Travelog

“Road Trip” Melintasi Sumatera Barat

Kemarin kami mengelilingi Danau Singkarak, danau terluas di Sumatera Barat, menumpang kendaraan roda empat. Cukup mengejutkan bahwa ternyata untuk mengelilingi danau sebesar itu hanya perlu waktu sekitar 1-1,5 jam.

Di beberapa titik di pinggir danau, saya melihat keramba-keramba ikan dipasang. Budidaya perikanan di pinggiran Singkarak memang lumayan semarak. Ikan khas Danau Singkarak adalah ikan bilih, yang tampilan fisiknya mirip-mirip ikan wader.

Kami juga sempat singgah sebentar di Ombilin, dekat perbatasan Solok dan Tanah Datar, untuk makan sepiring katupek pitalah yang lontongnya besar bukan main. Jadi, ketika kami tiba kembali di Kota Solok yang dingin, hari sudah malam. Kami mesti istirahat sebab esok hari kami akan melakukan road trip melintasi Sumatera Barat.

road trip melintasi sumatera barat
Suasana Pasar Sawahlunto saat road trip melintasi Sumatera Barat/Teguh Fasty Syaputra

“Road trip” melintasi pelosok Sumatera Barat

Soal transportasi publik, perkembangan Sumatera Barat terbalik. Sejak Padang tidak lagi punya terminal sentral dan kendaraan pribadi jumlahnya makin menjadi-jadi, transportasi publik seakan-akan jadi pilihan kesekian.

Akibatnya perusahaan otobis mesti mengetatkan ikat pinggang. Ukuran bis pun semakin menyusut. Lihat saja armada bis ANS Padang-Bukittinggi yang dulunya berupa bis Mercedes-Benz besar sekarang jadi bis-bis mini yang ukurannya hanya sedikit lebih besar dari elf. Tentu saja bis-bis itu masih tetap suka ngetem lama-lama. Kalau tidak, dari mana mereka akan dapat penumpang?

road trip melintasi sumatera barat
Kota Sawahlunto yang berbukit-bukit/Teguh Fasty Syaputra

Maka, untuk urusan jalan-jalan di Sumatera Barat, adalah pilihan paling bijaksana untuk menggunakan kendaraan pribadi. Selain lebih cepat, kamu juga akan bisa menjangkau atraksi-atraksi wisata yang letaknya terpencil, seperti yang kami lakukan hari ini.

Setelah istirahat semalam, kami pun berkendara menyusuri Jalan Lintas Sumatera menuju kota tambang yang dulu sempat berjaya, Sawahlunto. Naik kendaraan pribadi ke Sawahlunto cuma menghabiskan waktu sekitar setengah jam perjalanan, melewati Silungkang yang penduduknya dikenal sebagai penenun dan penganyam handal.

Sisa-sisa kejayaan tambang batubara

Perbukitan yang mengelilingi Sawahlunto itu seolah-olah tak hanya mengisolasi Sawahlunto secara geografis, namun juga menjebaknya di masa lalu. Kota-kota di Sumatera Barat memang lebih banyak yang sepi ketimbang yang ramai. Tapi Sawahlunto lain; saya seperti memasuki kota di film Silent Hill.

road trip melintasi sumatera barat
Rel kereta api di depan Museum Kereta Api Sawahlunto/Teguh Fasty Syaputra

Plang menuju Museum Kereta Api itu membawa kami melintasi pasar tradisional. Sebagian orang menggunakan sarung untuk menahan udara dingin yang sesekali masih berhembus. Saya melihat ke kanan, ke arah permukiman yang terususun di lereng perbukitan: pasti di rumah-rumah itu orang-orang masih asyik kemulan. Kami memarkir mobil di depan Museum Kereta Api yang letaknya tak jauh dari pasar.

Sawahlunto menjual masa lalu; akumulasi dari cerita-cerita semenjak dua abad silam. “Ditaruko” ahli geologi Belanda sekira paruh abad ke-19, Sawahlunto dijadikan kota pada 1 Desember 1888. Empat tahun setelahnya, yakni 1892, kota ini mulai menghasilkan batubara.

