TRAVELOG

Ujian Persahabatan di Puncak Burangrang

Mendekati magrib, terdengar suara pendaki tektok tiba di puncak. Kami ada di bawahnya sekitar seratus meter. Saya mulai khawatir. Kawan seperjalanan, Yanganto (43), masih di jalur pendakian.

Saya lekas keluar tenda. Menuju puncak lagi. Anak saya, Rean Carstensz Langie (15), menemani. Adiknya, Muhammad Kaldera (11), saya perintahkan menanti dalam tenda. Untungnya, pukul 17.00 WIB tadi, ada empat pelajar SMA dari Bandung camping pula di puncak bayangan.

“Kalau ada apa-apa, bisa ke Aa sebelah,” pesan saya ke Muhammad.  

Sampai di puncak dengan tugu hitam berketinggian 2.064 mdpl, saya menanyai pasangan pendaki tektok. Mereka berjumpa Yanganto antara Pos 3–Pos 4. “Dia berjalan pelan, sesekali memegangi lutut,” kata si teteh.

Saya ajak Rean turun. Menapaki medan curam yang sebelumnya susah-payah kami lewati hingga tiba di puncak Burangrang pukul 16.00, Selasa (2/6/2026).

Tanjakan terakhir jelang puncak jalur Legok Haji (Mochamad Rona Anggie)
Tanjakan terakhir jelang puncak jalur Legok Haji/Mochamad Rona Anggie

Saya berteriak memanggil Yanganto. Terus melantangkan suara. Berharap ada balasan dari sohib SMA itu. Nihil. Saya panjatkan doa, semoga dia dalam keadaan baik dan kuat melangkah ke puncak. Penyesalan melingkupi batin saya. Ternyata, jarak kami terpaut jauh. 

“Yanganto! Yang…” 

Langit kian redup. Kabut tipis melintas. Azan Magrib siap berkumandang. Saya bergegas kembali ke puncak.

“Kalau ketemu di sekitar Pos 4, ajak turun saja. Puncak masih jauh dan terjal. Bahaya jika memaksakan,” ucap saya menitip pesan ke si teteh yang akan balik.

Saya dan Rean membelakangi tugu. Beranjak ke utara. Menuruni setapak di tepian tebing dengan belukar rapat. Menuju tenda di puncak bayangan. Potongan kayu-kayu disusun serupa anak tangga berikut pegangannya. Mengantisipasi pendaki agar tak meniti pinggiran jurang. 

Saya masuk tenda, menyantap bekal yang dibawa dari rumah. Kabut tebal mengurung lokasi kemah. Langit berangsur gelap. Senter dinyalakan. Saya benar-benar mengkhawatirkan Yanganto. Mengakui kealpaan, membiarkannya mendaki sendirian.

Jalur menuju puncak bayangan (Mochamad Rona Anggie)
Jalur menuju puncak bayangan/Mochamad Rona Anggie

Terpisah Jauh

Sesaat sebelum meninggalkan Base Camp (BC) Legok Haji pukul 13.00, Yanganto bilang bakal mendaki santai. Menyesuaikan kekuatan kaki yang sempat cedera akibat badminton, sambil membuat video perjalanan.

Awalnya kami beriringan. Namun, di Pos 1, saya tak melihat Yanganto di belakang. Saya pun berencana menunggu di Pos 2 atau Pos 3. Beberapa pendaki tektok turun. Kami bertegur sapa dan saling menyemangati. Mereka pasti mendaki dari pagi. Sementara saya dan Yanganto, baru berangkat dari Cirebon pukul 07.30 dan sampai di Legok Haji, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pukul 11.30. 

Tantangan sesungguhnya rute pendakian yang dikenal dengan “Istana Akarnya” ini adalah setelah Pos 1. Jika sebelumnya landai dengan pemandangan barisan pinus, berubah curam dan berkelok menembus kelebatan hutan. Pepohonan besar semisal jamuju (Dacrycarpus imbricatus), loa (Ficus racemosa), beringin akar gantung (Ficus benjamina), dan pakis gunung (Cycadaceae) mendominasi. 

Area Pos 1 (Mochamad Rona Anggie)
Area Pos 1/Mochamad Rona Anggie

Tak heran, Burangrang dipilih sebagai medan latihan pertempuran prajurit Kopassus. Termasuk Wanadri menempa calon anggotanya praktik survival dan eksplorasi search and rescue (ESAR) di gunung ini, tepatnya di lembahan daerah Purwakarta.

Sehingga selain Legok Haji, pintu masuk pendakian Burangrang juga bisa dari Gerbang Komando (dengan izin khusus) dan BC Mentari di Cimahi. Suara ledakan dan rentetan tembakan terdengar jelas dari puncak. Pendaki tektok yang pertama kali ke sana bertanya, “Suara apa itu, Pak?”

“Tentara latihan perang.” 

Bekas longsor di tebing sebelah barat daya puncak Burangrang (kiri) dan tugu batas wilayah Kabupaten Bandung Barat-Purwakarta di ketinggian 2.064 mdpl/Mochamad Rona Anggie

Semakin Terjal    

Pos 2 kami gapai dalam setengah jam. Ada sepasang pendaki tektok rehat. Kami tidak berlama-lama. Sebelum lanjut mendaki, saya tanya apa treknya terus menanjak? Keduanya mantap mengiyakan, “Tanjakan berakar. Tambah tinggi, kian terjal.”

Rasa penasaran membuncah. Petualangan yang seru! Terkadang jalur menyempit, menyelinap ke celah-celah pohon. Medannya punggungan di antara lembah dengan tebing curam. Harus hati-hati, jangan sampai hilang fokus. 

Kami sejenak merebahkan carrier. Meluruskan kaki dan meneguk air. Meresapi keheningan rimba. Lalu lanjut lagi. Di pertengahan sebuah tanjakan, penunjuk Pos 3 tampak. Kami terus naik. Napas memburu. Keringat gemerojos. Tibalah di Pos 3 pukul 14.29. Letaknya di antara dua pohon dengan akar menyembul di sekitarnya. 

Kami duduk sebentar. Mengambil napas. Tak berselang lama, dua pendaki tektok turun. Saya titip pesan kalau bertemu pendaki menyandang ransel dengan cover bag hijau, bilang rekannya sedang menuju Pos 4.

Setapak kian curam. Pengelola peka. Membuat banyak undakan dari batang kayu, sekaligus pegangannya. Ini sangat membantu pendaki. Apalagi di jalur yang bersisian dengan jurang. Jika tak ada undakan kayu, tanah lempung nan licin akan menggelincirkan kaki. Menghambat pergerakan, terutama yang menggendong carrier.

Pos 3 (kiri) dan Pos 4 persis di tengah jalur. Tak ada dataran untuk santai selonjoran/Mochamad Rona Anggie

Biar Tidak Kemalaman

Yanganto belum tahu di mana. Saya memutuskan lanjut naik. Memanfaatkan waktu, agar tak kemalaman. Sebab, lebih leluasa membangun tenda saat matahari masih bertugas. Belum lagi, takut tiba-tiba hujan. Tanah becek bakal lebih sulit dilalui.

Pos 4 kami jejaki pukul 15.03. Sejauh ini jarak antarpos terbilang dekat. Acuannya bila perjalanan lebih dari satu jam, baru disebut jauh. Misal waktu tempuh dari BC Cadas Poleng Ciremai ke Pos 1 Cigowong, 1,5–2 jam. Atau dari BC Ranu Pani Semeru ke Ranu Kumbolo sekitar 3–4 jam.

Info dari petugas di bawah, durasi buat pendaki yang membawa perlengkapan camping ke puncak Burangrang sekitar 5–6 jam. Sedangkan yang tektok 3 jam. Ada pun kami, menorehkan capaian waktu cukup baik. Start dari BC pukul satu siang, sampai Pos 4 pukul tiga sore.

Setelah istirahat, kami kembali bergerak. Benar saja, kata pendaki tektok di Pos 2, jalur ke puncak kian sulit. Kemiringan antara 60-75 derajat. Setapak bertanah gembur plus tanah liat licin, membuat kami mesti piawai berpijak. Tambah lagi meniti celah-celah akar yang jadi ikon rute Legok Haji. Pantas kiranya disebut jalur “Istana Akar”.

Bila di jalur pendakian Gunung Prau via Dwarawati ada kawasan Akar Cinta dengan akar-akar besar menonjol ke permukaan—hanya di area pos tersebut—lain di Burangrang. Selepas Pos 1 hingga puncak, trek berakar menjadi rintangan setia yang menguji ketangguhan pendaki.

Jaga keseimbangan agar tak terjepit celah akar/Mochamad Rona Anggie

Tiba di Puncak

Batang-batang kayu yang disusun berundak ketika hendak tiba di puncak, memudahkan langkah pendaki. Langit terbuka di ujung jalur, pertanda puncak sudah dekat. Terus menanjak dan menanjak.

Sesaat di sebuah tikungan, saya melihat tugu hitam. Sekitar 50 meter lagi. Wah, puncak depan mata. Seketika otot paha yang kram, saya abaikan. Padahal sebelumnya membuat nyeri.

Pukul 16.12, kami bertiga menjejak puncak. Saya peluk tugu hitam, lalu merangkul anak-anak. Tak ada siapa pun. “Cepat banget, sudah di puncak!” kata Rean. Muhammad mesem-mesem.

Wajar mereka merespons demikian, karena pernah mendaki gunung lebih tinggi dengan jarak antarpos lebih jauh. Pengalaman naik Ciremai dari tiga jalur berbeda (Palutungan, Sadarehe, Linggarjati) dan Slamet via Permadi-Guci. Di kedua gunung itu, setengah hari perjalanan kami baru sampai di transit camp untuk bermalam, sebelum dini hari meneruskan ke puncak. 

Nah, spesialnya Burangrang, dalam tiga jam kami berhasil muncak. Tempat bermalam di puncak bayangan, seratus meter di bawah puncak tugu hitam. Tentu kami senang, dan tidak mengecilkan persiapan ke Burangrang. Perlengkapan standar gunung-hutan dipenuhi sebaik-baiknya.

Sebagaimana nasihat pendaki kawakan Wanadri, Galih Donikara (61), yang saya selipkan dalam tulisan Pilu Pendaki Hilang di Mongkrang, Wanadri Teruskan Pencarian. “Alam itu mengandung dan mengundang bahaya. Jangan sepelekan!”

Rean dan Muhammad tiba di puncak Burangrang (Mochamad Rona Anggie)
Rean dan Muhammad tiba di puncak Burangrang, ditandai tugu hitam “Polisi Taruna”/Mochamad Rona Anggie

Akhirnya, Yanganto!

Malam datang. Pintu tenda kami biarkan terbuka. Menghadap ke selatan (arah puncak). Hidangan tandas. Kami hendak menyeduh teh, dan tiba-tiba melihat sorot senter di puncak.

“Woi…” 

Yanganto!

“Yooo….,” balas saya melambaikan tangan, lalu bergegas keluar tenda.

“Di sini, Om…”

Perawat RSUD Indramayu itu menuju kami. Saya menyongsongnya. Plong rasanya, mendapati dia selamat sampai ke puncak. Tak ciut nyali mendaki sendirian, walau gelap menyergap. Pengalaman menguatkan mentalnya. 

Saya dan Yanganto salam komando. “Aduh, syukurlah…” ucap saya.

Yanganto bercerita, berpapasan dengan pendaki tektok yang turun dan membawa pesan dari saya. Namun, jarak ke puncak tidak jauh lagi. Terlebih dia bawa headlamp, jadi percaya diri terus naik.

“Alhamdulillah, kaki oke. Kalau ada masalah, pasti saya enggak lanjut,” ujar ayah satu anak itu.

Yanganto (43) di camp area puncak bayangan (Mochamad Rona Anggie)
Yanganto (43) di camp area puncak bayangan/Mochamad Rona Anggie

Rean membantu Yanganto mendirikan tenda single person yang baru dibeli. Udara tidak terlalu dingin. Kabut tebal mengurung. Kami semua sehat. 

Karena petualangan kemarin selepas momen Iduladha, saya bawa menu istimewa dari rumah: sup kambing. Sayang, Yanganto tak mencicipinya. Dia hanya makan malam dengan bekal ayam goreng. “Saya sedang diet,” alasannya. 

Setelah menunaikan salat Magrib dan Isya (jamak qashar), kami menikmati suasana malam. Perlahan kabut tersibak. Langit bertabur bintang. Yanganto menyalakan rokoknya, saya menjauh. “Polusi,” cerocos saya. Dia terpingkal.

Saya pun terkenang slogan buletin internal Wanadri, sebelum akhirnya dipasarkan luas: Selama Burangrang berdiri tegak. Selama Citarum mengalir ria. Selama itu pula kisah-kisah kelana Wanadri tidak akan pernah berhenti.  

Begitu pula petualangan saya dan sahabat lainnya, akan berlanjut. Salam lestari!


Foto sampul: Panorama sunrise di puncak bayangan, menerangi gigir kawah “perahu terbalik” alias Tangkuban Perahu, Rabu, 3 Juni 2026 (Mochamad Rona Anggie)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mochamad Rona Anggie

Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.

Mochamad Rona Anggie

Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menziarahi Goa Walet di Gunung Ciremai