Travelog

Menelusuri Jejak Sejarah Masa Lalu Kota Lama-Pecinan Semarang*

Minggu, 20 Oktober, sore hari, cuaca cerah namun panas dan cenderung berawan. Dengan mengendarai motor bebek, saya tergesa-gesa pergi ke acara Sekolah TelusuRI ke-6 yang diadakan oleh Telusuri.id. Acaranya di pamflet dimulai pukul 15.30, sedangkan saya baru saja berangkat dari rumah pukul 15.35, sehabis Asar. Saya pikir saya akan terlambat, tapi ternyata ketika saya memarkirkan motor di samping Restoran Pringsewu Kota Lama, saya belum menjumpai rombongan peserta Sekolah Telusuri yang akan berangkat.

Saya tiba di Restoran Pringsewu, titik kumpul peserta rombongan Sekolah TelusuRI, sekitar pukul 15.50. Ternyata, panitia Sekolah TelusuRI ke-6 baru saja membuka acara ini pukul 16.00 dengan singkat oleh Mauren. Jadi saya dapat dikatakan belum terlambat banget lah, ya.

Rombongan Sekolah TelusuRI ke-6 ini dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok yang beranggotakan teman-teman difabel, BISINDO, yang diarahkan menelusuri rute Kota Lama, dipandu oleh Mbak Guru Dea Ayu Anastasia, biasa dipanggil Mbak Dea. Sedangkan kelompok kedua, yang beranggotakan teman-teman non-difabel, menelusuri rute sebagian Kota Lama-Pecinan, dipandu oleh Mas Guru Juliansyah Ariawan, yang kerap disapa Mas Awan. Saya ikut nimbrung dengan kelompoknya Mas Awan.

Kelompok Mas Awan dipersilakan berangkat terlebih dahulu. Kami pertama-tama dikumpulkan Mas Awan di samping Restoran Pringsewu, tepatnya di trotoar Jl. Suari. Mas Awan menyebut dirinya tidak suka dipanggil ahli sejarah, ia lebih suka dipanggil dengan sebutan “pencerita,” karena informasi kebanyakan ia peroleh dari cerita-cerita orang ahli, orang-orang lokal, dan diperkuat oleh referensi-referensi ilmiah dan data faktual.

Peserta Sekolah TelusuRI #6 sedang menerima informasi/Mauren Fitri

Mas Awan bercerita, dulunya Restoran Pringsewu merupakan kantor pusat dari NV Kian Gwan, yang kemudian berubah nama menjadi Oei Tiong Ham Concern pada tahun 1910. Oei Tiong Ham Concern adalah perusahaan gula terbesar se-Asia Tenggara, bahkan mungkin saja se-Asia, menurut saya. Perusahaan gula ini dimiliki oleh saudagar gula terkenal asal Semarang, Oei Tiong Ham, terkenal dengan sebutan Raja Gula. Kantor cabang dari perusahaan gula Oei Tiong Ham ini tersebar di berbagai negara, ada di London, Bangkok, New York, Singapura, Paris, dan beberapa kota di negara lain.

“Nanti kita akan masuk sebentar ke dalam gedung Oei Tiong Ham Concern dan melihat brankas tempat penyimpanan uang Oei Tiong Ham. Kita akan membuktikan seberapa kayanya orang terkaya se-Asia itu,” ujar mas Awan sembari mengajak kami masuk ke dalam Restoran Pringsewu, lewat pintu utama Pringsewu.

Brankas orang terkaya se-Asia

Oei Tiong Ham menguasai hampir seluruh jaringan pabrik dan perusahaan gula se-Pulau Jawa. Beliau lahir tahun 1866 dan wafat 1924. Ia memiliki delapan istri resmi dan banyak selir. Selirnya tak terhitung banyaknya. Mengapa perusahaannya bangkrut? Menurut Mas Awan, salah satu penybebabnya adalah perebutan harta warisan.

”Jadi buat para bapak-bapak, kalau punya istri, cukup satu istri saja,” canda Mas Awan.

Tuh dengerin tuh, Pak!” celetuk salah satu ibu-ibu peserta rombongan kepada suaminya.

Kami memasuki brankas orang terkaya se-Asia, yang ternyata temboknya tepat di samping Jl. Suari. Di seberang bekas gedung Oei Tiong Ham Concern, yang sekarang menjadi Bank Mandiri, dulunya adalah Nederland-Indische Handelsbank, Bank Dagang Hindia-Belanda, salah satu bank terbesar di dunia.

Baik Restoran Pringsewu dan Bank Mandiri termasuk bangunan Cagar Budaya, sehingga penanganannya harus khusus serta diawasi oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB). Salah satu syarat bangunan cagar budaya adalah berumur 50 tahun atau lebih dan style-nya mewakili zaman itu. Karena masuk golongan Bangunan Cagar Budaya, bangunan itu tidak boleh dibongkar, facade-nya tidak boleh dikurangi atau ditambahi, dan catnya memakai cat khusus. Kebanyakan cat yang dipakai di Kota Lama adalah oplosan propan atau archipaint.

Peserta Sekolah TelusuRI Semarang #6 sedang berjalan di pedestrian Kota Lama/Chrisianto Harsadi

Kembali ke brankas Oei Tiong Ham. Brankas Oei Tiong Ham ini, baik ruangannya maupun lemari besinya, tidak pernah berubah keadaannya dan posisinya sejak tahun 1863 hingga sekarang. Brankas Oei Tiong Ham berada di dalam ruangan Restoran Pringsewu, agak masuk ke dalam. Bentuk ruangannya berlantai dua, berpintu besi dengan gagang putar, dengan dua lemari besi dan sebuah tangga besi kecil untuk menuju ke lantai dua. Langit-langitnya kayu dengan tinggi sekitar 1,7 meter. Jangan dibayangkan anda menemukan uang Oei Tiong Ham di sini—anda hanya bisa menemukan bahan-bahan makanan Restoran Pringsewu di lantai dua!

Pendapatan utama bisnis sang raja gula dari bisnis gulanya sebesar 200 juta gulden. Akan tetapi, sang raja gula ini juga memiliki pemasukan lain, yaitu perdagangan opium/candu. Jumlah pendapatan dari perdagangan opium ini, kata Mas Awan yang mendapatkan data dari National Geographic, dalam setahun adalah Rp96 miliar bila dikonversikan ke jumlah uang yang sekarang.

Lalu, saat jam menunjukkan pukul 16.20 dan kami bergegas melanjutkan perjalanan ke Pecinan.

Napak tilas jalur Pekojan dan Pecinan

Jalan utama menuju ke Kota Lama zaman dahulu melalui Jl. Suari. Dari abad ke-16 hingga detik ini, jalur di Kota Lama tidak pernah berubah. Kami menyusuri Jl. Suari menuju ke Pecinan, juga melewati Jl. Sendowo. Jalan Sendowo dahulu bernama Westerwalstraat, yang [jika] diartikan ke Bahasa Indonesia berarti Jalan Benteng Barat. Mas Awan mengatakan, Kota Lama pada zaman kolonial berbentuk benteng. Sepanjang Jl. Mpu Tantular, sungai kecil di depan polder Stasiun Tawang adalah bekasnya. Jadi, Stasiun Tawang zaman dahulu berada di luar benteng.

Di Kota Lama terdapat dua gereja dan tiga masjid. Dua gereja yaitu Gereja Blenduk dan Kesusteran Gedangan, tiga masjid yaitu Masjid Kauman, Masjid Jami’ Petolongan, dan Masjid Layur. Sebenarnya ada satu masjid lagi di Pecinan, yaitu Masjid Diponegoro (masjid yang didirikan oleh salah satu pengikut Pangeran Diponegoro) di Jl. Beteng.

