TRAVELOG

“Hiking” ke Ciremai Linggasana via Desa Linggamekar

Alun-alun Cilimus kembali menjadi titik awal langkah kaki saya menuju Gunung Ciremai, Ahad (24/5/2026). Kali ini ditemani salah satu anak kembar saya, Rean Carstensz Langie (15).

Tadinya kami berencana muncak lewat jalur Linggasana, tapi urung. Berganti jalan pagi (hiking) ke sana, melintasi perdesaan. Sama seperti bulan lalu, saat membuat tulisan Menyusuri Jalan Raya Cilimus hingga Pos Cibunar Gunung Ciremai, saya parkir motor di halaman Masjid Agung Cilimus.

Saya terkesan ketika turun dari Cibunar, membelah permukiman di Desa Linggamekar, lalu tiba di area terbuka dengan persawahan luas. Jalan menurun curam, posisi saya membelakangi Ciremai. Waktu itu mau azan Zuhur. Keindahan Ciremai tertutupi gumpalan awan.

Musala di permukiman Desa Cilimus (Mochamad Rona Anggie)
Musala di permukiman Desa Cilimus/Mochamad Rona Anggie

Saya pikir kalau bisa menjajal rute ini lebih pagi, pasti keren. Inilah target petualangan kemarin. Tiba di Cilimus pukul 06.45 WIB, Ciremai bak gadis ayu baru mandi. Berseri dalam naungan langit biru. Tak akan berkedip, siapa menatapnya. Subhanallah

Jika sebelumnya saya sarapan di amfiteater alun-alun, kemarin sudah di rumah. Jadi begitu datang, bersiap memulai penjelajahan desa ke desa. Saya pakai kaus merah TelusuRI dan topi rimbanya. Rean mengenakan rompi, menyandang daypack berisi perbekalan air minum, pakaian ganti, dan jas hujan.

Kami melangkah mantap. Melewati rumah penduduk Desa Cilimus. Huniannya bagus-bagus. Halamannya luas. Bisa ditebak, karena dekat pasar, sebagian warga yang sukses berprofesi pedagang. Lainnya pegawai negeri atau merantau ke ibu kota.

Persawahan dan penginapan di jalur wisata Linggamekar/Mochamad Rona Anggie

Padi Membentang

Mentari hangat menemani. Kami antusias melangkah. Keringat bercucuran. Jalan beraspal menikung ke barat dan menanjak. Kami lalui gerbang selamat datang Desa Linggamekar. Ketinggian bertambah. Angin berembus sepoi.

Aduhai, baru sesaat menapaki Linggamekar, hamparan padi hijau-kekuningan memukau di sebelah selatan. Saya memotretnya. Tampak di kejauhan, bagian belakang hotel berbintang dengan jendela-jendelanya, serupa rumah merpati. Hotel itu menghadap ruas jalan menuju Gedung Perundingan Linggarjati.

Jalan kian mendaki. Langkah terasa berat. Kami melewati rumah makan dan penginapan model joglo. Turis yang melintas, boleh jadi tertarik. Atau mau ke sebelahnya: tempat nongkrong khas anak muda. Tersedia meja dan kursi panjang. Pemandangan lepas. Bakal seru, kalau datang ramean.

Sarana penunjang ekosistem wisata itu berdiri di sekitar ladang ubi jalar. Ini garis finis rute menanjak sepanjang seratus meter sebelumnya. Atau turunan curam yang saya dapati, saat dari Cibunar di perjalanan lalu.

Aspal mulus melandai. Kami berpapasan dengan ibu dan anaknya yang juga berolahraga. Ciremai menyemangati depan mata. Hari yang indah.

Jalan pagi di Desa Linggamekar (Mochamad Rona Anggie)
Jalan pagi di Desa Linggamekar/Mochamad Rona Anggie

Tiba di Munjul Leutik

Lahan pertanian produktif terhampar di Linggamekar. Berikutnya panorama persawahan membentang di sektor utara. Tepiannya warung kopi dan batagor melambai-lambai. Wisatawan asyik menyesap arabika dan memesan sarapan.

Kami terus berjalan. Pendopo mungil terlihat di kejauhan. Pepohonan rindang mengitarinya. Persis di tengah tikungan berbentuk “S”, ada bukit kecil sebelah lapang bola. Di atas bukit bertengger bangunan yang disebut “munjul leutik”. Ini lokasi terbaik memandang Ciremai dari Linggamekar, seperti tampak di foto sampul.

Wah, senangnya! Tujuan pertama kami tercapai pukul 07.31 WIB. Saya naik ke puncak bukit. Ingin melihat keelokan gunung tertinggi di Jawa Barat sebebasnya.

Siapa saja boleh berlama-lama di munjul leutik. Apalagi kalau bawa camilan, semakin lengkap tamasyanya. Pengendara hilir mudik di jalan bawah. Langit cerah. Lanskap alam tersaji indah.

Usai mendokumentasikan suasana, saya turun ke lapangan bola. Penasaran, kok mistar gawangnya patah. Memang, sudah lama tidak diurus. Tambah miris, “ranjau” kotoran sapi berserakan. Kalau begini, mana betah turis. Sayang sekali.

Lapangan bola bersisian dengan bukit munjul leutik (kanan)/Mochamad Rona Anggie

Tantangan Desa Wisata

Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris Desa (Sekdes) Linggamekar, Yum Rumsiti, membenarkan saat ini kondisi lapangan bola tak terawat. “Karang Taruna belum terjun lagi,” katanya.

