Semasa Corona

Rupa Ramadan yang Berbeda

Aku membuka kedua mataku pada dini hari sekitar pukul 03.15 WIB. Ada yang berbeda. Tak kudengar suara khas kentongan bersahutan yang biasa membangunkanku dan warga kampung semasa Ramadan.

Hari ini adalah hari pertama puasa Ramadan 1441 Hijriah. Telah banyak kulihat poster digital bertebaran di dunia maya sejak semalam. Ucapan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1441 Hijriah juga berkeliaran menjadi penanda bahwa Ramadan telah tiba.

Ini juga berarti sudah hampir satu bulan masa karantina diberlakukan di daerahku, Yogyakarta. Pandemi Coronavirus Disease 2019 yang kemudian akrab disapa COVID-19 telah merebak luas, tak terkecuali di daerah yang kutinggali. Doa-doa yang dirapal banyak orang dari ragam kalangan belum terwujud, yakni agar COVID-19 usai sebelum Ramadan tiba—atau setidaknya mulai menunjukkan tren penurunan.

“Ramadan tahun ini akan benar-benar beda, le,” ujar ibuku dengan suara lirih.

“Iya, Bu. Semoga ini semua segera berakhir njih, Bu,” sahutku.

COVID-19 benar-benar luar biasa. Ia bisa mengubah banyak hal, termasuk tradisi-tradisi pada bulan Ramadan.

Imbauan-imbauan pemerintah untuk mengurangi kerumunan, juga fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), barangkali memang membuat Ramadan kali ini akan beda. Selain tak mendengar suara kentongan saat sahur, acara silaturahmi atau reuni, entah ngabuburit atau buka puasa bersama teman-teman, juga takkan berlangsung. Mungkin kita juga takkan bersua tetangga dan beramai-ramai dengan mereka sembahyang tarawih di masjid. Dan lain-lain.

“Mas-mbakmu nggak mudik ke Jogja, mengikuti imbauan pemerintah juga,” ucap ibu di lain kesempatan, dengan wajah sedikit kecewa karena anak-anaknya belum bisa pulang.

“Mungkin sementara ini yang terbaik, Bu,” balasku sambil menepuk pundak ibu.

“Insyaallah, ya, Le, kita bisa ketemu habis pandemi COVID-19 ini berakhir,” sahut ibu berharap.

Tradisi mudik atau pulang ke kampung halaman juga diusik oleh COVID-19. Terdisrupsi sudah kebiasaan turun-temurun itu. Kini, bertemu sanak saudara dan sungkeman meminta maaf sebagai esensi dari kembali kepada fitrah atau kesucian hanya bisa dilakukan di ruang rindu.

Momen ini membuat kita semua kembali merenung. Benar barangkali bahwa kita takkan menghargai pentingnya keberadaan sesuatu atau seseorang sampai kita kehilangannya. Lagipula, alasan tak mudik tahun ini bukanlah karena tak rindu, tapi karena sayang pada ayah dan ibu.

Waktu yang teramat lowong ini mungkin bisa kita manfaatkan untuk hal-hal lain. Sembari bekerja dari rumah (work from home) dan menjalani pembatasan sosial (social distancing), kita bisa merancang rencana hidup. Kita juga bisa belajar untuk menghargai hal-hal yang kita anggap sepele. Entah apa pun itu.

Disadari atau tidak, sekarang kita jadi lebih sering berkontak dengan teman, kerabat, dan saudara lewat gawai. Tidak sedikit juga yang kembali menjalani hobi dan mengembangkan diri atau hal-hal lain yang selama ini masih berupa rencana. Solidaritas, yang lama terlupakan padahal penting dan esensial, kembali hadir, dari sesama, untuk sesama, dan bagi sesama, untuk mengatasi pandemi.

Begitulah. COVID-19 mengubah banyak hal, termasuk rupa Ramadan.

Tapi, yakinlah kita bisa bertahan. Rupa yang berbeda ini bisa menjadi harapan, bahan bakar yang membuat kita akan lebih menghargai bulan-bulan Ramadan di tahun-tahun depan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mahasiswa tingkat akhir di Kampus Kerakyatan, UGM Yogyakarta. Seorang pembelajar yang masih selalu ingin belajar banyak hal.

Ihsan Nur Rahman

Mahasiswa tingkat akhir di Kampus Kerakyatan, UGM Yogyakarta. Seorang pembelajar yang masih selalu ingin belajar banyak hal.
Artikel Terkait
Semasa Corona

Akhir Perjalanan Tiga Tahun di Kota Istimewa

Semasa Corona

Angkat Ransel Terakhir sebelum Corona

Pilihan EditorSemasa Corona

Akhirnya Aku Bisa Pulang

Pilihan EditorSemasa Corona

Empat Babak Corona

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *