Pilihan EditorTravelog

Menenun, Warisan Budaya dari Pringgasela Selatan

Sambil melangkah pelan menelusuri gang, saya sesekali mengucapkan kata “tabik”¹ pada bapak-bapak yang sedang bersantai di teras rumah. Gang yang berada di Desa Pringgasela Selatan, Lombok Timur, itu hanya cukup untuk satu motor—itu pun harus ekstra hati-hati. Di teras sejumlah rumah tampak peralatan menenun.

Eci, salah seorang kawan yang memang tinggal di desa ini, memimpin berjalan di depan. Sementara saya yang baru pertama kali berkunjung memilih untuk di belakang saja sambil celingak-celinguk ke hampir ke setiap rumah yang kami lewati.

tenun pringgasela

Bahan-bahan pewarna alami/Syukron

Suara anak-anak yang bermain, bunyi motor yang berjalan pelan melewati gang, dan juga suara “kletak!” yang berasal dari gedogan (alat tenun dari kayu) yang sedang diadu ibarat kicau burung yang saling bersahutan.

Langkah Eci terhenti di lorong sebuah rumah. Sudah ada beberapa ibu dan remaja perempuan yang menunggu kami. Di Lombok memang ada beberapa desa perajin tenun. Selain Pringgasela, ada Desa Sade dan Desa Sukarara yang juga tersohor tenunannya. Namun Desa Pringgasela Selatan menawarkan cerita tenun yang menarik untuk digali.

Tenun Pringgasela ala Nine Penenun

Eci kemudian bercerita bahwa mereka ini adalah anggota dari kelompok Nine Penenun. Terbentuk sekitar awal tahun 2016, Nine Penenun menjadi semacam koperasi kain tenun Pringgasela.

“’Nine’ itu artinya perempuan, karena memang menenun itu sangat identik dengan perempuan,” jelas Eci.

Sebelum ada kelompok Nine Penenun, perempuan di sini lebih sering meminjam modal dan menjual hasil tenunan ke tengkulak. Perputaran ekonomi yang tergantung pada tengkulak inilah yang menimbulkan keresahan dan kurangnya kesejahteraan. Karena itulah mereka berinisiatif membuat kelompok koperasi untuk memberikan perlindungan dan kesejahteraan pada penenun. Mereka sadar bahwa kain tenun adalah sumber perekonomian.

tenun pringgasela

Mewarnai benang/Syukron

Tenun Pringgasela yang sudah ditetapkan oleh pemerintah daerah sebagai salah satu seragam dinas PNS di Lombok Timur ini memiliki kekhasan dari segi desain dan motif.

Beberapa motif yang menjadi favorit antara lain Ragi Sari Menanti dan Pucuk Rebung. Keduanya menggunakan pewarna alami yaitu potongan kasar kayu banten untuk mendapatkan warna merah, kayu nangka untuk warna kuning, dan dedaunan untuk mendapatkan warna hijau.

tenun pringgasela

Para perajin Pringgasela yang tetap setia menggunakan peralatan tradisional/Syukron

Tenun dibuat melalui proses yang panjang, dari memintal kapas jadi benang, mengurai benang kapas menjadi benang bola yang siap ditenun, kemudian mencelup benang, mengikat benang, baru ditenun. Itulah kenapa harga produk tenun bisa mahal: karena memang dari alat hingga proses pembuatannya masih tradisional dan, yang terpenting, ada cerita-cerita tersendiri di balik motif-motifnya.

“Pada akhirnya Nine Penenun bertujuan untuk melestarikan (tradisi) tenun Pringgasela Selatan, saat ini kami masih terus belajar bagaimana mempromosikan melalui media sosial,” begitu kata Eci.

Percakapan serba tenun

Seperti ibu rumah tangga pada umumnya, sehabis melakukan rutinitas seperti mencuci dan memasak mereka akan berkumpul dan bergosip ria. Bedanya, di sini mereka bercengkerama sambil melakukan aktivitas yang berhubungan dengan menenun. Selain menenun dengan gedogan, ada yang memintal benang, merebus akar atau batang, atau menjemur dedaunan untuk jadi pewarna alami

Perempuan dan tenun memang sudah menjadi kesatuan. Dalam tenun ada kesabaran dan ketekunan para perempuan yang membuatnya. Bagaimana tidak; untuk menyelesaikan selembar kain tenun saja perlu waktu sekitar satu bulan.

tenun pringgasela

Menenun sambil bercengkerama/Syukron

Tenun sudah merasuk dalam budaya Pringgasela. Dulu, sebelum menikah seorang perempuan mesti dipastikan bisa menun.

Apa yang mereka lakukan ini adalah bentuk kemandirian sekaligus penghargaan untuk keluarganya. Tak terkecuali bagi Nurul Aini atau Inak Wan. Perempuan berumur sekitar 50 tahun itu telah menenun semenjak remaja. Baginya menenun bukanlah profesi, bukan pekerjaan, melainkan warisan nenek moyang yang harus dilestarikan.

“Dulu seorang perempuan wajib bisa menenun sebagai syarat menikah, tapi sekarang kewajiban itu sudah bukan lagi hal yang utama,” cerita Inak Wan. Tentu nilai ekonominya juga ada. Kemampuan menenun mendatangkan pemasukan tambahan bagi keluarga.

tenun pringgasela

Para perajin dan hasil karya mereka/Syukron

Tak ada niatan dalam diri Inak Wan untuk meninggalkan tradisi dan berganti profesi. Menurutnya, tenun adalah proses kehidupannya, juga yang menjadi alasan untuk bersosialisasi dengan sekitar.

Tenun seperti permainan berkelompok. Walaupun kegiatan menenun dilakukan sendiri, selalu ada kebersamaan. Menurut Inak Wan masih banyak yang jauh lebih tua darinya dan masih setia menenun. Perubahan zaman memang terasa sekali. Alat yang mereka pakai sudah mulai menua dan usang. Walaupun banyak alat tenun modern, perajin Pringgasela tetap memakai cara lama yang diturunkan nenek moyang mereka sebagai tradisi.

Tradisi mengikat mereka dan menjadi budaya. Budaya menjadi pegangan mereka untuk terus berjalan. Tenun Pringasela lebih daripada selembar kain. Ia warisan budaya.


[1] Tabik berarti “permisi,” jamak dipakai di Indonesia bagian tengah dan timur—ed.

Berimajinasi seperti anak-anak, bersemangat ala pemuda, dan bijaksana layaknya orang tua.

Avatar

Berimajinasi seperti anak-anak, bersemangat ala pemuda, dan bijaksana layaknya orang tua.
Artikel Terkait
Travelog

Wingko Babat, Rumah Singgah, dan Kenangan-kenangan Lain di Lombok

Travelog

Keramaian yang Sama Akan Datang Lagi ke Lapang Merdeka

Travelog

Mengulang Waktu di Timur: Sumba (2)

Travelog

Menelusuri Jalan Kelenteng Bandung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *