Pilihan EditorTravelog

Jalan-jalan Sore bersama Haryono di Taman Nasional Way Kambas

Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita tentang gajah sumatra di media sosial, entah Instagram, Facebook, Twitter, dll.

Ironisnya, kebanyakan berita negatiflah yang beredar. Paling kerap didengar adalah kisah pilu tentang hilangnya habitat gajah akibat perluasan lahan sawit yang berujung pada konflik dengan manusia. Kalau tidak, mungkin soal maraknya perburuan gading yang mengakibatkan banyak gajah sumatra mati dibunuh secara sadis.

(Kamu pasti juga sudah dengar berita tentang seekor anak gajah bernama Erin yang belalainya putus terkena jerat pemburu? Tak masuk akal ada orang yang tega ingin membunuh anak gajah yang masih lucu!)

Ini adalah pukulan telak bagi kita semua, termasuk saya. Bagaimana tidak, gajah sumatra adalah salah satu satwa/fauna yang dilindungi oleh negara, yang berada di bawah ancaman kepunahan sebab populasinya terus menurun setiap tahun.

taman nasional way kambas

Seekor bayi gajah yang lucu/Oky Hertanto

Data lengkapnya barangkali bisa kamu lihat di arsip Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, atau organisasi seperti WWF Indonesia yang menangani masalah-masalah konservasi lingkungan dan satwa di Indonesia.

Maka, beberapa bulan lalu saya memberanikan diri bersama sahabat untuk mengunjungi Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung. Selain penasaran bagaimana aktivitas sehari-hari gajah-gajah sumatra yang hidup di sana, saya juga ingin melihat secara langsung kondisi Erin saat ini.

(Sayang sekali saat tiba di Taman Nasional Way Kambas kami tidak menjumpai Erin di Rumah Sakit Gajah—sepertinya ia sudah dipindahkan ke kandang khusus. Tapi saya juga dapat info bahwa Erin sudah membaik, sudah bisa makan meskipun masih dibantu petugas karena belalainya putus.)

Perjalanan menuju Lampung

Tepat pukul delapan pagi, bus plat merah yang kami tumpangi bergerak meninggalkan Stasiun Gambir menuju Bandar Lampung via Pelabuhan Merak. Kondektur langsung melakukan pengecekan tiket dan memberikan makanan ringan untuk disantap di perjalanan. Sayangnya kami sedang berpuasa saat itu.

Dua jam bis melaju di jalan tol yang kala itu cukup lengang. Setiba di Pelabuhan Merak, Banten, juga tak tampak antrean kendaraan yang akan masuk ke lambung-lambung kapal. Dalam hitungan menit saja bis itu sudah berada dalam ferry. Kami pun ikut turun dari bis, kemudian bergerak menaiki tangga menuju ke dek kapal.

Perjalanan dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni berlangsung sekitar 1,5-2 jam saja, sebab cuaca saat itu cerah sekali dan ombak di laut tidak tinggi.

taman nasional way kambas

Kandang gajah/Oky Hertanto

Sesaat sebelum kapal sandar di Pelabuhan Bakauheni, saya bergerak turun ke lambung kapal untuk kembali ke dalam bis. Begitu ferry sandar, satu per satu kendaraan bergerak ke luar lewat pintu kapal.

Saat ini di Pelabuhan Bakauheni sedang dibangun jalan tol sampai ke Kota Palembang. Sayangnya saat saya ke sana tol itu baru dibuka beberapa ruas saja, belum terlalu panjang. Jika tol itu sudah rampung dan dibuka, tentu akses transportasi darat Bandar Lampung-Palembang akan semakin cepat dan mudah.

Perjalanan darat dari Bakauheni menuju Bandar Lampung sendiri memakan waktu kurang lebih tiga jam. Namun saat itu saya memilih untuk turun di Kalianda untuk menengok keponakan baru. (Sepupu mengabari bahwa istrinya baru saja melahirkan.) Setelah dari Kalianda, keesokan harinya saya melanjutkan kembali perjalanan menuju Bandar Lampung.

Naik Damri dari Rajabasa ke Way Kambas

Untuk ke Way Kambas dengan moda transportasi umum, kamu mesti naik Bis Damri dari Terminal Rajabasa atau Pool Damri yang ada di Bandar Lampung. Bis berangkat pagi hari, yakni sekitar jam 6 pagi. Jadwal pastinya bisa kamu ketahui dengan menelepon pool atau menanyakan langsung pada petugas Damri yang sedang berjaga.

