TRAVELOG

Tak Ada Perompak dan Pistol Mauser di Bagansiapiapi 

Di Bagansiapiapi, jangankan rampok ataupun rompak, bahkan Anda tidak akan menjumpai lampu merah—sumber segala sumpah serapah. Pun tak akan ada kemacetan ketika pergi dan pulang bekerja. Di sini, hidup begitu santai dan damai. Waktu berjalan lambat, setiap detiknya dinikmati seiring seruputan cangkir kopi porselen bercorak hijau dan mengepulkan uap beraroma harum.

Sambil menuju kedai kopi, saya bidik apa pun yang tertangkap kamera. Tiang kelenteng, burung di kabel, tukang becak, lampion, dan tentu saja manusia. 

Di simpang Kelenteng In Hok Kiong, tempat segala lorong bersimpang, di sebuah kedai seafood, seorang Tionghoa tua melihat ke arah saya. Bibirnya melengkung, menekan kelopak matanya hingga tampak segaris, menambah garis-garis usia yang sudah terpahat di sudut mata dan pipinya. Saya tahu ia tersenyum. Saya membalas senyum kepada apek (ah pek) itu—panggilan kepada lelaki yang lebih tua dalam bahasa Hokkien yang berarti paman. Setelah balas-balasan senyum dan sedikit mengangguk, barulah saya sedikit mengendurkan kewaspadaan.

Bukan tanpa alasan saya bersikap waspada (curiga). Selain karena Suma Oriental, dalam bayangan saya yang sedari kecil menyaksikan RCTI, suasana kota ini mengingatkan saya pada drama seri Shanghai Godfather—yang diputar kurun tahun 90-an. 

Saya tidak begitu ingat ceritanya. Namun, seingat saya, tokoh utamanya bernama Du Guosheng sering terlibat aksi tembak-menembak. Ketika masih kecil, saya tentu menikmati setiap adegan itu, tetapi ketika dewasa, jangankan suara pistol, mendengar petasan saja jantung saya hampir tanggal dari tampuknya.

Rumah Kapiten Oei I Tam, kapitan pertama etnis Tionghoa di Bagansiapiapi (WS Djambak)
Rumah Kapiten Oei I Tam, kapitan pertama etnis Tionghoa di Bagansiapiapi/WS Djambak

Sejarah yang Membekas dan Terkubur di Bagansiapiapi

Alih-alih latar Shanghai Godfather, di sini tidak satu pun saya jumpai laki-laki dengan rambut tersisir rapi dan pistol mauser C96 tersampir pada sabuk di balik tuksedonya. Pun tidak ada perempuan menor bibir merah bergincu mengenakan cheongsam dan rambut disanggul.

Malahan yang lazim dijumpai di sini adalah perempuan sipit berkaus ketat, bercelana pendek, serta laki-laki sipit yang juga mengenakan kaus singlet dan celana pendek. Selain itu, juga ada orang-orang bermata sedikit lebih besar, dan berkulit lebih gelap mengenakan celana pendek, celana panjang, sarung, bahkan juga orang gila yang kerap memelorotkan celana dan terkencing di mana pun ia suka. 

Di sini hanya anak-anak yang saling menodongkan pistol Mauser berbunyi tret-tret-tetetetetet, niu niu niu sambil tertawa riang, berkejaran satu sama lain.

Ternyata, bukan saya saja yang menganggap tempat ini mirip Shanghai. Jauh sebelum itu, pemerintah kolonial Belanda bahkan memberi julukan stereotipikal Een China in Oost Indie (Tiongkok di Hindia Timur) saking jamaknya masyarakat Tionghoa di sini, pada setiap kelas masyarakat.

Untuk memudahkan mereka (Belanda) mengatur etnis ini, maka dibentuklah jabatan kapitan, semacam kepala suku Tionghoa. Di Bagansiapiapi, kapitan pertamanya dijabat oleh Ng (Oey) I Tam. Tak banyak cerita beredar tentangnya, tetapi rumah peninggalannya bercerita lebih nyaring ketimbang cerita itu sendiri. 

Kelenteng In Hok Kiong di jantung Kota Bagansiapiapi (WS Djambak)
Kelenteng In Hok Kiong di jantung Kota Bagansiapiapi/WS Djambak

Di dalam gang sempit, di samping Hotel Lion tempat saya menginap, berdiri rumah panggung kayu dengan ornamen khas Tionghoa. Saat ini kondisinya cukup rapi dan terjaga, meskipun pada pondasi terdapat keretakan di sana-sini. Bukankah sejarah memang selalu retak?

Dulu rumah itu tidak begini. Sebelum ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah, kondisinya lebih memprihatinkan. Suram, sesuram kisah kelam yang coba disurukkan oleh orang-orang tua di sana. 

Pernah suatu ketika, di Bagansiapiapi darah-darah tumpah sangat mudah. Tahun 1946 tepatnya, tak lama sehabis kemerdekaan RI, terjadi kerusuhan rasial yang dipicu oleh pengibaran bendera Kuo Min Tang oleh sebagian etnis Tionghoa. Akibat kejadian itu, kapitan terakhir bernama Lo Chin Po tewas bersamaan dengan berakhirnya era kapitan di Bagansiapiapi.

Namun, saat ini, tidak ada dari mereka, baik Tionghoa maupun Melayu mau membicarakan ini. Sejarah ini sudah dikubur bersama kenangan buruknya.

Saya mengamati sekeliling. Masih di simpang Kelenteng In Hok Kiong, seorang tukang tambal ban sedang bekerja disaksikan oleh beberapa pria tua dengan kulit aneka warna, dan bukaan mata aneka ukuran. Juga di kedai-kedai Tionghoa yang menjual makanan, para wanita berjilbab duduk menantikan pesanannya, sebagian lagi menyantap dengan lahap.

Masyarakat multietnis tengah bercengkerama di samping Kelenteng In Hok Kiong (WS Djambak)
Masyarakat multietnis tengah bercengkerama di samping Kelenteng In Hok Kiong/WS Djambak

Jejak Etnis Tionghoa dan Redupnya Kota Ikan

Namun, yang menjadi pertanyaan besar bagi saya, kapan sebenarnya etnis Tionghoa datang ke sini? Apakah sezaman dengan teori usang proto dan deutromelayu dari Yunnan, atau pada zaman yang lebih baru? 

Melihat pengaruh dan populasinya di ibu kota Kabupaten Rokan Hilir, di Kopitiam, salah satu kedai kopi terlaris di Bagansiapiapi, saya mencari informasi ini. Jemari menggulir atas, bawah, kiri dan kanan, kadang mencubit untuk membesarkan tulisan yang terlihat kabur akibat rabun ayam sialan.

Setelah mengulik menurut beberapa sumber, setidaknya saya mendapat informasi bahwa kedatangan etnis Tionghoa ke kota yang dibangun di muara Sungai Rokan ini berlangsung selama beberapa tahap. Yang pertama sekitar akhir abad XVIII dengan tiga kapal tongkang dari Xiamen, Provinsi Fujian dengan tujuan ke Songkhla, Thailand. 

Nahas, mereka justru dilamun gelombang dan tersesat di tengah lautan luas. Beruntunglah Kie Ong Ya, dewa yang menguasai laut itu menyayangi mereka. Ia memberikan petunjuk melalui kerlip kunang-kunang pada pohon api-api yang memunculkan siluet sebuah bagan (semacam alat tangkap statis menyerupai rumah apung di tengah laut). Persis seperti pola kerja menara suar. Mereka menepi di daratan terdekat dari bagan. 

Di darat, kapal dibakar. Tak ada lagi jalan pulang. Mereka harus bertahan di tempat baru. Mempertaruhkan hidup yang sudah hampir mati. Tekad mereka sudah bulat. Biar larat di rantau, asal jangan binasa di badan.

Saban tahun selama beratus tahun, pada hari ke-16 di bulan kelima menurut kalender Cina, anak-cucu mereka masih membakari kapal replika dari kayu dan kertas, yang oleh orang non-Tionghoa dianggap sebagai event pariwisata yang menghasilkan perputaran uang berjuta-juta.

Etnis Tionghoa berperan dalam perkembangan Bagansiapiapi. Mereka paling menonjol berperan sebagai tauke yang memodali dan membeli hasil laut nelayan. Industri perikanan memang menjadi andalan di sini, hingga entah ide siapa, bisa jadi pejabat, daerah ini digelari “Kota Ikan”, mengingat banyaknya ikan yang bisa ditangkap di sini. Bahkan Belanda mengabarkan pada koran De Indische Mercuur yang terbit sekitar tahun 1928, Bagansiapiapi pernah menjadi penghasil ikan terbesar nomor dua di dunia, setelah Kota Bergen, Norwegia. Tapi benarkah begitu?

Lampion di tengah kota (WS Djambak)
Lampion di tengah kota/WS Djambak

Hasan, seorang nelayan Bagansiapiapi yang kujumpai sebelum ke kedai kopi mengenang sambil berkata lirih, “Itu dulu. Saat ini alat tangkap semakin canggih. Ikan-ikan semakin sedikit.”

Oleh Hasan lagi, bukan sekali-dua kali mereka hampir bunuh-bunuhan dengan perampok ikan dari Tanjungbalai Asahan. Mereka perampok ikan sungguhan yang menangkap ikan menggunakan pukat harimau, bukan perompak yang menjual budak seperti catatan Tomé Pires.

Trawl itu, semua dikeruknya. Air makin keruh, ikan-ikan bahkan anaknya hilang.” Hasan tersenyum, tapi entah kenapa senyumnya kali ini tidak enak dilihat.

Tidak adanya efek jera membuat kapal trawl semakin merajalela, sedangkan nelayan kecil semakin miskin dari hari ke hari. Terimpit kebutuhan ekonomi. 

Tak ada lagi ikan. Ia hanya hidup lewat syair-syair yang didendangkan orang tua ketika selebrasi hari jadi kabupaten dan acara besar lainnya.

Tak ada lagi yang bisa digambarkan tentang Bagansiapiapi selain memiripkannya dengan kampung nelayan di daerah pesisir lainnya, yang oleh Yusmar Yusuf dilagukannya dengan nada falseto; sengau dan sumbang. Bau pesing, berkubang, ledah, dan kusam. Ah, keterlaluan kau, Yusmar.

Diplomasi kopi di warung Kopitiam yang tak pernah sepi (WS Djambak)
Diplomasi kopi di warung Kopitiam yang tak pernah sepi/WS Djambak

Bukan Lautan, Hanya Kopi Susu

Saya teralihkan sejenak dari layar HP. Dari arah dapur Kopitiam, apek asyik menarik saringan kopi tinggi-tinggi. Uapnya terbawa kipas dan hinggap pada epitelium olfaktori saya. Tangan apek demikian lincah beraksi. Kopi mengucur dari saringan ke gelas enamel, dan langkah itu diulanginya beberapa kali lagi. Aroma kopi meruak. Bukan aroma mesiu, sebab sekali lagi, tak ada perompak dan pistol Mauser di sini. 

Kopi susu pesanan saya pun datang bersama roti bakar sarikaya. Setelah mengucapkan terima kasih, saya mengaduk susu kental manis pada cangkir retak seribu itu hingga warnanya menjadi coklat padu. Persis seperti warna air laut di Bagansiapiapi.

Barangkali jika Yok Koeswoyo minum kopi sini, lirik lagu Kolam Susu yang kita kenal selama ini mungkin akan berganti lirik menjadi seperti ini:

Bukan lautan hanya kolam lumpur
Airnya keruh berwarna kopi susu
Tiada rompak tiada rampok kau temui
ikan dan udang menghampiri dirimu (tapi dulu)
Orang bilang Bagansiapiapi Kota Ikan
Tapi nelayan miskin tak ketulungan 

Ah, saya tertawa getir. Kopi sudah tandas. Malam masih panjang, dan semakin ramai di Bagansiapiapi.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

WS Djambak

WS. Djambak saat ini bermukim di Pekanbaru, Riau. Menyukai dunia tulis-menulis; fiksi dan nonfiksi. Beberapa cerpennya pernah terbit di media cetak dan daring. Pernah juga menjuarai lomba kepenulisan cerpen, esai, dan puisi tingkat daerah dan nasional. Tahun 2023 terpilih sebagai Emerging Writer pada Balige Writers Festival. Saat menjabat sebagai peneliti madya di Laboratorium Sastra Mazhabpanam.

WS Djambak

WS. Djambak saat ini bermukim di Pekanbaru, Riau. Menyukai dunia tulis-menulis; fiksi dan nonfiksi. Beberapa cerpennya pernah terbit di media cetak dan daring. Pernah juga menjuarai lomba kepenulisan cerpen, esai, dan puisi tingkat daerah dan nasional. Tahun 2023 terpilih sebagai Emerging Writer pada Balige Writers Festival. Saat menjabat sebagai peneliti madya di Laboratorium Sastra Mazhabpanam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Senandung Bukit Rimbang Bukit Baling