ITINERARY

4 Jalur Pendakian Resmi Gunung Arjuno dan Gunung Welirang yang Harus Kamu Coba

Gunung Arjuno (3.339 mdpl) dan Gunung Welirang (3.156 mdpl) berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, yang kaki-kakinya tertancap kokoh di batas-batas wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Mojokerto. Dua puncak yang selebihnya dikenal sebagai kompleks Arjuno-Welirang ini masuk ke dalam daftar tujuh puncak tertinggi (seven summits) Provinsi Jawa Timur, selain Semeru, Raung, Lawu, Argopuro, dan Buthak.

Meski tidak setinggi Gunung Semeru (3.676 mdpl), Gunung Arjuno dan Gunung Welirang punya daya pikat tersendiri bagi para pendaki. Selain kondisi dan status yang kontras—Arjuno merupakan gunung berapi nonaktif (istirahat), sedangkan Welirang masih memiliki kawah belerang aktif—jejak historis, keunikan vegetasi, dan peran ekosistem kedua gunung ini juga menarik. Kompleks hutan di gunung ini dikenal dengan sebutan Alas Lali Jiwo, yang diambil dari nama lawas pondok wisata era kolonial Belanda di masa lampau. 

Pendaki bisa menggapai dua puncak gunung ini hanya dalam satu waktu, terutama lewat jalur Tretes dan Sumberbrantas dalam 2–3 hari pendakian. Namun, tantangannya juga tidak main-main. Selain jalur yang cukup terjal, terutama menuju puncak, kabut tebal kerap menjadi teman setia tanpa peduli musim. Kondisi tersebut perlu diwaspadai pendaki agar tetap fokus dan kompak saat mendaki gunung ini. Di sisi lain, tidak semua jalur tersedia fasilitas sumber air memadai, sehingga beban para pendaki bertambah karena harus membawa persediaan air yang cukup selama pendakian.

Gunung Arjuno-Welirang memiliki 4 (empat) jalur resmi dengan karakteristik medan dan tantangannya tersendiri. Setiap jalur tetap memerlukan persiapan dan perencanaan manajemen pendakian yang memadai, serta dianjurkan membawa partner pendakian yang berpengalaman. Catatan: jarak dan waktu tempuh bersifat estimasi.

1. Tretes, Kecamatan Prigen (Kabupaten Pasuruan)

Tebing puncak Gunung Arjuno terlihat jelas dari sabana Lembah Kidang via Tretes (Rifqy Faiza Rahman)
Tebing puncak Gunung Arjuno terlihat jelas dari sabana Lembah Kidang via Tretes/Rifqy Faiza Rahman

Meski lebih berat dan panjang, jalur Tretes jadi favorit pendaki karena memungkinkan mencapai dua puncak gunung sekaligus dalam sekali pendakian. Ketersediaan sumber air di setiap pos jadi bonus dan nilai lebih di tengah sadisnya trek makadam yang juga jadi jalur jip pengangkut tambang belerang.

Tidak ada base camp khusus di jalur ini. Namun, pos perizinan pendakian via Tretes cukup mudah dijangkau dari Terminal Pandaan dan tidak terlalu jauh gerbang tol Pandaan. Fasilitas penginapan hingga kebutuhan makan-minum di sekitar pintu pendakian relatif lengkap karena merupakan daerah wisata. 

Idealnya butuh pendakian tiga hari dua malam—sesuai batas maksimal yang diberikan pengelola—jika ingin mendapat puncak Arjuno (biasa disebut puncak Ogal-Agil) dan Welirang. Rekomendasi tempat berkemah (camp) adalah Lembah Kidang atau Pos III Pondokan yang terletak berdekatan di sekitar percabangan jalur menuju Arjuno-Welirang. Kedua tempat ini sama-sama memiliki sumber air. Untuk panduan pendakian Gunung Arjuno-Welirang via Tretes dapat dilihat lebih lengkap di tautan ini.

Pos 1 Pet Bocor – Pos Perizinan Tahura: 5 menit jalan kaki (300 m)
Pos Perizinan Tahura – Pos 2 Kokopan: 3–4 jam (1,5 km)
Pos 2 Kokopan – Pos 3 Pondokan: 4–5 jam (3,8 km)

Jika ke Welirang terlebih dahulu:
Pos 3 Pondokan – Taman Edelweis: 2–3 jam (1,8 km)
Taman Edelweis – Puncak Welirang: 45–60 menit (425 m)

Jika lanjut ke Arjuno:
Pos 3 Pondokan – Lembah Kidang: 20–30 menit (1 km)
Lembah Kidang – Pasar Dieng: 3–4 jam (1,5 km)
Pasar Dieng – Puncak Arjuno: 30–45 menit (800 m)

Peta jalur: Tretes

Insert Google Maps:

<iframe src=”https://www.google.com/maps/embed?pb=!1m18!1m12!1m3!1d4701.871348123699!2d112.62348149116208!3d-7.706017235039498!2m3!1f0!2f0!3f0!3m2!1i1024!2i768!4f13.1!3m3!1m2!1s0x2dd7d70633449317%3A0x4a680f9e7f296bb6!2sUPT%20TAHURA%20R.%20SOERJO%2C%20POS%20PERIJINAN%20RESMI%20GUNUNG%20ARJUNO%20WELIRANG!5e0!3m2!1sen!2sid!4v1776692930620!5m2!1sen!2sid” width=”600″ height=”450″ style=”border:0;” allowfullscreen=”” loading=”lazy” referrerpolicy=”no-referrer-when-downgrade”></iframe>

2. Tambaksari, Kecamatan Purwodadi (Kabupaten Pasuruan)

Dua orang pendaki bertemu dengan seorang pelaku spiritual di situs budaya Pos 5 Mangkutoromo via Tambaksari/Rifqy Faiza Rahman
Dua orang pendaki bertemu dengan seorang pelaku spiritual di situs budaya Pos 5 Mangkutoromo via Tambaksari/Rifqy Faiza Rahman

Jalur pendakian via Tambaksari lebih dikenal sebagai jalur ziarah atau jalur religi. Sebab, nyaris di setiap pos di sepanjang jalurnya terdapat banyak petilasan, situs cagar budaya, dan jejak sejarah era Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, orang-orang yang melintasi jalur ini tidak hanya pendaki umum, tetapi juga para peziarah atau pelaku spiritual.

Base camp jalur ini terletak di tengah perkampungan Dusun Tambakwatu, Desa Tambaksari, sekitar 10 kilometer dari jalan raya arteri Malang–Surabaya. Fasilitas warung, tempat istirahat, dan toilet cukup lengkap. Dari base camp, pendaki bisa jalan kaki atau menggunakan jasa ojek menuju Pos 1 Goa Ontoboego. Sumber air yang stabil sepanjang tahun tersedia di Pos 2 Tampuono dan Pos 5 Mangkutoromo.

Jalur Tambaksari lebih cocok untuk pendakian ke puncak Gunung Arjuno saja. Selain dilarang lintas jalur, jarak ke Gunung Welirang masih sangat jauh. Beban akan berat karena harus membawa carrier melintasi puncak Arjuno terlebih dahulu. Rekomendasi tempat camp adalah Pos 5 Mangkutoromo. Jika dirasa masih terlalu jauh ke puncak, bisa membawa bekal air secukupnya dari Pos 5 lalu melanjutkan pendakian dan berkemah di Pos 7 Jawa Dipa.

Base camp – Pos 1 Goa Ontoboego: 1 jam jalan kaki atau 15–20 menit dengan ojek (2 km)
Pos 1 Goa Ontoboego – Pos 2 Tampuono: 45–60 menit (2 km)
Pos 2 Tampuono – Pos 3 Eyang Sakri: 10–15 menit (300 m)
Pos 3 Eyang Sakri – Pos 4 Eyang Semar: 1–1,5 jam (1,3 km)
Pos 4 Eyang Semar – Pos 5 Mangkutoromo: 30–45 menit (400 m)
Pos 5 Mangkutoromo – Pos 6 Candi Sepilar: 15–20 menit (300 m)
Pos 6 Candi Sepilar – Pos 7 Jawa Dipa: 1,5–2 jam (1,1 km)
Pos 7 Jawa Dipa – Plawangan (Percabangan Tambaksari-Lawang): 3–4 jam (4 km)
Plawangan (Percabangan Tambaksari-Lawang) – Puncak Arjuno: 1–1,5 jam (800 m)

Peta jalur: Tambaksari

Insert Google Maps:

<iframe src=”https://www.google.com/maps/embed?pb=!1m18!1m12!1m3!1d11180.560188892625!2d112.71632072413281!3d-7.797769271849966!2m3!1f0!2f0!3f0!3m2!1i1024!2i768!4f13.1!3m3!1m2!1s0x2dd7d584ad887a4d%3A0x9194b0e944939cdf!2sPos%20Pendakian%20Gunung%20Arjuno%20via%20Tambaksari!5e0!3m2!1sen!2sid!4v1776694638406!5m2!1sen!2sid” width=”600″ height=”450″ style=”border:0;” allowfullscreen=”” loading=”lazy” referrerpolicy=”no-referrer-when-downgrade”></iframe>

3. Wonorejo, Kecamatan Lawang (Kabupaten Malang)

Sabana terbuka jalur Lawang mendekati Pos 2 Bukit Lincing (Rifqy Faiza Rahman)
Sabana terbuka jalur Lawang mendekati Pos 2 Bukit Lincing/Rifqy Faiza Rahman

Jalur pendakian Wonorejo juga dikenal dengan jalur Lawang. Keunikan jalur Lawang antara lain melewati kawasan perkebunan teh Wonosari yang sangat luas dan panjang sebelum pintu hutan. Perkebunan warisan kolonial Belanda ini dikelola oleh PTPN XII dan terbuka bagi pengunjung umum untuk menikmati agrowisata teh.

Base camp jalur ini terletak di ujung perkampungan Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang, yang berbatasan dengan kebun teh Wonosari, sekitar 6 kilometer dari jalan raya arteri Malang–Surabaya. Fasilitas warung, tempat istirahat, dan toilet cukup lengkap. Beberapa warga juga membuka rumahnya untuk parkir kendaraan dan tempat istirahat pendaki.

Sama seperti Tambaksari, jalur Lawang hanya memungkinkan bagi pendaki yang ingin mendaki ke puncak Arjuno saja. Kontras dengan jalur Tretes dan Tambaksari yang berlimpah air, jalur Lawang cenderung kering. Pada puncak musim hujan, biasanya tersedia sumber air musiman di sekitar Pos 2 Lincing dan Pos 3 Mahapena. Untuk area camp yang representatif bisa memilih antara Pos 3 Mahapena atau Pos 4 Gombes.

Base camp – Pos 1 Alang-alang: 1 jam (1,5 km)
Pos 1 Alang-alang – Pos 2 Lincing: 1,5–2 jam (3 km)
Pos 2 Lincing – Pos 3 Mahapena: 2,5–3 jam (1,8 km)
Pos 3 Mahapena – Pos 4 Gombes: 3–4 jam (1,4 km)
Pos 4 Gombes – Plawangan (Percabangan Tambaksari-Lawang): 1,5–2 jam (2 km)
Plawangan (Percabangan Tambaksari-Lawang) – Puncak Arjuno: 1–1,5 jam (800 m)

Peta jalur: Wonorejo (Lawang)

Insert Google Maps:

<iframe src=”https://www.google.com/maps/embed?pb=!1m18!1m12!1m3!1d7905.676934222296!2d112.64566995249767!3d-7.80691899999999!2m3!1f0!2f0!3f0!3m2!1i1024!2i768!4f13.1!3m3!1m2!1s0x2dd7d5103e6b8f47%3A0x41803bc52e305d36!2sPos%20Pendakian%20Gunung%20Arjuno%20via%20Lawang!5e0!3m2!1sen!2sid!4v1776697383839!5m2!1sen!2sid” width=”600″ height=”450″ style=”border:0;” allowfullscreen=”” loading=”lazy” referrerpolicy=”no-referrer-when-downgrade”></iframe>

4. Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji (Kota Batu)

Tampak dua puncak Gunung Kembar di tengah yang mengapit Lembah Lengkehan jalur Sumberbrantas/Rifqy Faiza Rahman
Tampak dua puncak Gunung Kembar di tengah yang mengapit Lembah Lengkehan jalur Sumberbrantas/Rifqy Faiza Rahman

Jalur Sumberbrantas juga dikenal sebagai jalur Cangar, karena dekat dengan objek wisata pemandian air panas Cangar. Tak jauh dari lokasi pos perizinan juga terdapat Arboretum Sumberbrantas, titik nol alias hulunya Sungai Brantas, sungai terpanjang di Jawa Timur. Jalur Sumberbrantas disebut sebagai jalur tercepat menuju puncak Arjuno-Welirang, karena lokasi base camp yang sudah cukup tinggi (1.655 mdpl) dibanding base camp jalur lainnya yang rata-rata berada di rentang ketinggian 800–900 mdpl.

Tantangan jalur ini setidaknya dua. Pertama, lokasi pos perizinan atau base camp yang sangat jauh dari pusat Kota Batu (16,5 km) dengan pilihan moda transportasi umum yang terbatas. Kedua, sama seperti Lawang, jalur Sumberbrantas tidak memiliki sumber air sehingga harus membawa bekal air yang cukup selama pendakian.

Sama seperti Tretes, jalur Sumberbrantas juga memungkinkan pendaki menggapai dua puncak Arjuno-Welirang sekaligus dalam satu waktu. Titik camp ideal berada Lembah Lengkehan, sebuah area sadel yang terletak di antara puncak Gunung Kembar I (3.037 mdpl) dan Gunung Kembar II (3.113 mdpl). Untuk memangkas waktu, biasanya pendaki ditawari ojek atau carter mobil pikap dari pos perizinan menuju pintu rimba yang berbatasan dengan kebun sayur warga.

Base camp – Pintu Rimba: 30 menit dengan ojek atau pikap (5 km)
Pintu Rimba – Pos 1 Brakseng: 1,5–2 jam (3 km)
Pos 1 Brakseng – Pos 2 Watu Gede: 1,5 –2 jam (1,8 km)
Pos 2 Watu Gede – Pos 3 Daplang: 1,5 – 2 jam (1,4 km)
Pos 3 Daplang – Lembah Lengkehan: 1–1,5 jam (2 km)

Jika ke Welirang terlebih dahulu:
Lembah Lengkehan – Taman Edelweis (Pertemuan Jalur Tretes): 30–45 menit (700 m)
Taman Edelweis – Puncak Welirang: 45–60 menit (425 m)

Jika lanjut ke Arjuno:
Lembah Lengkehan – Lapangan Kotak: 30–45 menit (1,5 km)
Lapangan Kotak – Percabangan Jalur Tretes-Sumberbrantas: 15–20 menit (300 m)
Percabangan Jalur Tretes-Sumberbrantas – Pasar Dieng: 3–3,5 jam (1 km)
Pasar Dieng – Puncak Arjuno: 30–45 menit (800 m)

Peta jalur: Sumberbrantas (Cangar)

Insert Google Maps:

<iframe src=”https://www.google.com/maps/embed?pb=!1m18!1m12!1m3!1d3953.2994243725248!2d112.5264810745282!3d-7.758034492261!2m3!1f0!2f0!3f0!3m2!1i1024!2i768!4f13.1!3m3!1m2!1s0x2e787956bd6c7241%3A0xac777082f1d97fcf!2sPos%20Pendakian%20Gunung%20Arjuno%20via%20Sumber%20Brantas!5e0!3m2!1sen!2sid!4v1776698579716!5m2!1sen!2sid” width=”600″ height=”450″ style=”border:0;” allowfullscreen=”” loading=”lazy” referrerpolicy=”no-referrer-when-downgrade”></iframe>

Dua pendaki beristirahat di Pos 3 Pondokan jalur Tretes, yang juga dijadikan tempat gubuk-gubuk penambang belerang di Gunung Welirang/Rifqy Faiza Rahman
Dua pendaki beristirahat di Pos 3 Pondokan jalur Tretes, yang juga dijadikan tempat gubuk-gubuk penambang belerang di Gunung Welirang/Rifqy Faiza Rahman

Menjadi pendaki bijak

Selain menyiapkan perbekalan dan manajemen pendakian yang baik, kamu juga harus memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk menjadi pendaki gunung yang baik. Apalagi jalur pendakian Gunung Arjuno-Welirang memiliki tantangan dan tingkat kesulitan yang menuntut kesiapan fisik, mental, dan perlengkapan maupun logistik pendakian yang memadai. TelusuRI punya sejumlah tips agar kamu bisa menjadi pendaki yang bijak:

  1. Menghormati adat istiadat di dusun setempat
  2. Mematuhi peraturan yang berlaku di kawasan Tahura Raden Soerjo
  3. Melengkapi diri dengan peralatan pendakian standar dan menyiapkan logistik yang cukup selama pendakian, serta tetap waspada dan hati-hati dengan barang-barang bawaan pribadi dari potensi pencurian oleh sejumlah oknum di area berkemah
  4. Jangan mengikuti ego dan memaksakan diri, terutama ketika cuaca buruk atau kondisi tim tidak memungkinkan untuk melanjutkan pendakian
  5. Sangat disarankan untuk tidak memaksakan diri melakukan pendakian tektok (pergi-pulang di hari yang sama) untuk meminimalisasi kecelakaan di gunung
  6. Meminimalisasi penggunaan plastik sekali pakai
  7. Gunakan botol minum yang bukan sekali pakai dan membawa jeriken portabel untuk isi ulang air
  8. Gunakan kotak makan untuk menyimpan bahan-bahan makanan kamu
  9. Memilih menu-menu makanan organik, seperti sayur, buah, dan bahan lainnya yang limbahnya bisa kamu timbun di dalam tanah saat pendakian (pastikan sudah seizin pengelola)
  10. Membawa pulang sampah anorganik yang kamu hasilkan
  11. Membawa kantung sampah secukupnya

Pemutakhiran terakhir pukul 16.00 WIB, 23/04/2026.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

TelusuRI

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Avatar photo

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Panduan Pendakian Gunung Arjuno-Welirang via Tretes, Si Gunung Kembar di Kawasan Tahura Raden Soerjo