Gunung Gandang Dewata merupakan salah satu destinasi wisata alam pendakian di dalam kawasan Taman Nasional Gandang Dewata (TNGD). Puncaknya berada pada ketinggian 3.074 mdpl. Paling tinggi di Provinsi Sulawesi Barat dan tertinggi kedua di Pulau Sulawesi setelah Gunung Latimojong di Provinsi Sulawesi Selatan.
Di pengujung tahun 2025, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi beberapa desa di sekitar TNGD, dalam sebuah penelitian dan pendampingan perhutanan sosial (perhutsos). Perhutsos merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan keberdayaan masyarakat yang berada di dalam atau sekitar kawasan hutan, dengan memberikan izin akses mengelola kawasan secara legal. Melalui skema ini masyarakat dapat melakukan aktivitas pemanfaatan hasil hutan sembari tetap menjaganya, antara lain melalui pengembangan desa wisata alam.
Wisata alam tentunya bukan tren yang baru lagi. Namun, dewasa ini tren wisata mulai berubah dari wisata massal (mass tourism) menjadi wisata alternatif (alternative tourism) yang berorientasi pada wisata alam atau budaya lokal dengan tujuan untuk meningkatkan wawasan, petualangan, dan pembelajaran. Sebuah kabar baik karena perlahan mengarah pada wisata berbasis kepedulian terhadap alam.
Saya berangkat dari Kota Makassar menggunakan mobil bersama dengan sejumlah rekan. Tujuannya adalah Lakahang, ibu kota Kecamatan Tabulahan di Kabupaten Mamasa. Desa-desa yang akan kami kunjungi berada di jalur menuju salah satu base camp pendakian Gunung Gandang Dewata. Akan tetapi, kami tidak melakukan pendakian kali ini.


Melibas Jalanan Bebatuan Tanpa Rem Belakang
Butuh setidaknya 1–2 jam perjalanan menuju base camp di dusun terakhir di Desa Gandang Dewata. Dari Lakahang kami masih bisa menggunakan mobil sampai di Desa Periangan, selanjutnya kami harus menyewa motor. Motor-motor yang kami sewa sudah dimodifikasi menjadi lebih tinggi, karena hanya dengan motor-motor seperti ini kami bisa melintas.
Dari Desa Periangan, kami menemui Ras Panno yang akan menemani kami dalam perjalanan ini. “Dari sini sebenarnya tidak jauh ji, cuma karena jalanan jelek jadi perjalanan masih sekitar dua jam lagi jika tidak ada halangan,” ujarnya.
Hanya berselang beberapa saat, jalanan yang awalnya beraspal berubah menjadi jalanan berbatu menanjak dan menurun. Lebih mengejutkan lagi motor-motor kami tidak semua memiliki rem belakang, salah satunya motor yang saya pakai. Sesekali saya juga harus turun untuk mendorong motor sendiri atau membantu mendorong motor rekan.
Terlepas dari perjalanan yang menguras tenaga, kami disuguhkan bentang alam yang menawan. Kami melewati permukiman, hamparan sawah terasering (sengkedang), perkebunan kakao, kopi, dan tebu dengan latar pegunungan dan hutan tropis Sulawesi Barat yang menjelma karpet hijau. Tidak satu kali kami harus berhenti selama perjalanan. Hujan yang turun membuat jalanan semakin licin. “Kalau kita kemalaman di jalan bisa lebih susah,” kata Ras Panno.
Kami menghabiskan lebih dari dua jam perjalanan. Kami sampai di Dusun Paku dalam keadaan setengah basah, ditemani hujan yang masih gerimis dan cahaya matahari yang perlahan meredup sampai benar-benar gelap, hanya sekitar 20 menit setelah kami tiba.


Potensi Desa Hutan
Rencana perjalanan dimulai dari desa yang paling jauh, yaitu Desa Gandang Dewata, dengan menginap di base camp pendakian. Kami berkeliling melihat perkebunan kakao dan sawah-sawah yang digarap masyarakat. Di tengahnya mengalir salah satu anak Sungai Karama yang bersumber dari beberapa mata air kawasan Pegunungan Quarles, tempat Gunung Gandang Dewata berada.
Sebagian besar lahan garapan masyarakat berada dalam kawasan hutan, tetapi masih jauh dari kawasan taman nasional. Mungkin kita akan berpikir menggarap lahan di dalam kawasan hutan adalah tindakan ilegal. Itu bisa saja benar adanya, tetapi mereka telah hidup berdampingan dengan hutan selama puluhan bahkan ratusan tahun, bahkan sebelum peraturan-peraturan status kawasan diadakan. Masyarakat setempat lebih mengerti tentang hutan mereka. Justru kamilah yang datang untuk belajar.
“Kami masih mengambil rotan dan bambu secukupnya untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Kurnia, Kepala Dusun Paku.
Pola budi daya masyarakat termasuk agroforestri konvensional. Perkebunan kakao, kopi, jagung, pisang, tanaman berkayu—seperti durian dan damar—dan pohon aren banyak tumbuh dalam satu lahan. Kami juga banyak menemui sumber mata air yang bisa diminum langsung. Saya pun merenung, betapa alam benar-benar menyiapkan segalanya, dan kita telah menukarkannya dengan kenyamanan hidup yang kita anggap modern di perkotaan.
Setelah berkeliling, kami diberitahu ada air terjun yang belum pernah didatangi pengunjung dari luar. Tak jauh dari permukiman. “Kalian jadi pengunjung pertama kalau ke sana,” kata Kurnia, “namanya Air Terjun Kebanga.”


