Pilihan EditorTravelog

Tentang Rumah di Balik Kaki Gunung Tompobulu

Di balik kaki Gunung Tompobulu, terdapat sebuah kampung bernama Bara-Baraya. Kampung ini berada di Desa Bonto Manurung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Bara-Baraya memberikan kenyamanan, tak sedikit orang menjadikannya tempat untuk menaruh hati dan kembali ke sini, setidaknya setiap akhir pekan.

Perjalanan panjang selama setahun itu bermula pada pertengahan Agustus 2017, saat beberapa pemuda selepas hari kemerdekaan bertandang ke Bara-Baraya dan melihat potret sedih pendidikan di sana. Kami semua bertemu dengan suasana belajar yang berbeda dari biasanya karena di sana anak-anak belajar di bawah kolong rumah seorang warga. 

Beberapa tahun berlalu sejak peresmian sekolah pada 8 Oktober 2018, saya tengah menunggu kabar seorang teman yang katanya akan berangkat sejak pukul 10.00 tadi, tapi hingga menjelang pukul 15.00 dan mereka belum nampak.

“Maaf Kak, urusan di kampus baru saja selesai. 15 menit lagi saya ke sana.” Sebuah pesan singkat yang saya tunggu-tunggu itu masuk tepat pukul 15.20. 

“Sip, santai. Sekalian selepas salat Ashar saja. Saya nunggu depan Pertamina Abdesir, ya.” Saya tahu, kawan satu ini tengah sibuk mengurus administrasi ujian akhir strata satunya. Tentu saja saya tidak bisa marah, apalagi mengumpat. 

Singkat cerita, kami melaju menuju Kabupaten Maros dari Kota Makassar menjelang setengah lima sore. Dua orang kawan lainnya telah berangkat duluan dan kami bersepakat untuk bertemu di rumah Haji Mangung yang terletak di poros Tompobulu, rumah ini kerap dijadikan tempat penitipan motor sejak tahun 2017.

Suasana padat merayap menyapa kami di sepanjang Jalan Nipa-Nipa Antang. Kami sempat berhenti membeli ransum di toko kelontong terakhir yang kami temui, hingga berbelok di sepanjang Jalan Moncongloe.  Lalu lintas perlahan merenggang hingga sepi tatkala dua roda motor kami yang saling berburu melaju di sepanjang perbukitan dan hutan—yang mulai plontos—dari Moncongloe hingga sepanjang Tompobulu.

Bara-Baraya
Pemandangan senja dalam perjalanan menuju Bara-Baraya/Nawa Jamil

Lembayung matahari tenggelam dan surau-surau yang mengumandangkan selawat sebelum azan Magrib menemani perjalanan kami sore itu. Sekejap menarik ratusan nostalgia ketika menyusuri jalan-jalan yang kini berbeton ini. Masih terasa segar, siang hari yang mendung kala pertama kali mengunjungi Kampung Bara-Baraya. Tahun 2018, jalan-jalan yang kini kami susuri dengan mulus ini masih berupa tanah merah pengerasan. Kini, jalanan ini telah berganti beton kokoh setelah tiga tahun berlalu.

Trekking pada malam hari

Kami tiba di rumah Haji Mangung tepat ketika azan Magrib berkumandang. Di selasar rumahnya, dua wajah yang tak asing tengah menunggu kedatangan kami sejak sore. Setelah menyapa dua kawan yang telah lama tidak saya temui, saya masuk ke rumah Haji Mangung. Di dalam, saya bertemu dengan istri beliau dan dua orang cucunya yang masih balita. Sebagian besar orang dewasa di rumah itu sedang keluar; menghadiri pernikahan di desa sebelah, dan satu lagi menghadiri acara kemah tahunan di sekitar Zipur. 

Kedua bocah yang tengah sibuk bermain ini telah jauh lebih besar dari yang bisa kuingat, bahkan si bungsu masih dalam kandungan ibunya saat terakhir kali kami bertemu. Pandemi COVID-19 menjadikan akhir 2019 sebagai waktu terakhir saya mengunjungi tempat ini, maka kedatangan Magrib itu menjadi yang pertama dalam dua tahun terakhir. 

