Itinerary

Ke Candi Borobudur Kala Pandemi COVID-19

Kamis pagi, 10 Desember lalu pukul 08.09 WIB kami sudah bersiap menanti kedatangan driver taxi online untuk menuju Candi Borobudur, Magelang, dari penginapan kami di Bausasran Yogyakarta. Pertimbangan kami naik taxi online adalah efektifitas waktu dan lebih ekonomis. Pukul 08.15 WIB rombongan kami sekeluarga mulai menyusuri jalan utama Yogyakarta menuju Magelang.  Kondisi yang lancer membuat kami sampai di lokasi pukul 09.25 WIB.

Sejak kunjungan hampir 10 tahun lalu, kondisi Borobudur tidak banyak berubah. Tetap asri dan kerapihannya terjaga. Hanya saja pada masa pandemi COVID-19 ini selepas dari area parkir kami tidak bisa langsung mengantri di loket penjualan tiket. Kecuali sambutan sejumlah pedagang asongan di areal parkir, dari tempat tersebut kami diwajibkan masuk pada satu tenda besar. Selepas dicek suhu dan disemprot hand sanitizer, kami dikumpulkan di tenda itu untuk mendapat pengarahan. Inti dari pengarahan tersebut adalah prosedur kunjungan selama merebaknya virus corona.

Candi Borobudur sendiri baru dibuka akhir Juni 2020, setelah sebelumnya ditutup karena Jawa Tengah menerapkan PSBB. Sementara itu, sejak dibuka sampai Desember ini pelaku wisata di Candi Borobudur menuturkan kunjungan wisatawan menurun drastis, utamanya wisatawan asing. Bahkan sejak Juni sampai Desember ini masih belum tampak rombongan wisatawan mancanegara. Kalaupun ada, bisa dihitung dengan jari dan biasanya datang perorangan.

Candi Borobudur Magelang Yogyakarta (3)

Loket masuk Candi Borobudur/Morgen Indriyo Margono.

Tiba di Candi Borobudur

Selepas mendapat pengarahan di tenda depan, pengunjung diarahkan menuju loket penjualan tiket yang jaraknya kurang lebih 50 meter. Menuju ke loket, pengunjung diarahkan untuk kembali mencuci tangan dengan sabun, di tempat yang sudah disediakan.

Transaksi ada dua jenis. Untuk yang datang pada hari itu, loket ada di sebelah kanan, sementara itu untuk yang sudah reservasi online, loket berada di sebelah kiri, bersebelahan dengan loket untuk wisatawan asing. Ticket dilengkapi dengan barcode sehingga di pintu masuk Taman Wisata Borobudur, pengunjung hanya tinggal memindai tiket pada mesin yang tersedia.

Candi Borobudur Magelang Yogyakarta (3)

Halaman Candi Borobudur kala pandemi, terlihat sepi/Morgen Indriyo Margono.

Saat berkunjung ke Candi Borobudur, sebaiknya kamu tidak membawa makanan minuman dari rumah, karena memang tidak diperkenankan oleh pengelola wisata. Kami sempat tanyakan pada petugas pengecekan barang di pintu masuk, apa alasan pelarangan tersebut. Petugas yang berjaga saat itu mengatakan tujuannya agar taman wisata yang cukup luas tidak terdampak oleh banyaknya sampah dari luar. Dengan disiapkan makanan dan minuman di titik tertentu, pengunjung tidak akan menyantap makanan di sembarang tempat, sehingga kemungkinan penumpukan sampah tidak tersebar di setiap penjuru.

Untuk kamu yang sudah terlanjur membawa makanan dan minuman dari luar, petugas menyiapkan tempat penitipan. Setelah kamu berkunjung, kamu  bisa mengambilnya kembali.

Candi Borobudur Magelang Yogyakarta (3)

Pengunjung Candi Borobudur saat pandemi COVID-19/Morgen Indriyo Margono.

Selepas pintu masuk, kamu bisa kembali mencuci tangan dengan hand sanitizer yang sudah disediakan. Dari sini, untuk mencapai ke pelataran Candi Borobudur kamu bisa menggunakan kendaraan khusus yang diberi nama Si Tayo dengan tarif sebesar Rp15.000 atau bisa juga menggunakan mobil golf yang sudah disediakan pengelola.