Di Kota Lama ada Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BP2KL) yang menyediakan Kawasan Parkir Umum di bekas Hotel Jansen dan sebelah gedung DMZ (gedung bekas percetakan Van Dorp), guna menghindari parkir liar yang mahal. Kami melewati pabrik sirup Fresh yang sekarang telah menjadi gudang, karena BP2KL tidak menginginkan pabrik yang menggunakan mesin di Kota Lama, kecuali Pabrik Praoe Lajar, karena mereka menggunakan tenaga manusia, terutama kaum perempuan yang harus mampu melinting 2.000 linting rokok per hari.

Peserta Sekolah TelusuRI Semarang #6 sedang berjalan menelusuri Kota Lama/Julfikar

Sebelum abad 18, persebaran orang Tionghoa di Semarang terkonsentrasi di daerah sekitar Sam Poo Kong dan Panjangan. Kemudian terjadi peristiwa pembantaian orang Tionghoa di Belanda tahun 1740, sehingga orang-orang Tionghoa dan Jawa memberontak ke VOC, yang kemudian terkenal dengan peristiwa Geger Pecinan. Peristiwa Geger Pecinan ini meluas hingga ke Lasem.

Untuk mengamankan warga Eropa dari amukan massa Tionghoa dan Jawa, pemerintah Belanda kemudian mengumpulkan dan mengkotak-kotakkan warga Melayu, Arab, Jawa, dan Tionghoa dalam kebijakan wijkenstelsel, agar pemerintah kolonial mampu mengontrol mereka semua. Untuk masyarakat Tionghoa, pemerintah kolonial menunjuk majoor, luitnant, capitain (mayor, letnan, kapten) tituler sebagai tangan kanan kolonial mengontrol masyarakat Tionghoa.

Salah satu majoor der Chinezen (mayor Tionghoa) adalah Oei Tiong Ham. Oei Tiong Ham yang bisa berbahasa dengan fasih itu juga diberi hak mengolah dan mengurus candu (opiumpacht) dan ia diperbolehkan memotong rambut kucir yang merupakan tanda kesetiaan orang Tionghoa kepada kaisar mereka di China Daratan. Ia orang yang pertama menyeberangi benteng Kota Lama dan mendirikan rumah di luar benteng. Untuk masuk ke Kota Lama pada zaman kolonial—yang harus melewati pos penjagaan tentara kolonial Belanda Maluku/Ambon di tanah kosong sebelah gedung perabotan makan Sanyo—perlu menggunakan “kartu lewat.”

Informasi tambahan dari Mas Awan: Jalan tertua di Kota Semarang adalah Jl. Mataram yang sekarang menjadi Jl. M.T. Haryono; Jalan tertua yang kedua adalah Jl. Bodjong (Jl. Pemuda); Ketiga adalah Heerenstraat (Jalan Tuan-tuan Besar), yang sekarang menjadi Jl. Letjend. Suprapto; Kenapa dinamakan Jl. Mataram? Karena jalan tersebut langsung menuju ke wilayah Kerajaan Mataram, yaitu jalan menuju Tanah Putih, lanjut ke Jatingaleh, terus sampai ke Ungaran, Bawen, Salatiga, Kasunanan Surakarta, Kadipaten Mangkunegaran, berakhir di Kasultanan Ngayogyakarta; Setiap jarak antarkota pada jalur tersebut selalu berkisar antara 25 sampai 30 km, karena untuk ganti kuda; Khusus kota Salatiga untuk istirahat kuda; Jalan Pos Besar (Grootepostweg) yang dibuat Daeendels hanya tinggal melanjutkan jalur yang sudah ada saja dan diperbagus; Museum Mandala Bakti dulunya rumah Van Hartingh, Gubernur VOC di Semarang yang memberikan bantuan tanah untuk membangun Masjid Kauman.

Persinggahan di Masjid Jami´ Petolongan (Masjid Pekojan)

Konon, nama Jalan Petolongan berasal dari toponimi kata talang, karena di sekitar Petolongan pada abad 17-18 banyak tukang dandani talang banyu (memperbaiki talang air). Kedua, berasal dari toponimi kata pertolongan, karena zaman dahulu ada perempuan yang diyakini salah satu keturunan Rasulullah Muhammad SAW yang bernama Fatimah, yang suka memberikan pertolongan ke orang-orang sekitar. Makam Fatimah ada di dalam Masjid Pekojan. Pekojan adalah kampung orang-orang Koja, orang-orang yang berasal dari Gujarat/Koja.

