TRAVELOG

Denyut Kehidupan di Kawasan Jam Gadang Bukittinggi

Waktu menunjukkan pukul 19.12 WIB, udara mulai dingin di kawasan Jam Gadang, Kota Bukittinggi. Deru mesin kendaraan beradu dengan suara langkah kaki para pelancong. Tenda-tenda makanan berjejer di bahu jalan, disibukkan oleh orang-orang yang mulai mencari santapan malam. Kami berjalan ke arah Kampuang Cino dan masuk ke salah satu kedai makanan populer di sini.

Apo sajo menu yang masih ado, Da?” kakak tertua yang saya panggil abang, bertanya kepada penjual.

Saya berdiri beberapa langkah di belakang, jadi bisa mendengar jelas jawaban si penjual: hanya tersisa pisang santan dan beberapa jenis minuman. Padahal tujuan kami sebenarnya adalah nasi goreng yang tertera di deretan nama makanan pada dinding kedai. 

Pedagang malam di kawasan Kampuang Cino, sedang menyiapkan pesanan, tulisan “Sekoteng” terlihat jelas di kaca gerobaknya (Adzkia Arif)
Pedagang malam di kawasan Kampuang Cino, sedang menyiapkan pesanan, tulisan “Sekoteng” terlihat jelas di kaca gerobaknya/Adzkia Arif

Kesepakatan yang Asing

Perut mulai keroncongan, rasanya makanan berat itu adalah solusi yang tepat. Abang mencoba memastikan, apakah nasi goreng masih bisa dibuatkan?

Penjual menggeleng. “Nasi goreng ndak ado kalau malam, Da, kalau nio pai se ka tenda bawah.”

Kami agak kaget, kenapa ia malah menyuruh membeli di tempat lain? Mungkin karena melihat dahi kami yang mengernyit, si penjual kemudian menjelaskan maksudnya agar tak salah paham.

“Kalau kami masak nasi goreng malam hari, orang yang datang pasti memesan itu semua. Sedangkan di bawah sana ada tenda nasi goreng yang baru mulai berjualan, siapa yang akan beli?”

Saya terdiam beberapa saat, lalu memandang ke arah luar. Terlihat pedagang yang sedang membersihkan gerobaknya, menyusun meja, dan menggelar terpal di trotoar. Rata-rata tiap tenda ada dua orang. Saat yang satu sedang bersiap, yang satu lagi berjaga di luar, menawarkan dagangan kepada orang yang lewat. 

Yang diucapkan penjual tadi, entah itu SOP kedai, kesepakatan tak tertulis antarpedagang, atau prinsip yang dia pegang secara pribadi. Kalimat yang terdengar asing dalam kondisi hari ini.

 Kami pun paham, mengucapkan terima kasih, lalu mulai berjalan ke arah tenda pedagang yang sedari tadi menawarkan dagangannya kepada orang-orang yang lewat. Saat kami mendekat, ia menyapa, “Singgahlah dulu, Bang, apo bali?” Senyum harap tergambar di wajahnya. 

Dari tulisan di kaca gerobaknya, ada menu sekoteng, bandrek, mie goreng, dan tentu saja: nasi goreng. Kami memutuskan untuk mengisi perut di sini.

Dalam suasana malam yang semakin ramai di kawasan wisata utama Kota Bukittinggi, pemilik ruko baru saja menutup pintunya dan mengakhiri pekerjaan. Namun, bagi sebagian yang lain, hari mereka baru saja dimulai.

Kendaraan yang terjebak macet khas liburan, bersanding dengan bendi yang membawa wisatawan berkeliling kota menikmati suasana malam (Adzkia Arif)
Kendaraan yang terjebak macet khas liburan, bersanding dengan bendi yang membawa wisatawan berkeliling kota menikmati suasana malam/Adzkia Arif

Lakon Siang dan Malam di Kampuang Cino

Kami memesan beberapa porsi nasi goreng dan sekoteng. Dari tempat kami duduk, terlihat pemilik dagangan meracik menu dengan telaten. Denting kuali dan spatula terdengar nyaring, bersahutan dengan ketukan sendok yang beradu dengan gelas kaca. Aroma jahe yang semerbak menghangatkan suasana malam.

Sambil menunggu pesanan, saya memperhatikan sekitar. Jalanan padat oleh kendaraan. Sepeda motor, mobil keluarga, bus pariwisata, hingga bendi (kereta kuda). Semua kendaraan ini jalan bainsuik-insuik (bergerak sedikit demi sedikit) dalam kemacetan khas liburan. Sisi kiri dan kanan jalan penuh dengan pejalan kaki dan tenda-tenda pedagang.

Oleh warga setempat, lokasi ini dikenal dengan nama Kampuang Cino. Siang hari, tempat ini ramai dengan aktivitas perdagangan di dalam ruko. Toko roti, pakaian, minimarket hingga berbagai usaha keluarga menjual dagangannya sejak pagi.

Ketika malam, kondisinya berubah. Saat pintu ruko ditutup dan lampu dimatikan, ada pedagang yang baru datang. Mereka memarkir gerobak, mendirikan tenda, dan menyusun meja di depan pertokoan.

Tak lama berselang, pesanan kami datang. Nasi goreng dan sekoteng tersaji di atas meja, terlihat asap putih meliuk-liuk dari kedua menu ini. Dalam hitungan menit, nasi goreng habis tanpa sisa. Sekoteng hangat kemudian menjadi penutup yang pas untuk udara Bukittinggi yang makin dingin.

Ramainya pelataran Jam Gadang menjadi ruang pertemuan antara wisatawan yang menikmati malam dan orang-orang yang mencari rezeki (Adzkia Arif)
Ramainya pelataran Jam Gadang menjadi ruang pertemuan antara wisatawan yang menikmati malam dan orang-orang yang mencari rezeki/Adzkia Arif

Selesai makan, kami berjalan menuju pelataran Jam Gadang yang terlihat mencolok dengan lampu warna-warni, dan air mancur menari. Orang-orang sibuk berfoto, sebagian lagi berburu jajanan. Terlihat juga ada yang sedang menawarkan baju bertuliskan “I Love Bukittinggi”.

Bukan hanya pedagang makanan dan souvenir yang mencari pitih (uang). Di salah satu sisi jalan, deretan bendi menunggu penumpang. Para kusir menawarkan jasa mereka pada wisatawan yang ingin menikmati kota dari atas kereta kuda.

Di sisi yang lain, terlihat kerumunan pembeli dari penjual pisang kapik yang sibuk membolak-balik pisang di atas panggangan. Ada juga penjual balon, harum manis, dan air mineral yang tak henti menawarkan dagangannya.

Saya lahir dan besar di kota ini. Berkali-kali melewati kawasan yang sama, menikmati pergantian siang dan malam tanpa pernah terlalu memikirkannya. Setelah perkataan penjual tadi, saya jadi melihatnya dengan cara berbeda.

Penjual pisang kapik sedang melayani pembeli. Di seberangnya, deretan bendi menunggu penumpang untuk dibawa berkeliling (Adzkia Arif)
Penjual pisang kapik sedang melayani pembeli. Di seberangnya, deretan bendi menunggu penumpang untuk dibawa berkeliling/Adzkia Arif

Wajah Baru Setiap Malam Berlalu

Waktu menunjukkan pukul 20.45 ketika kami memutuskan untuk kembali ke parkiran. Lima belas menit lagi, tempat itu akan tutup.

Sepanjang jalan menuju parkiran, kami melalui kawasan pertokoan yang sudah sepi. Berbanding terbalik dengan suasana di depannya yang masih bergairah.

Cerita ini bukan tentang Jam Gadang, bangunan bersejarah yang sudah banyak dibahas orang, melainkan tentang orang-orang yang mencari nafkah dari ramainya wisatawan yang berlalu lalang.

Saya kembali mengingat perkataan penjual di kedai makanan yang tadi “menolak” kami. Bagi kami malam mungkin sudah usai. Namun, bagi para pedagang, malam ini masih panjang.

Besok pagi, wajah-wajah yang mengisi kawasan ini akan berganti lagi. Gerobak-gerobak akan menghilang, digantikan etalase toko yang kembali membuka usaha sejak pagi.

Waktu yang berbeda, wajah yang tak serupa, tetapi tujuannya sama: mencari rezeki dari mereka yang datang ke kawasan Jam Gadang.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Adzkia Arif

Seorang penulis honorer yang bercita-cita punya perusahaan media sendiri. Tukang jalan-jalan dan suka bercerita.

Adzkia Arif

Seorang penulis honorer yang bercita-cita punya perusahaan media sendiri. Tukang jalan-jalan dan suka bercerita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Masjid Tuo Kayu Jao, Masjid Tua Berusia Ratusan Tahun di Sumatra Barat