Travelog

Wisata Budaya ke Suku Baduy dan Perempuan Bercadar

Pasca Idulfitri 1442 Hijriyah lalu, saya mengunjungi tempat tinggal Suku Baduy, di Kabupaten Lebak bersama beberapa teman. Enam orang diantaranya mengenakan hijab panjang, dua diantaranya mengenakan cadar.

Terdapat stigma yang rempan di kalangan masyarakat, stigma tersebut diarahkan kepada perempuan bercadar. Diksi rempan di sini dalam bahasa Sunda artinya kekhawatiran yang berlebihan, maksudnya, perempuan bercadar sering dikonotasikan dengan hal-hal yang tidak praktis dan sering mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan.

Tapi, hal itu terbantahkan setelah saya mengajak kedua teman perempuan bercadar untuk kawasan suku Baduy. Bukannya mendapat perlakuan yang tidak baik, kami malah mendapat perlakuan yang sangat sopan. Misalnya kami disediakan tempat salat di dalam rumah yang ditinggali oleh masyarakat suku Baduy. Tidak hanya ketika berada di suku Baduy luar, melainkan juga ketika berada bersama suku Baduy Dalam.

Di Baduy kami tidak hanya berwisata saja, kami pun mempelajari banyak hal seperti cara membuat gula aren, mengolah madu Baduy, melihat cara menenun kain, dan berbincang-bincang tentang adat dari suku Baduy.

Trek Baduy Luar

Dari Tradisional Hingga Modern

Masyarakat suku Baduy sebagian besar terlibat dalam kegiatan bercocok tanam sebagai pekerjaan tetap. Menariknya, ketika kami singgah untuk istirahat di sebuah gubuk yang berada di trek perjalanan menuju ke arah Baduy Dalam, di sana kami melihat satu orang laki-laki dewasa sedang membuat gula aren, saya menghampirinya dan mengajak berbincang.

Ia bernama Sanip, saya memanggilnya Aa Sanip (panggilan sopan untuk laki-laki yang usianya lebih tua dalam bahasa Sunda). Aa Sanip hampir setiap harinya dari pagi sampai menjelang sore, menghabiskan waktunya untuk mengolah hasil alam seperti membuat gula aren dan madu.  Ada beberapa jenis bahan dasar pembuatan gula aren yaitu kelapa dan kawung, tapi masyarakat Baduy kebanyakan menggunakan kawung sebagai bahan dasarnya.

Pembuatan gula aren/Muhamad Hafizh

Setiap harinya, Aa Sanip dua kali membuat gula aren sendirian, lalu menghasilkan 8 sampai 20 biji gula aren dengan ukuran cetakan yang standar. Walaupun termasuk masyarakat tradisional, Aa Sanip dalam berjualan turut menggunakan cara modern dengan berjualan secara daring untuk melayani pelanggannya dari luar kota.

Setelah saya mencari tahu, ternyata beberapa pemuda dari suku Baduy sudah mengikuti tren berjualan daring dalam berdagang, jadi hasil bumi masyarakat adat suku Baduy dapat dinikmati dengan memesan secara daring oleh kalangan luas.

Penenun Suku Baduy, Peraih Prestasi Nasional

Ambu Jali, juara penenun/Muhamad Hafizh

Tidak hanya Aa Sanip yang mengolah hasil bumi, kami pun bertemu dengan Ambu Jali ketika beristirahat di gubuknya. Di sana kami melihat istri Ambu Jali sedang menenun kain untuk dijual. Saya terkejut ketika berbincang dengan Ambu Jali, ternyata Ambu Jali ini masyarakat adat Baduy yang sudah berprestasi nasional dalam ajang perlombaan menenun yang diadakan BUMN tahun 2011 di Jakarta.

Dalam perlombaan tersebut beberapa saingannya berasal dari beragam daerah yang ada di Nusantara. Ambu Jali menceritakan, dalam kompetisi tersebut bukan mencari mana yang terbaik dan bagus hasilnya, melainkan mencari siapa yang lebih menguasai teknik membuat kain tenun. Ia sendiri mengetahui secara keseluruhan dimulai dari teknik, tahap pembuatan, dan alat-alat ketika proses pembuatannya. Maka gelar juara 1 diperoleh Ambu Jali perwakilan dari suku Baduy pada ajang nasional yang diselenggarakan salah satu kementerian tersebut.

Kami pun diberi tahu sedikit mengenai cara pembuatan kain tenun. Ambu Jali mengatakan dalam menenun terdapat beberapa tahap, diantaranya: nganjinjing, nalimbuhan, ngasupkeun pakan, nyisir, ngajinjing, dan keteg

Prestasi Ambu Jali/Muhamad Hafizh

Ramah Tamah

Selain kami mempelajari banyak hal dari masyarakat suku Baduy dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang membuat kami penasaran, mereka juga mengajukan beberapa pertanyaan kepada kami, khususnya kepada dua teman perempuan bercadar saya.

Pertanyaan yang diajukan merupakan pertanyaan sederhana, misalnya, cara makan dan minum ketika mengenakan cadar, kenyamanan ketika cuaca sedang panas, dan beberapa pertanyaan lainnya. Saya dan teman-teman menanggapinya dengan santai dan sedikit bercanda, terlihat dari mereka yang mendengarkan disertai dengan suara tawa.

Respon yang diberikan oleh mereka menunjukkan jarangnya perempuan bercadar berkunjung ke daerah Baduy, sehingga beberapa di antara mereka antusias dalam bertanya untuk memenuhi rasa penasaran. Patut diberi apresiasi walaupun masyarakat pedesaan adalah masyarakat homogen, tapi dalam hal toleransi pemikirannya sangat plural seperti orang-orang perkotaan yang heterogen.

Masyarakat Tradisional Memuliakan Alam

Masyarakat suku Baduy menuju kebun/Muhamad Hafizh

Bersama dengan Ambu Jali, pembicaraan saya tidak hanya seputaran kain tenun saja, tetapi juga membicarakan perilaku masyarakat Baduy yang memuliakan alam. Selayaknya masyarakat tradisional yang menjaga dan melestarikan alam merupakan sebagian dari mengamalkan nilai-nilai spiritual, begitu pula dengan masyarakat pada suku Baduy, kepercayaan mereka menjadikannya sebagai pedoman normatif dalam menjaga dan melestarikan alam.

Ambu Jali menjelaskan kepada saya bahwa masyarakat Suku Baduy menggenggam erat prinsip; “Gunung teu meunang dilebur, Lebak teu meunang dirusak.

Filosofi tersebut menuntun mereka untuk sebaik mungkin dalam mengelola dan memanfaatkan bumi atau lingkungannya, hal inilah yang menjadi alasan suku Baduy tidak pernah mengalami krisis pangan.

Cara yang ditempuh masyarakat suku Baduy adalah dengan membangun rumah pangan, rumah yang digunakan untuk menampung hasil panen, jumlah rumahnya tidak bisa dihitung oleh jari, artinya terdapat ribuan rumah pangan. Saya memperhatikan banyak rumah pangan yang dibangun tidak jauh dari pemukiman, Ambu Jali mengatakan, rumah pangan tersebut menjadi simbol masyarakat mereka makmur dalam segi pangan dan optimal dalam mengelola hasil panen.

Baduy, di sini kita tidak hanya berwisata namun juga merasakan kearifan lokalnya. Banyak hal yang dapat kita pelajari dari dari yang dilihat dan dirasakan, termasuk menambah wawasan mengenai keragaman budaya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis bernama Muhamad Hafizh sedang menjadi Mahasiswa Filsafat di UIN Sultan Maulana Hasanuddin. Mahasiswa yang gemar membaca apapun, kecuali membaca pikiran. Bermukim di Kota Serang-Banten, tetapi karena hobinya jalong-jelong, membuat eksistensinya berada di mana-mana.

Penulis bernama Muhamad Hafizh sedang menjadi Mahasiswa Filsafat di UIN Sultan Maulana Hasanuddin. Mahasiswa yang gemar membaca apapun, kecuali membaca pikiran. Bermukim di Kota Serang-Banten, tetapi karena hobinya jalong-jelong, membuat eksistensinya berada di mana-mana.
    Artikel Terkait
    Pilihan EditorTravelog

    Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

    Perjalanan LestariTravelog

    Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Travelog

    Sepenggal Kisah dari Lawatan ke Pendiri Salib Putih Salatiga

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Madu dan Laut: Menggali Seutas Cerita dari Sebotol Madu Baduy