Itinerary

Sudah Tahu Soal Industri Perak di Celuk, Bali?

Pada Sabtu, (12/12/2020) lalu, TelusuRI berkesempatan #NgobrolBareng dengan pendiri Titian Jewelry, Michellie Danara Tantyo. Mungkin banyak dari kalian yang mengenal industri perak di Kotagede, Yogyakarta, namun Titian Jewelry yang fokus menjual pernak pernik perhiasan, seperti kalung, cincin, gelang, dan beberapa perhiasan lainnya ini memperkenalkan kita dengan industri perak di Celuk, Bali.

Titian Jewelry, Perak Celuk, Bali

Michellie Danara Tantyo bersama pengrajin perak Celuk, Bali/Michellie.

Nah, di #NgobrolBareng kali ini, Michellie membagikan cerita tentang bagaimana Ia mendirikan usaha perhiasan Titian Jewelry, serta tantangan dalam membantu meningkatkan nilai jual dan minat pengrajin perak di Celuk. Yuk kita simak!

Halo Kak Michellie. Boleh cerita sedikit tentang Titian Jewelry ini, domisili di Bali ya?

Kalau domisilinya aku itu di Malang, tapi produksinya dari Bali. Titian awalnya adalah tugas akhir [kuliah] sama temanku, Merline. Nah terus kita coba buat lanjutin meski akhir tahun 2018 kita sempat vakum dan coba kerja di bidang masing-masing.

Akhir tahun 2019 aku mutusin buat lanjutin lagi [usahanya], waktu itu ditawarin sama Public Garden untuk bikin pop up market sama mereka, jadi dari situ memutuskan untuk produksi lagi, terus awal 2020 malah ada corona.

Dengan adanya Corona, bagaimana sih dampaknya untuk Titian dan industri perak Celuk?

Awalnya kan kita belum bener-bener produksi serius. Jadi buat kita, [corona] malah menjadi penyemangat gitu. Apalagi waktu tau corona ini bener berimbas banget sama pengrajin di Balikarena awalnya perak dibikin untuk ekspor dengan kuantitas besar, yang order adalah bule-bulesekarang semua terhenti nggak ada yang ngerjain dan mereka banyak yang balik ke kampungnya.

Nah, kalau cara bertahan ditengah gempuran tren perhiasan lain, kayak emas bagaimana?

Kalau dibandingkan dengan emas, tentunya sudah berbeda, mulai dari harga hingga target pasar. Justru karena pandemi, ada gempuran-gempuran lain. Kadang suka ada yang nge-chat ngasih support, itu bikin semangat buat kita terus berkarya lagi. [Jadi] meskipun ada halangan, misalnya projek yang tertunda, ya tetep [berjalan] pelan-pelan lah. 

Bali lagi ke cerita tentang Titian Jewelry tadi, Tantangan yang dihadapi kayak apa?

Dulu pas masih magang, aku dikasih tau [dan baca juga] kalau Celuk adalah sentra silver, sentra perhiasan yang mayoritas diekspor. Bali itu [tumbuh] dari kerajinan perak, jadi dulu itu bisa dibilang Celuk adalah daerah yang kaya banget. Namun, makin ke sini industri ini makin turun karena banyak hal seperti persaingan, kita yang nggak ngikutin tren teknologi supaya bisa bikin kerajinan dengan lebih cepat dan efisien, sampai hasil yang didapatkan sebagai pengrajin jumlahnya nggak seberapa.

Sekarang, anggaplah pengrajin dalam sebulan bisa menghasilkan sekian rupiah dan itu nggak beda jauh dengan profesi sebagai penjaga villa atau jualan online, jadi akhirnya mereka lebih memilih untuk jadi penjaga villa aja, karena effort yang dikasih lebih rendah. Mereka juga nggak perlu skill atau ngeluarin tenaga dan pikiran yang segitunya. Jadi, banyak yang alih profesi sebagai penjaga villa meskipun penghasilannya beda tipis dengan pengrajin.

Titian Jewelry, Perak Celuk, Bali

Proses pembuatan perhiasan Titian Jewelry/Michellie.

Sekarang itu mereka (pengrajin) kalau ditanya anaknya mau jadi apa, nggak ada yang mau anaknya jadi pengrajin perak. Dengan jawaban yang seperti itu, anggap aja saat ini aku lagi bekerja dengan generasi terakhirnya pengrajin perak (Celuk).

Nah, ketika [mulai] bekerja sama dengan pengrajin, aku jadi bertanya-tanya, jadi pengrajin perak itu pekerjaan yang butuh skill banget tapi penghasilan yang didapatkan nggak seimbang. Usut punya usut, ini karena mereka nggak enakan untuk pasang harga. Mereka juga nggak menghitung waktu pembuatan.

Nah ternyata, pembuatan perhiasan perak ini memakan waktu banyak. Akhirnya nggak seimbang antara harga jual dengan biaya produksi dan durasi pembuatannya. Makanya, mereka nggak mau kalau anak-anaknya jadi pengrajin [perak].

Dari sini, sebenarnya Titian berusaha ngajarin mereka buat menghargai apa yang mereka kerjakan dengan pembagian komisi seimbang; jangan sampai kitanya untung tapi merekanya rugi; biar kita tetep jalan, mereka juga jalan.

Ketika awal produksi masih sedikit, aku masih bisa nungguin [pengrajin] pas produksi, aku ajak ngobrol mereka. Waktu tanya tentang penentuan harga, awalnya sempet kaget “hah bener harganya cuma segini?”, terus pelan-pelan kita kasih tahu supaya mereka bisa menghitung estimasi waktu dan tenaga yang dikeluarkan berapa.

Titian Jewelry, Perak Celuk, Bali

Perhiasan Titian Jewelry/Michellie.

Desain-desain Titian Jewelry cantik banget. Nah, apa sih yang menginspirasi dalam pembuatan desain ini?

Aku terinspirasi dari alam, makanya hampir semua desainnya bunga-bunga. Ini efek pas [tinggal] di Bali, orang-orang di sini sangat menjaga dan menghargai alam. Mereka selalu menanam bunga jepun di rumah mereka, bahkan aku ada koleksi jepun juga lho.

Di Celuk, ada motif tradisional sendiri nggak? Kalau nggak ada, apakah Titian Jewerly kepikiran untuk bikin?

Kalau motif Bali tentunya ada, berdasarkan agama yang dianut. Nah, kalau khusus Celuk sendiri nggak ada pakemnya.

Kalau pakem perhiasan Bali sendiri ada yang namanya “jawan”, semacam biji-biji bola kecil silver. Di Titian juga ada, kita sematkan di koleksi Jepun. Terus, kalau untuk motif, kita ada koleksi Patra yang terinspirasi dari dinding-dinding [bangunan] di Bali.

Terus, pernah kolaborasi dengan pihak lain, Kak?

Ada kolaborasi dengan Ikat by Mari, terus bikin video bareng Sejak Mula Studio” sama Kata Puan. Titian terbuka banget buat kolaborasi [dengan siapa pun].

Bagaimana harapan kedepannya Kak Michellie untuk Titian Jewelry dan industri perak Celuk?

Harapannya Titian bisa membuat [perak] Celuk bersaing di pasar dengan pengadaan alat yang lebih modern, lalu kita juga lagi mikirin gimana agar ada generasi [pengrajin] selanjutnya—jangan sampai punah, meningkatkan value para pengrajin dengan harapan ada banyak pengrajin yang bikin untuk brand-brand lain.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Tinggal di kaki Gunung Wali, tapi tak pernah bosan dengan indahnya dataran tinggi. Gemar memanjakan lensa mata dengan potret indah untuk disimpan.

Tinggal di kaki Gunung Wali, tapi tak pernah bosan dengan indahnya dataran tinggi. Gemar memanjakan lensa mata dengan potret indah untuk disimpan.
    Artikel Terkait
    Itinerary

    Desa Muncar dan Kopi Temanggung

    Itinerary

    Memahami Lebih Dalam tentang Permakultur

    Itinerary

    5 Destinasi Budaya 'Memorable' ala Jovita Ayu

    ItineraryPilihan Editor

    Rumapala dan Cerita Memberdayakan Pala Banda

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *