ItineraryTerkini

Q&A: Penggalian Arkeologi Banten Lama bersama Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana

Kawasan Banten Lama merupakan kawasan Kota Tua Banten yang telah ada semenjak abad ke-16, dengan berbagai tinggalan seperti Keraton Kaibon, Keraton Surosowan, Benteng Speelwijk, Masjid Agung Banten, Vihara Avalokitesvara, dan Danau Tasikardi. Banten Lama menjadi ikon wisata sejarah yang terkenal hingga penjuru Nusantara. Daya tarik sejarah Banten yang masih bisa disaksikan lewat sisa-sisa bangunan kesultanan diharapkan menjadi pelajaran bagi masyarakat dewasa ini. 

Penggalian arkeologi adalah salah satu cara untuk menampakkan temuan yang terpendam di bawah tanah. Baru-baru ini di Banten Lama diadakan penggalian arkeologi kerjasama BPCB Banten dengan Universitas Indonesia sebagai upaya revitalisasi dan pelestarian kawasan Banten Lama agar sisa-sisa tinggalan masih bisa diselamatkan. 

TelusuRI mewawancarai Prof . Dr. R. Cecep Eka Permana—seorang arkeolog dan juga pengajar tetap arkeologi di Universitas Indonesia—yang dalam penggalian ini berperan sebagai pengawas. Sebagai pengajar, beliau sudah berkecimpung di dunia arkeologi semenjak 1990 dan ikut serta dalam puluhan penelitian yang beberapa di antaranya sudah dibukukan. 

Prof . Dr. R. Cecep Eka Permana
Prof . Dr. R. Cecep Eka Permana/Istimewa

Penggalian kali ini dilakukan di mana dan dengan tujuan apa Mas? 

Penggalian dilakukan antara Danau Tasikardi dan Keraton Surosowan. Fokusnya kepada saluran air dari Tasikardi ke Surosowan. Di sana ada peninggalan arkeologi berupa pengindelan, bangunan untuk penjernihan air. Jaraknya sekitar 2 km dari Tasikardi sampai Surosowan.

Sepanjang 2 km tersebut terdapat 3 bangunan penjernihan air yakni pengindelan abang yang berada dekat danau, pengindelan putih di tengah-tengah, dan pengindelan emas yang berada dekat dengan benteng. Tujuan pendiriannya adalah untuk mengalirkan air dari danau ke keraton, selain itu juga untuk penjernihan air.

Berarti hipotesisnya adalah Danau Tasikardi sebagai sumber air bagi keraton?

Iya, salah satunya adalah sebagai sumber air bersih untuk keraton. Dalam keraton sendiri sebenarnya ada sumur-sumur tapi kan terbatas [jumlah airnya]. Nah, sumber lain lainnya selain sumur, ya dari Tasikardi ini.

Tasikardi dan keraton berjarak sekitar 2 km. Sepanjang itu membentang sawah dan juga jalan. Apakah proses penggaliannya melewati jalan raya?

Oh tidak [melewati jalan raya]. Tanah yang dilewati pengindelan dan saluran-saluran ini tertutup batu bata. Di dalamnya ada saluran semacam paralon gitu yang berasal dari terakota dengan diameter 25 cm. Fungsinya sama seperti paralon sekarang namun terbuat dari tanah liat. 

  • BPCB Banten
  • BPCB Banten

Ada temuan menarik apalagi Mas yang terdapat di sana?

Selain bata-bata yang ditemukan untuk melindungi saluran air tersebut, ada ditemukan beberapa keramik dan tembikar. Ada pipa gouda kalau orang-orang kolonial bilangnya, kalau sekarang namanya cangklong. 

Ada berapa tenaga kerja untuk penggalian kali ini?

Kalau untuk mahasiswa dan alumni dibuat 3 kloter, 1 kloter berjumlah 5 orang. Penggalian kan dari tanggal 1-30 Oktober, jadi ada yang dari tanggal 1-10, 11-20, 20-30. Disamping itu ada tenaga lokal, dan tenaga dari BPCB.

  • BPCB Banten
  • BPCB Banten
  • BPCB Banten Lama

Tujuan pelibatan mahasiswa dalam penggalian ini apa sih Mas?

Selain mereka mendapatkan pengalaman juga menerapkan teori-teori yang sudah diberikan saat perkuliahan, tentunya sambil membantu kegiatan perekaman dan [melakukan] analisis temuan-temuan. BPCB kan terbatas tenaganya dan tidak semua arekolog. Dengan melibatkan mahasiswa ini semoga semua pihak mendapat manfaat, baik dari BPCB ataupun mahasiswa.

Apakah ada kesulitan yang muncul dari penggalian kali ini?

Sulit sih tidak ya, karena secara teknis di sana merupakan daerah sawah pasti berair, ya paling hujan basah biasa lah itu aja. Untuk urusan dengan warga, mereka sudah tahu bahwa itu bukan tanah mereka, jadi tidak terganggu antar sawah dengan saluran air tersebut. Paling ada kerusakan yang terjadi [pada tinggalan arkeologi] secara alami saja. 

BPCB Banten
Tim penggalian ekskavasi pengindelan/BPCB Banten

Bagaimana hasil penggaliannya? Apakah sudah mencapai tahap akhir?

Hari ini, 30 Oktober selesai. Untuk pelaporan masih dalam proses. Selanjutnya, kami akan mengkaji [hasil penggalian] dalam seminar kecil yang rencananya akan diselenggarakan pada tengah atau akhir November untuk mendiskusikan hasil [penggalian] serta rencana kedepannya.

“Tujuan penggalian ini yakni dalam rangka pelestarian dan melindungi cagar budaya karena daerah sawah bahkan sebagian besarnya sudah menjadi pemukiman. Kalau tidak dilakukan penggalian, maka [cagar budaya tersebut] akan hilang.”

Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Itinerary

Desa Muncar dan Kopi Temanggung

Itinerary

Memahami Lebih Dalam tentang Permakultur

Itinerary

5 Destinasi Budaya 'Memorable' ala Jovita Ayu

ItineraryPilihan Editor

Rumapala dan Cerita Memberdayakan Pala Banda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Arkeologi Maritim dan Harta Karun yang Tergadaikan