Dari base camp, kami harus menggunakan motor sekitar satu kilometer, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 500 meter membelah kebun kopi dan rimbun pepohonan. Airnya jernih, dingin, dan juga dapat diminum langsung.
Hari terasa sangat cepat berlalu. Setelah melalui malam terakhir di Dusun Paku, ditemani Kurnia kami menuju Dusun Langsa. Menjelang sore hujan turun cukup deras. Rencananya kami akan bermalam di salah satu rumah warga sebelum kembali ke Desa Periangan tempat kami menitipkan mobil. Gerimis masih membasahi tatkala Kurnia berpamitan setelah mengantar kami. Sekitar 20 menit kemudian awan mendung mulai tersapu angin sore yang perlahan menampakkan cahaya matahari dengan kilauan kuning keemasan dari balik pegunungan.
Sore itu saya berkenalan dengan Lala dan Lisa, dua anak SD dan tinggal bersama neneknya yang tak lain adalah pemilik rumah tempat kami akan bermalam. Saya cukup takjub keduanya sangat cepat mengakrabkan diri dengan kami yang notabenenya adalah orang baru. “Ayo, naik bukit lihat sunset,” kata mereka. Saya dan Atisa kemudian diajak ke atas sebuah bukit yang menurutnya menjadi tempat terbaik untuk melihat sunset di Desa Gandang Dewata.


Jejak Peradaban Masyarakat Adat Tabulahan
Tiga hari di Desa Gandang Dewata meninggalkan kesan tersendiri bagi saya. Namun, pagi itu kami harus melanjutkan perjalanan dan kembali ke Desa Periangan.
Di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak di Desa Tabulahan, Menurut Ras Panno, ada jejak tapak kerbau yang tertinggal pada sebuah batu di sana. Menurutnya, Kecamatan Tabulahan dulunya adalah Kerajaan Tabulahan (bagian dari suku Mamasa) dengan pusat peradaban di Desa Tabulahan. Peradaban ini dimulai sekitar abad ke-16 Masehi oleh para pengembara yang menyusuri pegunungan ke arah barat laut Mamasa, salah satunya adalah Puang Pongka Padang yang mulai menetap di daerah Tabulahan, dan dipercaya sebagai nenek moyang masyarakat Tabulahan.


Tentu ada banyak versi cerita. Terlepas dari itu, keberadaan tokoh masyarakat adat Tabulahan dan jejak kemegahan peradabannya di masa silam masih bisa kita temui. Seperti bekas tapal kerbau yang terukir di atas batu itu.
Ditemani seorang anak kecil, kami diantar ke tempat jejak itu berada. Letaknya tidak jauh dari pemukiman, hanya perlu melewati perkebunan kakao sejauh 500 meter dari jalan utama.
Sebelum kembali ke Desa Periangan, naas menimpa kami. Salah satu motor yang kami pakai rusak. Sebagai solusi kami harus menyewa dua ojek, satu ojek membawa rekan kami dan satu ojek lagi akan membawa motor kami ke bengkel di Lakahang. Itu adalah momen pertama kalinya saya melihat secara langsung motor yang dibonceng menggunakan motor.
Destinasi Terakhir sebelum Pulang
Desa Periangan berada di tepi salah satu anak Sungai Karama. Serupa dengan desa sebelumnya, masyarakat setempat juga bergantung pada perkebunan agroforestri konvensional. Ada juga beberapa tempat wisata alam air terjun, tetapi masih belum banyak pengunjung yang datang ke sana.
Pagi itu, bersama Ras Panno dan Markus, kami diajak mengunjungi dua destinasi wisata alam air terjun, yakni Air Terjun Tamellautu dan Air Terjun Tapeduri yang letaknya relatif berdekatan. Jaraknya sekitar 600–700 meter dari pemukiman. Menurut Markus, lokasi air terjun ini telah dikelola melalui dana desa, terbukti dengan jalan rabat beton dan beberapa gazebo yang telah dibangun di sana. Di sekitarnya juga terdapat papan petunjuk yang telah dibuat sebagai panduan untuk pengunjung.
Bukan hanya potensi perkebunan, desa-desa penyangga TNGD juga menyimpan potensi wisata alam dan budaya masyarakat yang dapat dijelajahi. Melalui skema perhutsos, potensi ini dapat dikembangkan sebagai wisata alternatif yang tetap berorientasi terhadap pelestarian alam dan budaya, tanpa menghilangkan pengalaman berwisata bagi pengunjung. Tentu pendampingan melalui perhutsos masih tetap diperlukan guna membangun keberdayaan masyarakat.
Hari itu kami tutup dengan bersantai dan bersenda gurau. Betapa perjalanan ini menyenangkan karena bisa menelusuri desa-desa penyangga TNGD. Setelah berkeliling, malam itu menjadi malam terakhir bagi kami sebelum kembali ke Makassar. Ras Panno menyuguhkan kami ikan mas bakar dan sambal matah.
Foto sampul: Air Terjun Tapeduri di lereng Gunung Gandang Dewata (Syamsumarlin)
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Syamsumarlin, suka mendokumentasikan hutan. Bertamu dengan teman baru, berjalan sambil membawa kamera. Bermimpi untuk keliling Indonesia.



