Interval

Titin Riyadiningsih: Memajukan Wisata dari Desa

Bagi sebagian anak muda, bekerja di kota-kota besar adalah impian yang harus dicapai. Gaji yang tinggi, jenjang karir yang menjanjikan, hingga fasilitas dan sarana yang lengkap membuat banyak anak muda memilih meninggalkan kampung halamannya demi mencapai ambisi dan hidup, yang katanya akan lebih makmur Berbeda dengan Titin Riyadiningsih, dia lebih memilih untuk kembali ke kampung halamannya untuk mengabdi dan menjadikan desanya berdaya sebagai desa wisata.

Titin Riyadiningsih (Instagram_titinriyadiningsih)
Titin Riyadiningsih via Instagram/titinriyadiningsih

Malam itu, Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 yang digelar pada Desember 2021 mengumumkan Desa Wisata Sumberbulu sebagai peraih Juara 1 dalam kategori souvenir. Terpancar rasa tidak percaya dalam diri Titin dan teman-temannya. Perjuangannya selama ini akhirnya membuahkan hasil yang signifikan sekaligus membuktikan pada semua orang bahwa sebuah desa bisa berkembang dengan usaha yang tekun. Malam itu bakal menjadi malam yang akan dikenangnya seumur hidup.

Bagaimana bisa seseorang dengan latar belakang kesehatan gigi, beralih peran menjadi penggagas desa wisata dan sukses membawa perubahan bagi masyarakatnya? 

Awal Mula Perjuangan

Assesment lapangan dan sertifikasi desa wisata berkelanjutan di Desa Sumberbulu (Instagram_titinriyadiningsih)
Assesment lapangan dan sertifikasi desa wisata berkelanjutan di Desa Sumberbulu via Instagram/titinriyadiningsih

Jauh sebelum Desa Sumberbulu gegap gempita merayakan keberhasilan mereka, ada masa-masa perjuangan panjang yang menjadi kenangan Titin. Sekembalinya dari kuliah Higiene Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Titin sempat bekerja di klinik selama satu tahun sebelum memutuskan pulang ke Sumberbulu untuk kemudian mengembangkannya sebagai desa wisata. 

“Semasa kuliah di Jogja sering bantuin teman pengabdian masyarakat, sering bantu teman penelitian juga, melihat ke Desa Wisata Pentingsari gitu kan.” 

Dirinya kemudian melihat potensi wisata di Sumberbulu yang belum pernah dikelola, padahal orang-orang seringkali datang ke Sumberbulu. Namun karena tidak adanya pengelolaan, akhirnya hanya berakhir sebatas kunjungan tanpa adanya dampak ke masyarakat sekitar.  Gairahnya yang timbul karena seringkali kerja lapangan, berinteraksi dengan masyarakat, jalan-jalan, membuatnya berpikir untuk menjadikan desanya berkembang layaknya desa-desa lainnya yang sudah lebih dahulu menjadi desa wisata.

Pada tahun 2018, dirinya bersama teman-temannya kuliah dan karang taruna menganalisis apa saja potensi yang ada di desa dengan metode SWOT, dan juga mewawancarai masyarakat tentang arah pembangunan di desa tersebut. Selesai kegiatan tersebut, didapatlah gambaran besar untuk arah pembangunan Sumberbulu sebagai desa wisata.

Titin banyak merujuk ke Desa Pentingsari sebagai contoh yang paripurna sebuah desa wisata. “Pentingsari kan kulturnya hampir sama dengan di Sumberbulu, meski di sana—Pentingsari dekat dengan lereng Merapi yang menjadi pendukungnya. Tapi yang terkuat di sana adalah sumber daya manusianya.”

“Setelah dirunut dan analisa SWOT, ternyata potensi dan kultur Sumberbulu hampir sama dengan di Pentingsari.”

Segera setelah permasalahan dan tujuan berhasil dipetakan, Titin dan kawan-kawan mendatangi para tokoh masyarakat untuk mempresentasikan terkait kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Tidak disangka, paparan Titin disambut antusias sebagian masyarakat yang menyatakan siap untuk membangun desa secara bersama-sama, meskipun ada sebagian yang ragu apakah ini akan berjalan dengan mulus.

Dengan niat baik membangun desa, tidak serta merta semuanya mau menerima ide terobosan Titin. Titin yang sebelumnya dikenal tidak pernah mengikuti kegiatan karang taruna di desa tiba-tiba muncul dengan ide-ide desa wisata. Setahun pertama, perjuangan meyakinkan warga desa banyak menguras pikiran dan tenaga. Salah satu perjuangan yang paling diingatnya adalah pencarian rumah yang diproyeksikan akan menjadi rumah tinggal untuk wisatawan. Selama 3 bulan, Titin dan teman-temannya mendapati hanya lima rumah yang bersedia.

“Buat apa sekolah tinggi-tinggi tapi sekarang masih nganggur, masih ngalor ngidul,” ucap salah seorang warga, yang masih membekas di benaknya. 

Kerja keras baru saja dimulai. Selama dua tahun awal, perjuangan tersebut merupakan perjuangan yang benar-benar berat karena semua berangkat dari nol. “Berkat kegigihan teman-teman dan bagaimana kita mencari peluang untuk menjadi desa wisata, belajar ke desa wisata yang lain, analisis desa yang sudah menjadi desa wisata, sampai tahun 2019 kita akhirnya memproklamirkan diri sebagai desa wisata.”

Jalan itu Terbuka

Dirinya sempat terpikir untuk menyerah, apalagi melihat teman-teman kuliahnya yang memilih jalan hidup yang lebih mudah dibanding dirinya. “Udah lah, ngapain,” jerit pikirannya yang sudah mulai meronta untuk berpindah haluan. Untungnya dia dikelilingi oleh teman-teman yang tetap bersamanya meskipun keadaan lagi susah. Dirinya dan teman-teman mencari berbagai cara untuk pendanaan desa. Mereka sempat berjualan baju bekas yang keuntungannya kemudian digunakan untuk mempercantik desa seperti beli bak sampah dan membangun gapura.

Kepala desa pun sebenarnya tidak merestui berdirinya Sumberbulu sebagai wisata. Tetapi kegigihan Titin untuk mengikuti berbagai pelatihan dan seminar yang diadakan oleh Dinas Pariwisata membuatnya memiliki relasi yang cukup kuat dan luas, alhasil Titin berhasil mendapatkan pendampingan dari Kementerian Pariwisata pada 2019. Hal tersebut cukup mampu mendorong kepercayaan diri dan dukungan masyarakat desa meski belum 100%. 

“Kita tidak memaksa masyarakat untuk berubah menjadi desa wisata, kita memberikan bukti kepada mereka bahwa Sumberbulu itu sebenarnya bisa menjadi desa wisata.”

Untuk menambah promosi dan minat, Titin dan teman-teman juga mencetak brosur dan menitipkannya pada dinas terkait untuk disebarkan. Juga, promosi ke sekolah dan instansi untuk menambah jumlah kunjungan. 

Titin juga mengajak masyarakat desa untuk kunjungan ke Desa Pentingsari, untuk melihat langsung bagaimana pengelolaan desa wisata dan bertukar pengalaman dalam manajemen desa wisata. “Sepulang dari Pentingsari ada perubahan lagi gitu. Dari lima homestay sekarang sudah 48 homestay yang bergabung dengan kita.” Sekarang, untuk menambah personel homestay, Titin cukup menghubungi lewat ponsel, tidak lagi seperti dulu yang harus door to door.

Salah satu yang menonjol dari Desa Sumbernbulu adalah souvenirnya (Instagram_titinriyadingingsih)
Salah satu yang menonjol dari Desa Sumbernbulu adalah souvenirnya via Instagram/titinriyadiningsih

“Alhamdulillah, sudah banyak perubahan,” ucapnya.

Lanskap Sumberbulu yang didominasi persawahan menjadikan masyarakatnya agraris dengan hasil alam berupa beras, jagung, singkong, ketela dan lain sebagainya. Sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai petani atau buruh tani. Seperti yang kita tahu, nasib petani Indonesia tidaklah mujur. Dari sekian panjang alur ekonomi pemasaran suatu komoditi, petanilah yang seringkali mendapat banyak kerugian dibanding yang lainnya. Menjadi desa wisata, salah satu tujuannya adalah memperbaiki taraf hidup masyarakat agar ada kecakapan selain dari bertani.

Sertifikasi sebagai desa wisata yang berkelanjutan pun sudah diterima Sumberbulu yang langsung diserahkan oleh Menteri Pariwisata, Sandiaga Uno. Sebelumnya, pengelola desa wisata diberikan pelatihan dan arahan untuk menjadi desa wisata berkelanjutan. Persiapan yang dilakukan terkait birokrasi tidak hanya secara fisik, tetapi juga perlu melengkapi dokumen yang jumlahnya mencapai 174 buah yang terdiri dari beberapa kategori: kelembagaan, ekonomi, sosial-budaya, kelestarian lingkungan. Selama seminggu mereka berusaha untuk memenuhi syarat dokumen tersebut dan juga assessment dari ahli pariwisata. 

Puncak Tapi Bukan Penghabisan 

Pada malam ADWI 2021, Titin dan kawan-kawan diundang ke Jakarta oleh Kementerian Pariwisata. Mereka juga mendapat pesanan berupa lukisan 7×4 meter yang dilukis oleh teman-teman Sumberbulu untuk ikut serta dipamerkan. Di akhir acara, mereka tidak hanya memboyong satu piala, tapi juga berhasil mendapatkan sertifikat desa wisata berkelanjutan yang berlaku selama tiga tahun. 

“Momen di mana kita kemarin diundang ke Jakarta, menerima sertifikat dan menjadi juara 1 kategori souvenir, membuat saya sendiri tuh nggak percaya sampai saat ini bisa sampai di titik itu. Dari hal kecil yang saya lakukan bareng teman-teman di Sumberbulu, sekarang sudah bernilai banyak untuk masyarakat yang ada di Sumberbulu.”

“Karena kembali lagi yang kita kejar semuanya dari awal itu bukan serta merta uang, tapi bagaimana caranya kita bisa mewadahi masyarakat lebih tahu, lebih paham bahwa tantangan ke depan itu lebih banyak, tidak hanya kita sekedar hidup di desa,” tambahnya. 

Sekarang Titin sudah menjabat sebagai direktur Bumdes di Desa Pendem dan perannya di Sumberbulu sudah beralih menjadi penasihat. Sudah saatnya penyelenggaraan desa wisata dikaderisasi dengan baik agar kesempatan belajar dan berkembang selalu ada bagi generasi muda. Titin sekarang lebih banyak berada di balik layar untuk memberi arahan.

Semakin menjamurnya desa wisata berarti semakin banyak yang ingin berkecimpung masuk mengurus desa dan segala kelebihannya wisatanya. Hal itu bagus, mengingat pemerintah juga mencanangkan pembangunan nasional berkelanjutan yang dimulai dari desa. Titin mengingatkan kepada siapapun yang ingin terjun mengurus desa wisata untuk jangan berfokus kepada materi tapi fokuslah pada pembangunan masyarakat atau lingkungan. Pola pikir yang berfokus pada materi akan menjerumuskan para pengelola pada langkah yang terbatas. 

“Kalau diniatkan untuk memperbaiki lingkungan, memperbaiki pola pikir masyarakat, secara otomatis akan bertahap naik. Memang butuh proses, niat, perjuangan, komitmen, konsistensi,” paparnya. “Dengan adanya desa wisata, perubahan dalam segi pemikiran, ekonomi, dan pendidikan itu berubah drastis. Karakter masyarakat akan terbentuk secara otomatis.”


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
IntervalPilihan Editor

Cerita dari Bantaran Kali, “Sebuah Tempat Terbaik di Dunia”

Interval

Menghidupkan Kembali Kota Lama Semarang

IntervalPerjalanan Lestari

Laut Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Interval

Arkeologi dalam Perspektif Ali Akbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Kampung Todo’, Hujan, dan Cerita Perjalanannya (2)