Travelog

Jejak Tsunami Aceh di Monumen Kapal PLTD Apung

Gegap gempita perkotaan berubah menjadi keheningan jiwa
Susunan rapi perumahan telah tergantikan oleh hamparan raga tak bernyawa
Ketakutan, tangisan, dan histeris teriakan dari saudara sebangsa
Kenangan kelam Tsunami Aceh 2004 silam masih membekas bergelora

Peristiwa mengerikan pada Desember 2004 tentu menyisakan trauma mendalam bagi mereka yang kehilangan sanak saudara. Bukan hanya bagi warga Aceh, tetapi seluruh masyarakat Indonesia juga merasakan hancurnya jiwa akibat tsunami. Walau telah bertahun-tahun berlalu, ingatan akan hal itu terus saja menggelayuti. Bayangan akan tsunami masih dapat disaksikan dengan keberadaan Monumen PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Apung. Sebuah kapal tua sepanjang 63 meter dengan bobot mencapai 2.600 ton yang telah beristirahat selamanya di pusat kota Banda Aceh.

‘Takjub’ adalah satu kata yang dapat saya ucapkan ketika menengok langsung Monumen PLTD Apung. Bukan karena heran dengan kemegahannya, tetapi berusaha mencerna bagaimana bisa kapal raksasa itu bergerak ke tengah perkotaan. Bukti kedahsyatan air bah yang berasal dari Samudera Hindia.

Gerbang Masuk PLTD Apung
Gerbang masuk PLTD Apung/Melynda Dwi Puspita

Setibanya di pintu masuk yang bertuliskan Situs Tsunami PLTD Apung, mata saya tidak bisa berpaling dari besi-besi tua yang mulai berkarat. Kerangka-kerangka kapal yang mulai menua, tetapi masih bisa berdiri kokoh menyimpan segala memori pahit tentang tsunami. Kapal yang terseret sejauh 4 kilometer dari Pelabuhan Ulee Lheue itu, hanya bisa menyelamatkan satu orang dari 13 awak kapal.

“Ayo,” seru seorang kawan yang meminta saya untuk segera menaiki anak tangga. Langkah demi langkah setiap anak tangga menuju dek kapal telah saya lalui. Tak sengaja tangan saya menyentuh pegangan besi di sisi kanan dan kiri tangga. Berusaha membayangkan bagaimana para pekerja kapal melawan rasa takut dan kegelisahan untuk menyelamatkan diri. Tatkala kapal milik PLN (Perusahaan Listrik Negara) itu secepat kilat mengantarkan mereka kepada ajal.

Hampir semua bagian kapal berwarna coklat kehitaman akibat karat yang menggerogoti, cat-catnya pun juga telah banyak yang mengelupas. Bukti kekuatan air laut dan waktu yang terus berjalan. Hanya nampak beberapa bendera merah putih berkibar tertiup angin yang seakan-akan meminta kita, bangsa Indonesia untuk kembali bangkit. Tidak untuk terus-menerus berlarut dalam kesedihan akibat salah satu bencana terbesar yang pernah menimpa bumi pertiwi. Semua mesin-mesin kapal dan pretelan kecil-kecilnya pun masih ada di tempat semula. Kapal itu masih bisa menahan beban para pengunjung yang datang silih berganti.

Langkah saya terhenti sejenak pada sebuah tugu berbentuk miniatur kapal yang dilahap ombak. Nampak sepeti sebuah patung biasa yang mudah ditemui di banyak tempat. Namun terdapat perbedaan yang jelas terlihat di tugu itu sehingga membuat saya merinding berbalut kesedihan. Berbaris-baris nama warga sekitar yang menjadi korban tsunami terpatri di keseluruhan bagian tugunya. Begitu banyak nama yang tertulis hingga terlihat seperti semut-semut yang sedang berhenti bergerak.

Pemandangan Kota
Pemandangan kota/Melynda Dwi Puspita

Saya memperhatikan pengunjung yang juga lalu lalang. Ada yang nampak bahagia menikmati pemandangan kota dari atas kapal, ada yang asyik berswafoto bersama teman-teman. Ada pula yang secara khusus membaca satu-persatu nama-nama korban pada tugu kapal. Entah ia hanya sekadar memuaskan rasa ingin tahu, ataukah ingin mencari salah satu nama yang mungkin dikenali. Hingga saat ini masih banyak korban tsunami yang menghilang tidak ditemukan jasadnya.

Butuh waktu bermenit-menit bagi saya supaya bisa menelusuri semua bagian kapal. Begitu besarnya Kapal PLTD Apung itu telah menunjukkan begitu besarnya pula manfaat yang dirasakan masyarakat sekitar. Ketika dulunya kapal itu telah berjasa memasok kebutuhan listrik. Hingga tiba saatnya saya sampai di akhir perjalanan, kepala saya mulai menengadah memperhatikan seluruh sisi cerobong asap yang tinggi menjulang. Konon katanya, cerobong asap yang berada di puncak kapal itu, telah menjadi tempat yang mampu menyelamatkan nyawa satu korban pekerja kapal.

Teropong PLTD Apung
Teropong PLTD Apung/Melynda Dwi Puspita

Terdapat pula teropong berwarna putih keabu-abuan di puncak kapal yang dulunya digunakan awak kapal untuk memandang jauh ke arah lautan, kini telah beralih menjadi alat yang hanya bisa mengamati pemukiman di sekitar PLTD Apung. Tak ada lagi lumpur yang menggunung, reruntuhan bangunan yang berserakan, maupun tumpukan tubuh-tubuh korban keganasan gulungan ombak tsunami. Nampak deretan rumah-rumah yang telah dibangun kembali, hijaunya pepohonan, dan ribuan manusia yang mulai beraktivitas. Hamparan pegunungan di salah satu sisi PLTD Apung juga menambah keelokan Kota Banda Aceh yang telah kembali hidup.

Rasa lelah tidak saya rasakan walau harus berkeliling mengitari seluruh bagian kapal. Hembusan angin kota yang terus menerpa telah menjadi obat kesejukan. Ada banyak pelajaran yang saya terima ketika diberi kesempatan untuk melawat singkat ke PLTD Apung. Saya dipaksa untuk lebih menghargai hidup yang tidak akan datang kedua kalinya. Terlepas dari tujuan pengalihfungsian PLTD Apung menjadi destinasi wisata edukasi. Namun PLTD Apung telah menyajikan kesadaran dan ajakan untuk bersama-sama merangkul kehidupan dan tidak melupakan sejarah.

Masyarakat sekitar juga merasa terbantu dengan keberadaan Monumen PLTD Apung sebagai tempat wisata. Ada banyak warga yang membuka toko-toko kelontong yang menjajakan oleh-oleh khas Aceh ataupun menjadi pemandu wisata. Mereka, para warga Aceh, telah kembali tersenyum menyambut para pengunjung dan menapaki kehidupan baru.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu

Melynda Dwi Puspita adalah sebutir pasir pantai asal Probolinggo, Jawa Timur.

Melynda Dwi Puspita adalah sebutir pasir pantai asal Probolinggo, Jawa Timur.
    Artikel Terkait
    Pilihan EditorTravelog

    Kampung Todo’, Hujan, dan Cerita Perjalanannya (2)

    Pilihan EditorTravelog

    Kampung Todo’, Hujan, dan Cerita Perjalanannya (1)

    Travelog

    Taman Radio Bandung dan Kenangan Masa Kejayaan Musik Rekaman

    Travelog

    Solo — Jogja: Naik KRL, Berangkat dari Stasiun Gawok

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Pelawatan Singkat ke Museum Tsunami Aceh