Travelog

Air Terjun Karawa, Pesona Wisata di Kabupaten Pinrang

Pada pertengahan bulan Mei, saat matahari belum sempurna naik di ufuk timur, saya bersama dua sepupu serta beberapa temannya memacu kendaraan dari Kota Pinrang menuju Jalan Poros Polman-Pinrang mendatangi salah satu wisata yang menjadi buah bibir masyarakat Pinrang yakni Air Terjun Karawa.

Berteduh di daerah Leppangang
Berteduh di daerah Leppangang/Fatimah Majid

Rombongan kami berjumlah delapan orang, melaju dengan empat sepeda motor di jalan poros yang penuh sesak oleh kendaraan lain. Belum setengah perjalanan, hujan turun cukup deras. Kami berteduh di salah satu masjid di daerah Lepanggang. Setelah menunggu beberapa saat, kami memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan dalam kondisi hujan.

Harga Tiket Masuk Air Terjun Karawa

Air Terjun Karawa masih dikelola secara tradisional oleh masyarakat setempat. Untuk masuk ke objek wisata ini, dikenakan tarif relatif murah. Harga tiket anak-anak maupun orang dewasa sama. Begitu juga, tidak ada perbedaan harga untuk hari biasa dan akhir pekan. Harga karcisnya Rp5.000 per orang. Pendapatan dari HTM tersebut nantinya dikelola oleh masyarakat setempat untuk membersihkan sampah-sampah yang ditinggalkan pengunjung juga sebagai biaya perawatan kawasan.

Rute Menuju Air Terjun Karawa

Berdasarkan informasi dari Google Maps, Air Terjun Karawa terletak di Desa Betteng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang. Membutuhkan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan dari Kota Pinrang. Perjalanan melewati Jalan Poros Polman-Pinrang yang dipadati kendaraan roda empat yang melaju kencang. 

Lokasi air terjun Karawa ini cukup strategis, dimana pada bagian selatan berbatasan dengan kota Pare-Pare, sebelah utara berbatasan dengan Tana Toraja, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Enrekang, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Polmas.

Pagi itu, kami bertolak dari Kota Pinrang. Untuk bisa sampai di lokasi Air Terjun Karawa, pengunjung akan melewati lokasi PLTU Bakaru yang dapat dikatakan sebagai pintu masuk menuju kawasan wisata tersebut. Begitu belok ke jalan menuju Air Terjun Karawa, kami dibuat takjub dengan pemandangan pegunungan hijau yang berselimut kabut. Rumah-rumah warga tampak menyenangkan, hewan peliharaan mereka berlarian di pekarangan.

Rumah Warga yang Dilalui Menuju Air Terjun Karawa
Rumah warga kami lalui/Fatimah Majid

Setelah cukup lama berkendara, kami berhenti di salah satu rumah warga untuk memarkirkan kendaraan. Kondisi jalan masih becek karena hujan sehingga kendaraan kami tak bisa melewatinya. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan sejauh satu kilometer. Di sepanjang perjalanan kami menjumpai beberapa rumah warga, juga beberapa warung-warung kecil. Untuk biaya parkir di rumah warga dikenakan Rp3.000 untuk setiap kendaraan.

Karena harus berjalan kaki, kami jadi bisa menikmati perjalanan. Kondisi jalan yang masih tanah becek dan bebatuan, serta menanjak tak menyulut kami untuk menyerah. Susana desa begitu asri kami rasakan. Tak jarang, kami berinteraksi dengan masyarakat sekitar yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Suasana Air Terjun Karawa

Air Terjun Karawa
Air Terjun Karawa/Fatimah Majid

Setelah berjalan sejauh kurang lebih satu kilometer, kami tiba di Air Terjun Karawa. Air terjun ini memiliki ketinggian mencapai 50 meter, berada di puncak Gunung Karawa. Air yang mengucur deras, dengan air terjun bertingkat, penuh bebatuan, serta dikelilingi dengan rerimbunan pepohonan besar benar-benar membayar habis perjalanan kami. Dengan ketinggian tersebut, kami bisa mendengar deru air yang turun dari kejauhan. Suasana sangat sejuk, suara kicauan burung merdu menggema. Kami bermain air terjun cukup lama.

Di sini sudah tersedia beberapa fasilitas seperti toilet, gazebo, tempat duduk, tempat ganti pakaian, serta warung makan. Hanya saja, warung makan tidak buka setiap harinya. Selain itu, fasilitas-fasilitas ini juga belum dikelola dengan maksimal oleh masyarakat sekitar.

Pukul 14.20 WITA, kami meninggalkan Air Terjun Karawa. Perjalanan kembali kami tempuh dengan berjalan kaki sejauh satu kilometer. Karena jalan sudah cukup kering dan menurun, perjalanan kami tempuh dengan lebih cepat.

Kami tiba di rumah warga tempat kami memarkirkan kendaraan. Sebelum beranjak pulang, kami membersihkan diri dan mengobrol satu sama lain. Lalu, pas perjalanan pulang, kami berhenti di salah satu warung makan untuk mengisi perut. Setelahnya, barulah kami pulang ke tempat masing-masing.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan. Menulis untuk memaknai hidup. Punya mimpi keliling Indonesia.

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan. Menulis untuk memaknai hidup. Punya mimpi keliling Indonesia.
    Artikel Terkait
    Pilihan EditorTravelog

    Melaut Bersama Sapi Menuju Kapoposang

    Travelog

    Bukit Seger dan Senja Temaram Mandalika

    NusantarasaTravelog

    Kerak Telor Citadelweg

    Travelog

    Belajar Sejarah Geologi Indonesia di Museum Geologi Bandung

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Curug Tilu Ciririp: Dulu Tersembunyi, Kini Mudah Disambangi