Bis akan mengantarkanmu ke Way Jepara, sekitar tiga jam perjalanan dari Kota Bandar Lampung. Harga tiketnya juga tidak terlalu mahal. Dengan membayar Rp 30 ribu/orang kamu sudah tiba di Pertigaan Tridatu. Tapi jangan lupa bilang ke kondekturnya bahwa kamu mau ke Taman Nasional Way Kambas.

taman nasional way kambas

Haryono/Oky Hertanto

Dari pertigaan itu, Taman Nasional Way Kambas sudah dekat dan bisa dicapai dengan menumpang ojek (Rp 30-50 ribu/orang tergantung kemampuan menawar).

(Sedikit tips: kalau kamu menginap di Way Kambas, jangan lupa minta nomor ponsel supir Damri agar kamu bisa menanyakan waktu keberangkatan bis keesokan hari. Tenang saja, pelayanan mereka ramah. Saya sendiri kaget mendapati bahwa petugas Damri baik-baik semua dan sangat informatif. Lewat WhatsApp kami diinfokan jadwal dan posisi bis sehingga kami tidak ketinggalan bis untuk pulang. Selain nomor Damri, kamu juga sebaiknya meminta nomor ojek.)

Pusat Latihan Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas

Naik ojek sekitar 20 menit dari Pertigaan Tridatu, kami pun tiba di Pusat Latihan Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas.

Setelah lama diam dalam bucket list saya, mimpi untuk ke Taman Nasional Way Kambas akhirnya terwujud tahun ini. Senang sekali rasanya berkesempatan melihat langsung sekolah dan pusat pelatihan gajah terbesar dan tertua di Indonesia. (Saya punya keinginan untuk mengunjungi taman nasional-taman nasional di Indonesia yang ada gajah sumatranya, sebab saya sangat suka dengan salah satu hewan mamalia terbesar di dunia ini.)

taman nasional way kambas

Dua ekor gajah yang baru saja dimandikan oleh mahout/Oky Hertanto

Sesaat setelah selesai berurusan dengan ojek, seekor gajah dewasa—yang belakangan saya tahu diberi nama Haryono—lewat di samping saya. Terang saja saya kaget, tapi senang sekali bisa melihat gajah dari jarak yang lumayan dekat.

Sama seperti di kebun binatang, para raksasa penghuni Way Kambas itu juga punya kandang. Bedanya, kandang mereka bukanlah petak kecil melainkan tanah seluas puluhan hektare tempat mereka bisa leluasa beraktivitas. Gajah-gajah itu jauh dari kesan “terkurung.” Makanan untuk mereka tiap hari disuplai. Kebutuhan air mereka dipenuhi oleh baik air minum khusus gajah bantuan dari pihak luar.

PLG sendiri bisa dikatakan sebagai sekolah para gajah. Sebagian dari “muridnya” adalah gajah-gajah yang diselamatkan dari alam liar, dari mulai yang terkena jerat pemburu, yang tertinggal dari kawanannya, yang pernah terlibat konflik dengan manusia, dll.

Mereka dilatih oleh para pawang profesional (mahout) untuk menjadi gajah atraksi, patroli, latih, dll. Harapannya, keberadaan PLG dapat membantu mengurangi konflik antara gajah dan manusia sekaligus membantu menyelamatkan makhluk berbelalai itu dari kepunahan.

Sekitar 70 gajah jinak dan ratusan gajah liar

Selain 70 ekor gajah jinak, Taman Nasional Way Kambas juga menjadi rumah bagi ratusan gajah liar. Seru sekali melihat aktivitas harian gajah-gajah di PLG Taman Nasional Way Kambas. Pagi hari mereka dimandikan oleh mahout, diberi makan, kemudian diajak keliling/patroli sekitar areal PLG. Tak lupa, gajah-gajah itu juga rutin dilatih.

