Pilihan EditorTravelog

Berahim Djarman dan Upaya Perjuangan Menegakkan Republik

Kami menyebrangi Sungai Martapura untuk menuju rumah sang veteran yang masih hidup. Beranjak ke seberang, menuju Desa Lok Baintan dengan menyeberangi jembatan gantung yang membelah sungai. Disana kami disuguhi pemandangan aktivitas perahu yang meramaikan sungai. Bagi masyarakat Kalimantan, sungai merupakan pusat keseharian dan penopang keberlangsungan hidup.

Sungai ini mengalir sejauh 375,91 km di Kalimantan Selatan, dari hilir yang bersambung ke Barito hingga hulu yang berakhir di Riam Kanan.

Jembatan gantung sedikit berayun ke kanan kiri akibat tarikan gas motor yang kencang. Papan jembatan yang terbuat dari kayu berderit seakan meminta kami agar memelankan laju kendaraan. Jembatan ini tidak bisa berpapasan karena sempit, jadi salah satu penyebrang harus menunggu di sisi yang lain sementara kami menyebrang. 

Kami sampai di rumah sang veteran. Rumah kayu sederhana yang berdiri di atas sungai. Di depannya terdapat papan dengan tulisan Markas Ranting Legiun Veteran Republik Indonesia kecamatan Sungai Tabuk dan sebuah bendera yang berkibar. Nampak seorang kakek sepuh duduk di teras sewaktu kami tiba. Kami memberi salam dan menanyakan beliau tentang keadaannya. Beliau membalas lirih dan menanyakan asal kami. 

Brahim Djarman, seorang veteran perang kemerdekaan yang berjuang di wilayah Paku Alam, Sungai Tabuk. Beliau tampak sepuh. Rambut putih dan kacamata menghiasi kepala beliau. Meski begitu beliau nampaknya masih gagah untuk seumuran beliau.

Saya minta diceritakan kisah perjuangan beliau dahulu. Sedikit berbisik, beliau mulai menceritakan kisahnya. “Kalau mulai asal, pemberontakan dimulai pada 1945, tapi waktu itu aku belum ikut juga, masih terlalu muda,” papar beliau. 

Pada 1945, Daeng Ladjida diperintahkan oleh Hasan Basry dari Kandangan untuk menjadi ketua di daerah sini. “Pertama Pak Daeng datang ke daerah sini, dulunya hanyalah hutan rumbia, beliau datang ke sini ke rumah nenek saya,” jelas beliau. Kampung yang dihuni sedikit orang memang cocok menjadi basis perjuangan, tidak mencolok dan aman dari spionase. “Pemerintah Belanda tidak berdaya lagi pada saat itu, tapi NICA masuk.” Kalimantan Selatan sewaktu Perjanjian Renville bukanlah termasuk wilayah yang diakui Belanda sebagai Negara Indonesia. Seluruh Kalimantan kembali berjuang agar terbebas dari NICA dan masuk ke dalam republik.

Beliau sempat menjadi keamanan penjaga tawanan. Pejuang-pejuang banyak menangkap para “kepala dua” yang mengancam keamanan di Kalimantan Selatan. Kepala dua adalah julukan yang diberikan para perjuang untuk para pengkhianat yang menjadi spionase Belanda. Para mata-mata yang tertangkap dibawa ke desa ini.

“Perintah Daeng Ladjida adalah menjaga mereka (para tahanan) tidak usah ikut mengintrogasi, apabila ada tawanan yang mencoba kabur, tembak saja,” kenangnya. Para tawanan mata-mata itu berasal dari berbagai macam profesi, bahkan ada tukang becak yang mencuri dengar rencana para pejuang kemudian membocorkannya ke pihak Belanda.

