Travelog

Melawat ke Panmuti, Merawat Persahabatan

Seiring perjalanan waktu, saya percaya bahwa setiap perjalanan, sesederhana apa pun itu, selalu punya alasan tersendiri untuk diabadikan. Inilah yang kemudian mendorong saya untuk menulis sedikit tentang perjalanan bersama beberapa sahabat saya ke Pantai Panmuti, sebuah tempat wisata yang terletak di Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. 

Tidak ada agenda khusus untuk perjalanan kali ini. Barangkali melepas penat setelah berbagai kesibukan beberapa hari belakangan, menjadi alasan yang menyatukan niat kami untuk berangkat ke sana. Beberapa orang dari antara kami memang sedang sibuk bergelut dengan tugas akhir, wajar saja jika mereka yang menginisiasi perjalanan hari ini. 

Rencana perjalanan ini baru kami bahas semalam. Saya sendiri sempat ragu bahwa perjalanan ini akan terlaksana, pasalnya selama ini kami sudah terlampau sering membuat satu dua perencanaan yang selalu saja gagal. Beruntungnya hari ini semua menepati janji, kendati waktu keberangkatan kami molor satu jam dari rencana semalam.

Saya sendiri yang merekomendasikan Panmuti sebagai tujuan kami hari ini. Selain karena akses ke sana yang cukup mudah, beberapa orang dari antara kami  memang belum pernah berkunjung ke sana sebelumnya. 

Bagi saya, ini adalah perjalanan ke sekian kalinya. Perjalanan bersama rekan sejurusan pada akhir 2018 lalu menjadi yang pertama. Setelahnya saya berulang kali berkunjung ke sana, entah untuk sekedar refreshing atau menyelesaikan beberapa tugas kuliah yang berkaitan dengan destinasi wisata ini. 

Sekitar pukul 16.00 WITA kami berangkat ke lokasi, tentu saja dengan tetap memakai masker dan membawa hand sanitizer.

Langit cerah Kota Kupang yang berpadu semilir angin sejuk seakan menemani perjalanan kami ke sana. Pemandangan pinggir jalanan Tarus yang dihias hamparan persawahan seperti kembali menyapa kami setelah beberapa bulan tidak melintasi jalur ini. 

Jarak Panmuti yang tidak terlalu jauh dari lokasi kami membuat perjalanan tidak memakan waktu yang terlalu lama. Kami tiba di Panmuti sekitar pukul 16.30 WITA. Saya sedikit terkejut mendapati Panmuti yang banyak berubah, tentu ini bisa dimengerti sebagai dampak badai siklon Seroja yang terjadi beberapa waktu lalu. 

Namun, itu tidak serta merta menghilangkan semua keindahan Panmuti. Alam Panmuti masih tampak cantik. Keistimewaan Panmuti memang terletak pada pemandangan alamnya yang dihias hamparan pasir yang sangat luas, dengan latar bukit batu putihnya yang menjulang indah. Bebatuan di pinggir pantai menyatu dengan air lautnya yang tenang. Sebuah panorama alam nan indah yang selalu memanjakan mata setiap pengunjung.

Pemandangan pantai dari bukit/Oswald Kosfrandi

Panmuti menjadi salah satu pantai dengan kondisi alam yang bagus dan berbeda. Tempat ini cocok untuk dijadikan lokasi piknik, tempat hunting foto atau sekadar melepas penat dengan menyaksikan matahari terbenam. Letaknya yang tidak terlalu jauh dari Kota Kupang juga memudahkan pengunjung datang ke tempat ini.

Segera setelah memarkir kendaraan, kami berkeliling sebentar. Bukit batu putih yang menjadi ikon Panmuti menjadi tujuan pertama kami. Kami duduk bercerita cukup lama sambil menikmati keindahan alam yang dapat kami saksikan dengan jelas di depan sana. Lelucon khas beberapa sahabat saya yang memang pandai mengarang cerita lucu membuat tawa kami menyatu hembusan angin yang bertiup cukup kencang. 

Menyaksikan matahari terbenam di Panmuti adalah hal yang sangat kami nantikan sore ini. Keindahan sunset di Panmuti memang sudah menjadi rahasia umum bagi siapa saja yang pernah berkunjung ke sana. Panmuti selalu punya keindahan yang luar biasa lewat polesan semburat jingga pada cakrawalanya yang terbentang luas setiap matahari turun. 

Benar saja, bersamaan matahari yang perlahan turun, semburat jingga terlukis indah pada hamparan cakrawala di kejauhan. Cahaya jingganya yang cantik pun disambut air lautnya yang tenang. Sungguh sebuah paduan yang sangat indah. Kami lantas mengabadikannya dengan mengambil foto dengan gaya masing-masing.  

Foto sahabat saya, Rio Reme/Oswald Kosfrandi

Hari yang mulai gelap enggan kami pedulikan, kami malah semakin bercanda ria dan terlibat dalam obrolan penuh tawa. Semilir angin yang bertiup kala malam kian menjelang, mencipta kehangatan dalam nuansa keakraban kami. 

Sejujurnya ini adalah kali pertama kami semua menghabiskan waktu bersama di tempat seperti ini. Kendati hampir sepuluh tahun tumbuh bersama sejak SMP hingga kuliah, kami belum pernah melakukan perjalanan bersama selama di Kupang. 

Kami lalu bergegas pulang saat hari sudah benar-benar gelap. Setelah memastikan semua barang yang kami bawa tidak ada yang tertinggal, kami segera melesat kembali ke tempat kami masing-masing.  

Perjalanan hari ini ke Pantai Panmuti bagi saya lebih dari sebuah perjalanan mengunjungi destinasi wisata yang punya keindahan alam nan indah. Lebih jauh, perjalanan kali ini memberi saya pelajaran agar senantiasa mensyukuri hangat kebersamaan bersama sahabat.

Di Panmuti, semesta mengikat kami dalam persaudaraan, mengakrabkan kami dengan alam, dan memberi ruang untuk kami sejenak merenungi hidup sembari mensyukuri banyak hal. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Oswald Kosfraedi, saat ini berdomisili di Kupang. Gemar mengisi waktu luang dengan menulis dan mendengarkan lagu karya seorang musisi yang menginspirasi saya dalam menulis.

Oswald Kosfraedi, saat ini berdomisili di Kupang. Gemar mengisi waktu luang dengan menulis dan mendengarkan lagu karya seorang musisi yang menginspirasi saya dalam menulis.
    Artikel Terkait
    NusantarasaTravelog

    Menikmati Segelas Cendol Elizabeth di Hari Minggu

    Travelog

    Memaknai Fenomena Alam Pasca Badai Seroja

    Travelog

    Mengenang Perjuangan Kemerdekaan di Taman Tegallega

    Travelog

    Cara Terbaik Memaknai Pulang (4)

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Mudik ke Sumba Timur Semasa Corona