(Jika ingin bermalam, tersedia penginapan yang letaknya di samping kandang gajah. Dari sana kamu bisa melihat dari dekat aktivitas gajah-gajah jinak mulai dari pagi, siang, sore, hingga malam hari.)

taman nasional way kambas

Ketika diajak oleh mahout untuk ke kandang gajah/Oky Hertanto

Kamu pasti bertanya-tanya begitu menyadari bahwa gajah-gajah di sana kebanyakan dirantai. “Kenapa harus dirantai?” Bukan bermaksud memasung mereka, rantai itu justru untuk menjaga agar gajah-gajah itu tidak keluar dari areal PLG sehingga menjadi target mudah para pemburu. Agar gajah-gajah sumatra itu tak tersiksa karena merasa ruang gerak mereka dibatasi, sengaja yang digunakan adalah rantai panjang.

Untuk mendukung upaya konservasi gajah, di Taman Nasional Way Kambas juga dibangun fasilitas kesehatan, yakni rumah sakit gajah terbesar di Asia Tenggara melalui dana suntikan pemerintah dan swasta, antara lain dari Australian Zoo dan Taman Safari Indonesia.

Tidak hanya itu, demi melindungi gajah Taman Nasional Way Kambas juga membentuk Tim Patroli Gajah. Tim yang diberi nama Elephant Response Unit (ERU) ini terdiri dari para mahout dan gajah-gajah jinak terlatih. Tugas mereka adalah berpatroli menjaga wilayah taman nasional dan meminimalisir terjadinya konflik antara gajah dan manusia (misalnya menggiring gajah-gajah liar yang masuk ke kebun atau permukiman warga).

Jalan-jalan sore bersama Haryono

Sore itu, saya dan teman sedang asyik duduk di pinggir kolam—melihat para gajah dimandikan oleh mahoutnya—ketika tiba-tiba Haryono bersama mahoutnya datang dari arah belakang. Sang mahout kemudian memanggil saya dan menawarkan untuk ikut bersama mereka ke areal belakang PLG untuk mengambil rantai Haryono.

Saya kaget, tapi langsung mengiyakan untuk pergi bersama mereka. Kami berdua pun bergegas naik ke punggung Haryono. Itu pengalaman berharga yang takkan pernah saya lupakan. Kami menyusuri hutan, lalu turun ke rawa-rawa serta padang sabana yang ditumbuhi rumput-rumput gajah.

taman nasional way kambas

Jalan-jalan sore bersama Haryono/Oky Hertanto

Sang mahout yang ramah tanpa diminta bercerita tentang kehidupan gajah-gajah sumatra di Taman Nasional Way Kambas—juga ancaman-ancaman terhadap kelestariannya.

Ia juga becerita bahwa suatu kali ia pernah diberi cek kosong oleh salah seorang konglomerat di Indonesia. Dalam cek kosong itu ia bebas menuliskan nominal rupiah yang diinginkan, asal bersedia memberikan gading gajah utuh kepada sang hartawan.

Mendengar langsung kisah itu dari seorang mahout, saya kaget. Ternyata gading gajah memang begitu diminati sampai-sampai harganya bisa abstrak seperti itu. Katanya, ada anggapan bahwa belum sah menjadi kaya kalau belum punya gading gajah. Keliru—sungguh edan! Gajah diburu dagingnya hanya untuk pajangan di rumah atau hal-hal tak masuk akal lainnya….

Ayo kampanyekan #SaveElephant

Di ujung tulisan ini saya hanya ingin mengingatkan kita semua bahwa gajah layak mendapatkan kehidupan bebas seperti kita, manusia. Jangan rusak dan ambil habitat mereka. Gajah takkan menyerang manusia jika habitatnya tidak dirusak dan diambil.

taman nasional way kambas

Dua anak gajah sumatra sedang bermain/Oky Hertanto

Dan, saya rasa, revisi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya—yang masih mengganjar pelaku perusakan dengan hukuman yang tak seberapa—juga dapat berperan untuk mengeliminasi cerita-cerita sedih seperti derita yang dialami oleh Erin dan Bunta.

Terima kasih Taman Nasional Way Kambas karena telah memberikan pengalaman luar biasa. Saya jadi makin semangat untuk ikut mengampanyekan #SaveElephant di media sosial. Minimal agar masyarakat makin sadar betapa pentingnya menjaga habitat gajah sehingga mereka terhindar dari kepunahan.

Lagian, kalau bukan kita yang menjaga mereka, siapa lagi?


Baca tulisan Oky Hertanto yang lain di sini.

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Menyukai ecotourism, fotografi, menulis, membaca, dan bercerita.

Menyukai ecotourism, fotografi, menulis, membaca, dan bercerita.

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *