Travelog

Menengok Minimalisme dalam Diri Masyarakat Baduy (2)

Setelah mengistirahatkan kaki di rumah Teh Sarah dan sebelum matahari tenggelam, saya bersama beberapa kawan meluncur ke sungai. Bebarengan dengan anak-anak kecil yang juga tengah membersihkan diri, kami mencoba keramas menggunakan daun layaknya masyarakat Baduy. Segar!

Kami lalu menghentikan suara keroncongan di perut masing-masing dengan menyantap hidangan yang kami masak bersama Teh Sarah dan keluarga. Dalam kondisi lebih prima, kami kemudian mengadakan bincang-bincang dengan tokoh Suku Baduy. 

Mereka berbagi mengenai sistem kepercayaan, sistem mata pencaharian, hingga sistem pendidikan yang dianut. Dari sini terlihat bahwa masyarakat Baduy telah terbiasa untuk hidup sederhana dengan merasa cukup. Sejalan dengan pernyataan bahwa minimalisme merupakan seni untuk merasa cukup.

Seperti, misalnya, masyarakat Baduy memahami dan menikmati betul cara hidupnya, termasuk cara mentransfer pengetahuan. Mereka tidak menggunakan sistem pendidikan formal untuk itu.

Sungai Baduy
Aliran sungai dalam perjalanan menuju Baduy Dalam/Syaima Sabine Fasawwa

Penjelasan hal tersebut juga didokumentasikan oleh Ekspedisi Indonesia Biru yang dirilis tahun 2015 oleh Watchdoc Image. Salah satu masyarakat Baduy, Ayah Sapri, dalam bahasa lokal berujar, bahwa yang dibutuhkan anak-anaknya untuk bertahan hidup adalah sekolah tani. 

“[Anak-anak] belajar dari saya atau dari ibunya. Meski tak sekolah formal, tapi wajib sekolah bertani, mengerti tanam-tanaman,” terangnya. Dan sama sekali tak ada perasaan minder mengenai cara hidup yang berbeda itu, meskipun masyarakat Baduy sering berpapasan dengan murid sekolah yang berlokasi tak jauh dari tempat tinggalnya.

Begitu pula dalam hal lain. Selama di Baduy, saya mengenakan pakaian warna-warni, membawa telepon genggam, menggendong tas ransel, dan mereka tak terpengaruh sama sekali. Mereka sudah merasa cukup dengan apa yang ada bersama dirinya.

Pengunjung yang singgah di Baduy sama sekali tak menghambat keseharian mereka, apalagi mengikis identitasnya. Masyarakat Baduy mengerti dan menghargai asal-usul mereka sendiri, hingga tetap eksis dan mampu mempertahankan jati dirinya.

Jalur pendakian Baduy
Perjalanan menuju Baduy/Syaima Sabine Fasawwa

Dan sebagai penutup hari, malam itu kami disuguhi durian—gratis. Kami menikmatinya di bawah temaram cahaya bulan saja—tak ada lampu listrik di kawasan ini.

Besoknya, saya menyaksikan bahwa masyarakat Baduy telah memulai hari sejak pagi-pagi sekali. Saya terbangun ketika Teh Sarah tengah membuat api. Mereka berangkat menggarap ladang setelah menyarap.

Prinsip  lain minimalisme terlihat di sini. Minimalisme juga tentang memahami kebutuhan sekaligus kapasitas diri. Dengan begitu, alokasi penggunaan waktu dan energi berjalan efektif serta efisien.

Saya mendapati bahwa waktu bekerja dan waktu beristirahat masyarakat Baduy terbagi seimbang. Tak lebih, tak kurang.

Pun dalam dokumenter tadi, Ayah Sapri berujar, “Pemerintah mendorong agar kami dapat panen setahun dua kali. Tapi adat melarang. Kalau panen setahun dua kali, khawatir kami kelelahan, waktu habis untuk bekerja. Meski panen setahun sekali, asal cukup sandang pangan.”

Masyarakat Baduy
Masyarakat Baduy berjalan beriringan bersama pengunjung/Syaima Sabine Fasawwa

Adapun dari situ jelas terlihat bahwa masyarakat Baduy tentu lebih mengerti betul tentang siapa dan bagaimana dirinya ketimbang orang lain. Atas hal ini, mereka dapat mencapai prinsip work-life balance sebagai sesuatu yang menyatu dalam kehidupan mereka. Dalam hal tersebut, pun, masyarakat Baduy tak menaruh ukuran sejahteranya pada materi belaka, yang sejalan dengan tujuan minimalisme, yakni pembebasan dari keterikatan pada materi duniawi.

Sementara itu, masyarakat modern akrab sekali dengan isu overwork dan burnout akibat pekerjaan, di mana work-life balance jadi barang mahal. 

Di Baduy sendiri, masyarakatnya menggunakan posisi matahari untuk membatasi satu kegiatan ke kegiatan lain, sehingga membentuk keteraturan.

Saya ingin bermalam lebih lama di Baduy, tetapi terik matahari sudah mengajak kami untuk turun dan pulang. Sekitar pukul 07.00, kami mulai meninggalkan pemukiman Baduy. Melewati jalur yang berbeda, kami hanya berjalan selama tak lebih dari dua jam dan tiba di sebuah pasar. Lalu kami menumpang transportasi umum menuju Terminal Ciboleger kembali.

Keluar dari Baduy bak keluar dari satu dimensi lain yang begitu berbeda dan menyenangkan.

Dan tak bisa tidak, mengadopsi minimalisme ala Baduy ke dalam rutinitas saya sebagai bagian dari masyarakat modern merupakan pekerjaan rumah yang bahkan hingga saat ini masih berlangsung.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu
!

Mahasiswa tingkat akhir. Suka menghabiskan waktu dengan membaca novel dan menonton drama.

Mahasiswa tingkat akhir. Suka menghabiskan waktu dengan membaca novel dan menonton drama.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Travelog

    Sepenggal Kisah dari Lawatan ke Pendiri Salib Putih Salatiga

    Travelog

    Tak Sengaja Menemukan Tugu Helm Kopral Syarif

    NusantarasaTravelog

    Sarapan dengan Semangkuk Lontong Kari Kebon Karet

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Menengok Minimalisme dalam Diri Masyarakat Baduy (1)