Interval

Nasib Kebun Binatang saat Pandemi

Hampir dua tahun, Indonesia dan dunia telah hidup berdampingan dengan COVID-19. Pandemi tak hanya melumpuhkan aktivitas manusia, kebun binatang juga terdampak. Banyak satwa yang bernasib malang akibat pandemi yang memaksa kebun binatang menutup operasional.Penutupan ini tentu saja menyebabkan pemasukan penjualan tiket turun drastis. Bahkan, bisa disebut tidak ada pemasukan dari situ. Sejumlah kebun binatang di Indonesia pun harus memutar otak untuk tetap bertahan di masa pandemi. 

Di samping fungsi rekreasi, kebun binatang di Indonesia juga menjadi tempat untuk riset dan konservasi satwa. Menurut data survei internal Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI), terdapat 60 kebun binatang yang menjadi anggota organisasi profesi tersebut. Anggota PKBSI mengemban hajat hidup kurang lebih 5.000 jenis satwa dengan 70.000 individu satwa.

Harimau Sumatra-Unsplash-Rebecca Campbell
Harimau Sumatra via Unsplash/Rebecca Campbell

Nasib kebun binatang

Pandemi di Indonesia dimulai 2 Maret 2020 ketika dua orang terkonfirmasi positif COVID-19. Pada tanggal 9 April 2020, wabah tersebut sudah menyebar ke 34 provinsi. Pemerintah pun mengambil langkah sigap memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kebijakan itulah yang menyebabkan banyak sektor penunjang kehidupan masyarakat berhenti beroperasi. Hanya sektor esensial dan kritikal yang boleh tetap berjalan dengan penerapan protokol kesehatan. Pemberlakuan kebijakan PSBB di Indonesia mengakibatkan sejumlah kebun binatang terpaksa tutup demi memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

Sejak awal penutupan kebun binatang seluruh Indonesia, pihak PKBSI menyatakan bahwa hanya sekitar 10% anggota yang mampu memberi pakan selama satu hingga tiga bulan. 90% lainnya hanya bisa bertahan kurang dari satu bulan, bila tidak ada bantuan sama sekali. Bukan tanpa sebab, hal itu terjadi karena kebanyakan kebun binatang Indonesia mengandalkan pemasukan dari penjualan tiket ke pengunjung. Jika ditutup dan tidak ada kunjungan, pemasukan berkurang drastis.

Rusa di Kebun Binatang-Unsplash-Helene Nguyen
Rusa di Kebun Binatang via Unsplash/Helene Nguyen

Di sisi lain, kehidupan di kebun binatang harus terus berlanjut. Mulai dari biaya pakan ternak, biaya perawatan, maupun gaji para karyawan. Kebun binatang tidaklah sama dengan bisnis yang bisa ditutup dan merumahkan karyawan. Kebun binatang menyangkut kehidupan makhluk hidupnya. Belum lagi, sebagian satwa di kebun binatang merupakan satwa dilindungi, terancam punah, serta populasinya tak banyak di alam.

Upaya bangkit kembali

Permasalahan pakan memang jadi masalah utama saat kebun binatang tutup. Sehingga, manajemen kebun binatang perlu melakukan penyesuaian. Contoh saja upaya substitusi pakan, puasa satwa, maupun pengurangan porsi. Upaya substitusi pakan dilakukan oleh pengelola kebun binatang di berbagai daerah.

Pengelola kebun binatang semula memberi hewan karnivora pakan 50% ayam dan 50% daging sapi. Kini porsinya menjadi 75% daging ayam serta 25% daging sapi. Ada juga hewan herbivora yang pakannya diganti dengan kualitas standar, meski biasanya diberi pakan berkualitas tinggi.

Untuk dampak sendiri, manajemen berujar substitusi pakan dapat mempengaruhi bobot satwa di kemudian hari. Penurunan berat badan tidak bisa ditampik. Apalagi kalau bukan karena nutrisi, gizi, maupun serat yang terkandung di pakan pengganti berbeda dengan pakan aslinya.

Di beberapa kebun binatang, kebijakan puasa satwa diberlakukan. Maksudnya adalah terdapat satwa-satwa yang diberi makan dua hari sekali agar bisa bertahan dan menekan anggaran untuk pakan. Berkaitan dengan permasalahan pakan, sejumlah kebun binatang masih akan memantau kondisi satwa dengan menyiagakan dokter hewan. Perhatian lebih diberikan pada satwa yang masuk kategori rawan kepunahan.

Permasalahan berikutnya adalah soal karyawan yang bekerja di kebun binatang, misalnya zookeeper dan dokter hewan. Menurut data PKBSI, ada 22.000 pegawai di kebun binatang anggotanya. Upaya yang dilakukan pihak manajemen adalah memberlakukan shift kerja. Hal ini tentu memengaruhi upah karyawan yang akan dipotong karena durasi kerjanya pun berkurang. Meskipun demikian, ternyata permasalahan gaji karyawan masih jadi kendala karena kendala finansial yang dialami pihak kebun binatang.

Kemudian, terdapat permasalahan seputar pajak yang menghantui manajemen kebun binatang. Situasi pandemi ini, pajak di sejumlah daerah masih perlu dibayar penuh sama dengan sebelum pandemi melanda. Padahal, aliran dana dan pemasukan kebun binatang bisa dibilang surut. Ketika ada momen-momen yang seharusnya jadi kesempatan emas (peak season), kala itu pula kebun binatang ditutup. Momentum peak season yaitu libur tahun baru, libur semester, maupun libur lebaran. Manajemen tentu mengharap keringanan mengingat kondisi sekarang, seperti pembebasan pajak dan penghapusan denda.

Poster Donasi SOZ Benih Baik X PKBSI - Situs PKBSI
Poster Donasi SOZ Benih Baik X PKBSI/Situs PKBSI

Kontribusi masyarakat

Segelintir kebun binatang akhirnya berusaha mencari dana tambahan selain dari bantuan pemerintah setempat. Dana itu dapat diperoleh dari donasi masyarakat umum. PKBSI pun sempat menggalang dana untuk kesejahteraan satwa dan karyawan kebun binatang anggota di seluruh Indonesia. Di samping itu, pengelola beberapa kebun binatang aktif mengajak masyarakat untuk berpartisipasi demi keberlanjutan hidup satwa di kebun binatang. 

Gerakan galang dana itu diwujudkan dengan semisal masyarakat bisa membeli tiket yang temponya hingga beberapa bulan berikutnya. Selain itu, terdapat juga donasi dengan hadiah berupa masker bergambar satwa yang lucu. Bahkan, ide menarik lain juga muncul, yakni adopsi satwa. Bukan berarti satwa yang diadopsi akan diambil dan jadi milik pengadopsi. Namun, masyarakat dapat membantu memberi pakan pada satwa tertentu.

Segala upaya dilakukan guna menyiasati agar kebun binatang tetap “hidup” di era pandemi. Walaupun ada kebun binatang yang sudah boleh beroperasi kini, tetap saja ada tatanan yang berubah. Pembatasan jumlah pengunjung dan penerapan protokol kesehatan ketat jadi hal baru di kebun binatang. Belum lagi kalau kebijakan pemerintah berubah, sehingga kebun binatang terpaksa tutup kembali. Sejatinya tanggung jawab atas kesejahteraan makhluk hidup di kebun binatang tidak hanya di tangan pengelola, tetapi juga pemerintah dan masyarakat. Mari bantu selagi mampu!Bagi teman-teman yang ingin berdonasi demi membantu kehidupan satwa di kebun binatang, klik tautan berikut di sini atau langsung kunjungi akun Instagram PKBSI di sini.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu

Tasya berasal dari Karanganyar. Mahasiswa setengah tua yang hobi menulis, membaca, dan mengkhayal tiap hari. Tasya ingin jadi orang berguna saja nanti.

Tasya berasal dari Karanganyar. Mahasiswa setengah tua yang hobi menulis, membaca, dan mengkhayal tiap hari. Tasya ingin jadi orang berguna saja nanti.
    Artikel Terkait
    IntervalPilihan Editor

    Tani Jiwo: dari Hostel ke Pemberdayaan Literasi Dieng

    IntervalPilihan Editor

    Membedah Borobudur: Mengapa Kelebihan Pengunjung Menjadi Bumerang

    Interval

    Menilik Janji Ibu Kota Nusantara

    Interval

    KRMT. L. Nuky Mahendranata Nagoro: Geliat Sejarah dalam Literasi Media Sosial

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Mengunjungi Taman Safari Prigen Semasa Corona