#dirumahajaItinerary

Hari Ini Kita Bicara tentang Jamu

Belakangan, dunia sedang dilanda wabah virus baru yang masuk golongan pandemi, COVID-19. Warga Indonesia pun berbondong-bondong membeli aneka vitamin yang dirasa paling ampuh menangkal COVID-19.

Kondisi ini ternyata juga bikin pamor jamu tradisional kembali naik daun. Minuman tradisional yang mulai langka ini kembali dicari-cari setelah sekian lama dipandang publik sebelah mata.

Sebelum jamu jadi semacam most wanted begini, Acaraki sudah “memelihara” jamu. Kafe jamu yang ada di Kota Tua dan Kemang ini melihat jamu sebagai sebuah tradisi turun-temurun yang harus diselamatkan dari kelangkaan. Pak Joni, sang pendiri Acaraki, menjelaskan bahwa pada dasarnya ada delapan jenis jamu yang masing-masing mengandung filosofi sendiri soal siklus kehidupan manusia dari lahir hingga akhir.

Uniknya, di Acaraki Pak Joni justru mengangkat konsep new wave. Kafe ini mengolah jamu dengan beragam instrumen yang biasanya dipakai untuk menyeduh kopi, seperti V60, French press, hingga syphon.

Menyeduh jamu dengan “syphon” via Acaraki

Jadi wajar saja Acaraki punya beragam pilihan olahan jamu dalam menunya. Selain jamu berbasis alat seduh, kafe jamu ini punya sederet jamu dengan campuran bermacam bahan, seperti susu, santan, gula merah, dan es krim. Inilah yang bikin sensasi minum jamu di Acaraki jadi beda.

“Kalau kopi dan teh bisa dibuat aneh-aneh, kenapa jamu tidak?” ujar pendiri Acaraki, Pak Joni, retoris.

Pak Joni ternyata nggak sembarangan memilih nama kafe jamunya. “Acaraki” ternyata adalah gelar bagi orang yang berprofesi sebagai peracik jamu di zaman Kerajaan Majapahit. Saat memberikan jamu racikannya, biasanya seorang acaraki akan ngasih nasihat kepada pasiennya untuk terlebih dulu berdoa demi kesembuhan sebelum meminum.

Menurut Pak Joni, sebenarnya khasiat jamu untuk kesehatan amat bergantung pada kepercayaan dan kedisiplinan orang yang meminum. Artinya, perlu proses. Kita nggak bisa berharap langsung sembuh dari sakit sehabis minum segelas jamu. Buat meningkatkan daya tahan tubuh, contohnya, khasiat jamu baru bakal bekerja optimal kalau ramuan itu diminum setiap hari bersamaan dengan asupan lain.

Minum jamu di Acaraki/Istimewa

Cara bikin jamu sendiri saat lagi #dirumahaja

Bagaimana? Jadi tertarik buat minum jamu? Dalam kondisi biasa saat dunia nggak lagi berjuang menghadapi pandemi, mungkin kamu bisa langsung cus ke Acaraki untuk minum jamu. Kalau lagi #dirumahaja di masa-masa #bukanliburan seperti sekarang, kayaknya akan lebih baik kalau kamu bikin jamu sendiri dari bahan-bahan sederhana.

Coba pergi ke dapur dan cari jahe, temulawak, kunyit, dan, kalau ada, madu. Kemudian, cuci bersih lalu kupas jahe, temulawak, dan kunyit. Potong empon-empon itu sebesar ruas jari. Kira-kira, bagi temulawak jadi 8 potong, kunyit 6 potong, dan jahe 3 potong.

Selanjutnya masukkan bahan-bahan yang sudah dipotong itu ke dalam panci berisi air 500-600 ml lalu rebus sampai mendidih. Setelah itu, kamu tinggal menuangkan air rebusan ke dalam gelas. Kalau mau manis, tambahkan madu.

Mungkin kamu bakal ngerasa agak repot mesti memotong-motong dan merebus bahan-bahan jamu itu. Tapi, ya, mau bagaimana lagi? Namanya lagi social distancing dan kamu mesti rela #dirumahaja.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Artikel Terkait
Itinerary

Senja dari Pinggir Brantas

#dirumahajaEvents

Ngobrol soal "Peduli Pekerja Pariwisata" bareng Jonathan Thamrin

Itinerary

Remeh-temeh yang Tak Remeh tentang Tempe

#dirumahajaItinerary

Sahabat Perjalananmu X TelusuRI: Tips Bikin Bujet Traveling ala Dayu Hatmanti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *