Semasa Corona

Masih Terlalu Dini untuk Tidak Khawatir

Saya masih ingat ketika pertama kali mendengar virus misterius mewabah di utara sana.

Kami sedang duduk-duduk santai di sebuah siang, di teras sebuah hostel di Kanchanaburi yang sepi. Sebuah portal berita daring mengangkat berita soal makhluk renik itu. Menyebabkan gejala-gejala seperti pneumonia, katanya. Saya sampaikan berita itu ke kawan baru yang ternyata meminati patologi. Obrolan kami pun melipir ke soal ketahanan tubuh manusia-manusia yang terbiasa hidup di tempat-tempat “bersih.” Virus misterius itu pun terlupakan.

Lalu berita soal virus misterius itu makin sering terdengar. Mereka jadi pusat perhatian, menyebar ke segala penjuru, menembus batas-batas imajiner yang diciptakan manusia—tanpa paspor tanpa visa, merenggut banyak nyawa. Mereka tak lagi misterius. Mereka sudah diberi nama.

Mereka tak dapat dilihat. Mungkin itu penyebab mereka mula-mula ditertawakan. Tapi tak dapat dilihat bukan berarti membuat mereka tak nyata. Dari utara, mereka hitchhiking tanpa mengacungkan jempol ke selatan, lalu entah bagaimana cara menyeberang ke Indonesia.

Mereka disambut dengan tertawa. Lalu ada pengumuman. Lalu ada kepanikan. Cairan pencuci tangan menjadi langka, demikian pula masker. Mereka-mereka yang tadinya tertawa kemudian mengimbau orang-orang untuk beraktivitas di rumah saja.


Rutinitas saya pun berubah. Saya tak lagi bekerja dari sebuah sudut kafe yang dikelola kawan. Sandal saya lebih sering tergeletak di lantai, tak lagi dipakai untuk jalan kaki sekira lima kilometer per hari. Lalu ada kawan yang dirumahkan, lalu kawan-kawan lain menyusul, dan semua orang menyusul.

Di luar, langit menjadi semakin cerah dan udara kian segar. Polusi berkurang. Namun manusia hanya bisa melihat keajaiban itu dari balik jendela—atau melihatnya sesekali ketika terpaksa harus keluar untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar. Matahari terbit dan terbenam berubah jadi komoditas wisata virtual.

Dunia luar, bagi saya, terasa seperti medan perang. Ada protokol yang harus dilalui sebelum memasrahkan tubuh pada udara bebas. Benda-benda yang sebelumnya tak digubris, kini saya akrabi: jaket, masker, dan cairan pembersih tangan. Gagang pintu bilik ATM adalah benda yang pantang untuk dipegang. Rasanya aneh melihat wastafel dan wadah air di mana-mana. Kini kedua benda itu bukan semata ada di toilet dan rumah makan.

Kota-kota dikunci. Dari dalam rumah, dengan berdebar-debar saya hanya bisa memantau semuanya dari layar komputer atau ponsel. Statistik COVID-19 dipajang di portal-portal berita. Otoritas dan rakyat biasa “berdialog mesra.” Ini-itu digelontorkan. Tapi pusing juga leher saya melihat semua bergerak seperti bola liar dari kiri ke kanan.

Ramadan dan Idulfitri tak pernah seugahari ini—meskipun tetap masih ada yang nekat masuk lewat pintu belakang mal untuk membeli baju lebaran.

Ketika dunia berjuang menahan laju persebaran makhluk renik bermahkota itu, berita-berita kekacauan dari Dunia Baru pun bermunculan. Protes di mana-mana; semua orang ingin keluar dan kembali bekerja. Lalu leher seorang warga biasa diinjak penegak peraturan. Dunia Baru berkobar. New York menjadi Gotham.

Di dalam negeri, “new normal” menjadi populer. Mulai muncul gagasan untuk melonggarkan akses. Lalu penerbangan dibuka, meskipun calon penumpang dipersyaratkan untuk membawa dokumen-dokumen tertentu. Orang-orang sudah berani kemping di Bukit Alas Bandawasa, melihat matahari terbit dan tenggelam, seperti hari-hari biasa di masa-masa sebelum corona.

Mengernyit wajah saya melihat tumpukan orang di bandara besar di barat Jawa sana, juga mereka-mereka yang berebut mendapat surat sehat di sebuah dermaga.

PSBB di beberapa kota dihentikan, sementara kenaikan angka dalam statistik terus berjalan. Dan saya terus berdebar-debar dalam ruangan. Masih terlalu dini untuk tidak khawatir.


Enam bulan berlalu dari sore di Kanchanaburi itu. Tapi saya masih ingat betul suasana ketika pertama kali mendengar virus misterius yang kelak diberi nama COVID-19 itu.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Artikel Terkait
Semasa Corona

Akhir Perjalanan Tiga Tahun di Kota Istimewa

Pilihan EditorSemasa Corona

Angkat Ransel Terakhir sebelum Corona

Pilihan EditorSemasa Corona

Akhirnya Aku Bisa Pulang

Pilihan EditorSemasa Corona

Empat Babak Corona

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *