Travelog

Saat KA Bengawan Terlambat Lima Jam

Kalau di masa lalu hanya keberuntungan yang akan bikin keretamu tidak telat, sekarang juga hanya keberuntungan yang bakal bikin kereta api yang kamu tumpangi datang terlambat.

PT KAI seperti seorang umat yang sudah bertaubat dan tak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan yang dulu kerap diperbuat—taubatan nasuha. Lagu Iwan Fals, “Kereta Terlambat Dua Jam,” jadi tak lagi relevan.

pt kai

Jalur 4/Fuji Adriza

Selain soal jadwal, PT KAI juga melakukan pembenahan pada banyak hal agar para penumpang nyaman. Sekarang, peron hanya untuk mereka yang memiliki tiket, toilet digratiskan, dan para perokok, salah satu kelompok yang menyumbang devisa paling besar untuk negara, semakin ditepikan.

Andai saja “Revolusi Jonan” tidak kejadian, barangkali kala itu, suatu sore di akhir Februari, saya bisa bebas saja merokok di sudut mana pun di Stasiun Lempuyangan. Nyatanya, saya mesti berjalan sampai ujung stasiun hanya untuk menemukan areal merokok yang berada di samping toilet gratis.

pt kai

Berhenti lama di Linggapura/Fuji Adriza

Di sana, saya berbagi asbak raksasa—tong sampah—dengan seorang petugas PT KAI. Dan, sekali lagi rokok membuktikan diri sebagai salah satu alat diplomasi paling mumpuni. Obrolan tentang perkeretaapian pun mengalir, dari mulai kereta api yang sudah jarang sekali terlambat (terlambat pun hanya beberapa menit), bahwa karyawan PT KAI sekarang sudah tak bisa lagi seenaknya menumpang gratis, sampai fakta bahwa sekarang jumlah penumpang “ilegal” yang dibawa “orang dalam” sudah jauh berkurang.

Ketika klakson KA Bengawan mulai terdengar dari arah timur, orang itu pamit. “Saya naik Bengawan juga,” katanya. Ia kemudian berlari menembus hujan rintik-rintik, menyambut KA Bengawan yang akan menjadi kantornya sampai Jakarta.

pt kai

Beberapa orang penumpang merokok di luar gerbong/Fuji Adriza

PT KAI jadi makin efisien

PT KAI juga jadi makin efisien. Sekarang, 90 hari sebelum keberangkatan, tiket sudah bisa dibeli dari mana pun asal ada sambungan internet. Tak perlu lagi capek-capek mengantre lama-lama di stasiun.

Sebelum berangkat dengan kereta, hanya satu hal yang mesti kamu lakukan, yakni memasukkan kode pemesanan untuk mendapatkan boarding pass. Selembar tipis boarding pass itulah, bersama dengan kartu identitas yang masih berlaku, yang akan dipindai petugas sebagai syarat agar diizinkan memasuki peron.

pt kai

Kantor Kepala Stasiun Linggapura/Fuji Adriza

Hasil pindaian itu dimasukkan ke basis data kemudian dibaca oleh kondektur yang bertugas. Alhasil, sekarang kondektur tak perlu lagi bersusah-payah membolongi tiket dan memeriksa identitas penumpang satu per satu. Mereka hanya perlu “mengintip” data penumpang lewat jendela ponsel pintar yang mereka genggam.

Dulu, dalam sebuah perjalanan kereta, entah berapa kali kondektur mesti bolak-balik membolongi tiket dan mengecek identitas penumpang. Pun begitu, tidak dijamin para penumpang ilegal akan lolos dari pemeriksaan. Para penumpang ilegal ini, asal tidak bersikap tak wajar, punya banyak ruang untuk menyamarkan diri dan bersembunyi, terutama dalam gerbong kereta ekonomi yang biasanya sesak.

pt kai

Petugas restorasi berjalan menawarkan makanan/Fuji Adriza

PT KAI memang jadi lebih responsif terhadap perkembangan teknologi. Sadar bahwa ponsel sudah jadi bagian tak terpisahkan dari manusia, eks perusahaan jawatan itu pun menyediakan colokan di gerbong semua jenis kereta penumpang. Tak terkecuali, dari mulai ekonomi sampai eksekutif.

Sayangnya, ketika kereta api sudah dilengkapi dengan colokan listrik, saya sudah tak terlalu tergantung pada ponsel dan sambungan internetnya. Dalam perjalanan kereta, saya lebih memilih untuk mematikan ponsel supaya bisa menikmati “kemewahan” perjalanan itu sendiri, yakni ketenangan pikiran yang sejenak terlepas dari segala rutinitas.

pt kai

Kereta dari arah barat/Fuji Adriza

Banjir besar di Ketanggungan

“Kita nyampe di Singapura,” ujar seorang anak kecil yang duduk di sisi gerbong yang berseberangan dengan saya. Beberapa penumpang terkekeh. Anak itu barangkali baru bisa membaca. Apa yang disebutnya sebagai “Singapura” sebenarnya adalah Stasiun “Linggapura.”

Di stasiun ini, KA Bengawan kembali berhenti lama. Sudah jam 9 malam. Merujuk pada tiket, semestinya sekitar tiga belas menit lagi saya sudah akan tiba tujuan saya, yakni Stasiun Cirebon Prujakan. Tapi, Bengawan masih sangat jauh dari Prujakan.

Petugas stasiun/Fuji Adriza

Sepasang kekasih dari Kebumen yang duduk di depan saya dari tadi heboh membicarakan sesuatu yang mereka lihat di sosial media. Katanya ada banjir besar selepas Stasiun Ketanggungan yang sumbernya dari luapan Waduk Jatiluhur. Saya tak punya gambaran sama sekali soal banjir itu sebab saya sama sekali tak memantau media sosial sejak beberapa jam yang lalu, sejak ponsel saya lepas dari sambungan Wi-Fi.

Bosan di dalam, saya melompat turun ke luar gerbong. Hujan masih rintik-rintik. Selain saya, puluhan penumpang lain juga turun dari gerbong untuk meregangkan badan yang kaku karena dipaksa duduk berjam-jam. Di samping gerbong kereta semen, saya berkumpul bersama beberapa orang penumpang. Merokok.

Kondektur sedang memperlihatkan video banjir/Fuji Adriza

Seorang kondektur datang dan mengajak kami berbincang-bincang. “Sama, Pak. Kami juga inginnya kita cepat sampai,” ujarnya. “Tapi bagaimana lagi?”

Ternyata benar. Ada banjir besar selepas Stasiun Ketanggungan. Lewat ponsel pintarnya, sang kondektur memperlihatkan pada kami dua video banjir yang dimaksud. Video pertama merekam rel yang digenangi air banjir berwarna coklat. Airnya menutupi rel seperti banjir dalam film Ghibli, “Spirited Away.” Video kedua lebih mengerikan lagi, yakni air sungai yang meluap sampai-sampai mencapai jembatan kereta api!

pt kai

Penumpang kereta duduk di pintu gerbong/Fuji Adriza

Terlambat lima jam

Mau tak mau, kereta mesti antre untuk melintasi ruas rel yang rawan, yang bantalannya menipis akibat banjir yang tak henti-henti mengikis.

Menghadapi force majeure seperti ini, barangkali memang tak banyak yang dapat dilakukan oleh PT KAI. (Di sini pula saya jadi paham betapa kemajuan dalam satu bidang takkan bisa diraih kalau bidang-bidang lain tidak ikut berkembang. Force majeure yang membuat rel kereta api tergenang kemarin pastilah ada hubungannya dengan ketidakmampuan untuk mengelola lahan.) Setidaknya, sebagai ungkapan rasa bersalah atas keterlambatan itu, PT KAI membagikan makanan ringan dan air putih gratis kepada seluruh penumpang KA Bengawan malam itu.

Di sebuah stasiun kecil/Fuji Adriza

Selepas Linggapura, kereta masih sempat berhenti beberapa kali di stasiun-stasiun kecil. Saya juga masih sempat turun untuk merokok bersama para penumpang lain.

Sekitar pukul 1 dini hari kereta meluncur di ruas rel yang terendam banjir. Karena di luar gelap, yang kelihatan dari dalam gerbong hanya bayangan kereta yang terpantul di genangan air berwarna coklat. Kelebat-kelebat di balik jendela itu bukan dementor, melainkan para pekerja yang sedang sibuk mengurus rel agar kereta dapat melaju dengan aman sampai tujuan.

pt kai

Menunggu keberangkatan/Fuji Adriza

Akhirnya, jam 2 pagi KA Bengawan berhenti di Stasiun Cirebon Prujakan, terlambat lima jam dari jadwal yang sudah ditentukan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Pembaca realisme magis dan catatan perjalanan.

Pembaca realisme magis dan catatan perjalanan.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’

    Travelog

    Mencari Sejarah yang Terkubur di Kuburan Londo, Sukun

    Travelog

    Menyambangi Gedung Sate Menjelang Momen Puncak Reformasi 1998

    Travelog

    Dari Jogja ke Blora, Melawat ke PATABA

    2 Comments

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.