Kampung Ngupit di barat perempatan Pasar Totogan, Ngawen, Kabupaten Klaten, menjadi perhatian utama perjalanan kali ini. Hiruk pikuk warga melintas berdampingan dengan truk pasir dari Sungai Woro yang berhulu di Gunung Merapi, perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Keramaian tersebut mungkin dampak masa lalu Kampung Ngupit yang merupakan areal perkebunan tembakau milik perusahaan perkebunan Belanda bernama ‘Ngoepit’ pada abad XVIII–XIX. Sebagai bukti, hingga kini masih tampak dua peninggalan, yakni jembatan rel lori perkebunan dan makam Belanda di barat Kampung Ngupit. Lokasinya berada di tengah perkampungan..
Disadur dari situs web resmi Pemerintah Desa Kahuman, diketahui jika Kampung Ngupit sudah eksis sejak 11 November 866 Masehi. Tanggal ini diambil dari penetapan status tanah perdikan (tanah desa yang bebas pajak) yang tertuang dalam Prasasti Ngupit beraksara Kawi kuno, ditulis pada masa kepemimpinan Śrī Mahārāja Rakai Kayuwangi. Putra dari Rakai Pikatan (cucu Raden Sanjaya) dan Pramodhawardhani (Dinasti Syailendra) ini disebut sebagai simbol persatuan dua dinasti saling berseberangan, yakni Dinasti Badra dan Syailendra.
Cerita masa lalu Ngupit sama rumitnya dengan melacak sosok yang dikubur di Nederlands-Europese begraafplaats (makam Eropa-Belanda) Ngupit. Meski begitu tetap harus tetap dilestarikan dan diceritakan.


Bukti Eksistensi Warga Belanda di Kampung Ngupit
Jalan gang Kebonan di barat Pasar Totogan Ngupit, dekat sudut persimpangan jalan Jatinom–Klaten–Boyolali, menjadi fokus pencarian makam Belanda yang terlupakan di Kampung Ngupit. Setelah berkeliling gang selama 30 menit, saya bertanya rute ke seorang warga yang sedang memotong rumput di tepi jalan.
“Oh, gini, Mas. Masuk gang ujung (Kebonan) lurus ke utara pelan-pelan saja. Pertigaan pertama lurus sedikit. Posisinya di lahan kosong kedua di utara pertigaan, kanan jalan,” jelasnya.
Makam Belanda itu ada di lahan kebun pisang. di antara dua hunian warga Gang Kebonan II. Kondisinya cukup memprihatinkan, dengan prasasti nama mendiang sulit dibaca. Meski begitu, patut disyukuri keberadaan makam Belanda masih in-situ, tidak hilang akibat perluasan wilayah. Namun, ada kekhawatiran jika kebun tersebut dibangun hunian yang mengakibatkan pembongkaran makam dengan dalih mengganggu proyek pembangunan. Sebagai konservator, ada rasa dilematis antara upaya penyelamatan situs warisan budaya dan perkembangan zaman yang selalu bertolak belakang.


Makam Belanda di Ngupit diketahui menyimpan dua cerita dari dua orang berbeda. Mereka adalah Christiaan Frederik (Fritz) van Houten (Lahat, 26 Oktober 1878–Wonosobo, 8 April 1924 Wonosobo) dan Willem Frederik (W.F.) Ridder van Rappard. Keduanya adalah administrateur, pengawas Perkebunan Ngoepit Klaten.
Fritz van Houten adalah putra dari Hendrik Cornelis van Houten dan Julia Andrea Fokker. Semasa remaja, Cornelis van Houten bekerja membantu ayahnya, Willem van Houten, sebagai makelaar koopman in koper en scheepsmaterialen, lid firma W. van Houten & Zonen Batavia dan oprichter der Z-H. Mij tot redding van schipbreukelingen. Ibu Cornelis van Houten bernama Marie Sophie Billiau.
Meski lahir dari keluarga kaya, tampaknya tidak membuat Cornelius van Houten bangga. Ia memutuskan bekerja sebagai pegawai pemerintah Belanda di luar Kota Batavia (Jakarta). Puncak kariernya ketika ia naik jabatan sebagai asisten residen di Biliton (Kabupaten Belitung). Memasuki usia 41 tahun, Cornelius van Houten memutuskan kembali ke Jakarta untuk menikahi gadis pujaannya, Julia Andrea Fokker, putri dari koopman en expediteur te Suriname Johannes Lambertus Fokker dan seorang schildere-tekenares bernama Maria Dina Faro.


