Semasa CoronaTravelog

Menggali Kesepian dari Villa Isola Bandung

Pagi itu, aku berdiri di pinggir jalan Setiabudi, Bandung, persis di depan gedung Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Mentari memancarkan sinarnya yang hangat. Hari itu hari kerja. Tapi, sama sekali tak terlihat aktivitas sibuk para mahasiswa serta staf pengajar maupun karyawan lainnya di kampus perguruan tinggi itu. Gedung FPTK UPI terlihat sepi.

Perlahan, aku berjalan ke arah sisi utara, mendekati gerbang selatan UPI, yang tak jauh dari Masjid Al-Furqan. Di sana, juga terlihat sepi. Tak ada aktivitas mahasiswa keluar-masuk kampus. Pun saat aku bergeser ke pintu gerbang utara, yang tak jauh dari Terminal Ledeng. Sama, sepi.

Gerbang utara UPI
Gerbang utara UPI/Djoko Subinarto

Sejak COVID-19 merebak pada 2020, yang kemudian membuat aktivitas perkuliahan beralih ke online, UPI—seperti juga kampus-kampus perguruan tinggi lainnya—seolah menjadi kampus mati. 

Hiruk-pikuk aktivitas kampus mendadak sirna. Buntutnya, berimbas pula ke lingkungan sekitar kampus. Jalan Setiabudi di depan kampus UPI, yang menghubungkan Kota Bandung dengan Lembang dan Subang, yang sebelum wabah corona, terutama di jam-jam sibuk, senantiasa berhias kemacetan, saat ini menjadi lebih lengang.

Kedai-kedai makan di sekitar kampus, tempat para mahasiswa makan, entah itu sarapan, makan siang atau makan malam, kehilangan pelanggan dan juga omzet harian yang lumayan besar.

Di pinggir Jalan Setiabudi, di tempat biasa angkot-angkot mangkal, aku berdiri celingukan. Aku lantas melongok ke balik pagar kampus UPI, melemparkan pandangan ke sekitar Villa Isola yang sejak perguruan tinggi itu berdiri menjadi bagunan ikonik kampus tersebut.

Kolam ikan depan Vila Isola
Kolam ikan depan Vila Isola/Djoko Subinarto

Bangunan berwarna putih itu masih berdiri megah. Tapi, seperti juga bangunan lainnya di kampus ini, ia juga dirundung kesepian. Di depan Villa Isola, ada kolam ikan. Hari itu, kulihat kolamnya kering kerontang. 

Villa Isola dibangun pada 1933 oleh biro arsitek Algemeen Ingenieurs en Architecten (AIA). Perancangnya adalah arsitek bernama Charles Prosper Wolff Schoemaker. Pemilik pertama Villa Isola yaitu Dominique Willem Berretty, pengusaha media dan juga direktur perusahaan pers ANETA (Algemeen Nieuws en Telegraaf Agentschap).

Setelah Baretty meninggal, Villa Isola sempat difungsikan sebagai hotel. Pernah juga dijadikan sebagai museum perang di masa pendudukan Jepang. Usai Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, villa ini dijadikan sempat sebagai markas besar militer Divisi Siliwangi, dan kemudian beralih menjadi Gedung Rektorat UPI serta namanya diganti menjadi Bumi Siliwangi.

Sebagian mahasiswa kerap menjadikan halaman depan Villa Isola sebagai tempat rehat setelah kuliah dan menunggu jam kuliah selanjutnya.  Selain itu, kerap pula dijadikan tempat mendiskusikan tugas-tugas kampus.

Markas Menwa UPI
Markas Menwa UPI/Djoko Subinarto

Dulu, di seberang Isola, ada bangunan stasiun radio kampus. Kalau tidak salah, stasiun radio itu mengudara di frekuensi 1448 khz. Materi acaranya sebagian besar terkait dengan dunia pendidikan. Namun, memasuki akhir tahun 80-an, stasiun radio tersebut berhenti mengudara.

Tak jauh dari Isola, berdiri Gedung Pentagon. Disebut Pentagon karena bentuknya segi lima. Boleh dibilang gedung ini menjadi markasnya mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS), karena sebagian besar aktivitas perkuliahan anak-anak FPBS dilangsungkan di Gedung Pentagon.  Selain itu, sejumlah himpunan mahasiswa FPBS juga bermarkas di Pentagon ini.

Sekarang, Gedung Pentagon sudah tidak ada. Sebagai gantinya, berdiri Museum Pendidikan Nasional. Museum ini diresmikan oleh oleh Gubernur Jawa Barat, H. Ahmad Heryawan, Lc dan  Rektor UPI, Prof. Furqan, Ph.D, pada hari Rabu, 25 November 2016, bertepatan dengan Hari Guru Nasional.

Di sekitar Villa Isola berdiri beberapa bangunan villa yang lebih kecil. Salah satunya dijadikan sebagai Markas Komando Menwa, Mahawarman Batalyon XI.

UPI sendiri sangat identik dengan pendidikan, terutama pendidikan guru. Oleh sebab itu, dulu perguruan tinggi ini bernama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung. Berdiri pada tanggal 20 Oktober 1954,  IKIP Bandung menyandang nama awal sebagai Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Bandung. 

Setelah empat tahun beroperasi, PTPG Bandung akhirnya diintegrasikan menjadi bagian dari Universitas Padjadjaran (UNPAD), yakni sebagaiFakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Kemudian, melalui Keputusan Presiden Nomor 1 tahun 1963, FKIP UNPD ini akhirnya melakukan merger dengan Institut Pendidikan Guru (IPG) dan berganti nama menjadi IKIP. Dalam perjalanan selanjutnya, nama IKIP kemudian diubah menjadi UPI. Perubahan nama ini berdasar Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 124 Tahun 1999. UPI sempat menyandang status sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN) pada tahun 2004. Namun, status tersebut kemudian diubah kembali menjadi perguruan tinggi negeri melalui Peraturan Presiden Nomor 43 tahun 2012.

Berdasarkan data Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), yang dirilis beberapa waktu lalu, UPI termasuk salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) yang paling diminati di Indonesia. UPI berada di peringkat 7 dalam daftar 10 PTN paling diminati Tahun 2021. Peringkat pertama ditempati Universitas Gadjah Mada(UGM), Yogyakarta.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Sepenggal Kisah di Balik Pembangunan Sirkuit Mandalika

    Travelog

    Singgah ke Masjid Tiban

    Travelog

    Jejak Tsunami Aceh di Monumen Kapal PLTD Apung

    Travelog

    Mengenal Lebih Dekat Kehidupan di Tepian Waduk Jatigede

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Menelusuri Museum Wayang secara Virtual