TRAVELOG

Wae Rebo, Haruskah Saya Kembali?

Wae Rebo. Satu dasawarsa silam, tempat di pedalaman Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur ini saya masukkan ke daftar perjalanan untuk merayakan kelulusan kuliah. Kampung kecil berlimpah sumber air yang setia berselimut kabut—sesuai namanya, wae (air) dan rebo (kabut)—dan dikepung perbukitan hijau bak benteng raksasa di ujung utara Desa Satar Lenda.

Bagi saya, penampang alam dengan iming-iming kecantikan visual untuk fotografi, kopi arabika yang katanya sedap dan candu, serta suasana alami nan syahdu, semata bonus yang bukan menjadi pemicu utama perjalanan saya ke Wae Rebo. Pengalaman dan interaksi dengan orang-orang NTT, Maluku, hingga Papua semasa kuliah di Malang membuat saya penasaran, bagaimana rasanya kehidupan di tempat yang amat jauh dari gemerlapnya Jawa-sentrisme?

Di samping kehangatan budi orang-orang Flores, saya pergi karena ingin melihat langsung arsitektur vernakular mbaru niang yang megah dan sakral, hasil perjalanan panjang restorasi dan konservasi oleh arsitek Yori Antar bersama tim Yayasan Rumah Asuh dan para donatur sepanjang 2008–2013. Jerih payah pelestarian rumah adat tersebut, dengan penggunaan bahan-bahan alami seperti kayu lokal, bambu, alang-alang, dan ijuk yang telah disuwuk doa-doa adat, diganjar penghargaan UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation tahun 2012.

Kompleks permukiman adat Wae Rebo di Desa Satar Lenda, Flores, Nusa Tenggara Timur (Rifqy Faiza Rahman)

Kompleks permukiman Wae Rebo yang hanya terdiri dari tujuh rumah adat berbentuk kerucut (mbaru niang), mengelilingi lingkaran altar suci yang disebut compang. Rumah paling besar di bagian tengah disebut niang gendang yang dihuni oleh para ketua adat beserta keluarga. Satu rumah tersusun atas lima tingkat sesuai fungsinya: tenda atau tingkat pertama di bagian dasar (untuk penghuni), lobo (menyimpan bahan makanan dan lainnya), lentar (menyimpan benih tanaman untuk berkebun), lempa rae (menyimpan cadangan makanan), hekang code (menyimpan sesaji untuk leluhur); serta bisa memuat puluhan orang anggota keluarga. Untuk tamu biasanya ditempatkan di niang gena maro (paling kanan)/Rifqy Faiza Rahman

Nomor telepon yang masih tersimpan

Saya mengawali perjalanan ke Wae Rebo dari Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai yang terkenal sejuk dan dingin, dengan menuju Denge terlebih dahulu. Denge adalah dusun terakhir yang bisa diakses kendaraan bermotor sebelum Wae Rebo. Saya dan teman seperjalanan membawa sepeda motor matik sewaan dan bekal peta coretan tangan dari petugas Hotel Rima Ruteng di atas kertas HVS. Estimasinya sekitar tiga jam untuk jarak sekitar 60 km, dengan kondisi infrastruktur yang—kata orang Ruteng—parah dan memprihatinkan.

Di perjalanan, waktu tempuh membengkak menjadi dua kali lipat juga karena dua hal signifikan: rem blong di turunan Taman Wisata Alam Ruteng dan ban bocor di sekitar Satar Mese. Kami bahkan sempat tersesat di dekat perbatasan kecamatan Satar Mese–Satar Mese Barat. Coretan rute dari petugas hotel benar-benar serupa peta buta, seperti kami yang buta arah. Namun, penduduk setempat begitu baik hati membantu dan mengarahkan kami.

Saat mampir di bengkel tambal ban milik warga setempat, seorang bapak yang ikut nimbrung memberi kami arahan tambahan. Pokoknya ikuti terus pesisir pantai sampai pusat dusun Dintor, lalu belok kanan menanjak di pertigaan dekat dermaga dan pasar. Dari pertigaan itu masih melewati pusat pemerintahan Desa Satar Lenda sebelum Denge. “Di ujung jalan nanti ada SD Katolik (SDK) Denge,” katanya. Menurut informasi, penginapan yang kami tuju sebelum mendaki ke Wae Rebo ada di dekat sekolah itu.

Pulau Mules atau Nuca Molas terlihat dari pesisir jalanan menuju Denge (Rifqy Faiza Rahman

Seorang ibu dan anaknya turun dari oto kol atau oto kayu, angkutan umum tradisional trayek Ruteng–Dintor yang hanya beroperasi satu kali dalam sehari. Terlihat Pulau Mules (belakangan populer juga disebut Nuca Molas) dari jalanan di tepi pantai mendekati Dintor. Saat musim air laut pasang tinggi, ombak bisa menyapu satu-satunya akses dari Ruteng menuju Wae Rebo ini/Rifqy Faiza Rahman

Wae Rebo di masa itu kerap jadi bahan obrolan komunitas-komunitas backpacker di Facebook atau lewat catatan perjalanan di blog. Di antara banjir informasi tentangnya, terselip nama Blasius Monta, warga asli Wae Rebo yang “merantau” dan menjadi guru SDK Denge. Selain mengajar, ia bersama istrinya, Bernardertha, juga mengelola rumahnya menjadi penginapan sederhana bernama Denge Wejang Asih Homestay. Blasius dan keluarga juga masih aktif berkebun cengkih, kelapa, dan kemiri. 