Lepas salat Maghrib, kami berempat pamit untuk jalan menuju Kampung Bara-Baraya. Tidak seperti kunjungan terakhir saya, saat itu parkir motor berada di kolong rumah Haji Mangung, kali ini kami menaiki motor melewati jalan yang dulunya hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Gelap malam tidak mengurangi kekaguman beton-beton kokoh yang menyelimuti jalan curam berbatu dulu.

Kurang dari lima menit, kami telah sampai di titik check point langganan kami, yakni jembatan di atas Salo Maru’ atau aliran Sungau Maros. Motor kami parkir di bawah pohon besar dengan sedikit tanah lapang. Dulu, tanah itu merupakan jalan setapak menuju jembatan gantung yang sudah tidak berfungsi lagi. 10 meter dari situ, terlihat jembatan gantung tersebut, jembatan yang selalu kami lewati tiap kali berkunjung ke Kampung Bara-Baraya. Papan alasnya telah lapuk, beberapa tali gantungannya juga terlepas. Kini, tugasnya menghubungkan jalan ini telah selesai, digantikan jembatan beton yang kami pijaki. 

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Lepas jembatan, medan yang kami lalui masih sama dengan dua tahun lalu; tanjakan curam dengan banyak bebatuan tajam dan struktur tanah merah yang begitu licin kala hujan turun. Perjalanan menanjak dengan medan berbatu. Kami berempat membunuh lelah dengan bercanda sepanjang jalan yang gelap.

Sekitar 30 menit dengan berjalan kaki, akhirnya kami sampai di Kampung Bara-Baraya ditemani gonggongan anjing saat kami memasuki kampung itu. Kami tiba di rumah Daeng Raga yang terletak di samping sekolah. Kami langsung melepas penat setelah naik ke selasar beliau. Daeng Lija, istri Daeng Raga keluar dari rumah dan mempersilahkan kami masuk.  

Suasana kelas sebelum belajar
Suasana kelas sebelum belajar/Nawa Jamil

Sekolah hari ini

Pagi hari ditandai dengan suara anak-anak yang terdengar di selasar rumah. Kami masih nyaman tertidur di atas dipan yang dipisah ambalan usang dan tipis, tempat tidur sederhana yang nyaman. Saya melihat jam pada layar gawai yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Saatnya menyiapkan sarapan. Keunikan lain dari tempat ini, yakni peraturan yang tidak tertulis: wanita mengurusi urusan dapur, lalu para pria mengurusi urusan lain.

Peraturan ini secara tidak langsung telah kokoh sejak proses pemerataan sebidang tanah bakal bangunan sekolah. Para pria bertugas mengangkut bahan bangunan seperti semen dan seng dari luar, mengangkut pasir dari air terjun, juga pekerjaan berat seperti mengangkat air untuk cuci piring, sedangkan perempuan memasak dan mengajar di sekolah. 

Lima belas menit peregangan, akhirnya saya dan Kak Fany mulai memasak sarapan sederhana pagi itu. Ada tempe goreng tepung, nasi goreng, sambal kecap, dan tentu saja memasak air panas untuk menyeduh kopi terlebih dulu. Kurang tiga puluh menit, sarapan telah siap. Setelah membangunkan dua relawan yang tersisa, kami makan berenam pagi itu; saya, Kak Fany, Kak Abek, Kak Ita, Mama Lija, dan Daeng Raga. 

Berbeda dengan sekolah-sekolah di kota, di sini anak-anak masuk ke ruang kelas mengenakan baju bebas, tidak berseragam. Dulu beberapa anak-anak menggunakan seragam, tetapi ‘peraturan’ ini tidak pernah menjadi suatu keharusan, pun saya percaya bahwa belajar tidak bergantung pada pakaian yang melekat.

Hari ini jumlah siswa yang datang sebanyak enam orang, dari pra sekolah sampai kelas lima SD, disatukan dalam satu ruangan kelas karena keterbatasan guru dan ruangan yang tersedia. Pagi ini, Kak Fany, seorang praktisi psikolog memberikan materi early sex education yang masih dianggap tabu oleh sebagian orang. 

