Travelog

Selamat Pagi dari Negeri di Atas Awan To’Tombi Lolai

Setelah menunggu beberapa pekan, akhirnya saya akan benar-benar memulai perjalanan menuju Tana Toraja. Salah satu tempat yang sudah sejak lama begitu ingin saya sambangi. Dalam perjalanan ini saya bersama Nadia—sahabat saya sejak duduk dibangku sekolah dasar—serta beberapa temannya yang ia temui saat KKN di Kabupaten Pinrang. Mereka adalah Yusuf, Kak Asriani, Kak Hasrul, Tommy, Kak Evos, Kak Busran, Aswin, dan Kak Songgeng—yang menambah deretan panjang perkenalan saya dengan orang-orang dalam petualangan kali ini.

Kami bertolak dari Kota Pinrang pukul 14.30 dengan lima sepeda motor berboncengan. Sesuai rencana awal, kami seharusnya berangkat dari Pinrang paling lambat pukul 10.00 WITA. Hanya saja karena saya berangkat dari Kabupaten Sidrap dan menemui kendala selama perjalanan, akhirnya saya baru tiba di Pinrang sekitar pukul 1 siang.

Motor kami melaju sepanjang jalan Poros Pinrang menuju Enrekang. Jalanan tampak cukup lenggang, sesekali kami berpapasan dengan beberapa truk besar yang mengangkut barang begitu banyak dan beberapa mobil yang saling susul-menyusul. Setelah beberapa saat, kami singgah sebentar di sebuah warung kecil di daerah Enrekang untuk istirahat dan membeli minuman.

Topografi jalur dari Kabupaten Enrekang menuju Tana Toraja terdiri dari tikungan tajam yang menjadi tantangan tersendiri dalam perjalanan kami, serta beberapa jalanan berlobang, yang membuat kami harus rela menghantam kerasnya jalanan tersebut. Namun, pegunungan karst mendominasi perjalanan kami, yang tampak sangat menakjubkan, serta perpaduan bebatuan alam yang menjulang tajam, mulai dari yang tumpul sampai cadas bergerigi, serta gugusan gunung-gunung hijau dan juga gundukan-gundukan tanah menambah indah panorama sepanjang perjalanan menuju Tana Toraja.

Pukul 16.50 WITA kami berada tepat di depan gapura bertuliskan “Selamat Datang di Tana Toraja”. Gapura ini sekaligus menjadi tanda jika rombongan kami telah memasuki Kabupaten Tana Toraja. Kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Makale, sebuah kecamatan yang juga merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Tana Toraja.

Ketika tiba di Toraja, saya baru memahami bahwa ternyata Tana Toraja terbagi dalam dua kabupaten, yaitu Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara. Makale sebagai Ibu Kota Tana Toraja, sedangkan Toraja Utara berpusat di Rantepao. Jarak antara Makale dan Rantepao hanya terpaut setengah jam perjalanan.

Monumen Perjuangan Toraja
Monumen Perjuangan Toraja/Fatimah Majid

Tepat pukul 17.35 WITA, rombongan kami tiba di Monumen Perjuangan Toraja, yang berada di tengah kota. Di sebuah kolam berdiri kokoh patung pahlawan Tana Toraja, Lakipadada. Lakipadada adalah nama pejuang lokal dari Tana Toraja. Kolam ini disimbolkan sebagai monumen perjuangan Toraja yang diresmikan Wapres Jusuf Kalla pada 28 Oktober 2006 lalu. Selain itu, tak jauh dari kolam berdiri kantor DPRD Tana Toraja yang dibangun dengan ciri khas rumah adat Tana Toraja, yaitu rumah tongkonan. Tampak dari sebuah puncak bukit berdiri megah patung Yesus, yang menjadi ikon di Tana Toraja yang juga merupakan patung Yesus tertinggi di dunia.

Monumen perjuangan ini menjadi tempat kami beristirahat dan menikmati jajanan yang sedang mangkal tak jauh dari tempat kami memarkirkan motor. Senja tampak sangat indah dari tempat ini, merah merekah, dengan siluet tanda salib.

Kami kembali menempuh perjalanan menuju To’Tombi. Jarak tempuh dari Monumen Perjuangan Toraja menuju To’Tombi kurang lebih sekitar 30-40 menitan. 

Tiba di To’Tombi Lolai

Tempat Pembelian Tiket Masuk To_Tombi
Tempat pembelian tiket masuk To’Tombi Lolai/Fatimah Majid

To’Tombi Lolai berada di Kampung Lolai, Desa Benteng Mamullu, Kecamatan Kapala Pitu, Kabupaten Tana Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Berada di ketinggian 1.300 mdpl dan terkenal dengan julukan negeri di atas awan, dengan suguhan kumpulan awan putih yang memanjakan mata.

Perjalanan menuju To’Tombi dapat ditempuh menggunakan sepeda motor atau mobil, dengan kondisi jalan menanjak dan beberapa tikungan tajam.

Saat di To’Tombi Lolai kami kemudian membayar biaya retribusi sebesar Rp15.000/orang. Jika ingin mendirikan tenda dikenakan biaya Rp200.000/tenda yang disediakan oleh pengelola wisata. Dan dipersilakan mendirikan tenda yang dibawa masing-masing dengan membayar biaya sebesar Rp50.000/tenda.

Fasilitas Cafe di To_Tombi
Fasilitas kafe di To’Tombi/Fatimah Majid

Pengelola To’Tombi menyediakan fasilitas yang terbilang sangat lengkap, mulai dari vila, Toraja traditional house, gazebo, tents, cafe dan juga kantin, flying fox, ruangan untuk salat, toilet dan tempat mandi yang bersih. Kawasan To’Tombi dapat menjadi tempat yang cocok untuk melepas penat.

Setelah selesai membayar biaya retribusi, kami kemudian mengangkut barang bawaan dan segera mendirikan tenda. Setelah selesai mendirikan tenda kami menanak nasi dan menyiapkan perlengkapan makan.

Kami berkumpul di belakang tenda, menikmati makanan yang kami bawa, ayam yang sudah dimarinasi dan direbus serta beberapa bungkus mi instan. Sesekali kami bercanda dengan selera humor yang sama. Setelah selesai makan, beberapa diantara kami menyeruput kopi dengan khidmat, sambil mengamati lanskap sekitar.

Santapan Malam
Santap malam/Fatimah Majid

Saat malam hari udara di To’Tombi Lolai terasa sangat sejuk, dengan hamparan pepohonan pinus dan gulungan kabut yang tebal. Pemandangan Tana Toraja dari To’Tombi memancarkan cahaya yang tampak semarak di malam hari.

Matahari Terbit di To’Tomboi Lolai

To_tombi di Pagi Hari
To’Tombi saat pagi hari/Fatimah Majid

Sekitar pukul 4 pagi, To’Tombi sudah ramai oleh wisatawan. Perlahan fajar mulai menyeruak. Pagi itu, To’Tombi mulai mewujud dan berubah dari siluet menjadi lukisan lanskap yang indah. Gurat-guratnya semakin nyata. Gumpalan awan putih dan warna langit yang merah merekah. Cahaya matahari mengambil alih pagi itu.

Saya kemudian mencari tempat duduk yang nyaman untuk menikmati pemandangan yang menakjubkan ini. Sesekali mengambil beberapa foto dan video.

Setelah cukup lama menikmati panorama matahari terbit. Kami mengambil beberapa foto untuk mengabadikan momen secara bergantian. Sesekali meminta bantuan wisatawan lain untuk memotret rombongan kami.

Usai itu, kami bersiap untuk pulang. Membereskan tenda, membersihkan sampah-sampah dan memastikan tidak ada sampah yang tertinggal. 

Udara pagi itu menenangkan, menuntun perjalanan kami meninggalkan To’Tombi. Dengan hamparan pepohonan pinus yang berjejer sepanjang perjalanan kami. Suasana pedesaan yang selalu dirindukan, berpapasan dengan anak-anak kecil berseragam putih merah menjejak aspal sambil melempar senyum ramah pada kami.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan. Menulis untuk memaknai hidup. Punya mimpi keliling Indonesia.

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan. Menulis untuk memaknai hidup. Punya mimpi keliling Indonesia.
    Artikel Terkait
    Arah SinggahTravelog

    Diplomasi Sepakbola Timur

    Arah SinggahTravelog

    Memulai Kebun Pertama di Mekko

    Arah SinggahTravelog

    Harap Cemas Penantian Mekko

    Arah SinggahTravelog

    Lontar, Kacang Hijau, dan Gula Sabu

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Mengenal Budaya Toraja yang Diceritakan Faisal Oddang dalam ‘Puya ke Puya’