ItineraryNusantarasa

Aneka Hidangan Iduladha Khas Solo Raya

Ketika tanggal sudah menunjukkan 10 Zulhijah dalam penanggalan tahun Hijriah maka dapat diartikan bahwa Iduladha telah tiba. Disitulah momen di mana hampir seluruh wilayah Indonesia dapat dijumpai prosesi penyembelihan hewan kurban seperti sapi, kambing, bahkan kerbau.

Di daerah Solo Raya, wilayah yang dahulu berada di bawah kekuasaan Kasusanan Surakarta memiliki hidangan Iduladha yang juga memiliki kekhasan dan citarasa yang mungkin tidak dapat dijumpai di tempat lain. Daerah yang masuk dalam wilayah Solo Raya itu terdiri dari Kota Solo, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sragen, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, serta Kabupaten Klaten atau dengan kata lain wilayah ber-plat AD.

Nah, berikut adalah aneka hidangan Iduladha khas Solo Raya!

1. Gule Kambing

Gule kambing biasa dijumpai di rumah-rumah masyarakat Solo, utamanya diolah dengan bahan dasar jeroan kambing. Dengan kuah santan yang mengguyur setiap potong jeroan kambing ditambah bumbu dan rempah yang kuat akan menambah kenikmatan setiap orang yang menyantapnya.

Konon gule kambing khas Solo ini hadir ketika para pedagang Arab dan India masuk ke wilayah Jawa dan saling bertukar budaya. Tak lepas pula dengan olahan masakan yang terakulturasi dari kedua bangsa itu ke dalam hidangan Nusantara. Kala itu baik bangsa Arab maupun India memperkenalkan masakan berbahan domba maupun kambing seperti gulai. Kemudian dengan teknik dan kekhasan masyarakat Jawa muncullah gule sebagai hidangan yang menggugah selera. 

Selain gule basah di Solo juga ada gule goreng, gule versi kering ini hanya dapat ditemui di kota Solo dengan penjaja yang tidak begitu banyak layaknya pedagang gule basah. Jeroan yang menjadi isian gule basah ditiriskan digoreng kering dengan teknik tersendiri ala orang Solo. Tentu penikmat akan merasakan sensasi yang berbeda antara gule basah dan gule goreng tetapi tentu sama-sama enak. Maka dari itu gule kering ini juga sering turut meramaikan meja makan masyarakat Solo Raya.

2. Tengkleng Kambing

Tengkleng hampir sama dengan gule, bedanya  tengkleng  menggunakan bahan dasar tulang kambing yang tentunya masih terdapat daging yang melekat pada tulang (meski hanya sedikit).

Tengkleng dibuat dengan cara merebus tulang kambing dalam waktu yang cukup lama sampai ekstrak tulangnya keluar dengan ditambah kuah gule yang mengandung bumbu dan rempah. Tengkleng memiliki cerita tersendiri yang menunjukkan bagaimana kreativitas masyarakat Solo terbentuk menghadapi berbagai situasi kehidupan terutama dalam masalah pangan.

Tengkleng
Tengkleng/Rosla Tinika Sari

Dahulu di masa penjajahan Jepang, wong cilik mulai kekurangan pangan sehingga mereka tak mampu membeli makanan yang layak. Mereka harus memutar otak dengan mengolah limbah pangan, termasuk limbah kambing. Limbah kambing itu berupa tulang belulang dan jeroan kambing yang tidak dimanfaatkan masyarakat kelas atas, lantaran daging kambing kala itu hanya untuk orang Belanda dan kaum priyayi. 

Selain itu nama dari tengkleng ini pula menunjukkan bagaimana kehidupan masyarakat golongan ekonomi lemah yang hanya mampu mengolah tulang dan jeroan kambing. Ketika dihidangkan tulang-tulang itu menimbulkan bunyi kleng-kleng di mana pada saat itu piring yang digunakan berbahan gembreng (logam).Cara menyantap olahan kambing ini adalah dengan mbrakoti yaitu menggigit habis hingga tak ada lagi daging, otot, lemak, bahkan tulang muda yang melekat di tulang kambing. Meski dahulu merupakan makanan rakyat jelata, kini banyak restoran mewah yang menjajakan tengkleng sebagai sajian yang istimewa. Hal ini dikarenakan kenikmatan dan sensasi tersendiri yang tak dapat ditemui di kuliner lain.

3. Tongseng Kambing

Daging Tongseng
Daging tongseng/Rosla Tinika Sari

Tongseng berbahan dasar daging kambing, kehadiran tongseng juga tidak lepas dari keberadaan gule yang terkenal dengan nikmatnya olahan jeroan kambing. Tetapi berbeda dengan gule yang memiliki kuah melimpah, tongseng disajikan dengan sedikit kuah dengan tambahan kecap dan gula pasir atau gula jawa di dalamnya.

Menurut beberapa sumber yang tersebar secara gethok tular, tongseng berasal dari Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali. Di kecamatan tersebut terdapat monumen sate tongseng yang menunjukkan bagaimana tongseng hadir dan menambah keanekaragaman kuliner Indonesia.

