Bersama dengan serombongan orang lainnya yang sama-sama dari Pulau Jawa, pada 1 Januari 1990, keduanya menjejakkan kaki di Kalimantan untuk pertama kalinya.

“Perpindahan kami dari Jawa ke sini tidak dikenakan biaya, Depnaker dan PTPN membiayainya,” jelas Riyadi, yang tampaknya masih ingat dengan baik kenangan tersebut.

Setibanya di Kalimantan Selatan, para transmigran kemudian langsung disebarkan ke berbagai afdeling milik PTPN, jumlahnya saat itu sekitar 80 orang. Awalnya Riyadi ditempatkan di Afdeling Atayu, Desa Pingaran bersama 14 orang lainnya. 

Selang beberapa waktu, Riyadi kemudian dipindahkan ke Afdeling lainnya, Besaran.

“Jadi Bapak pindah ke sini (Besaran), tanahnya beli?” 

“Bukan Mas, kami juga dipinjami tanah oleh PTPN.”

Sembari jemarinya menunjuk ke arah timur, Riyadi kemudian menerangkan luasan tanah yang dikelola oleh PTPN. Saya hanya bisa membayangkan daerah perkebunan yang sedari tadi saya lalui menuju kemari hingga ke ujung sana. Luas sekali. PTPN mengelola kebun karet dengan luas sekitar 10.000 hektare. Para pekerja yang didatangkan dari Pulau Jawa sebagai buruh penyadap karet diberikan fasilitas untuk mengelola daerah perkebunan menjadi sebuah kampung. Sebagian besar memang terdiri dari Jawa, tetapi ada juga yang dari Madura.

Selain bekerja sebagai buruh karet, bertani menjadi kegiatan sampingan yang diusahakan oleh Riyadi dengan menanam pisang, porang, dan ubi kayu. Hasilnya cukup lumayan menambah penghasilan bulanannya.

Sebagai seorang transmigran, Riyadi tahu harus berbuat apa di tanah barunya, menjaga keharmonisan dengan penduduk sekitar, yang secara adat istiadat berbeda dengan dia yang berasal dari Jawa.

“Kita dari Jawa ke sini kan ibaratnya cari nafkah, bukan cari musuh. Yang penting sama-sama baik.” 

Beda Alam, Beda Budaya

Berbeda dengan di Jawa yang kondisi geografisnya subur karena banyaknya gunung berapi. Permasalahan Riyadi justru terletak pada kondisi geografis di sini, yang menurutnya terlalu banyak kandungan zat kapur pada tanahnya. Rumput-rumput juga terlalu subur hingga menyulitkan untuk bercocok tanam, sehingga harus menggunakan pestisida berulang kali untuk membasmi rumputnya sampai habis. 

Belum lagi soal sapi. Sapi yang merupakan ternak warga dibiarkan berkeliaran bebas, kadang masuk ke kebun warga lainnya dan merusak tanaman. Pemilik hewan tak tahu menahu kalau sudah ada kerusakan, sebaliknya bila hewan tersebut disakiti maka akan dikenakan denda.

Saya melihat sendiri bagaimana sapi-sapi berkeliaran di tengah jalan bahkan seorang teman baru saja mengalami kecelakaan menabrak sapi tiga bulan lalu di kampung sebelah. 

Meskipun sudah resmi menjadi warga Kalimantan, Riyadi tidak ingin kehilangan identitas diri. Dia tetap melakukan apa yang telah diajarkan orang tuanya agar wong Jawa ojo nganti ilang jawane.

Budaya Jawa memang sudah melekat jauh di dalam sanubarinya. Hal tersebut menurutnya adalah jati diri. Tetap menghargai budaya lain dan memegang teguh budaya yang telah diajarkan. Riyadi tidak pernah memiliki kendala dengan budaya yang berbeda kecuali pada bahasa.

Meskipun sudah lama di sini, bahasa Banjarnya masih belum terlalu lancar. Kendala bahasa memang kerap menjadi penghalang untuk berkomunikasi. Untungnya, Indonesia mempunyai bahasa persatuan yang memang menyatukan dan mudah dipahami. 

“Saya pertama sampai ke sini kaget, kok ada bahasa Jawa kasar,” kata Riyadi kepada saya dengan sedikit bingung

Saya lalu menjelaskan bahwa bahasa dan budaya selalu mempengaruhi satu sama lain semenjak dulu. Pun kosa kata akhirnya mirip satu dengan yang lain, dan fakta lainnya adalah beberapa kosa kata Jawa Kuna justru berhasil bertahan di Kalimantan Selatan meskipun di Jawa sudah tidak dipakai lagi.

Karena semua penduduk di sini adalah transmigran dari Jawa, Riyadi seringkali membantu acara untuk pernikahan yang masih dirayakan oleh penduduk dengan adat Jawa. Beliau juga bertugas sebagai ketua RT, yang seyogyanya siap selalu menolong warganya yang membutuhkan.

Rindu Masa Lalu

Riyadi sudah betah di Kalimantan, tapi rasa rindu akan kampung halaman kerap kali muncul dalam benaknya. Masa kecil Riyadi dihabiskan di Karanganyar, tepatnya di sebuah desa di kaki Gunung Lawu. Dia menceritakan kisah-kisah yang dia alami semasa mudanya. Saya mendengarkan dengan seksama.

Setiap malam satu suro yang konon bagi masyarakat Jawa adalah malam keramat. Masing-masing desa di Jawa ada ritual tersendiri untuk menyambut malam ini. Di desanya Riyadi, para pemuda terbiasa untuk tidak tidur semalaman demi menyambut malam satu suro. Malam itu sepenuhnya digunakan untuk berkegiatan seperti mengunjungi makam orang tua yang kemudian dilanjutkan mandi di tempuran sungai dan tirakat. 

Satu hal yang Riyadi saksikan secara langsung pada malam tersebut adalah air yang tidur. Singkat cerita, setelah mandi, dirinya memutuskan untuk tidur-tiduran di atas batu kali. Tak lama gemericik air kali yang yang sedari tadi terdengar telinganya tiba-tiba sunyi. Kontan saja hal ini memantik rasa penasarannya yang akhirnya sampai pada satu kesimpulan; air ternyata juga tidur.

Ketika bercerita, mata Riyadi menyiratkan kerinduan yang teramat sangat dengan kampung halaman. 

Saya mulai menebak-nebak apa yang ada di benaknya.

“Seandainya ada kesempatan balik, Bapak mau?” Secara spontan saya menanyakan hal tersebut.

Dalam dua tarikan nafas, Riyadi mulai menjawab.

“Mau mas, tapi keluarga saya, cucu saya akan ada di sini.”

Saya mengerti. Bagi Riyadi sekarang keluarga adalah segalanya, masalah perasaan seorang pria yang rindu toh nanti juga bakal berlalu. Kabarnya beliau baru saja balik dari mudik ke Jawa beberapa saat yang lalu. Untuk mudik memang bisa kapan saja. Untuk tinggal kembali di Jawa sepertinya adalah hal yang mustahil.

Hujan mulai turun. Saya memutuskan berkeliling kampung sebentar melihat-lihat rumah warga lainnya. Saya melihat orang yang beraktifitas di luar rumah sangat sedikit. Rumah-rumah pun tampak sepi. Mungkin mereka banyak yang tidak sedang berada di rumah.

Transmigrasi Madura Kalimantan
Dulunya di sini adalah kebun karet, yang sekarang diganti menjadi kebun sawit/M. Irsyad Saputra

Sebelum memasuki wilayah Besaran, saya sempat terkejut melihat bukit-bukit gundul. Kebun karet dibabat habis, digantikan sawit. Riyadi mengabarkan bahwa perkebunan karet sebentar lagi berganti menjadi kebun sawit seutuhnya.

Seingat saya ketika mengunjungi daerah sini pada 2014, masih banyak lahan yang ditanami kebun karet. Begitu rimbun hingga suasana kadang lebih condong ke arah menyeramkan.  Sekarang, lahan-lahan yang dulunya rimbun telah terbuka. Sekitar 10.000 hektare kawasan kebun karet PTPN siap digantikan oleh sawit. Menggantikan karet yang dahulu merupakan komoditas penting. Sawit semakin tidak terkendali.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu
!

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
IntervalPilihan Editor

Tani Jiwo: dari Hostel ke Pemberdayaan Literasi Dieng

Travelog

Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’

Travelog

Mencari Sejarah yang Terkubur di Kuburan Londo, Sukun

Travelog

Menyambangi Gedung Sate Menjelang Momen Puncak Reformasi 1998

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Temui Irene Komala, si “Pink” yang Suka Jalan-Jalan