Kami pun memasuki Museum Kereta Api Sawahlunto. Di masa-masa puncak kejayaan tambang batubara dulu, museum ini adalah sebuah stasiun terminus, bagian dari jaringan rel kereta api yang menghubungkan Padang, Solok, Sawahlunto, Padang Panjang, Bukittinggi, dan Payakumbuh.

Kantor Bukit Asam/Teguh Fasty Syaputra

Selain satu lokomotif dan lima gerbong tua, museum ini juga menyimpan banyak pernak-pernik perkeretaapian warisan zaman beheula. Selama sekitar satu jam kami berkeliling di antara alat sinyal dan komunikasi, lonceng penjaga, timbangan, dan peninggalan-peninggalan lain yang jadi saksi bisu sejarah dunia perkeretaapian Indonesia.

Lubang Mbah Soero, peninggalan orang rantai

Dari Museum Kereta Api, kami jalan kaki ke kawasan kota tua Sawahlunto. Gedung-gedung tua di sini masih terpelihara dengan baik. Contohnya Gedung Societeit (sekarang dinamakan Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto) yang di depannya ada kolam air mancur itu.

Kami menuruti plang ke arah Lubang Soero, terowongan tambang batubara pertama di Lembah Segar yang digali pada tahun 1898. Nama “Soero” diambil dari seorang mandor “orang rantai” alias pekerja paksa. Orang rantai berasal dari berbagai kalangan, dari mulai tahanan politik sampai kriminal murni. Dibandingkan orang rantai, para tawanan di film Cool Hand Luke cuma akan tampak seperti segerombolan orang sedang piknik. Orang rantai dirantai di leher, tangan, dan kaki!

Mulut terowongan Lubang Mbah Soero/Teguh Fasty Syaputra

Sebelum masuk Lubang Mbah Soero, kami menunggu sebentar di Gedung Info Box. Di dinding bagunan bertingkat itu, selain kostum lawas pekerja tambang, juga dipajang foto-foto para tokoh yang berasal dari sekitar Sawahlunto, seperti Muhammad Yamin dan Djamaluddin Adinegoro.

Kami dipinjamkan sepatu boots dan helm proyek. Seorang pemandu membuka jalan dan menjelaskan macam-macam tentang Lubang Mbah Soero. Saya lumayan deg-degan ketika menuruni tangga terowongan, meskipun di beberapa titik beberapa lampu kuning temaram dipasang. Lima belas meter di bawah permukaan, sensasinya seperti masuk ke Lubang Japang di Bukittinggi untuk pertama kali. (Lubang Japang yang belum dilapisi semen!)

road trip melintasi sumatera barat
Di dalam Lubang Mbah Soero/Teguh Fasty Syaputra

Saya jadi makin merinding waktu pemandu itu bilang, “Masih ada kerangka-kerangka manusia yang belum digali di dinding terowongan ini.” Untung saja terowongan itu tak terlalu panjang. Jadi, sebentar saja kami bertiga sudah kembali ke permukaan dan diselimuti sinar matahari lagi!

Ke Istana Pagaruyung via Talawi

Yang tak banyak diketahui wisatawan adalah ada jalan yang menghubungkan antara Sawahlunto dan Istana Pagaruyung di Batusangkar, lewat sebuah kecamatan yang bernama Talawi. Kami berkendara lewat jalanan yang sepi. Sekali-sekali, di kanan kiri saya melihat tumpukan batubara dan silo-silo raksasa.

Di Talawi kami berhenti sebentar di makam salah seorang tokoh pendiri negara Indonesia, yakni Muhammad Yamin. Tanpa saya beri tahu pun pasti kamu sudah tahu siapa Muhammad Yamin—dan segala kontroversi tentang dirinya. Selain menjadi salah seorang motor penggerak Sumpah Pemuda, ternyata Yamin juga adalah saudara dari salah seorang tokoh pers nasional, yakni Djamaluddin Adinegoro.

Makam Muhammad Yamin di Talawi yang dilewati saat road trip melintasi Sumatera Barat/Teguh Fasty Syaputra

Kami terus mengikuti jalan sampai akhirnya tiba di Istana Pagaruyung di Batusangkar. Istana berupa rumah gadang raksasa ini telah berkali-kali terbakar dan dibangun ulang. (Oleh sebab-sebab alamiah seperti petir.) Tapi meskipun sudah beberapa kali direnovasi, ciri utama Istana Pagaruyung masih tetap dipertahankan, yakni halaman yang luas bukan main.

Kini halaman itu tampak gersang. Namun dulu pelataran itu cukup asri karena dihiasi tumbuhan. Kalau tidak salah, saya punya foto saat duduk di depan salah satu pohon (barangkali pohon pinang).

road trip melintasi sumatera barat
Istana Pagaruyung di Batusangkar/Teguh Fasty Syaputra

Di sinilah saya pertama kali diizinkan memencet rana tustel oleh ayah. Sebenarnya saya tidak minja izin. Kebetulan saja waktu itu saya yang memegang tustel. Dari dalam Istana Pagaruyung, melalui salah satu jendela, saya mengeker dan membidik ayah yang sedang duduk di luar. (Rugi satu frame!)

Melintasi garis khatulistiwa

Dari Batusangkar, kami meluncur ke arah Padang Panjang. Disaksikan Gunung Marapi dan Singgalang, kemi terus melaju ke Bukittinggi. Berkendara santai, dari Bukittinggi perlu waktu sekitar 1,5 jam untuk ke garis lintang 0 derajat di Bonjol. Kalau kamu belum terbiasa lewat jalan yang kecil, menanjak, dan berliku ala Sumatera, sebaiknya pelan-pelan saja.

Khatulistiwa Bonjol/Teguh Fasty Syaputra

Lagian, buat apa tergesa-gesa. Pemandangan dari Bukittinggi ke Bonjol via Palupuh akan memanjakan matamu—perbukitan hijau, jurang-jurang dalam, dan sawah-sawah sengkedan seperti di Tegallalang, Ubud.

Ketika akhirnya tiba di Bonjol, kesan pertama yang muncul dalam kepala saya adalah: kayaknya cuma kami yang “care” bahwa kami sedang melintasi garis khatulistiwa. Entah orang-orang lain sudah terbiasa (atau tidak tahu) atau bagaimana, yang pasti selain kami tak ada yang berhenti saat melihat gapura persembahan BRI yang bertuliskan, “Anda Melint(a)si Khatulistiwa” yang bahkan dilengkapi terjemahan: “You Are Crossing the Equator.”

road trip melintasi sumatera barat
Tugu Equator/Teguh Fasty Syaputra

Di samping gapura itu ada bangunan logam berupa bola biru raksasa yang berkarat dan bolong di sana-sini. Di sisi lain gapura ada sebuah bangunan berbentuk rumah gadang yang di depannya ada patung Tuanku Imam Bonjol sedang naik kuda. Itu adalah Museum Tuanku Imam Bonjol, salah satu tokoh Perang Paderi. Tapi museum itu sama saja; seperti tak digubris. Padahal isinya lumayan keren, seperti beberapa koleksi jubah dan senjata Tuanku Imam Bonjol

Kami cuma sebentar di sana. Barangkali hanya sekitar satu jam. Kemudian kami kembali “mendaki” garis lintang ke Bukittinggi. Setelah nongkrong beberapa jam di areal Jam Gadang, menjelang tengah malam kami kembali ke Solok lewat Danau Singkarak. Tapi, tak seperti kemarin, kali ini Danau Singkarak yang indah diselimuti gelap malam.

Avatar

Pembaca realisme magis dan catatan perjalanan.
Related posts
Travelog

Belajar Memilah Sampah "Iso Bosok" dan "Ora Iso Bosok" di Kongres Sampah

Pilihan EditorTravelog

Sederhananya Pulau Meosmanggara di Raja Ampat

Travelog

Angkringan Kedaulatan Rakyat

Travelog

Sarapan Sego Wiwit di Puncak Sosok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *