Sepanjang akhir pekan lalu, hanya sepelemparan batu dari dinding luar benteng selatan Keraton Yogyakarta, ribuan pengunjung memadati Yogyakarta Art Book Fair 2026 yang berlangsung di Langgeng Art Space. Selama tanggal 8–10 Mei 2026, dari pukul 13.00 hingga 21.00 waktu setempat, nyaris setiap ruang galeri seni di bilangan Suryodiningratan itu penuh sesak dan meriah dengan antusiasme yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata. Kalau ingin mengabaikan data soal minat baca maupun keterbatasan akses baca bangsa Indonesia, kerumunan orang-orang lintas usia dan latar belakang di gedung seluas 1.200 meter persegi menunjukkan, sejatinya masih ada harapan membubung tentang nasib dunia perbukuan kita di masa depan.
Yogyakarta Art Book Fair (YKABF) merupakan platform penerbitan artistik yang mempertemukan seniman, penerbit, desainer, dan pelaku budaya dalam satu ekosistem kolaboratif. Melalui pameran dan program publik, YKABF mengeksplorasi art book dan zine sebagai medium alternatif dalam produksi pengetahuan dan praktik kreatif kontemporer.
Namun, sejatinya YKABF lebih dari sekadar menghadirkan buku-buku artistik atau zine di atas meja-meja para peserta pameran (exhibitors) semata. Ada misi yang jauh lebih besar di baliknya, seperti penekanan tiga huruf vokal ‘o’ dalam tema festival kali ini: Booound. Menurut Fair Director YKABF Syafiatudina, selain mengacu pada binding atau proses penjilidan buku, bound juga bermakna sebagai belenggu yang mengekang, yang justru berlawanan dengan keinginan menyuarakan ide di medium yang terbatas—kertas, biaya, distribusi fisik—tetapi justru dari kontradiksi ini menjadi simpul kolaborasi yang mempererat ikatan antarkomunitas dalam berkarya.
Umumnya, desain, bentuk dan ragam distribusi terbitan jadi fokus penting dalam art book fair di banyak kota di berbagai negara Asia Tenggara, seperti Jakarta, Singapura, Bangkok, dan Kuala Lumpur. Di gelanggang YKABF, memunculkan konteks kehidupan kota tempat art book fair berlangsung juga sangat penting. Dina—sapaan akrabnya—bilang, tidak hanya di Jogja, tetapi juga banyak kota di Indonesia, komunitas-komunitas lokal datang dari ragam disiplin yang berbeda-beda, seperti seni rupa atau seni pertunjukan, pegiat literasi, dan jurnalistik, lalu tumbuh berjejaring satu sama lain.
“Jadi, kekayaan disiplin ini yang pengin kami fasilitasi di satu acara yang kemudian terkonsentrasi [di satu tempat]. [Sehingga] dia bisa diakses oleh publik yang lebih luas, yang mungkin juga enggak akan terpapar sama isu atau model terbitan terkini kalau enggak datang ke YKABF,” ungkap kurator dan penulis yang berbasis di Yogyakarta itu.


Tumbuh makin pesat di tahun ketiga
Setelah JNM Bloc menjadi lokasi dalam dua edisi pertama YKABF, yang mampu menjangkau lebih dari 2.000 pengunjung, Langgeng Art Space menjadi ‘rumah baru’ di tahun ketiga festival kali ini. Jumlah peserta pameran lebih banyak, mencapai 43 exhibitors terkurasi dari berbagai negara: Indonesia (36), Tiongkok (6; termasuk satu di antaranya peserta lintas negara), Taiwan (5), Malaysia (4), dan Vietnam (1), yang tersebar dalam lima blok (masing-masing blok berisi 8–9 meja pamer) di lantai 2 Langgeng Art Space.