Masa pandemi, pengunjung tak bisa singgah hingga puncak stupa Borobudur

Di pintu masuk jelang pelataran, yang jaraknya kurang lebih 150 meter dari tangga naik menuju pelataran Candi Borobudur, kita kembali dikumpulkan petugas untuk dibagi kelompok. Selama COVID-19, pengunjung yang akan menuju ke pelataran Candi Borobudur dibatasi maksimal hanya 20 orang dan diwajibkan ditemani oleh seorang pemandu dengan biaya Rp100.000 per kelompok.

Candi Borobudur Magelang Yogyakarta (3)

Kunjungan ke Candi Borobudur selama pandemi COVID-19 dibagi menjadi kelompok kecil/Morgen Indriyo Margono.

Hal ini dilakukan untuk mengontrol jumlah pengunjung di sekitar pelataran, sehingga memenuhi syarat kapasitas maksimal yang sudah ditentukan pada masa merebaknya COVID-19 ini. Selain itu, pemandu juga menjadi pengontrol protokol kesehatan. Misalnya saja, ia akan menunjukan dimana posisi yang nyaman untuk berfoto dengan sementara membuka masker dan dan mengingatkan pengunjung untuk mengenakan masker saat ia memberikan penjelasan A sampai Z-nya Candi Borobudur.

Selama masa pandemi, pengunjung tidak bisa naik sampai stupa. Pengunjung hanya diijinkan naik sampai pelataran bawah saja. Aturan ini diterapkan agar pengunjung aman. Karena bila berada di atas Candi, dikhawatirkan sentuhan-sentuhan pada batu candi bisa menjadi faktor penyebaran virus corona dari orang yang tanpa gejala, walaupun pengecekan suhu dan protocol Kesehatan selama berada di areal Candi Borobudur sudah dilakukan dengan sangat ketat.

Meski begitu, umumnya pengunjung merasa menikmati perjalanan karena masih bisa berada di titik terdekat dengan Candi Borobudur dan mengabadikan gambar pada titik terbaik selama berada di areal wisata tersebut.Candi Borobudur Magelang Yogyakarta (3)

Protokol kesehatan diterapkan dengan ketat

Penerapan protokol Kesehatan dilakukan sangat ketat, tidak hanya di pintu masuk, di setiap titik yang biasa dikunjungi wisatawan, baik taman, restoran, atau museum yang tersebar di areal Taman Wisata Borobudur, selalu tersedia tempat cuci tangan atau hand sanitizer. Tidak hanya itu, pemandu selalu mengingatkan pada pengunjung untuk kembali mengenakan masker bila terlihat dilepas terlalu lama. Demikian pula saat mendengarkan penjelasan pemandu, wisatawan selalu diingatkan untuk menjaga jarak satu sama lain.

Kami juga melihat sebuah mobil patroli yang hampir 15 menit sekali melintas. Untuk tidak menciptakan kerumunan, bahkan keberadaan wisatawan di pelataran dibatasi waktunya, yang bila sudah habis dan pelataran Candi Borobudur harus kosong, maka petugas keamanan akan membunyikan peluit panjang. Ketika peluit terdengar, pemandu akan menyampaikan pada wisatawan bahwa waktu kunjungan sudah habis.

Ketatnya penerapan protokol kesehatan ini tidak membuat wisatawan merasa dibatasi. Sebaliknya, justru wisatawan merasa nyaman dalam berkunjung dan masih bisa berlama-lama menikmati suasana Taman Wisata Borobudur sampai jam kunjungan ditutup.

Pukul 15.30 kami kembali ke Yogyakarta dengan menggunakan mobil carteran yang tarifnya disesuaikan dengan tarif taksi online. Driver kami, Pak Amin hampir setiap hari mangkal di seberang pintu keluar Taman Wisata Candi Borobudur untuk menjemput rezekinya.

Ternyata kami adalah tamunya yang pertama setelah seminggu terakhir sangat sepi. Ia menuturkan, sebelum covid bisa dalam seminggu bisa 4 hari bolak balik Magelang-Yogya. Di masa pandemi ini, menurutnya, mendapat 1 rombongan tamu saja, sudah bersyukur.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

'Senior broadcaster' di Bandung dan konsultan komunikasi.

'Senior broadcaster' di Bandung dan konsultan komunikasi.
    Artikel Terkait
    Itinerary

    Temui Irene Komala, si “Pink” yang Suka Jalan-Jalan

    Itinerary

    Cerita di Balik Desa Wisata Sumberbulu, Karanganyar

    Itinerary

    Nuansa Khas Pedesaan Surabaya di Kayoene

    Itinerary

    Barn Event Hire, Kafe dengan Konsep Taman Terbuka di Surabaya

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *