Itinerary

7 Destinasi “Anti-Mainstream” di Bali

“Males ah ke Bali. Rame,” begitu kamu bilang. Tunggu dulu. Bali mana dulu yang kamu maksud? Bali itu luas, dan para turis biasanya cuma mengunjungi destinasi-destinasi yang… turistik. Misalnya Kuta, Tanah Lot, Jimbaran, Uluwatu, atau Danau Beratan.

Destinasi-destinasi mainstream seperti itu tentu bakalan rame. Kalau mau sepi, coba jalan ke destinasi-destinasi anti-mainstream di Bali. Nih, 7 destinasi anti-mainstream di Bali yang bisa kamu kunjungi:

1. Bukit Campuhan

destinasi anti-mainstream di bali
Foto aerial Bukit Campuhan/Syukron

Urusan atraksi wisata alam, ternyata Ubud nggak cuma punya sawah-sawah sengkedan yang berteras-teras. Jalan sebentar melewati pura di seberang Museum Blanco, kamu akan tiba di sebuah bukit yang dilapisi padang rumput. Buat kamu yang belum tahu; namanya Bukit Campuhan.

Saat angin bertiup, rumput-rumput itu akan bergoyang mengikuti arah hembusan. Di tengah-tengah padang rumput itu ada jalur setapak tempat kamu bisa jalan santai, jogging, atau bersepeda. Tapi hati-hati, ya. Namanya bukit pasti terjal. Waktu yang paling cocok buat ke Bukit Campuhan adalah di pagi atau sore hari saat cahaya matahari datang dari sudut miring, bikin Bukit Campuhan tampak lebih artistik.

2. Petulu Gunung

destinasi anti-mainstream di bali
Burung kokokan di Petulu Gunung via travellerkaskus.com/Vifick

Siapa yang pernah dengar Banjar Petulu Gunung? Mungkin nggak banyak yang ngacung. Tapi meskipun nggak terlalu tenar, banjar yang terletak di Desa Petulu, Ubud, ini punya atraksi wisata unik yang mungkin nggak akan kamu temukan di desa-desa lain di Indonesia, yakni kawanan burung kokokan alias bangau.

Bukan, Petulu Gunung bukannya punya kebun binatang. Burung kokokan itu hidup bebas di pepohonan sepanjang banjar. Konon, kawanan bangau itu pertama kali muncul sekitar tahun 1965 setelah banjar itu mengadakan upacara odalan. Semula cuma tujuh ekor, sekarang jumlahnya sudah sampai ratusan. Waktu terbaik buat melihat burung kokokan di Petulu Gunung adalah sore hari, sekitar jam 5 sampai 6 sore. Kamu bisa melihatnya dari tingkat dua balai banjar yang memang sengaja dibikin buat melihat burung-burung utusan Ida Bhatara itu.

3. Danau Tamblingan

destinasi anti-mainstream di bali
Kemping seru di Danau Tamblingan via travellerkaskus.com/Vifick

Tentu kamu sudah pernah dengar Danau Beratan yang pura di danaunya dijadikan gambar buat uang kertas Rp 50.000. Nah, kalau kamu menelusuri jalan ke utara sedikit ke Desa Munduk di Kabupaten Buleleng, kamu bakal tiba di satu danau lagi yang lebih jarang dikunjungi wisatawan daripada Danau Beratan.

Namanya Danau Tamblingan. Lokasi ini jadi favorit pramuka buat kemping dan pasangan yang mau menikah buat foto prewedding. Danau Tamblingan lebih kecil dibandingkan Beratan. Tapi, karena dipagari oleh bukit hijau dan dihiasi oleh pura di pinggir danau, atmosfer spiritual Danau Tamblingan nggak kalah kental dibandingkan Danau Beratan.

4. Bukit Jemeluk

destinasi anti-mainstream di bali
Pemandangan dari Bukit Jemeluk/Fuji Adriza

Apa lagi ini? Bukit Jemeluk? Nama ini kurang familiar memang. Letaknya lumayan jauh dari Kuta. Kamu harus berkendara sekitar 2-3 jam ke Kabupaten Karangasem. Bukit Jemeluk terletak di Desa Amed dan, karena menghadap timur, merupakan tempat yang pas buat menikmati matahari terbit.

Dari sana kamu bisa mengagumi keindahan Gunung Agung yang menjulang tinggi menyangga langit Bali. Setelah matahari terbit, kamu juga bakal bisa lihat perahu nelayan lalu lalang mencari ikan makarel di perairan Amed yang juga dikenal sebagai salah satu spot selam terbaik di Bali.

5. Taman Ujung Sukasada

destinasi anti-mainstream di bali
Tampak atas dari Taman Ujung Sukasada/Syukron

Kalau Yogyakarta punya Istana Air Taman Sari, Bali punya Taman Ujung Sukasada. Istana milik keluarga Kerajaan Karangasem ini rampung dibangun tahun 1921. Namun bangunan Taman Ujung Sukasada sempat hancur akibat letusan Gunung Agung tahun 1963 dan gempat dahsyat tahun 1975.

Sekarang, Taman Ujung Sukasada yang terletak sekitar 5 km dari Kota Amplapura ini jadi lokasi favorit masyarakat lokal buat piknik bersama keluarga tercinta. Anak-anak akan berlari-larian di antara bunga warna-warni yang ditanam di salah satu pojok istana, sementara para orangtua akan…. sibuk menemani anak mereka. Di Taman Ujung Sukasada juga ada semacam gardu pandang tempat kamu bisa melihat pesisir timur laut Pulau Dewata.

6. Bunut Bolong

pantai batu bolong
Berfoto di Bunut Bolong/Fuji Adriza

Sekitar dua jam perjalanan dari Denpasar, di Desa Manggisari, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, kamu bakal tiba di Bunut Bolong. Bunut adalah sebutan dalam bahasa Bali buat pohon sejenis beringin. Sementara bolong… ya bolong. Jadi Bunut Bolong adalah pohon bunut yang bolong.

Karena unik, Bunut Bolong adalah salah satu atraksi wisata favorit masyarakat lokal. Di dekat Bunut Bolong juga ada warung tempat kamu bisa nongkrong dan mengisi perut setelah lelah foto-foto buat menambah koleksi foto di Instagram.

7. Nusa Penida

pantai atuh nusa penida
Pantai Atuh, Nusa Penida/Fuji Adriza

Namanya pulau, kamu mesti nyeberang lautan kalau mau ke Nusa Penida. Kalau mau bawa kendaraan pribadi, kamu bisa naik ferry di Padangbai, yang berangkat satu hari sekali. Naik ferry akan makan waktu sekitar 1,5 jam. Tapi kalau kamu cuma bawa badan, kamu bisa ke Nusa Penida pakai kapal cepat yang berangkat dari Sanur.

Pulau Nusa Penida masih sepi banget. Jalannya kecil dan berbukit. Di pesisir, kamu bakal menemukan banyak warga yang sedang memanen atau menjemur rumput laut. Dulu, pantai yang jadi primadona di Nusa Penida adalah Broken Beach. Tapi sekarang yang diincar orang adalah Pantai Kelingking (yang tebing menjoroknya tampak seperti kepala t-rex).

Gimana? Penasaran nggak sama destinasi-destinasi anti-mainstream di bali itu?

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
ItineraryNusantarasa

Ada Apa dengan Babi dalam Budaya Masyarakat Batak?

ItineraryNusantarasa

Menyantap Tiram Bakar Khas Barru

Itinerary

Masjid Menara Kudus, Kemegahan Arsitektur Kuno Warisan Sunan Kudus

Itinerary

Museum Layang-Layang Indonesia: Merawat Keelokan Budaya dengan Permainan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.