Semasa Corona

Tidak Ada Badai yang Datang untuk Menetap

Tahun ketika aku lulus dari universitas tak kusangka berubah menjadi sebuah tahun yang berat untuk banyak negara di dunia ini, salah satunya Indonesia.

Hai, aku Christofer. Perjalanan hidupku sudah hampir dua puluh dua tahun dan pada tahun ini datang sebuah tantangan yang besar. Aku tidak bisa bekerja paruh waktu lagi, kantor tempat aku bekerja tidak beroperasi, hanya berdiam di rumah dan tidak bisa melakukan apa-apa dikarenakan sebuah virus menular yang telah tersebar di banyak negara.

Untuk seorang yang memiliki kepribadian ekstrover sepertiku, rasanya menyebalkan untuk berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa. Lantas apa yang bisa kulakukan?

Pertama kali aku tahu wabah ini, perasaanku hanya biasa. Tetapi, seiring berjalannya waktu, mulai muncul perasaan khawatir. Sampai kapan virus ini menyebar? Korban yang mengidap virus semakin banyak dan sudah memasuki minggu keempat isolasi di rumah.

Warga berjalan di trotoar jalan yang sepi saat pemerintah melakukan penutupan beberapa akses jalan utama untuk mencegah penyebaran COVID-19 di Bandung, Jawa Barat, 1 April 2020 via TEMPO/Prima Mulia

Percayalah, bersyukur bukan hal yang mudah kita ucapkan ketika suasana semakin bertambah parah. Akan tetapi, dalam perjalananku menunggu, aku menemukan satu quote yang begitu melegakan, yaitu “Not all storms come to disrupt your life, some come to clear your path.” Hal ini kemudian membuatku semangat dan tetap mau berjuang, karena perjalanan belum selesai; harapan untuk bebas dari virus masih ada dan tidak ada “badai” yang datang untuk menetap.

Aku pun teringat akan mimpiku untuk bisa membawa keluargaku jalan-jalan ke luar kota dengan uang hasil jerih payahku pada tahun ini. Walau keadaan mungkin masih susah untuk mencari, aku tak kehilangan semangat untuk mencari pekerjaan yang tersedia di berbagai website lowongan. Aku selalu memberikan CV milikku—kemudian aku membereskan rumahku yang berantakan.

Teringat pula bahwa ketika masih awal masuk kuliah aku selalu mengajak papaku untuk beberes, tetapi tidak pernah terealisasi dikarenakan kesibukan kuliah dan bekerja paruh waktu. Tak disangka, dalam keadaan yang mengharuskan penduduk Indonesia berdiam di rumah, aku pun jadi memiliki waktu untuk membenahi rumah kami, bersama papa, mama, bahkan adik-adikku. Alhasil, sedikit demi sedikit rumah kami mulai bersih dan rapi. Tidak itu saja, dengan menghabiskan waktu bersama, kami bisa semakin dekat satu dengan yang lain.

Pandanganku berubah, ketika aku dapat melihat suatu sudut pandang lain dari kejadian yang mungkin menjadi momok bagi beberapa negara di dunia ini. Aku menyadari tidak semua bencana mendatangkan hal tidak baik. Masih ada hal baik yang bisa kita dapatkan dari setiap keadaan.

Dan tahukah hal yang menarik? Kadang kita sebagai manusia itu lebih sering fokus kepada hal yang berkaitan dengan negatif dan melupakan hal positif yang masih bisa kita ambil dari setiap kejadian hidup kita. Ya, salah satunya aku dulu. Tetapi sekarang aku bisa lebih membuka mataku dan tetap berjuang dalam keadaan sekarang. Kini sudah sebulan masa karantina di rumah dan virus masih tetap menyebar. Tapi hal ini pasti kita lewati, kok.

Bagaimana dengan kalian? Jangan menyerah, ya. Dan selalu bersyukur.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Sabar, suka bercanda, dan tidak mudah menyerah.

Christofer Erfrans

Sabar, suka bercanda, dan tidak mudah menyerah.
Artikel Terkait
Pilihan EditorSemasa Corona

Empat Babak Corona

Pilihan EditorSemasa Corona

Bermodal Percaya, Mengajar Daring Semasa Corona

Pilihan EditorSemasa CoronaTravelog

Aku pun Berjalan (2): Antara Raden Saleh Raya dan Kwitang

Pilihan EditorSemasa CoronaTravelog

Aku pun Berjalan (1): Menelusuri Trotoar Cikini

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *