Banyuwangi merupakan kabupaten paling timur Pulau Jawa yang berbatasan langsung dengan Selat Bali. Daerah berjuluk “The Sunrise of Java” itu menjadi titik utama penyeberangan kapal feri dari Pelabuhan Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk, sisi barat Pulau Bali. Selain sumber daya alam, Banyuwangi juga terkenal dengan keragaman kuliner lokalnya, diantaranya rujak soto, pecel rawon, ayam kesrut, pecel pitik, sego cawuk, dan sego tempong.
Banyak orang yang membuka usaha kuliner tradisional khas Banyuwangi, mulai dari yang legendaris sejak puluhan tahun lalu maupun yang relatif baru beberapa tahun belakangan. Usaha kuliner tersebut tersebar di beberapa tempat, di antaranya yang terkenal adalah Waroeng Kemarang, Tamansuruh, Kecamatan Glagah.


Menyajikan Menu yang Autentik
Waroeng Kemarang berjarak kurang dari tiga kilometer ke arah barat laut dari Desa Wisata Kemiren, salah satu pusat kebudayaan suku Using atau Osing, etnis asli Banyuwangi. Persisnya di Jl. Perkebunan Kalibendo KM 5, Dusun Wonosari. Relatif tidak terlalu jauh dari pusat kota Banyuwangi.
Tempat makan yang dibuka pada Juni 2018 ini memang memiliki misi memperkenalkan kuliner dan kebudayaan khas Banyuwangi kepada wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Hal ini terlihat pada konsep bangunan, unsur-unsur tradisional, dan berlatar belakang persawahan. Harga menunya pun relatif terjangkau, rata-rata berkisar Rp10.000–60.000 untuk makanan dan Rp4.000–Rp20.000 untuk minumannya.
Pengalaman kami saat itu, kami memilih salah satu gubuk lalu membuka buku menu. Di sampul depan tertulis slogan “Kemarang Nong Pinggir Sawah Ati Girang Dung Mari Gesah”, yang artinya kurang lebih “Waroeng Kemarang di pinggir sawah, hati gembira setelah selesai mengobrol”. Deretan pilihan makanan, minuman, dan camilan yang bervariasi dan menggoda membuat kami bingung untuk memilihnya ketika membuka halaman demi halaman.


Salah satu kuliner khas Banyuwangi yang memiliki identitas yang sangat kuat adalah pecel pitik. Hidangan ini berupa ayam kampung bakar suwir dengan bumbu kelapa muda pedas, dilengkapi dengan uyah asem. Bahan bakunya adalah ayam pethetheng, yaitu ayam kampung muda.
Cara pengolahannya adalah membelah bagian dada ayam tapi tidak sampai putus, kemudian ditusuk melebar ke bambu. Bagian sayap dan kaki juga dikaitkan ke bilah bambu lalu dibakar. Setelah matang, daging ayam disuwir kasar dan dicampur kelapa sebagai bumbu pecel tanpa kacang tanah.
Menu yang dulunya hanya hadir di acara-acara ritual suku Osing, sekarang jadi primadona dan mudah ditemukan di banyak tempat makan, termasuk Waroeng Kemarang. Diiringi suara angklung Banyuwangian, menyantap pecel pitik bukan sekadar sebagai hidangan semata, melainkan juga menjadi bagian dari pengalaman budaya.


Karakter Rasa yang Unik dan Bikin Ketagihan
Kuliner Banyuwangi memiliki perpaduan rasa yang sangat khas, yaitu dominan pedas, gurih, dan segar. Sangat cocok dengan lidah masyarakat Indonesia secara umum. Sebut saja rujak soto dan pecel rawon yang punya kombinasi unik.
Seperti yang sudah diceritakan di tulisan Rela Antre di Warung Rujak Soto Mbok Mbret (30/5/2022), rujak soto merupakan hidangan perpaduan rujak petis yang pekat disiram soto babat yang gurih. Sementara pecel rawon adalah perpaduan nasi pecel yang disiram rawon. Keunikan inilah yang memberikan pengalaman rasa baru dan tidak ditemukan di daerah lain, sehingga banyak dicari oleh para pencinta kuliner dari luar Bumi Blambangan.
Selain rujak soto, kami pesan ayam kesrut atau jangan kesrut. Pak Wowok, pemilik resto yang sempat mengobrol dengan kami menyebutnya sebagai tom yam-nya Banyuwangi. Ayam kesrut juga disebut uyah asem karena kuah kuningnya memiliki perpaduan rasa asin, gurih, pedas, dan segar. Bahan utamanya terdiri dari ayam kampung, potongan belimbing wuluh, terasi, cabai rawit, cabai besar, dan bumbu penyerta lainnya. Bumbu sederhana namun menghasilkan rasa yang kaya.
Uyah asem Banyuwangi mirip dengan asem-asem ayam yang populer di Rembang dan Blora, hanya saja bedanya tanpa terasi. Istilah “kesrut” dipakai masyarakat Osing untuk menggambarkan sensasi menikmati kuah kaldu segar, asam, dan pedas dengan cara diseruput langsung dari mangkuknya, menciptakan bunyi “srut-srut”.


Hidangan berikutnya adalah nasi tempong, yaitu nasi yang “ditemani” lauk ikan asin, bakwan jagung, tempe goreng, tahu goreng, sayuran rebus—labu siam dan bayam—lalu dilengkapi sambal. Nama tempong berasal dari sambal yang memiliki karakter pedas yang kuat di mulut, seolah seperti ditampar. Dalam istilah Osing, tempong artinya tampar. Sambal yang menyertai nasi tempong berupa sambal mentah berbahan cabai rawit, tomat ranti khas Banyuwangi, terasi, garam, dan jeruk limau.
Yang paling menarik perhatian saya yaitu ikan asin yang memakai ikan asin bulu ayam, dibalur adonan tepung tipis sebelum digoreng untuk memberikan tekstur garing. Lauk ini membuat ketagihan. Sehingga, kami pesan lagi dua porsi ikan asin. Selain ikan asin bulu ayam, Waroeng Kemarang juga menyediakan ikan asin jenggala.
Pesanan lainnya yaitu sego tempong pecel pitik. Mirip dengan nasi tempong, tetapi bedanya terdiri dari nasi, sambal, sayuran rebus, dan pecel pitik. Sebelum hidangan utama datang, camilan tradisional berupa kucur gula aren dan tahu walik goreng terlebih dulu mendarat di meja kami. Untuk mencuci mulut, kami memilih es kelapa muda yang disajikan dalam buah utuh.
Foto sampul: Hamparan sawah di sekitar Waroeng Kemarang Banyuwangi (Facebook Waroeng Kemarang)
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Suka sekali membaca, menulis, dan bepergian menjelajahi tempat baru, serta berkenalan dengan budayanya termasuk kuliner. Lalu membagikan cerita di akun Instagram @maliheh_muchith