Saya pertama menghubungi Pak Blasius lewat SMS tahun 2014 untuk sekadar cari info. Dua tahun kemudian, akhirnya kami bertemu langsung. Motor saya parkir di halaman rumah, di samping hamparan cengkih yang sedang dijemur. Pak Blasius menyambut semringah. Seketika saya terharu ketika ia berujar, “Saya masih simpan nomornya Mas Rifqy, saat SMS pertama dua tahun lalu. Saya catat juga di buku sebagai antisipasi kalau memori HP saya penuh.” Ia bahkan berkelakar, “Saya tidak heran ketika Mas Rifqy SMS lagi ke saya. Mungkin sudah sedemikian cintanya dengan Wae Rebo.”

Rumah dan penginapan milik Pak Blasius (kiri), dengan halaman yang cukup luas untuk parkir kendaraan dan menjemur hasil panen cengkih. Saat malam, biasanya Pak Blasius (kaus hitam, menghadap kamera) dan keluarga memisahkan cengkih dari tangkainya di belakang rumah, sebelum dikeringkan dan dijual ke pasar. “Dulu panen cengkih bisa buat beli rumah. Sekarang tidak,” Blasius mengeluhkan harga jual cengkih yang anjlok hingga Rp85.000 per kilogram, hampir dua kali lipat lebih rendah daripada medio 1970-1980.

Wae Rebo dan kekhawatiran-kekhawatiran setelahnya

Kami meluncur ke Wae Rebo keesokan paginya. Dulu belum ada jasa ojek ke pintu hutan, sehingga kami harus jalan kaki sekitar satu kilometer hingga aspal habis di batas hutan. Pak Blasius mengutus Pinus, pemandu lokal untuk menemani perjalanan kami. Biaya pemandu tahun 2016 seingat saya seratus ribu rupiah sekali jalan. Belakangan saya dapat informasi tarif pemandu naik menjadi Rp300.000 pulang-pergi.

Jarak dari Denge ke Wae Rebo sekitar lima kilometer, dan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki paling cepat 2,5 jam. Bisa lebih lama tergantung fisik dan cuaca. Beberapa kali kami berpapasan dengan warga Wae Rebo yang naik-turun gunung, kadang membawa anak-anak dan hasil kebun mereka.

Ada tiga pos yang dilewati di tengah hutan yang cukup lebat sebelum Rumah Kasih Ibu, perhentian terakhir sebelum turun ke kampung: Wae Lomba, Poco Roko (sering disebut pos sinyal), dan Nampe Bakok atau Ponto Nao. Di pertengahan jalur antara pos ketiga ke Rumah Kasih Ibu, terdapat sumber air bersih yang bisa langsung diminum.

Di Rumah Kasih Ibu, Pinus menginstruksikan kami untuk istirahat sejenak. “Saya bunyikan kentongan dulu untuk memberi kabar ketua adat bahwa ada tamu yang datang,” kata pria yang hobi memakai topi itu. Dari pondok kayu di atas bukit ini, tujuh mbaru niang beratap runcing yang ikonik itu terlihat jelas, tersusun melingkar di atas padang rumput yang hijau. Dari sini, kami dilarang memotret untuk sementara sampai prosesi upacara adat dilakukan di niang gendang, rumah terbesar yang dihuni para tetua adat.

Pinus, pemandu kami (kiri) ikut istirahat di area Poco Roko, satu-satunya pos sinyal di tengah pendakian menuju Wae Rebo. Tumpukan sampah anorganik di sudut Rumah Kasih Ibu, yang juga disesalkan oleh Pinus/Rifqy Faiza Rahman

Pada tahun 2016 saja, pariwisata telah memberi dampak yang luar biasa bagi kampung yang dipercaya dibangun oleh Empo Maro, leluhur mereka dari Minangkabau. Apalagi dengan masifnya pengaruh media sosial dan paket-paket open trip. Meski mayoritas masih memiliki budaya berkebun, keuntungan finansial dari pariwisata lebih mudah dinikmati dalam waktu cepat. Seorang tamu perlu merogoh kocek sekitar Rp325.000 untuk menginap satu malam, dengan fasilitas makan malam, sarapan, tempat tidur, dan kopi sepuasnya. 

Sayang, seperti mata pisau, pariwisata yang kurang terkendali juga punya sisi lain yang bisa menjadi bumerang. Alih-alih menjadi subjek yang seharusnya memegang kendali atas wilayah adatnya sendiri, pariwisata justru berpotensi menjadikan masyarakat lokal semata objek—sekadar catatan pinggir dari tolok ukur capaian-capaian keberhasilan para pemangku kepentingan.

Selama dua hari satu malam yang terasa amat sebentar, saya hanya menyimpan asumsi-asumsi liar atas apa yang terlihat secara kasatmata. Indikator paling mudah adalah persoalan sampah. Praduga lain, apakah ada ritus atau tradisi yang mungkin bergeser mengikuti permintaan pariwisata—lewat kalender wisata, festival kebudayaan, atau bahkan mengikuti kemauan turis yang datang setiap saat—sehingga seolah roh leluhur seakan bisa dikondisikan?

Rofinus Nompor, salah satu ketua adat Wae Rebo, menjempur kopi di pelataran kampung (Rifqy Faiza Rahman)

Pagi itu, Rofinus Nompor menjemur kopi hasil panen di pelataran luas Wae Rebo. Kopi menjadi salah satu komoditas terpenting penyokong ekonomi masyarakat selain pariwisata/Rifqy Faiza Rahman

Ah, semoga semua itu hanya karena syak wasangka saya yang khawatir dengan masa depan Wae Rebo itu sendiri. Bagi saya, orisinalitas kebudayaan itu sangat penting dan mutlak, sehingga terlalu sayang untuk ditukar dengan urusan pariwisata massal yang cenderung berorientasi komersial. Kelak jalan setapak terjal itu akan kepayahan jika tamu terus-menerus datang tanpa pembatasan.

Saya hanya bisa berharap para tetua adat—Alexander Ngadus, Rafael Niwang, dan Rofinus Nompor—mampu mewariskan pengetahuan lokal, tradisi, dan ritus-ritus leluhur kepada generasi penerus. Hanya lewat merekalah kearifan dan kebudayaan Wae Rebo bisa bertahan di tengah gempuran modernisasi, tak terkecuali dunia maya yang menjustifikasi sesuatu tanpa sekat dan tanpa ampun.

Ngando, pucuk atap mbaru niang yang unik sekaligus sakral bagi masyarakat Wae Rebo

Ngando, pucuk mbaru niang yang unik sekaligus sakral, simbol hubungan manusia dengan leluhur dan pencipta. Semoga adat Wae Rebo tetap bertahan di masa-masa mendatang/Rifqy Faiza Rahman

Saya akan berpikir dua kali jika harus kembali

Kamis siang kemarin (16/4/2026), saya menghubungi Pak Blasius. Nomornya masih sama. Bedanya, dulu hanya bisa SMS dan telepon saja. Sekarang sudah lebih mudah lewat Whatsapp. 

Saya bilang, saya rindu main lagi ke Denge seperti sepuluh tahun lalu. Anehnya, saya juga rindu dengan jalan aspal Ruteng–Denge yang rusak itu. Saya rindu Pak Blasius dan Mama Bernardertha yang baik. Saya juga mendoakan kami semua sehat dan panjang umur agar bisa bertemu lagi. Saya kirimkan foto bersama beliau dan pemandu Pak Pinus di depan homestay kala pagi sebelum mendaki ke Wae Rebo. “Sekarang rambut saya gondrong, Pak, he-he,” kata saya.

Sinyal di Denge rupanya sudah cukup baik dan stabil, terutama operator plat merah. Sehingga, beliau merespons cepat, tidak sampai hitungan jam. 

“Selamat siang juga, Mas. Senang bisa bertemu lagi. Puji Tuhan kami sekeluarga sehat. Kami tunggu kedatangannya kembali. Terima kasih,” balasnya. Saat ini, tarif menginap semalam di homestay Pak Blasius Rp200.000 per orang, termasuk makan malam dan sarapan. Hanya naik 50 ribu rupiah dari tarif satu dekade silam.

Saya katakan, yang penting saya dan istri kelak bisa sampai ke Denge dulu, baru setelah itu bicara soal Wae Rebo. Saya perlu menata niat dan hati yang bersih sebelum benar-benar masuk ke Wae Rebo. Saya hanya takut, jika niat perjalanan saya hanya menjadikan Wae Rebo dan orang-orangnya sebagai objek romantisasi dan glorifikasi. Sebab, Wae Rebo bagi saya bukan lagi mutiara tersembunyi (hidden gem) setelah ia membuka diri kepada dunia.

Entah kapan kesempatan itu akan datang. Yang jelas, lima bulan lagi, Pak Blasius akan pensiun jadi guru. Ini berarti kesempatan terbuka lebih lebar, karena Pak Blasius akan lebih leluasa berkebun dan bercengkerama dengan tamu-tamu setianya. Tak terkecuali saya.


Foto sampul: Rafael Niwang, salah satu dari tiga ketua adat Wae Rebo, berjalan melewati salah satu rumah adat atau “niang” (Rifqy Faiza Rahman)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rifqy Faiza Rahman

Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.

Rifqy Faiza Rahman

Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Ketika Kiamat Sudah Terjadi dan Dirayakan