TRAVELOG

Hujan pun Turun di Cigowong

Dari Pasir Bungkirit—The Cradle of Wanadri—di Jalan Raya Cigugur, saya lanjut ke Palutungan. Melintasi jalan menanjak yang menjadi jalur lama ke lereng Ciremai. 

Wow, pangling saya melihat base camp (BC) Cadas Poleng. Mural menghiasi dinding yang mengelilingi pos registrasi. Permukaannya dikeramik. Bisa duduk jika proses perizinan pendakian mengantre.

Tampak pula dua set kursi plastik dengan sandaran. Bakal nyaman saat menanti teman. Atau menyiapkan ulang perbekalan. “Ada sponsor ngasih,” kata petugas jaga. “Kalau hiasan mural pas tahun baru kemarin.”

Pagi itu saya perhatikan muda-mudi usia remaja bersiap hiking ke Pos 1 Cigowong. Mereka membayar karcis Rp30.000 per orang. Tampilannya khas mau tektok; mendaki ke titik tertentu, lalu balik lagi. Yang perempuan, pastinya memoles wajah. Biar kece pas dipotret. Buat eksis di media sosial.

Pendaki beneran beberapa nongol. Semazhab dengan saya: memanggul carrier “kulkas”. Perbekalannya lengkap: tenda, alat masak, kantung tidur, dan logistik. Jiwa-raga siap mengarungi belantara Ciremai. 

Dari kiri ke kanan: Gapura ikonis jalur Palutungan, briefing untuk pendaki, dan barisan Pinus merkusii menyambut/Mochamad Rona Anggie

Mulai Melangkah

Setelah menitipkan jaket tebal di ruang sebelah loket, saya pamit menuju Cigowong. Pengurus BC Cadas Poleng, Sandi Baron, melepas langkah saya. “Mangga, hati-hati,” ucapnya ramah.

Melewati parkiran mobil, pengunjung yang baru satu-dua kali ke Ciremai, akan mampir ke gapura. Si “lutung hitam” jadi latar foto bersama. Letaknya di antara warung dan musala kayu.

Saya terus naik, menapaki Tanjakan Beunta. Jantung berdegup kencang. Di ujungnya pos ranger bertengger. Persimpangan lainnya ke bumi perkemahan Ipukan. Petugas memberi pengarahan tentang jalur yang bakal dilalui, kondisi cuaca, hingga antisipasi andai situasi darurat terjadi.

“Ingat, jangan pernah tinggalkan kawan kalian! Berjalan beriringan, pastikan semua fit. Kalau sakit jangan memaksakan diri,” pesan seorang ranger. Dibalas anggukan kelompok pendaki yang saya taksir berumur 17–25 tahun.

Pakai kaus merah dan topi rimba dari TelusuRI, saya lanjut berjalan. Pinus-pinus bergoyang tertiup angin, seolah melambai dan berucap, “Selamat mendaki…” Sementara dahan pakis memayungi pejalan, serupa pedang pora dilalui pengantin. Betapa teduhnya hutan. Tenang dalam keheningan.          

Tanjakan berbatu mengadang. Membuat jeda antarpendaki. Setelahnya, di blok pinus yang disadap getahnya, barisan mulai terurai. Yang bawa carrier, otomatis melambat. Menyesuaikan napas dan ritme langkah.

Sementara para tektokers, ada yang jalan santai, lainnya ngebut. Saya sendiri berjalan cepat. Hanya menyandang ransel berisi jaket polar, ponco, dan air minum satu liter. Nanti mau isi ulang air gunung yang menyegarkan di Cigowong, niat saya.  

Plang baru dari JNE di jalur pendakian Palutungan/Mochamad Rona Anggie
Plang baru dari JNE di jalur pendakian Palutungan/Mochamad Rona Anggie

Ikuti Petunjuk Arah

Plang penanda kawasan dan keterangan jarak antarpos rupanya baru pula. Pemberian perusahaan jasa pengiriman. Baguslah, biar terbaca jelas. Tidak kusam atau lapisannya mengelupas, diterjang panas-hujan-angin.

Plang di jalur pendakian sebuah gunung sangat penting. Memproteksi pengunjung agar tidak tersasar. Informasi jarak ke pos berikutnya, memudahkan pendaki merealisasikan rencana perjalanan yang sudah dibuat. 

Biasanya, pendaki Ciremai via Palutungan menargetkan buka tenda di Pos 6 Pasanggrahan. Perlu lima sampai enam jam dengan jarak 7,4 km. Alternatifnya kalau tidak kuat, bisa bermalam di Pos 5 Tanjakan Asoy. 

Pertengahan jalan menuju Cigowong, kita akan pindah punggungan. Menuruni lembahan. Menyeberangi anak sungai yang airnya kering di musim kemarau. Tapi kemarin, air nan bening mengalirinya karena masih musim hujan. Saya cuci muka dan meneguknya. Dingin.

Anak sungai selebar dua meter itu terjun ke lembah di bawahnya. Kedalamannya dapat diterabas sepatu outdoor. Tutupan pohon kian rapat. Kelebatan hutan menenteramkan sanubari. 

Beres selonjoran sambil menghirup oksigen segar, saya kembali menggenjot langkah. Waktu tempuh saya ke Cigowong relatif stabil. Satu jam jika tak bawa carrier. Tambah 30 menit kalau gendong perbekalan pendakian. Sementara estimasi dari pihak pengelola adalah 2,5 jam dari BC ke Cigowong (1.450 mdpl).  

Informasi petunjuk arah dan estimasi jarak tempuh sangat membantu pendaki/Mochamad Rona Anggie
Informasi petunjuk arah dan estimasi jarak tempuh sangat membantu pendaki/Mochamad Rona Anggie

Pendaki Paruh Baya

Keringat membanjiri kaus merah TelusuRI. Ketika rehat, saya menyandar ke pohon. Terkadang duduk di tanah gembur bekas tersiram hujan. Menikmati kesendirian. 

Masih ada beberapa tanjakan lagi di depan. Terlihat seorang pendaki kepayahan dengan posisi carrier miring. Saya sempatkan menyapanya. Ternyata seorang bapak paruh baya. 

“Usia 50?” tebak saya.

“52.” 

Nyaris tepat terkaan saya. Tampak dari raut dan jenggot tipisnya yang memutih.

Saya ajak ngobrol. Dia dari Cikampek, nanjak bareng dua anaknya yang sudah SMA. Ini perjalanan ketiganya ke Ciremai. Sebelumnya 2024 via Palutungan, dan 2025 lewat Apuy.

“Enggak coba jalur Linggarjati?”

“Jalurnya berat!”

“Kena macet enggak pas ke sini?”

“Membeludak di pintu keluar tol Palimanan. Macet…”

Saya mendahuluinya. Mendung menggelayut. Gludug bersahutan. Saya percepat langkah. Kalaupun hujan turun, semoga sudah sampai di Cigowong. Biar bisa santai di warung, menikmati aneka camilan.

Selamat datang di Cigowong!
Selamat datang di Cigowong!

Akhirnya Sampai

Tanjakan panjang dengan dua kelokan, jadi ujian pamungkas sebelum tiba di tujuan. Saya saling susul dengan dua anak dara. Riasan di wajahnya luntur kena keringat. 

Nah, itu dia gerbangnya! Pukul 09.25 WIB saya menjejak Cigowong. Durasi 75 menit perjalanan.

Wah, pangling lagi. Gerbangnya baru! Lebih megah. Bikin gembira yang sudah mandi peluh tiba di sana. Bergantian, pengunjung mengabadikan momen. Termasuk saya, minta jepretkan ke seorang anak muda.

“Sudah muncak, ya?

“Belum, Pak. Gagal!”

“Lo, kenapa?”

“Teman sakit di Pos 3. Kami putuskan turun,” katanya menahan sedih, sebab perdana ke Ciremai.

“Hebat kamu! Gunung enggak ke mana. Nyawa sahabatmu lebih berharga!” saya menyemangatinya lantas berkenalan. Ternyata dari Tegalgubug, Kabupaten Cirebon.  

Hujan membasahi Cigowong (kiri). Meniti trek licin dengan ponco jadi tantangan tersendiri/Mochamad Rona Anggie

Air Langit Tumpah

Mulanya gerimis. Saya memotret sudut-sudut Cigowong. Tak lupa ke kran mata air yang sudah dikangeni. Saya basahi kepala. Botol minum diisi ulang, lalu glek, glek, glek… Air dingin membasahi kerongkongan. Betapa nikmatnya. Alhamdulillah…

Air langit tumpah kian deras. Ada dua warung di sana. Termasuk shelter pendaki dan musala “Siti Khadijah”. Pengunjung berlarian ke warung. Bapak dari Cikampek berteduh pula.

“Wah, baru nih gerobak baksonya?”

“Buat pas Ramadan kemarin, Pak. Ayo, nyobain baksonya,” ujar si teteh berkacamata pemilik warung.

Saya ngemil gorengan panas. Pilihannya gehu, bala-bala, dan mendoan. Pendaki menyesaki warung. Apa yang saya takutkan terjadi. Kaum lelaki menyalakan rokok. Asapnya tak lekas pergi, karena terhalang partikel air hujan. 

Sungguh mengganggu! Seketika saya beranjak memakai ponco, dan menembus guyuran hujan. Menjauhi paparan racun nikotin. 

Dalam perjalanan turun, saya dapati masih banyak pendaki berjuang melintasi jalur becek, berlumpur. Mereka mengenakan jas hujan. Model plastik sekali pakai mendominasi. Jas hujan demikian, tentu tak direkomendasikan bagi yang mau muncak.

Senang rasanya bisa ke Cigowong lagi. Yuk, bareng-bareng jaga kelestarian Gunung Ciremai. Bawa turun kembali sampahmu, kawan!


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mochamad Rona Anggie

Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.

Mochamad Rona Anggie

Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Pasir Bungkirit: Jejak Kelahiran Wanadri