TRAVELOG

Mengantar Janji ke Lembah Mandalawangi Gunung Pangrango

Aku memiliki dua prinsip pendakian. Pertama, tidak mencuci sepatu terlalu bersih, agar selalu ada jejak tanah yang mengingatkan pada pendakian terakhir sekaligus membuat ingin segera kembali berjalan. Kedua, wajib merelakan ketidakpastian hadir saat pendakian, terutama soal waktu kepulangan yang biasanya hampir selalu meleset dari rencana awal. Sebab, gunung (bagiku) punya kehendaknya sendiri. Dua prinsip ini kupegang teguh ketika kembali melangkah ke Gunung Pangrango pada 8-10 Mei 2026, dari rencana semula dua hari saja.

Ada janji yang ingin kutunaikan, yaitu menemani seorang kawan agar ia merasakan bermalam di Lembah Mandalawangi, yang sudah jadi legenda di telinga para pendaki. Bagi sebagian orang, Mandalawangi bukan sekadar tempat membuka tenda. Lembah ini juga kerap lekat dengan mendiang Soe Hok Gie yang mencintai hening pegunungan dan menjadikannya sebagai ruang perenungan dalam hidupnya.

Kami bertiga: Loekman, Maul, dan diriku, berangkat menuju Base Camp Obor Cibodas, Jawa Barat, dengan niat mendaki sesantai mungkin dan sedapatnya. Kami sadar tujuan utama perjalanan kali ini bukanlah puncak, melainkan sebuah tempat untuk melambat sejenak, membuka tenda, menatap langit, menyeruput kopi, dan menunaikan mimpi Loekman.

Selepas salat Jumat dan makan siang, kami mulai melangkah menuju gerbang pendakian Gunung Pangrango via Cibodas tepat pukul 14.30. Kala itu langit sore cukup ramah. Pangrango tampak memeluk dirinya sendiri dalam selimut awan, seolah ingin mengatakan, cuaca di pegunungan tak pernah sepenuhnya bisa ditebak. Dari kejauhan, siluetnya tampak seperti raksasa hijau yang sedang tertidur.

Tampak Gunung Gede-Pangrango dari kejauhan (Rizky Triputra)
Tampak Gunung Gede-Pangrango dari kejauhan/Rizky Triputra

Menembus Rimba menuju Kandang Badak

Pukul 15.00 kami tiba di Telaga Biru. Airnya tidak selalu benar-benar biru. Kadang kehijauan, kadang tampak gelap seperti sedang menyimpan sesuatu di dasarnya. Para pendaki kerap berhenti untuk berfoto dan menghela napas sebentar di sini.

Selepas Telaga Biru, Pangrango mulai menunjukkan jati dirinya. Berbeda dengan gunung yang murah hati memberi panorama terbuka sejak awal, Pangrango justru menyambut dengan tatahan batu, pohon besar, dan udara lembap yang membuat kaus cepat basah oleh keringat.

Tanpa sadar kami berjalan di bawah tegakan rasamala (Altingia excelsa), puspa (Schima wallichii), pasang (Lithocarpus pallidus), hingga huru merang (Neolitsea cassiaefolia). Deretan pepohonan khas pegunungan Jawa yang telah menjaga kelembapan hutan Pangrango selama ratusan tahun. 

Telaga Biru dikelilingi hutan lebat di dalam kawasan TNGGP (Rizky Triputra)
Telaga Biru dikelilingi hutan lebat di dalam kawasan TNGGP/Rizky Triputra

Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) menyimpan sedikitnya 127 jenis pohon pada ketinggian sekitar 1.000–3.000 meter.1 Menariknya, semakin tinggi seseorang mendaki, keragaman jenis pohon perlahan semakin berkurang. Hanya pohon-pohon tertentu yang sanggup bertahan menghadapi suhu dingin, angin pegunungan, dan kabut panjang, sehingga hutan di ketinggian terasa didominasi oleh jenis yang itu-itu saja.

Pukul 16.00 kami tiba di pertigaan Panyangcangan. Sebuah warung kecil berdiri di sana, menawarkan mi bakso hangat dan siomay bagi pendaki yang ingin mengisi perut sejenak. Godaan untuk berhenti tentu ada, tetapi kami memilih tetap menembus sore sebelum gelap turun lebih cepat di Pangrango.

Menjelang pukul 17.00 kami tiba di Rawa Denok 1, lalu setengah jam kemudian sampai di Rawa Denok 2. Di tempat ini jalur sedikit lebih terbuka, tanah lebih lembap, dengan jejak-jejak genangan yang membuatnya terasa seperti ruang basah sepanjang hari.

Kabut melintas pelan. Udara mulai menusuk. Cahaya sore semakin pendek.

Kami berhenti cukup lama di warung kecil dekat jalur. Aku membeli minuman hangat dan pisang goreng. Di gunung, hal-hal kecil seperti itu selalu terasa mewah ketika tubuh kehilangan tenaga. Kami makan pisang dan berbincang ringan hingga melewati magrib pukul 18.10.

  • Warung di Rawa Denok 2 yang menyediakan makanan, minuman, buah, dan gorengan (Rizky Triputra)
  • Shelter Batu Kukus 1 selepas magrib (Rizky Triputra)

Selepas itu perjalanan berubah wajah. Malam datang di Pangrango. Headlamp mulai menyala. Percakapan berkurang dan kami berupaya fokus kembali bergerak agar tubuh tidak menggigil. 

Pukul 18.45 kami tiba di Batu Kukus 1. Sambil beristirahat sejenak kami menyalakan sebatang rokok.

Malam hari di Gunung Pangrango, dunia terasa mengecil hanya sejauh sorot lampu kepala. Selebihnya gelap. Kadang hanya terdengar suara langkah kaki, gesekan carrier pada punggung, napas yang mulai berat, dan gerak dedaunan di antara pepohonan.

Sesekali terdengar suara dari balik semak yang membuat kami refleks menoleh. Entah hewan kecil atau sekadar ranting jatuh. Hutan Pangrango sendiri adalah rumah bagi surili (Presbytis comata), lutung jawa (Trachypithecus auratus), hingga macan tutul jawa (Panthera pardus melas) yang keberadaannya lebih sering terasa hadir tanpa kita sadari.

Kami tiba di Batu Kukus 2 pukul 19.30, lalu Batu Kukus 3 pukul 20.00. Dalam pendakian, diam sering kali menjadi bentuk percakapan yang paling jujur selain karena rasa lelah yang tak tertahankan.

Menembus malam menuju Pos Kandang Batu (Rizky Triputra)
Menembus malam menuju Pos Kandang Batu/Rizky Triputra

Pukul 20.30 kami tiba di Pemandangan Air Panas, lalu pukul 21.00 sampai di Pos Kandang Batu. Sejumlah tenda telah berdiri di area tersebut, sebagian tampak dengan lampu temaram dari dalam flysheet.

Perjalanan berlanjut hingga tiba di Panca Weuleuh pukul 21.45. Suara air jatuh samar terdengar dari kejauhan. Dalam gelap, suara itu seolah mengingatkan, gunung tetap hidup bahkan saat manusia hanya bisa melihat sedikit.

Pukul 22.30 kami tiba di Pos Kandang Badak. Awalnya kami berniat langsung summit menuju Pangrango lalu membuka tenda di Mandalawangi malam itu juga. Namun, gunung selalu mengajarkan satu hal penting: jangan terlalu keras kepala.

Tenaga kami hampir habis. Alih-alih memaksakan ego, kami memilih makan, menyeruput teh hangat di warung, lalu membuka tenda pukul 23.00. Sebuah keputusan terbaik datang dari kesediaan untuk berhenti.

Beristirahat di Kandang Badak sebelum melanjutkan ke puncak Pangrango (Rizky Triputra)
Beristirahat di Kandang Badak sebelum melanjutkan ke puncak Pangrango/Rizky Triputra

Menuntaskan Janji di Mandalawangi

Pagi hari, pukul 05.30, kami bangun tanpa tergesa. Udara Kandang Badak sejuk, tetapi terasa damai. Sesekali terdengar suara burung pegunungan dari kejauhan, sementara beberapa monyet ekor panjang tampak bergerak di antara pepohonan.

Tidak semua orang naik gunung demi puncak. Ada yang mencari sunyi. Ada yang ingin menjauh sebentar dari bising kota. Ada pula yang sekadar ingin menepati janji.

Pukul 10.00 kami mulai berjalan menuju puncak Pangrango. Inilah bagian yang menguji fisik kami dengan masing-masing menggendong carrier 40 liter. Akar pohon, tanjakan panjang, jalur tanah licin, batang tumbang, lorong-lorong sempit, serta elevasi yang terus menanjak membuat langkah memberat. Semakin tinggi, vegetasi mulai berubah. Pohon-pohon besar perlahan menghilang, digantikan tumbuhan yang lebih pendek dan lebih tahan terhadap suhu dingin.

Cantigi gunung (Vaccinium varingiaefolium) mulai tampak di beberapa sisi jalur dengan batang kemerahan khasnya.2 Kawasan menuju puncak Pangrango mulai memasuki transisi menuju zona subalpin—wilayah dengan keragaman pohon yang semakin sedikit akibat suhu rendah, angin kuat, dan kondisi lingkungan yang lebih keras. Jika di bawah hutan ramai oleh aneka vegetasi, semakin tinggi Pangrango justru memperlihatkan bagaimana alam bekerja secara selektif: tidak semua jenis mampu bertahan hidup pada elevasi yang lebih ekstrem.

Pukul 15.30 kami akhirnya tiba di tugu Pangrango dan berfoto singkat. Rasa syukur terlihat dari senyum kecil dan napas pendek, kawanku. Dari tugu, kami melanjutkan ayunan kaki ke arah kiri dengan kontur menurun menuju tujuan utama perjalanan ini.

Pukul 16.00 kami akhirnya tiba di Lembah Mandalawangi. Hamparan rumput terbuka membentang luas. Kabut bergerak pelan. Edelweis jawa (Anaphalis javanica) tumbuh di berbagai sisi seperti penjaga lembah. Bunga yang sering disebut abadi itu sesungguhnya adalah tumbuhan tangguh yang mampu hidup di tanah minim unsur hara, dingin berkepanjangan, dan badai. 

Kami mendirikan tenda untuk yang kedua kalinya. Menjelang sore, pastel hangat baru matang terasa seperti makanan terbaik di dunia. Duduk di depan tenda menghadap barat, kami menikmati cahaya senja sambil membiarkan tubuh perlahan pulih dari perjalanan panjang.

Dua tenda kami berdiri di sisi barat Lembah Mandalawangi (Rizky Triputra)
Dua tenda kami berdiri di sisi barat Lembah Mandalawangi/Rizky Triputra

Malamnya kami berbincang hingga pukul 23.00. Tentang hidup, pekerjaan, dan mimpi-mimpi lainnya. 

“Apakah mungkin kita akan kembali ke Mandalawangi?” tanyaku malam itu di sela dingin dan bara api kecil. Tak ada yang benar-benar menjawab. Barangkali karena kami semua tahu, beberapa tempat tidak pernah selesai dikunjungi.

Saat kami turun gunung keesokan paginya, entah mengapa selalu menyisakan rasa yang aneh: semacam kelegaan, tetapi juga kehilangan kecil. Kabut pagi perlahan menutup Mandalawangi, sementara tenda-tenda satu per satu mulai menghilang dari hamparan rumput.

Terlaksana sudah janji itu. Pada akhirnya mungkin memang begitulah persahabatan bekerja. Kadang kita berjalan jauh bukan untuk diri sendiri, melainkan demi keberhasilan seseorang sampai pada mimpinya.


  1. Andes Hamuraby Rozak, Sri Astutik, Zaenal Mutaqien, Didik Widyatmoko, dan Endah Sulistyawati, “Kekayaan Jenis Pohon di Hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat”, Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 13(1), 1–14. https://ejournal.aptklhi.org/index.php/JPHKA/article/view/704/306. ↩︎
  2. Plantamor. (n.d.). Cantigi gunung (Vaccinium varingiifolium), https://plantamor.com/species/profile/vaccinium/varingiifolium. ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rizky Triputra

Rizky Triputra sering menulis dari perjalanan dan perjumpaan kecil di jalan. Sesekali mendaki gunung, lebih sering belajar menunggu. Bermukim di Indonesia, tetapi pikirannya kerap tersesat di antara hutan, kopi, dan pertanyaan yang tidak minta segera dijawab.

Rizky Triputra

Rizky Triputra sering menulis dari perjalanan dan perjumpaan kecil di jalan. Sesekali mendaki gunung, lebih sering belajar menunggu. Bermukim di Indonesia, tetapi pikirannya kerap tersesat di antara hutan, kopi, dan pertanyaan yang tidak minta segera dijawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menapaki Puncak Sunyi Pancawangi Gunung Luhur