Tongseng hadir setelah gule mulai muncul di sekitar Jawa sekitar abad ke-19. Saat pabrik gula pasir dan gula jawa serta pabrik kecap di selatan Jawa tengah yang tengah memproduksi banyak hasil produknya. Dengan kreativitas masyarakat terciptalah gule yang ditambah dengan kecap, bumbu, irisan tomat dan kubis yang kemudian disebut dengan tongseng. Nama tongseng dikenal lantaran cara pengolahan masakan ini dengan menggongseng daging kambing di wajan besar.

4. Soto Seger Boyolali 

Soto Seger
Soto seger/Rosla Tinika Sari

Soto merupakan olahan berbahan dasar daging yang kerap dijumpai di berbagai wilayah Indonesia dengan citarasa lokalnya masing-masing. Seperti halnya wilayah lain, di Solo Raya utamanya di Kabupaten Boyolali juga dapat dijumpai soto tetapi tentu berbeda dengan soto-soto lainnya.

Di Kabupaten Boyolali soto seger biasa menggunakan daging sapi dengan nasi hangat yang terguyur kuah soto yang menggunakan tambahan taoge dan sedikit potongan seledri. Selain itu terdapat perbedaan soto seger Boyolali dengan soto di wilayah lain, soto seger Boyolali diolah dengan kuah yang lebih bening dibandingkan di tempat lain serta kekentalan kuah yang tidak begitu kental layaknya soto di daerah Jawa Timur.

5. Sate 

Sate Kambing
Sate kambing/Rosla Tinika Sari

Seperti halnya soto, sate juga banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Di wilayah Solo Raya sate biasa di beri bumbu kecap dengan taburan merica dan bumbu pawon (sebutan masyarakat Jawa pada bumbu dapur seperti bawang putih, bawang merah, dan lain sebagainya).

Selain dengan potongan daging kambing, sate di Solo juga terdapat versi lain yaitu sate buntel. Buntel sendiri artinya bungkus, di mana daging kambing yang telah dihaluskan ditambah dengan rempah pilihan dibuntel pada tusukan yang biasanya menggunakan bahan bambu.

Sate buntel ini serupa dengan sate lilit di Bali, namun tentunya terdapat perbedaan di mana ukuran sate buntel terbilang lebih besar serta rasa dan kenikmatannya yang memiliki kekhasannya tersendiri.

Seperti halnya soto, sate juga banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Di Wilayah Solo Raya sate biasa di beri bumbu kecap dengan taburan merica dan bumbu pawon (sebutan masyarakat Jawa pada bumbu dapur seperti bawang putih, bawang merah, dan lain sebagainya). Selain dengan potongan daging kambing, sate di Solo juga terdapat versi lain yaitu sate buntel. Buntel sendiri artinya bungkus, di mana daging kambing yang telah dihaluskan ditambah dengan rempah pilihan dibuntel pada tusukan yang biasanya menggunakan bahan bambu. Sate buntel ini serupa dengan sate lilit di Bali, namun tentunya terdapat perbedaan di mana ukuran sate buntel terbilang lebih besar serta rasa dan kenikmatannya yang memiliki kekhasannya tersendiri.

6. Bakso Wonogiri

Bakso yang termasyhur di NKRI ini banyak dijajakan di kota-kota besar Indonesia. Bakso Wonogiri biasa dihidangkan dengan potongan sawi, bawang goreng, bihun, serta mi kuning. Bakso Wonogiri konon berasal dari Desa Giriwarno, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri.

Di desa tersebut masyarakatnya sebagian besar merupakan seorang perantau yang banyak bekerja sebagai pedagang bakso. Menurut sejarahnya dahulu banyak pedagang Cina yang menjajakan bakso berbahan daging babi di sekitar Solo. Karena kebanyakan masyarakat Jawa tidak makan babi maka bakso diolah dengan daging sapi. Daging sapi dipilih karena saat itu Mangkunegara VI memiliki peternakan sapi di Wonogiri. Selain itu di Wonogiri juga terdapat pasar sapi yang tersebar di Kecamatan Wuryantoro, Giriwoyo, serta Pracimantoro.

Sebagai tempat dilahirkannya bakso Wonogiri, Kabupaten Wonogiri yang terletak di Solo Raya bukan saja satu-satunya wilayah yang mengolah bakso saat Iduladha. Hal ini karena banyak pula masyarakat yang ingin mencoba makan daging dengan bentuk lain, maka dibuatlah bakso. Maka dari itu sering kali masyarakat ketika ingin menggiling daging qurban di tempat penggilingan harus rela antre karena banyaknya masyarakat yang ingin menikmati daging sapi dalam tekstur yang lebih kenyal.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.
    Artikel Terkait
    Itinerary

    Desa Muncar dan Kopi Temanggung

    Itinerary

    Memahami Lebih Dalam tentang Permakultur

    Itinerary

    5 Destinasi Budaya 'Memorable' ala Jovita Ayu

    ItineraryPilihan Editor

    Rumapala dan Cerita Memberdayakan Pala Banda

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Mencicipi Ragam Soto Nusantara