Di atas puluhan meja tanpa sekat itu, setiap peserta memamerkan zine-zine artistik berupa-rupa, buku foto, majalah, aksesoris, dan pelbagai karya seni yang tidak hanya menarik, tetapi juga unik. YKABF 2026 membuka ruang bagi publik untuk berinteraksi langsung dengan para pembuat, sekaligus memahami praktik penerbitan sebagai bagian dari produksi pengetahuan kontemporer. Meminjam kata Dina, energi kolektif begitu terasa dan tumbuh dari ruang-ruang interaksi yang terbangun.
“Sebenarnya interaksi-interaksi ini (berjejaring dan bertemu sesama pegiat penerbitan) yang membuat acara YKABF makin spesial. Karena justru interaksi seperti ini yang kita enggak temukan di toko, buku dibeli lalu dibawa pulang. Ini bisa ketemu orangnya langsung, bertanya-tanya kenapa bikin karya kayak begini,” jelas Dina.
Di antara pelaku penerbitan artistik yang hadir, ada SOKONG! di meja pertama yang langsung menyambut pengunjung. SOKONG!, yang juga mengelola toko buku dan perpustakaan bernama TOS!, merupakan platform penerbitan alternatif di Yogyakarta yang fokus dalam penerbitan buku dan zine fotografi dan sastra. Ragam buku dan zine pribadi maupun kolektif terpajang di atas meja berselimut kain hitam itu.






Dari kiri, searah jarum jam: Lukisan-lukisan tafsir mimpi dalam kartu “Dream Gate” karya Rumu. Etalase produk penerbit SOKONG!. Wonderwhy, media yang memiliki banyak stokis di berbagai negara, mulai dari Australia, Asia Tenggara, hingga Eropa/Rifqy Faiza Rahman
Saya juga berbincang sebentar dengan Rumu—nama pena—seorang seniman asal Colorado yang sudah lama berbasis di Kyoto, Jepang. Ia, berkolaborasi dengan kolektif Master Zen’s Vault of Wushu Wisery, membawa karyanya berupa seri kartu oracle (ramalan) bernama “Dream Gate” yang terdiri dari 28 kartu. Lembaran-lembaran kartu seukuran setengah kartu ATM itu menginterpretasikan kombinasi astrologi Buddha Jepang atau Tsukuyomi—dewa bulan atau sang penguasa waktu malam dalam mitologi Jepang—dengan 28 bab Sutra Seroja atau Sutra Teratai (Lotus Sutra), sutra atau kitab sastra suci paling penting dalam ajaran Buddha Mahayana.
Setiap musim (semi, panas, gugur, dan dingin), Rumu akan merilis kartu baru dengan makna berbeda berdasarkan mimpi kolektif orang-orang. Saat ini, selain merancang untuk memperjualbelikan kartu-kartu karyanya, ia juga sedang berusaha mengembangkan sistem agar kartu-kartu ini bisa dimainkan bersama-sama.
Berjarak tiga blok dari stan Rumu, saya berkunjung ke meja Wonderwhy, media jurnalisme naratif yang mengangkat isu kebudayaan dan masyarakat di Asia Tenggara, yang dipublikasikan dalam bentuk cetak dan digital. Wonderwhy telah menerbitkan empat seri majalah, tiga di antaranya dihadirkan dalam festival: Mindful Eater (eksplorasi makanan-makanan sehat dan kebudayaannya di Asia Tenggara), Childfree Neighbor (fenomena masyarakat Asia Tenggara yang tidak ingin punya anak), dan Clean Sleeper (kebiasaan tidur masyarakat di Asia Tenggara). Selain majalah, juga ada zine, kartu pos, dan stiker.
Hana Irena, Editor in Chief Wonderwhy, mengungkap motivasinya mengikuti YKABF 2026. Selain bertemu dengan teman-teman komunitas yang mempunyai apresiasi terhadap media cetak, Hana dan tim juga ingin melihat perspektif orang-orang yang baru mengenal Wonderwhy. “Kan, biasa kalau kita ngerjain majalah, ya, di kantor sendiri saja. Kadang-kadang juga nggak tahu pikiran orang [yang baru kenal Wonderwhy] seperti apa tentang media kita,” tambahnya.


Selain pameran, YKABF 2026 juga menghadirkan rangkaian program yang beragam, mulai dari special showcase, masterclass, lokakarya, presentasi, peluncuran buku, hingga diskusi lintas disiplin yang melibatkan praktisi dari berbagai latar belakang dan negara. Gelaran special showcase oleh Ika Vantiani dan Palka Kreatif mendapat sorotan lebih, karena membuka percakapan tentang praktik pengarsipan dan eksplorasi material dalam penerbitan independen.
Ika menganggap YKABF 2026 sangat krusial untuk praktik kreatif saat ini, terutama di tengah perkembangan akal imitasi yang makin masif. “Yang menarik dari praktik penerbitan mandiri adalah tawaran keleluasaan ruang untuk berproses. Ruang yang memberi motivasi untuk menikmati baik kegagalan maupun kesuksesan sebagai bagian dari perjalanan kreatif itu sendiri. Dalam konteks ini, praktik berbasis cetak menjadi semakin penting hari ini, terlebih di tengah perkembangan AI, karena ia tetap menyimpan pengalaman yang personal, material, dan manusiawi yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh teknologi digital.”
Program unggulan lainnya yang tak kalah menarik minat pengunjung di antaranya lokakarya Lingo Gado-Gado, diskusi buku Mentaok: Kolonialisme, Kapitalisme, dan Perubahan, peluncuran buku The Butterfly Encounter, sesi presentasi dan lokakarya bersama Pixie Tan dari Singapura, kelas menulis Shaqina Alfisyah (penulis dan ilustrator buku anak), hingga aktivasi praktik kreatif bersama Anak Singa Studio.




Kiri: Special showcase oleh Ika Vantiani (tengah) diikuti peserta dalam praktik dan eksperimen journaling. Kanan: Yogyakarta Art Book Fair inklusif untuk segala usia, termasuk anak-anak yang mendapat ruang khusus untuk bermain dan berkarya/Dokumentasi YKABF 2026
Yang kita butuhkan: rak buku lebih banyak, ruang baca lebih luas
Satu hal yang menarik dari gelaran festival ini adalah melihat roda ekonomi yang berputar untuk saling mendukung satu sama lain—dalam hal ini ekosistem buku dan penerbitan artistik. Ruang-ruang pamer dalam 43 meja dan dinding galeri dijual kepada calon peserta pameran, yang hasilnya sangat menyokong operasional dan pengembangan YKABF, termasuk di dalamnya panitia festival, sewa gedung, kru, dan penyelenggaraan program-program publik.
“Harapan ke depan, makin banyak orang lagi yang bikin terbitan, [serta] makin menemukan strategi untuk distribusi informasinya,” tutur Dina. “Semoga kita enggak terlalu terpaku sama media sosial dan algoritma, karena ini sebenarnya cara juga untuk melampaui algoritma-algoritma yang bisa memberikan kesamaan yang semu itu.”
Bahkan, khusus tentang publikasi art book atau zine yang sedang banyak dibuat, Dina menyampaikan maklumatnya, buku-buku kreatif seperti itu bukan hanya sebagai pilihan karya alternatif semata, melainkan juga mengisi kekosongan yang tampak senjang dari kehadiran penerbit mayor maupun indie hingga saat ini. Terutama di Jogja, toko-toko buku independen yang makin marak membuka diri kepada masyarakat turut menjaga harapan agar dunia buku fisik bisa bertahan. Nina Hidayat, pustakawan Melek Huruf Magelang, menulis dengan baik di Eastside (14/4/2026) tentang fenomena pertumbuhan toko-toko buku independen sekaligus artistik di kota budaya ini.
Padahal, dalam artikel yang ditulis Dina di sudutkonten.com (1/5/2025), kebimbangan sempat membersit di benaknya yang mengalami pergulatan batin, tentang perlu atau tidaknya menggelar sebuah festival art book di Yogyakarta yang punya ratusan festival seni dan budaya setiap tahunnya. Ia menyebut Patjar Merah dan Jogja Art+Book Fest sebagai contoh festival buku berskala besar di Jogja. Apalagi Jakarta Art Book Fair, menurut Dina, dianggap sebagai representasi nasional yang sangat ideal dalam mempertemukan hulu hingga hilir ekosistem ini, mulai dari desainer, penyedia jasa, penyuplai material, sampai konsumen produk desain.
Tapi dalam kacamata saya, yang juga kebetulan suka menulis dan kadang-kadang bikin buku, YKABF tetap layak diselenggarakan. Bahkan semoga saja bisa awet sampai bertahun-tahun mendatang, sampai mereka-mereka itu punya anak, yang akhirnya tahu dan menyadari kerja-kerja kreatif orang tuanya tumbuh di ekosistem yang kondusif. Di luar itu, festival-festival buku itu pun, mau kecil atau besar, harus tetap ada. Ini bagian dari merawat ekosistem, menjaga suluh asa yang menyala dari karya-karya penulis.


Sebab, bagi saya, yang penting buku-buku artistik itu harus bertemu pembacanya, bagaimanapun caranya. Festival adalah salah satu bentuk yang tepat untuk mewujudkan itu, karena selain distribusi reguler melalui toko buku atau promosi online, sangat penting agar sebuah ekosistem besar—yang melibatkan banyak pihak untuk melahirkan buku dari ide hingga maujud menjadi produk cetak—menjadikan festival sebagai sebuah tujuan hidup. Ya, selain alasan muluk untuk berharap negara bisa membantu lebih banyak (lewat regulasi yang mendukung kesejahteraan penulis dan pelaku penerbitan buku), setidaknya punya tujuan hidup bikin festival-festival buku jauh lebih mendingan daripada tidak melakukan apa-apa.
Kita perlu rak-rak buku dan ruang baca lebih banyak, agar ekosistem buku dan penerbitan artistik senantiasa terjaga dan berkelanjutan. Setiap para pencinta buku punya tugasnya masing-masing. Para kreator, penulis, penjaga toko buku, penerbit, kurir, tukang jilid, editor, bahkan pemengaruh media sosial, bekerja terus untuk memastikan akan selalu lahir buku-buku baru setiap waktu. Sementara sebagian lainnya diharapkan kepeduliannya untuk melakukan hal yang teramat muluk bagi akar rumput: mendesak pemangku kebijakan membuat regulasi yang mendukung dan melindungi ekosistem buku, tanpa peduli genre, substansi, maupun bentuknya.
Menurut saya, setiap buku itu seyogianya tetap harus dicetak, diterbitkan, dan dihadirkan untuk dibaca publik. Konsep digital untuk meraga halaman-halaman buku secara elektronik memang sepintas tampak sebuah pendekatan yang ideal, utamanya di era serba bergawai seperti sekarang. Akan tetapi, ada interaksi, konektivitas, dan kedekatan yang menguar dari kertas-kertas fisik itu, yang tidak akan sepenuhnya bisa digantikan layar LCD, TFT, IPS, OLED, atau AMOLED yang mengandung energi elektromagnetik; yang akan kurang menyehatkan jika mata dan wajah kita terpapar radiasi terlalu lama.
Seperti halnya petrikor, aroma yang idiosinkratis—bahkan secara ajaib seringnya menenangkan—yang menembus bulu-bulu hidung saat rinai mencium tanah yang kering; begitu pun bibliosmia dari senyawa-senyawa kimiawi yang turut “membangun” sebuah buku fisik. Alangkah meruginya para elite, aparat, atau kalangan pendengung yang tidak doyan atau bahkan takut pada buku; betapa menjadi book sniffer itu adalah candu yang menyehatkan, menenangkan, bahkan menyembuhkan jiwa—dari yang mungkin emosional dan gampang baperan, menjadi lebih tenang dan bijaksana.
Foto sampul: Pengunjung Yogyakarta Art Book Fair 2026 di Langgeng Art Space (Dokumentasi YKABF 2026)
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.