Pangkalan-pangkalan perjuangan dibentuk di berbagai wilayah seperti Lok Baintan, Muara Kuin, Palembangan, dan Pekapuran. Tahun 1948 di desa ini didirikan pelatihan darurat untuk menjadi TNI yang diketuai Lettu Bambang Soedjito dan dilatih oleh Bambang Soebardjo. Di tahun tersebut sudah tidak ada lagi serang menyerang dengan Belanda, sembari menunggu keputusan. “Yang dinamakan orang alam roh ini luasnya dari desa pembantanan sampai sungai Lulut, sekarang kan sudah banyak pemekaran, dahulunya di sini sepi, cuman ada beberaa rumah.”

Tahun 1949 Daeng Ladjida dipindah ke basis Martapura jadi komandan batalyon. Daeng sempat mengajak beliau untuk pindah latihan ke Martapura.  Beliau mengiyakan tawarannya, dan ikut pergi ke Martapura. Dengan bekal satu senjata, satu karnet, dan dua orang lainnya untuk menemani pergi ke Martapura dengan menumpang jukung yang membawa karet. Jalan darat yang belum sepenuhnya tersambung membuat mereka memilih jalur sungai. Yang dilatih di Martapura adalah orang-orang yang berasal dari berbagai macam pangkalan di sekitaran Banjarmasin. Masing-masing mengirim 5 orang untuk dilatih. Sehabis pelatihan pada tahun 1950, para prajurit yang tadi dilatih kemudian keluar, termasuk Berahim sendiri. Berahim langsung terjun di Martapura meskipun keputusan pengangkatan dirinya belum resmi. 

Berahim mengikuti dinas percobaan untuk menjadi tentara resmi. Dengan diperbolehkannya cuti, para pejuang kembali ke rumah masing-masing, Berahim pulang ke kampung untuk menengok orang tuanya. Rupanya ibunya sudah mengalami kepikunan yang akut. Akhirnya Berahim memutuskan untuk tidak ikut lagi dinas untuk fokus menjaga orang tuanya. Berahim berpamitan dengan Daeng Ladjida, yang sudah terjalin ikatan kuat antar keduanya bagai sahabat.

Meski begitu, namanya tetap tercatat sebagai bagian dari pasukan beruang hitam. Berahim sempat mengikuti operasi pembersihan bekas kediaman Belanda. Di Martapura, bekas kediaman Belanda berupa kantor dibersihkan dan dibongkar untuk menghilangkan ingatan tentang peristiwa pasca kemerdekaan.

Kecemburuan yang terjadi akibat rekrutmen tentara nasional yang lebih memihak kepada bekas KNIL daripada gerilyawan tentu meninggalkan kekecewaan yang berat bagi para pejuang. Kebanyakan para pejuang adalah buta huruf meski tidak semuanya. Syarat rekrutmen yang mengharuskan bisa baca tulis tentu saja memberatkan mereka. Hal ini memicu pemberontakan kepada republik dari kumpulan bekas pejuang Kalimantan Selatan. Tak banyak yang diceritakan beliau kepada saya soal ini. Dia hanya menyebutkan beberapa gerilyawan tak suka dengan mantan tentara KNIL yang menduduki posisi yang lebih tinggi dari mereka di kesatuan.

Pertemuan itu kami akhiri dengan berfoto bersama. Saya tahu perjuangan melahirkan republik ini tidak mudah. Tidak ada awal dan akhir dalam perjuangan, kita pun begitu. Kemiskinan, kebodohan, KKN, adalah musuh besar yang kita hadapi sekarang. Tidak ada lagi tentara berambut pirang yang bisa dikenali dengan mudah. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang berhasil keluar dari kemiskinan dan kebodohan yang mengakar di republik ini. Merdeka!


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Travelog

Bersumpah Berhenti Merokok di Bibir Jonggring Saloko

Travelog

Liburan Indie di Kakek Bodo Campground, Pasuruan

Travelog

Purun yang Menjadi Nyawa Kampung Purun

Semasa CoronaTravelog

Bersepeda Pagi Menuju Stadion Manahan Surakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Alam Roh dan Desa Para Pejuang