Fritz van Houten muda pun juga demikian. Lulusan sekolah pertanian di Wageningen, Belanda ini lebih memilih bekerja di luar keterikatan keluarga. Tugas penempatan kerja pertamanya di Hindia Belanda (Indonesia) sebagai pengawas perkebunan tembakau Kalimantan.
Seiring waktu, ia dipindah ke perkebunan Manang atas permintaan E. Bosch selaku pemilik perkebunan. Frits van Houten bekerja penuh integritas, sehingga naik jabatan sebagai manajer di Manang lalu dipindah tugas sebagai manajer di perkebunan Ngupit. Ia juga tercatat sebagai anggota dewan Solosche Landbouwvereeniging atau Asosiasi Tuan Tanah Solo, dan bestuur van tabaksproefstation Klaten atau Dewan Penelitian Tembakau Klaten.
Tidak lama karena alasan kesehatan, ia memilih beristirahat dan pindah bersama sang istri ke Wonosobo hingga akhir hayat. Mengacu surat kabar De Nieuwe Vorstenlanden (9/4/1924), Fritz van Houten wafat di Wonosobo, Jawa Tengah. Ia wafat setelah berjuang melawan penyakit gagal ginjal. Upacara pemakaman berlangsung di Wonosobo, tetapi tempat pemakaman berada di Klaten. Setelah wafatnya Fritz van Houten, tampuk kepemimpinan perkebunan Ngupit dipegang W.F. Ridder van Rappard.




Berdasarkan surat kabar De Nieuwe Vorstenlanden (22/9/1928), diketahui jika W.F. Ridder van Rappard merupakan seorang tuan tanah pemilik perkebunan tembakau di Kabupaten Klaten. Jauh sebelum menjadi tuan tanah, di usia 18 tahun ia mengawali karier sebagai wakil pengawas perkebunan Manang milik E. Bosch, di bawah pengawasan Fritz van Houten. Karena berkinerja baik, ia mendapat kehormatan naik jabatan sebagai pengawas menggantikan Fritz van Houten yang pindah kerja sebagai pengawas Perkebunan Ngupit.
Kesempatan itu tampaknya tidak ia sia-siakan. Di puncak kariernya, ia mendapat kepercayaan sebagai pengawas Perkebunan Ngupit menggantikan Fritz van Houten yang wafat. Moncernya karier membuat Ridder van Rappard mendapat kesempatan belajar dan bekerja di perkebunan negara Belanda.
Setelah merasa cukup pengalaman, ia kembali ke Hindia Belanda untuk membuka perkebunan sendiri dan dipercaya sebagai pengawas Perkebunan Getas. Dugaan kami, perkebunannya berada tidak jauh dari Perkebunan Ngupit. Merujuk surat kabar tersebut, diketahui jika W.F. Ridder van Rappard menjelang masa pensiun memilih tinggal di Kampung Ngupit hingga akhir hayat. W.F. Ridder van Rappard wafat akibat serangan jantung ketika meminta putranya memberikan stok minum ringan untuk karyawan perkebunan. Ia tiba-tiba ditemukan tidak sadarkan diri di selasar kediamannya di Kampung Ngupit pada 22 Oktober 1928.
Sayangnya, nama-nama mendiang di prasasti makam Belanda tersebut sudah tidak dapat dibaca jelas. Sehingga, tidak dapat diambil kesimpulan hubungan antara keduanya.


Yang Tersisa dari Jejak Perkebunan Tembakau Ngoepit Klaten
Perjalanan berlanjut dengan melacak sisa eksistensi perkebunan Ngoepit di selatan Kampung Ngupit. Secara administratif, perkebunan tembakau Ngupit kini berada di Kampung Mranggen, Kecamatan Jatinom, Klaten. Kondisi perkebunan Ngupit kini layaknya perkebunan tahunan rakyat. Jajaran pohon di tepi perkebunan menjadi peneduh selama eksplorasi, seakan membawa kembali ke masa kejayaannya, yang menyisakan satu peninggalan berupa jembatan rel lori di Kampung Mranggen.
Jarak antara bekas jembatan rel lori dengan makam Belanda sekitar 10 menit berkendara. Jembatan Kampung Mranggen yang berdiri di atas Sungai Mranggen tampak seperti jembatan penghubung pada umumnya. Namun, jika dilihat dari bawah jembatan, tampak struktur baja saling menumpu dan membuat simpul ikatan kuat, ditopang empat struktur fondasi batu alam melintang di atas sungai.
Menurut rekan saya, Galih Nagari, pabrik tembakau milik perkebunan Ngupit berada di Gayamprit dan Kebonarum. Kedua pabrik masih ada hingga sekarang. Jembatan Mranggen inilah salah satu jejak eksistensi perkebunan Ngupit di Kampung Mranggen, tempat Fritz van Houten dan W.F. Ridder van Rappard bekerja.
Kondisi jembatan dan pabrik tembakau jauh lebih baik dibanding makam Belanda di Kampung Ngupit. Perbedaan kondisi ini, selain faktor alam, juga akibat kurangnya perhatian karena ketidaktahuan warga mengenai peninggalan yang tersisa dari perkebunan Ngupit. Ini bisa dimaklumi karena tidak semua warga mengetahui secara mendalam masa lalu Kampung Ngupit. Terlebih perkebunan Ngupit saat ini sudah menjadi perkebunan tahunan, sebagian menjadi tanah terbuka sebagai tadah hujan.
Senja mulai menggelayuti, perjalanan kami Kampung Ngupit dan Kampung Mranggen berakhir. Besar harapan agar warga semakin menyadari pentingnya menjaga keberadaan peninggalan tersebut.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.