Berhenti di depan sebuah pintu tua yang masih kokoh hingga sekarang/Christianto Harsadi

Di dalam Masjid Pekojan juga terdapat dua pohon bidara, yang se-Kota Semarang hanya terdapat di sana saja. Kuburan-kuburan leluhur dan warga-warga lokal dalam masjid juga berusia sekitar 600 tahun, sama tuanya dengan masjid. Masjid Pekojan juga terdaftar dalam Bangunan Cagar Budaya, yang plakatnya terdapat di dinding sebelum gerbang keluar. Setiap bulan Ramadan, Masjid Pekojan selalu menyediakan bubur rempah yang dinamakan bubur India. Zaman kolonial, Masjid Pekojan bentuknya hanya bangunan yang di tengah saja dan terbuat dari kayu.

Sebelum kami masuk ke Pekojan, tepat di seberang gerbang Masjid Pekojan ada kaligrafi aksara China yang terukir menempel di tembok jalan Petolongan, yang disebut Ci Soa, yang berarti “semoga arwah-arwah yang dipindahkan dapat beristirahat dengan tenang.”Aksara China tersebut dibuat guna menolak bala, dan doa-doa dari pemuka agama akibat dari pemindahan kuburan-kuburan orang Tionghoa ke luar kawasan Pekojan dan Petolongan, sebagai imbas dari pembangunan permukiman Pecinan. Matahari semakin redup, kami melangkahkan kaki menuju Kelenteng Tay Kak Sie.

Cerita Kelenteng Tay Kak Sie

Sebelum menuju Tay Kak Sie, kami melewati Jl. Sekolan, berasal dari toponimi sekul (tempat menanak nasi), karena waktu jaman geger Perang Diponegoro kampung jalan tersebut memasok perbekalan bagi pasukan Pangeran Diponegoro.

Di pinggiran jalan menuju Tay Kak Sie, ada beberapa pusat jajanan legendaris, kata mas Awan. Beberapa di antaranya: Pertama, Rumah Makan Mie Siang Kie Purwodinatan. Sudah ada sejak jaman kolonial Belanda abad ke-18 dan lebih tua daripada Es Krim Oen Pemuda. Menunya hanya ada mie dan mengandung babi. Beratap khas bangunan Tionghoa, yaitu atap pelana dan ada atap kecil, yang dalam arsitektur disebut rumah burung, agar dalam rumah tidak panas. Informasi tambahan: mengapa rumah kolonial Tionghoa dan yang lain selalu memanjang ke belakang? Karena jaman kolonial pajak rumah berdasarkan lebar rumah. Pascatahun 1900, pajak lebar rumah tidak berlaku lagi

Kedua, Jajanan Bolang Baling sebelum jembatan menuju Tay Kak Sie. Menjual gelek, cakue, dan bolang-baling setiap sore. Gelek merupakan saudara dari bolang-baling, karena jaman dulu orang yang menjual selalu diusung/disunggi dan menampakkan ketiak dan telanjang dada, yang dalam bahasa Jawa disebut kelek. Ketiga, Es Campur sebelum Loenpia Gang Lombok. Es campur ini, kata Mas Awan, seharga Rp30.000—mahal sekali! Rasanya juga sudah biasa saja. Keempat, Loenpia Gang Lombok. Asal usul loenpia berasal dari dua nama keluarga, yaitu keluarga Loen dan keluarga Pia. Kedua keluarga ini selalu bersaing dagangan dan, karena lelah bersaing, akhirnya mereka menikahkan putra-putri mereka, sehingga lahirlah kata loenpia.

