Travelog

Memaknai Fenomena Alam Pasca Badai Seroja

Seroja, bagi sebagian besar atau bahkan semua masyarakat Nusa Tenggara Timur pasti memiliki ketakutan, trauma, serta pengalaman tersendiri terhadap siklon tropis yang satu ini. Pasalnya, Seroja merupakan badai yang sempat menghantam dan memporak-porandakan wilayah Nusa Tenggara Timur pada Minggu, 4 April 2021 pukul 24.00 WITA.

Badai tersebut berupa hujan deras dan angin kencang yang berlangsung selama beberapa jam. Badai yang terjadi malam itu benar-benar membuat saya dan seisi rumah, bahkan semua masyarakat NTT, ketakutan setengah mati. Benar-benar dahsyat. Cuaca ekstrem tersebut di diklaim merupakan Siklon Tropis Seroja yang terkuat dibandingkan siklon-siklon sebelumnya yang pernah terjadi di Indonesia.

Kekuatan angin kencang dan hujan deras sepertinya tidak saja mengakibatkan gedung menjadi rusak, rumah, jalan, jembatan, fasilitas umum, sawah, dan sebagainya rusak. Tetapi juga meninggalkan fenomena-fenomena alam yang unik dan berkesan. Diantaranya, kemunculan danau dan pulau baru setelah hantaman Badai Seroja malam itu, yang keindahan dan kenikmatannya masih dirasakan hingga saat ini.

Gundukan batu-batu besar
Gundukan batu-batu besar/Resti Seli

Kali ini saya “berkelana” mengunjungi salah satu fenomena alam yang terbentuk pasca Seroja di wilayah Pantai Nunhila, Kecamatan Alak, Kota Kupang, ialah gundukan pasir dan bebatuan besar, tersusun memanjang lebih dari 100 meter. Gundukan ini jika dilihat dari jauh maka akan terlihat seperti pagar yang menghalangi amukan gelombang besar terjadi di pantai ini. Namun jika dilihat secara dekat yaitu ketika kamu menginjakkan kaki di atasnya, maka gundukan ini terlihat seperti sebuah pulau kecil yang terdiri dari bebatuan besar, pasir laut, serta karang-karang kecil.

Gundukan ini hanya terbentuk satu malam saja selama Badai Seroja berlangsung. Diperkirakan, saat Badai Seroja terjadi, angin kencang menyebabkan gelombang besar yang dapat memberikan dorongan besar sehingga mampu membawa pasir dan bebatuan besar menjadi bertumpuk pada suatu tempat, maka terbentuklah gundukan mirip pulau tersebut. Saya mengambil nilai positifnya saja, mungkin dengan adanya pagar buatan alam ini dapat menahan laju gelombang yang begitu besar malam itu, tentu untuk keselamatan warga pesisir.

Terletak di Kota Kupang sehingga mudah dijangkau oleh siapa saja, ditambah lagi untuk biaya masuk hanya perlu membayar Rp2.000/motor. Ketika saya datang, saya disambut senyum hangat dari anak-anak sekitar yang bertugas menjaga pintu masuk menuju pantai sehingga, kesan pertama yang saya dapat adalah ramah. Namun, bukankah memang orang-orang Nusa Tenggara Timur selalu ramah terhadap siapa saja?

Tempat menikmati jajanan mirip kafe
Tempat menikmati jajanan mirip kafe/Resti Seli

Untuk mencapai pulau ini, kamu cukup berjalan kaki saja ketika air sedang surut. Saran saya, silahkan datang ketika sore hari, terlepas dari air yang sedang surut, menikmati senja dan berfoto-foto di pulau kecil ini sangat bagus dan mengasyikan. Terdapat juga kapal-kapal kecil yang terparkir dengan baik.

Pengunjung yang hadir terlihat antusias menapaki gundukan ini dan berlomba-lomba berburu foto bersama kilaunya senja. Jika kamu datang pada siang hari, sebaiknya bawalah payung untuk berteduh dari terik matahari karena di sini belum tersedia lopo atau gazebo. Hanya terdapat beberapa pohon lontar yang berjejer rapi, namun posisinya tidak strategis untuk menikmati keindahan pantai dari situ, apalagi pohon-pohon ini berbatasan langsung dengan jalan raya, sehingga akan sangat terdengar keributan kendaraan yang lewat.

Jadi, saran saya sebaiknya datang lah pada sore hari. Namun, lampu penerang yang belum memadai membuat suasana pada malam hari akan terasa sangat gelap. Pada malam hari, dari pantai ini kamu bisa melihat nyala lampu rumah-rumah yang berada di dataran tinggi, sehingga bisa menambah kesan romantis.

Anak-anak bermain
Anak-anak bermain/Resti Seli

Saya melihat suasana sore di pantai ini cukup ramai. Pesisir pantai yang luas dimanfaatkan anak-anak sekitar untuk bermain bola kaki, berlarian kesana kemari dan tertawa, serta pengunjung yang duduk pada tanggul-tanggul yang disediakan sambil menikmati salome—jajanan yang terkenal di NTT, mirip cilok namun lebih sedikit padat dan berserat—lalu jagung bakar, bagi kamu pecinta kopi, di sini juga tersedia kopi panas atau dingin. Untuk menikmati salome, pengunjung bisa duduk kursi kecil dan meja kecil yang terlihat seperti “kafe” karena dihiasi lampu tumblr.

Setelah Seroja terjadi, pantai yang hancur ini kembali ditata jauh lebih baik sebagai tempat wisata yang menarik perhatian, ditambah lagi muncul fenomena gundukan batu dan pasir tersebut, tentu semakin menambah kesan menarik, indah, dan “ajaib”. 

Saya tertegun dan berpikir “Ada pelangi sehabis hujan.” Artinya setelah hantaman Badai Seroja yang begitu dahsyat, ketakutan dan kekhawatiran selama satu malam itu, oleh-Nya digantikan mahakarya yang bisa kita nikmati keindahannya, bahkan bisa menjadi tempat melepas lelah, mencari inspirasi, ketenangan, dan pastinya memanjakan mata kita. Ini semua bisa kita nikmati untuk jangka waktu yang lama, asalkan kita mau menjaga dan memelihara fenomena-fenomena indah ini.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Resti Seli adalah seorang perempuan muda yang sedang suka-sukanya menulis, fotografi, olahraga, dan travelling.

Resti Seli adalah seorang perempuan muda yang sedang suka-sukanya menulis, fotografi, olahraga, dan travelling.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Sepenggal Kisah di Balik Pembangunan Sirkuit Mandalika

    Travelog

    Singgah ke Masjid Tiban

    Travelog

    Jejak Tsunami Aceh di Monumen Kapal PLTD Apung

    Travelog

    Mengenal Lebih Dekat Kehidupan di Tepian Waduk Jatigede

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Menuju Nusa Tenggara Timur Semasa Corona (1)