Mulai dengan menggambar dua orang serta diselingi nyanyian-nyanyian yang menyenangkan, juga pesan-pesan terkait anatomi laki-laki dan perempuan, serta pendidikan terkait yang ‘boleh’ dan ‘tidak boleh’ disentuh, baik oleh keluarga, kerabat, teman, dan orang asing.

Para siswa belajar sekitar 65 menit sebelum jam istirahat selama sejam, lalu kembali belajar di kelas. Pembelajaran pada jam kedua seputar mengenal huruf, mengeja, dan membaca lancar, tergantung pada kemampuan masing-masing siswa. Pagi itu, kelas selesai pukul setengah sebelas dan sisa hari dihabiskan dengan bermain di halaman rumah Daeng Raga.

Air terjun di belakang sekolah/Nawa Jamil

Air terjun di belakang sekolah

Sebelum meninggalkan kampung ini lepas zuhur, berkat inisiatif yang sedikit memaksa, akhirnya kami mengunjungi air terjun yang terletak di belakang sekolah. Jaraknya sekitar dua kilometer dengan medan turunan curam dan tanjakan serta bebatuan sungai yang besar dan licin. Perjalanan dimulai mulus dari jalur di samping sekolah. Dari turunan sedang yang berganti turunan curam dengan kemiringan 60 derajat, membuat saya harus berpegangan pada batang-batang pohon yang terjangkau. 

Semakin ke bawah, medan makin sulit dengan lebatnya semak-semak berduri yang tumbuh subur dan liar. Setelah melewati sedikit tanah datar bekas persawahan, turunan-turunan tadi berganti tanjakan yang melelahkan. Setelah pendakian yang cukup panjang. Suara gemuruh aliran sungai mulai terdengar. Semakin melangkah, suara itu semakin jelas, hingga sampailah kami di tepi alirannya.

Air terjun yang saya rindukan masih beberapa langkah ke depan. Dengan sisa semangat dan iming-iming berenang di antara bebatuan hitam dan air sungai yang segar, kami berhasil tiba di sana. Siang itu kami tidak berfoto, hanya menghabiskan waktu dengan tenang. Kami melewatkan waktu dengan berbagai aktivitas, saya sendiri hanya berenang di sekitar kolam di bawah aliran air terjun. 

Foto bersama Daeng Raga dan mama lija sebelum berjalan meninggalkan kampung
Foto bersama Daeng Raga dan Mama lija sebelum berjalan meninggalkan kampung/Nawa Jamil

Senang bisa kembali

Saya selalu senang menyebut Kampung Bara-Baraya sebagai rumah. Di sini, saya selalu menghabiskan waktu dengan tenang, jauh dari riuh kota dan notifikasi gawai yang saling bersahutan, buru-memburu. Di sini, orang-orang hidup penuh rasa syukur, saling membantu, dan selalu menerima orang baru dengan tangan terbuka. 

Rasa-rasanya, perjalanan ke kampung ini, bersama kawan-kawan relawan yang selalu membuat hati bahagia, menjadi akhir pekan yang selalu di tunggu; tertawa pada hal-hal random, bercerita hal-hal remeh dari malam sampai pagi, menghabiskan kopi yang terasa tawar, atau menertawai diri sendiri dengan lapang.

Di Kampung Bara-Baraya, saya belajar bahwa pulang tidak selamanya sedarah, melainkan kenyamanan dari kesederhanaan dan orang-orang syahdu yang menerima dan selalu menunggu kedatangan kami, Daeng Raga dan seluruh warga Kampung Bara-Baraya.  


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu

Menumbuhkan sayur di halaman rumah dan menulis sebagai Nawa Jamil.

Menumbuhkan sayur di halaman rumah dan menulis sebagai Nawa Jamil.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Sepenggal Kisah di Balik Pembangunan Sirkuit Mandalika

    Travelog

    Singgah ke Masjid Tiban

    Travelog

    Jejak Tsunami Aceh di Monumen Kapal PLTD Apung

    Travelog

    Mengenal Lebih Dekat Kehidupan di Tepian Waduk Jatigede

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Mampir Sejenak ke Kampung Cakrawala di Kaki Gunung Gede—Pangrango