Interval

KRMT. L. Nuky Mahendranata Nagoro: Geliat Sejarah dalam Literasi Media Sosial

“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah,” ucap Bung Karno begitu menggelegar dalam pidato terakhirnya pada perayaan kemerdekaan tahun 1966. Ucapan ini begitu membekas di benak rakyat Indonesia dan menciptakan perbendaharaan “jasmerah,” tetapi begitu masa berlalu, ucapan tadi hanya menjadi slogan kosong pengisi kemerdekaan tanpa banyak yang peduli dengan aplikasinya pada kehidupan negara. Patriotisme tumbuh lamban. Orang-orang lebih peduli akan masa depan dan bagaimana kehidupan masa depan berjalan. 

Tak hanya melulu cerita sejarah, kadang Nuky memberikan fakta-fakta unik mengenai suatu peristiwa via Instagram/kanjengnuky

Segelintir orang tetap berpegang teguh pada prinsip “masa depan adalah masa lalu yang belum terjadi.” Apa-apa yang terjadi di masa lalu akan mengambil tempat di masa mendatang dalam bentuk yang berbeda. Salah satu orang yang turut mengambil peran dalam merawat ingatan akan sejarah bangsa adalah KRMT. L. Nuky Mahendranata Nagoro atau yang biasa akrab disapa Mas Nuky, pria berumur setengah abad yang berasal dari Solo. Bagi Mas Nuky yang juga berprofesi sebagai seniman musik, sejarah adalah lapangan mainnya sedari kecil.

Kecintaannya pada sejarah membuatnya terjun dalam pembuatan konten pribadi yang banyak memasukkan unsur sejarah dan budaya sebagai bagian pembelajaran daring. ”Saya menulis di Instagram sejak Oktober 2020 karena pandemi yang membuat tidak ada kesibukan hingga memutuskan menulis apa yg saya ketahui,” ucapnya. “Dari desakan teman-teman yang menilai saya mampu memberi cerita-cerita sejarah yg menarik.”

Cerita terbaru dari akunnya tentang Raden Pabelan via Instagram/kanjengnuky

Sebagian besar konten yang Mas Nuky berisikan sejarah-sejarah lokal, khususnya di wilayah Jawa. Pemaparannya sederhana, berbagai data yang dipaparkan dalam pelbagai sumber kemudian dikisahkannya dalam takarir yang tidak seberapa panjang. Singkatnya, dalam sebuah konten pemaparannya bisa memikat siapapun yang membacanya. Lugas, sederhana, penuh cerita. Tak jarang kolom komentarnya selalu dipenuhi orang yang bertanya atau terheran-heran. 

“Saya hanya ingin menyampaikan bahwa sejarah tidak selalu ortodok dalam pembelajaran, tidak selalu kuno dan tidak kekinian.”

“Dalam beberapa hal saya malah mengkontemplasi dengan pemikiran anak jaman now untuk menjawab misteri-misteri sejarah yang terkadang bercabang,” ucapnya.

Mungkin inilah yang membuat sebagian anak muda enggan membaca sejarah, terlalu rumit dengan banyaknya bahasa yang menggurui sehingga membaca buku sejarah tidak serileks membaca majalah ataupun novel. Apalagi tanpa ilustrasi ataupun gambar yang memicu pikiran untuk mengimajikan suatu peristiwa. Diakui atau tidak akunnya mampu menjadi oase pengetahuan sejarah lokal yang nilainya tidak bisa ditakar. ”Puji Tuhan semesta mendukung, semua karena izin Tuhan saya bisa mempunyai pengikut sekian ribu dalam waktu singkat,” ucapnya.

Salah satu acara yang dipandu oleh Nuky via Instagram/kanjengnuky

Kita semua pasti sepakat, untuk mempengaruhi orang-orang dengan lebih cepat media sosial adalah jalannya. Menggiring opini, menerbitkan hoaks, reaksi cepat; semua hal tersebut dimiliki media sosial sebagai panggung pertempuran pendapat. Data Kominfo mengkonfirmasi bahwa ada sekitar 63 juta orang pengguna internet dengan 95% diantaranya adalah pengguna media sosial. Nahasnya, pengguna sebanyak itu seringkali hanya bertengkar dan berebut tempat tren, data Microsoft dalam Digital Civility Index  tahun 2020 menempatkan Indonesia di urutan ke-29 dari 32 negara yang disurvei untuk tingkat kesopanan. Menyedihkan. 

Saya mengajukan pertanyaan kepadanya, “Mengapa sejarah dan budaya kita yang kaya lebih jarang menjadi perhatian padahal potensi sejarah dan budaya bangsa ini belum pernah terungkap secara maksimal?”

Menurutnya potensi kita yang belum maksimal tersebut disebabkan kecenderungan kita yang ingin segala sesuatu menjadi praktis. Praktis dalam artian segala sesuatu harus ada manfaat instan yang dirasakan seperti manfaat ekonomi dan sosial. Benda-benda budaya seharusnya tidak dinilai hanya dari sudut pandang tertentu. Lebih dari itu, kemurnian niat dalam menjaga warisan budaya perlu digembleng lebih lanjut. “Masyarakat luar (Indonesia) sangat ingin tahu apa yang bisa mereka dapat, sedangkan kita sendiri pada dasarnya tidak siap memberikan sesuatu yang bisa membuat orang luar terbelalak dengan ekspektasi di luar pikiran mereka.”

Apalagi sebagian besar masyarakat kita lebih mengagung-agungkan budaya luar dibanding budaya sendiri. Makan dengan tangan dinilai lebih rendah dibanding menggunakan sendok. Sejatinya, semua budaya yang baik bernilai baik dan tidak ada yang lebih superior satu sama lain.

Cerita terbaru dari akunnya tentang Raden Pabelan via Instagram/kanjengnuky

Kendati sering bepergian, Mas Nuky memfokuskan kunjungannya ke daerah-daerah yang berkaitan dengan sejarah Mataram Islam sebab secara garis keturunan yang merujuk pada Kerajaan Mataram, ada keterikatan batin yang kuat antara Mas Nuky dan leluhurnya. Kunjungannya seringkali direncanakan dengan baik dan matang, tetapi kadang-kadang juga secara spontanitas. Sebagai keturunan dari Susuhunan PB X dari trah Putra Dalem KGPH Koesomojoedo III.

Sebagai keturunan Susuhunan PB X dari trah putra Dalem KGPH Koesoemojoedo III, Mas Nuky sadar akan posisinya yang menanggung tanggung jawab yang besar baik kepada leluhur maupun bangsa, tapi menurut dia, semua orang punya peran masing-masing dalam siklus hidup. “Untuk kasus kami, saya rasa harus ada yg memegang bagian humas atau “pencerita” tentang leluhur-leluhur kami ke masyarakat luas.”

“Banyak lho ningrat yg tidak paham leluhurnya,demikian juga sebaliknya,” imbuhnya.

Harapan Mas Nuky tidaklah muluk-muluk mengenai konten sejarah yang telah disebarluaskannya. Baginya selagi hal tersebut memberi manfaat, dia akan terus menyebarkan benda budaya atau sejarah di sekitar kita. 

“Sebagai manusia tidak harus melihat sesuatu dari untung materinya. Saya tidak mendapat apa-apa dari pembuatan konten ini secara materi, bahkan mengeluarkan biaya, waktu, dan tenaga.”

“Tapi saya yakin sikap peka saya memberi contoh bahwa banyak misteri-misteri di sekitar kita yang asyik buat dikulik anak muda, tinggal kita mau atau nggak, kita sadari atau kita abaikan.”

Konten media sosial memang bebas tak berbatas, saya berharap konten-konten yang membahas budaya lokal juga mampu menembus pasaran anak muda yang cenderung menggilai budaya luar. Jikalau konten hoaks atau memecah belah bisa ramai interaksi, mengapa tidak dengan akun budaya?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Interval

Titin Riyadiningsih: Memajukan Wisata dari Desa

IntervalPilihan Editor

Cerita dari Bantaran Kali, “Sebuah Tempat Terbaik di Dunia”

Interval

Menghidupkan Kembali Kota Lama Semarang

IntervalPerjalanan Lestari

Laut Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak “Sang Penangkap Petir” (1)