Sampailah kami di titik terakhir rute Sekolah TelusuRI ke-6, yaitu di Kelenteng Tay Kak Sie. Jalan di seberang Tay Kak Sie bernama Jalan Kalikuping, berasal dari nama saudagar pengusaha kulit yang bernama Tuan Khouw Ping. Karena berada di pinggiran kali, maka nama jalannya “kalikuping.” Kali yang berada di depan Tay Kak Sie adalah Kali Semarang, yang zaman dulu sangat lebar (sebagai gambaran, lebarnya Kali Semarang zaman dahulu digambarkan Mas Awan sampai ke pos satpam Tay Kak Sie) sehingga menjadi akses transportasi utama warga Semarang. Guna menyeberang Kali Semarang, ada jembatan yang terbuat dari pohon yang bergelantungan (nggandul-Bahasa Jawa). Jadi, nama jalan tersebut Jl. Worgandul, yang kalau air sungai meluap, ya, hilang. Kali Semarang ini melewati Jembatan Mberok (dari kata brug, bahasa Belanda) yang tembus hingga ke Pelabuhan Tanjung Emas. Pasokan utama kulit saudagar Khouw Ping juga [datang] melalui jalur ini.

Para peserta Sekolah TelusuRI Semarang #6/Mauren Fitri

Kantor pusat pemerintahan orang Tiong Hoa disebut kongkowan, berada di dekat Rumah Abu Kong Tik Soe. Kelenteng Tay Kak Sie merupakan kelenteng termuda di Pecinan, dibangun pada tahun 1771 M, dengan dewa terlengkap di Indonesia. Tay Kak Sie dibangun  di pinggir kali agar orang Tionghoa yang melewati Kali Semarang bisa menghormat kepada dewa-dewi mereka di kelenteng ini. TK, SD, SMP Kuncup Melati yang berada di kawasan Tay Kak Sie adalah sekolah gratis tanpa dipungut bayaran sama sekali. Orang yang berobat ke Klinik Pratama Tjie Lam Tjay juga tidak dipunggut bayaran sama sekali.

Menarik untuk disimak beberapa fakta unik bangunan di kelenteng Tay Kak Sie: Peresmian TK, SD, SMP Kuncup Melati yang gratis itu dilakukan oleh tangan kanan Sun Yat Sen, tokoh dan pahlawan nasional China; Kayu-kayu jati Rumah Abu Kong Tik Soe yang terbakar akibat korsleting listrik masih tersisa dan rata-rata diameter kayu penyangganya 20 cm. Sampai saat ini, BP2KL masih belum menemukan kayu tersebut; Mas Awan merupakan saksi utama terbakarnya Rumah Abu 2018 lalu; Setiap bangunan di Kelenteng Tay Kak Sie didirikan oleh berbagai donatur, dari yang jumlahnya sen sampai ribuan gulden, dan nama-nama donatur tersebut tertulis di papan batu samping kongkowan; Setiap jendela ventilasi Tay Kak Sie konon terbuat dari giok.

Matahari sore telah meredup. Jam menunjukkan pukul 17.25 ketika kami kembali ke Restoran Pringsewu. Kami pulang menyusuri kawasan permukiman warga sepanjang Kalikuping, menembus permukiman kumuh sebelum Pasar Johar, yang ternyata, tanpa disangka, menembus kawasan karaoke dan berakhir di Jl. Sendowo. Agenda perjalanan masih belum berakhir, karena rombongan Mbak Dea masih ada acara cupping coffee di kedai Filosofi Kopi, tetapi saya tidak ikut ke sana.

Acara terakhir adalah bersantap camilan yang disediakan oleh Pringsewu dan berfoto bersama. Kami pun pulang sekitar pukul 19.35.


*) Ini adalah tulisan pemenang writing challenge pada Sekolah TelusuRI Semarang #6.

Related posts
Travelog

Kulineran di Semarang dalam 4 Jam

Pilihan EditorTravelog

Depok-Dieng: Berdua di atas Roda

Travelog

Menelusuri Jejak Bosscha di Pangalengan

Pilihan EditorTravelog

Jakarta-Jogja 20 Jam: Migrasi dan Imajinasi tentang Kota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *