NusantarasaTravelog

Ketagihan Geseng Entok, Kuliner Khas Banyuwangi

Ada yang suka menyantap entok? Entok atau entog di sebagian Pulau Jawa disebut mentok. Entok adalah jenis unggas yang masih satu keluarga dengan bebek, nama latinnya cairina moschata, selain itik serati juga disebut bebek manila. Banyak olahan entok diantaranya pedesan entok, entok slenget, tongseng, kari,  rendang, rica-rica, gule, sate, dan satu lagi mungkin banyak yang belum kenal dengan olahan geseng entok khas Banyuwangi.

Bersama Bu Tin (baju merah)
Bersama Bu Tin/Malikha Emayusita

Geseng entok merupakan kuliner yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, berasal dari Dusun Wijenan Kidul Desa Singolatren. Menariknya hanya warga dusun tersebut yang bisa membuat dengan rasa pas. Warga dusun lainnya di desa yang sama ketika mengolahnya tak bisa menghasilkan cita rasa sama. Sejak dulu geseng dibuat hanya pada momen tertentu, yakni acara keagamaan seperti Idulfitri, Iduladha, dan Maulid Nabi Muhammad, jadi tidak dijual. Karena banyak yang penasaran ingin beli, barulah ada yang membuka usaha kuliner bernama Warung Geseng Wijenan Bu Tin, yang sudah berjualan lebih dari lima tahun.

Daun Wadung, Ciri Khas Geseng

Pupus Daun Wadung
Pupus daun wadung/Malikha Emayusita

Penasaran ingin mencicipi geseng mentok, saya segera meluncur ke Warung Geseng Wijenan Bu Tin yang berlokasi di Dusun Wijenan Desa Singolatren Kecamatan Singojuruh, 19 kilometer dari pusat Kota Banyuwangi. Akhirnya ketemulah yang dicari. Saat itu sudah lewat jam makan siang, sehingga suasana sepi dan tak perlu antri. Bu Tin, si pemilik warung, menyambut kami. Beliau dengan sabar menunggu kami memilih makanan dan minuman.

Keterangan pada spanduk tersedia delapan jenis makanan, olahan entok berupa geseng, gule, dan sate. Bebek dimasak geseng dan digoreng krispi. Sedangkan ayam dibuat geseng dan sate. Selain itu kita juga bisa memilih sate jamur. Minumannya ada temulawak, teh, dan jeruk tersedia dalam pilihan dingin maupun panas. Juga tersedia angsle. Harga makanan mulai dari Rp20.000, sedangkan minumannya dibanderol mulai dari Rp5.000. Warung ini buka setiap hari jam 08.00 – 21.00.

Resep geseng otentik didapat Bu Tin dari warisan turun temurun dengan bumbu cabai rawit, cabai besar, kunyit, kemiri, terasi, gula, dan garam. Uniknya, resep ini tanpa bawang merah dan bawang putih. Yang membuat geseng terasa khas karena kehadiran pupus daun wadung menghasilkan rasa masam. Daunnya berbentuk dan bertekstur seperti daun so (daun melinjo), yang muda rasanya masam, yang tua terasa pahit, tanaman ini tumbuh di hutan.

Sembari menunggu pesanan dibuat, kami mengamati sekeliling warung. Tampak beberapa foto terpajang di dinding, di antaranya foto Bu Tin bersama bupati periode 2010-2020, Abdullah Azwar Anas yang mengunjungi lapaknya di Pasar Wit-witan Alasmalang pada 1 November 2019 lalu.

Cita Rasa yang Bikin Nagih

Geseng
Geseng/Malikha Emayusita

Kami memesan tiga jenis geseng yaitu geseng mentok, geseng bebek, dan geseng ayam kampung. Dari ketiga jenis unggas yang dipesan, potongan dada mentok berukuran paling besar, satu ekor dipotong menjadi enam bagian. Dominan daging tebal yang empuk dan hanya menyisakan tulang kecil, lalu pupus daun wadung yang dirajang mempercantik tampilan geseng, memperkaya rasa, membuat kesat, dan melenyapkan bau anyir. Bumbu geseng meresap kuat hingga ke dalam. Gigitan pertama tak seperti yang saya bayangkan karena katanya komposisi cabainya banyak, nyatanya sensasi pedas tak begitu menyengat.

Setelah dua suapan, terlebih ketika mencabik bagian daging yang menempel pada tulang, barulah pedas menjalar. Bagi yang bukan penggila pedas, sensasi ini tak hanya terasa di lidah tetapi seisi mulut, namun tak menyurutkan niat untuk mencocolkan daging mentok ke genangan bumbu (sambal) di sekitarnya. Bahkan memakan nasi dengan kuah bumbunya saja sudah memanjakan lidah bikin nagih.

Benar bahwa ada yang bilang kalau kuliner Banyuwangi itu cita rasanya tak selalu langsung dikenali dalam gigitan atau suapan pertama. Para petualang rasa saat menyantap kue bercita rasa manis akan merasakan karakter gula setelah beberapa gigitan. Begitu juga ketika mencicipi rasa gurih dan pedas perlahan menguat dalam beberapa suapan.

Es Temulawak
Es temulawak/Malikha Emayusita

Penjualnya ramah dan dermawan, tak disangka ketika akan melahap, kami beruntung diberi semangkuk kuah bumbu untuk menyemarakkan cita rasa geseng yang kami santap. Untuk melepas dahaga karena sensasi pedas, kami memilih es temulawak. Minuman buatan Bu Tin ini begitu diteguk, tercium aroma khas temulawak kemudian turun membasahi tenggorokan diiringi sensasi dingin yang menciptakan rasa segar. Setelah beberapa tegukan, saya melanjutkan hingga piring licin. Benar-benar makan siang yang memanjakan perut.

Di depan warung tampak pohon wadung, menjadi daya tarik pembeli yang penasaran dengan bentuk dan tekstur daun tersebut. Benar seperti yang saya lihat dalam foto dan video, daunnya berbentuk dan bertekstur seperti daun so (daun melinjo). Rupanya Bu Tin tak menggunakan daun tersebut untuk masakannya. Dia memperolehnya dari tempat lain.

Tertarik mencoba geseng mentok? Segera datang ke Dusun Wijenan Kidul.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Suka sekali membaca, menulis, dan bepergian menjelajahi tempat baru, serta berkenalan dengan budayanya termasuk kuliner. Lalu membagikan cerita di akun Instagram @maliheh_muchith

Suka sekali membaca, menulis, dan bepergian menjelajahi tempat baru, serta berkenalan dengan budayanya termasuk kuliner. Lalu membagikan cerita di akun Instagram @maliheh_muchith
    Artikel Terkait
    Arah SinggahTravelog

    Diplomasi Sepakbola Timur

    Arah SinggahTravelog

    Memulai Kebun Pertama di Mekko

    Arah SinggahTravelog

    Harap Cemas Penantian Mekko

    Arah SinggahTravelog

    Lontar, Kacang Hijau, dan Gula Sabu

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Menyusuri Aneka Kuliner Lezat di Sepanjang Jalur Mudik