Itinerary

Temui Irene Komala, si “Pink” yang Suka Jalan-Jalan

Irene Komala dulunya bermimpi untuk mengunjungi berbagai tempat yang ada di Indonesia. Mimpi itu tidak datang dengan tiba-tiba, semula dia rajin menulis pada masa kuliah untuk mengenang tempat-tempat yang pernah ia datangi. Lambat laun, menulis bukan jadi sekedar hobi yang numpang lewat baginya, melainkan menjadi gaya hidup dan berhasil menjadi salah satu influencer wisata perempuan di Indonesia. Irene memilih Pink Travelogue sebagai nama panggungnya karena kesukaannya dengan warna pink, selain karena warna, pink juga merupakan singkatan dari Perjalanan Irene Natalia Komala. 

TelusuRI berhasil berbincang dengan Irene di sela-sela aktivitasnya yang padat sebagai duta Anugerah Pesona Indonesia 2021.

Halo, apa kabar nih Irene? Gimana keadaannya akhir-akhir ini?

Halo TelusuRI! Kabar baik dan sehat. Kesibukannya masih bikin konten aja di media sosial dan persiapan malam puncak Anugerah Pesona Indonesia di Musi Banyuasin nanti.

Irene ‘kan sekarang dikenal sebagai travel blogger dan juga influencer, ada terasa perbedaan dengan kehidupan kamu sebelumnya? 

Dulu aku bekerja di sebuah agensi desain sebagai desainer grafis. Sama-sama kerja depan layar juga, tapi sekarang lebih fleksibel kalau mau bepergian karena tidak terikat cuti.

Kalau dulu mau pergi biasanya hari Sabtu dan Minggu aja atau ambil cuti. Tapi dulu waktu masih jadi anak agensi sebenarnya aku sudah punya blog dan mulai branding media sosial sendiri. Walaupun sekarang kerjaan pindah jalur, tapi aku senang karena sedikit banyak ilmu desain yang dipakai juga saat ini jalanin pekerjaanku sekarang ini.

Pink Travelogue
Oa Lepang Kwerak, nama adat yang diberikan kepada Irene dari Desa Lewokluwok via Instagram/pinktravelogue

Kalau aku lihat,  Irene selalu bersemangat soal traveling, dengar-dengar Irene juga punya nama adat baru nih, yakni “Oa Lepang Kwerak”, gimana ceritanya tuh? 

Iya dong! Soalnya traveling terutama di Indonesia itu sangat indah dan beragam. Nggak pernah bosen buat TelusuRI keunikannya. Bulan September lalu, aku dengan tim Anugerah Pesona Indonesia mengunjungi Kampung Adat Lewokluok. Tepatnya berada di Larantuka, Flores Timur, NTT.

Di sana aku berkesempatan menggunakan pakaian adat Lewokluok dan mengikuti acara dari siang sampai malam. Tentu menjadi sebuah kehormatan memiliki nama adat dari Lewokluok. Akhirnya Kabid Dispar Flores Timur, memberikan nama adat Oa Lepang Kwerak dari Suku Beribe, salah satu dari 9 suku di Kampung Adat Lewokluok. Nama tersebut ternyata nama dari leluhur perempuan dari Desa Lewokluok. 

Apa yang paling Irene suka dari perjalan?

Semuanya aku suka, karena alam dan budaya berhubungan satu sama lain. Contohnya di Kampung Lewokluok tadi, pakaian adatnya itu ditenun langsung oleh para perempuan Lewokluok, [terbuat] dari tanaman kapas yang ada di sana, termasuk juga pewarna yang digunakan alami berasal dari tanaman.

Pakaian adatnya terdiri dari atasan yang disebut Baju Senui, bawahnya kain tenun yang disebut Keriot Kinge. Kinge sendiri adalah sebutan untuk kerang yang dijahit di kain tenun itu. Kinge melambangkan bintang yang digunakan sebagai penunjuk waktu, musim, dan arah.

Tapi selain itu, Lewokluok juga menyajikan kami berbagai macam makanan yang mereka olah berasal dari alam, seperti jagung titi. Bisa dibilang seperti popcorn yang kita kenal, tetapi cara pembuatannya [masih] tradisional, yakni dengan disangrai pada tembikar dan ditumbuk dengan batu.

Rasanya senang dan bangga sekali kalau memakai pakaian adat atau daerah yang penuh makna, tapi senang juga kalau bisa mencicipi makanan khas daerah apalagi yang bahan-bahannya berasal dari alam. 

Ada pengalaman buruk selama traveling?

Sebenarnya lebih banyak pengalaman baiknya, dan pengalaman buruk itu ya jadi pembelajaran juga buat aku. Waktu itu pernah pertama kali naik gunung pakai baju biasa (bukan baju dryfit atau baju khusus untuk naik gunung), alhasil sampai tempat kemah, jadi keringet dingin. Tapi untungnya nggak hipotermia.

Saat itu juga kaki saya lecet karena masih pinjam sepatu gunung orang lain yang ternyata kurang pas. Pernah juga aku hampir ketinggalan kereta karena nunggu makanan, padahal waktunya tinggal 1 menit kereta mau berangkat. Akhirnya kita lari-larian menuju ke dalam kereta. Untungnya kita nggak ditinggal, tapi ngos-ngosan banget.  

Tapi kalo salah satu pengalaman unik seru, waktu itu aku ke Gunung Merbabu dan nggak boleh bawa tisu basah. Jadi sebelum naik, kita sudah diperingati tidak boleh bawa tisu basah. Berulang kali hal itu dikatakan petugas, dan dibilang kalau ketahuan bawa tisu basah bakal di blacklist ke gunung-gunung lain juga. Bukan cuma aku, tapi juga tim-ku. Barang bawaan kita di cek dari perlengkapan sampai logistik. Bahkan banyak bungkus mie instan yang kamu bawa pun juga dihitung, karena sampah yang kami bawa keatas gunung dan dibawa turun jumlahnya harus sama. Alhasil, kita bener-bener hemat penggunaan tisu kering, sampe mukaku cemong saking kita lagi hemat tisu. 

Selama bikin vlog, apa aja nih persiapannya sebelum dan sesudah berangkat untuk menjadikan satu video utuh?

Tips dariku yang paling penting siapkan memori dan baterai yang cukup, siapkan juga cadangannya. Sayang kan kalau tiba-tiba lagi meliput hal yang menarik tapi memory card dan baterai kamera atau ponsel tiba-tiba habis. 

Jika ada kesempatan, coba berbincang dengan narasumber (bisa dari pengelola wisata atau masyarakat yang terlibat) bisa juga ambil video bersama untuk merekam informasi penting yang valid dari narasumber.

Lalu kalau ada momen atraksi atau lagu yang dipentaskan langsung, bisa juga merekam dengan voice recorder dari ponsel untuk dijadikan musik latar untuk video yang kita buat nanti.

Untuk menjadikan sebuah video, biasanya aku kelompokkan video yang terpilih ke dalam satu folder, kemudian dijahit videonya. Setelah video selesai, upload dan bagikan ke sosial media yang kita punya. 

Ada “ritual khusus” apa nih sebelum traveling?

Biasanya kalau sebelum bepergian, aku bikin daftar barang-barang yang akan mau dibawa supaya nggak ada yang tertinggal. Termasuk membawa cemilan juga! Aku suka bawa semacam snack bar untuk di perjalanan karena kadang jam makan suka nggak pas kalo lagi traveling. Setidaknya bisa buat ganjel perut biar aman.

Kemudian aku juga biasanya mencari informasi dan referensi tempat yang dikunjungi. Lalu cek juga jadwal haid, khusus nih untuk para perempuan. Beberapa destinasi wisata ada yang tidak memperbolehkan kita masuk saat haid, karena tempat tersebut dianggap sakral.

Jadi penting juga untuk cari tahu informasi yang lengkap mengenai destinasi yang akan dikunjungi. Lalu pastinya persiapkan fisik yang fit dan berdoa supaya perjalanan kita lancar.

Pink Travelogue
Irene bersama mama yos menjelajahi hutan perempuan via pinktravelogue.com

Salah satu video yang kamu buat bercerita tentang Kampung Enggros, di sana ada hutan khusus perempuan, dapat pengalaman apa aja nih selama di sana?

Hutan Perempuan Enggros ini salah satu pengalaman tak terlupakan. Waktu itu, aku pergi Bersama tim Econusa, sebuah Non-Governmental Organization (NGO) yang menjembatani komunikasi antara pemangku kepentingan di wilayah timur Indonesia dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan dengan masyarakat lokal. Khususnya yang berada di tanah Papua dan Maluku.

Jadi, bisa dikatakan saya pergi ke Hutan Perempuan dalam rangka untuk meliput keadaan hutan yang ada di Papua. Hutan Perempuan itu kan terletak di Kampung Enggros (kampung terapung), jadi hutan tersebut hanya bisa diakses dengan kapal kayu kecil, bukan tipe hutan mangrove yang bisa kita masuki untuk kegiatan trekking.

Kami menyusuri Hutan Mangrove, mengambil gambar, dan berbincang dengan Mama Yos yang juga mendayung perahu itu. Saya melihat mama Linda menanggalkan pakaian dan menceburkan diri ke sana, dan mengambil kerang Bia Nor. Oleh karena itu, laki-laki dilarang masuk ke sini. Jika melanggar akan dikenakan sanksi adat.

Mama Yos menceritakan bahwa dia dan perempuan Enggros bebas cerita apa saja di sana (curcol sesama perempuan gitu) karena para-para (sebutan untuk balai-balai rumah) itu tempat nongkrongnya para lelaki. Jadi hanya Hutan Perempuan ini tempat mereka menceritakan hal atau masalah apa saja karena alam selalu ada mendengarkan, bikin suasana hati tenang dan sejuk, Macam stress healing.

Selain suka pergi, Irene suka banget nyanyi ya? Hobi lainnya apa aja?

Selain jalan-jalan, aku suka nyanyi dan nonton. Biasanya kalo lagi di rumah suka nonton drama Korea, soalnya seru dan jalan ceritanya bagus, lokasi syutingnya malah bisa dimasukkan ke bucket list kalau suatu hari ada kesempatan ke Korea. 

Ada saran buat para perempuan agar berani bepergian dan menelusuri Indonesia? 

Berani mencoba, karena kalau belum dicoba, gak akan tahu pengalamannya seperti apa. Cari informasi dan riset mengenai destinasi kita bisa dari media sosial dari segi akomodasi, transportasi, dan akses ke tempat wisata.

Gunakan pakaian yang tepat dan nyaman. Usahakan travel light, bawa barang yang benar-benar perlu. Cata nomor telepon darurat jika ada keperluan mendesak, dan pastinya jangan lupa berdoa.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Itinerary

Desa Muncar dan Kopi Temanggung

Itinerary

Memahami Lebih Dalam tentang Permakultur

Itinerary

5 Destinasi Budaya 'Memorable' ala Jovita Ayu

ItineraryPilihan Editor

Rumapala dan Cerita Memberdayakan Pala Banda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
5 Buku Perjalanan yang Seru Dibaca waktu di Rumah Aja