Yum menyebutkan aktivitas wisata di desanya berjalan lancar, lantas hancur oleh COVID-19. Imbasnya terasa sampai sekarang, walau pandemi telah berlalu. “Lapangan bola itu tempat kemah pelajar. Termasuk komunitas drone, kerap kumpul,” bebernya.

Penetapan Linggamekar sebagai desa wisata tahun 2018 oleh Pemkab Kuningan, membuat bungah masyarakat. Mereka berlomba menyambut pelancong dengan membuka kedai kopi plus kuliner. “Titik keramaian wisatawan, ya, di munjul leutik,” ujarnya. 

Yum mengungkapkan, Kades Linggamekar Aga Juharaga alias Ehon, sekarang sedang berupaya mengembalikan pamor wilayahnya sebagai destinasi kegiatan alam terbuka. Pihaknya menargetkan bulan Agustus, September, dan Oktober, aktivitas camping bisa aktif lagi. “Kami terapkan tiket masuk bagi yang mau kemah di munjul leutik,” infonya.

Status desa wisata Linggamekar mengundang perhatian Institut Pariwisata Trisakti, Jakarta. Beberapa kali rombongan kampus ternama itu menyambangi Linggamekar. “Beraudiensi dengan perangkat desa,” sahut Yum.

Mereka menekankan agar pengembangan wisata diiringi pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Warga pun membuat aneka panganan khas semisal kue semprong, keripik ubi, tempe, tahu, dan sistik berbahan terigu atau jagung. “Laris buat oleh-oleh,” ucapnya riang.

Sejauh ini, apa ada investor luar melirik potensi bisnis di sana? Yum mengiyakan. Bahkan, bangunan kedai kopi modern yang disiapkannya untuk hari tua, diincar pemodal besar. “Sudah sempat ditawar, tapi tidak saya jual,” tegasnya.

Persimpangan Linggajati-Linggamekar (Mochamad Rona Anggie)
Persimpangan Linggajati dan Linggamekar/Mochamad Rona Anggie

Menuju Linggasana

Mentari semakin terik. Petualangan berlanjut. Kami melintasi Balai Desa Linggamekar. Para lansia enggan ketinggalan. Turut berolahraga pagi. Bahagia jika mereka hidup sehat. Terus menjaga kebugaran di masa sepuh.

Jalan berbelok ke selatan. Sengaja saya tak mengingat rute saat pulang dari Cibunar. Biar saja masuk ke gang-gang. Menembus jalur lainnya. Menyapa penduduk. Bertukar senyum. Wah, hati terasa lapang.

Hingga tiba di pertigaan, saya pilih ke barat. Kian mendekati Ciremai. Jalan menanjak panjang. Jarang kendaraan lewat. Di ujung tikungan, gerbang selamat jalan. Pertanda kami segera meninggalkan Linggamekar.

Jalur itu keluar di persimpangan: ke selatan Gedung Perjanjian Linggarjati, ke utara desa-desa lainnya di lereng Ciremai. Termasuk Setianegara dan Mandirancan. Suatu hari nanti, saya ingin bertualang ke sana.

Jalan menurun, terus mengarah ke pengkolan titik masuk Desa Linggasana. Ada pos ojek, dekat gerbang besarnya. Kami istirahat sejenak. Base camp (BC) Ciremai masih satu kilometer lagi. Semangat!

Saya selalu antusias menyusuri perkampungan di kaki gunung. Melihat langsung keseharian warga. Menyaksikan anak-anak bermain. Sampai di rumah kepala dusun setempat, Kang Dian Rosdiansyah, untuk silaturahmi.

Eh, yang dicari sedang pergi. Anggota keluarganya menyilakan saya lanjut hiking. “Di base camp, bilang sudah ngabarin kepala dusun. Silakan naik, hati-hati,” ucap seorang ibu penuh perhatian.

BC Ciremai via Linggasana (Mochamad Rona Anggie)
BC Ciremai via Linggasana/Mochamad Rona Anggie

Hutan Cirahong

Jalan terus menanjak. BC Linggasana ada di ujung desa. Kami melewati peternakan ayam, kolam ikan, kedai kopi plus serabi, dan hunian dengan pepohonan rindang. Yang membuat iri orang kota seperti kami, selokan depan rumah warga berair jernih dan mengalir deras. Bersumber dari mata air pegunungan.

Pukul 08.30 WIB, kami tiba di pos registrasi. Beberapa mobil parkir. Tapi untuk ukuran BC seluas itu, terhitung sepi. Benar saja, ketika petugas menghampiri dan saya tanya apa ada yang sedang mendaki? “Tidak ada,” jawabnya.

Saya izin mau ke Pos 3. Info darinya, sekitar 90 menit. Kami isi ulang bekal air. Seolah menjadi kebiasaan “wajib”, ingin minum air gunung sepuasnya.

Baru mau jalan, datang rombongan bermotor. Wah, ada yang mau hiking juga. Saya pun mulai menapaki jalur pendakian. Terus menjauh, menembus kelebatan belantara Ciremai. Melewati kebun kopi dan petilasan.

Menjelang Pos 1, kami bertemu petani dan keluarganya dikawal tiga ekor anjing peliharaan. Suara gonggongnya menakuti untuk menjaga jarak. Tahu kegelisahan kami, pemiliknya menyuruh diam. Seketika si jantan hitam lari ke semak. Kami bergegas menyalip mereka.

Tidak ada plang penunjuk Pos 1. Sepertinya di area WC terpal dengan ember penuh air. Pertengahan menuju Pos 2, kami rehat meneguk bekal teh manis. Rean bilang tidak ingin sampai Pos 3. Saya iyakan. Sejak berangkat dari rumah, anak itu memang sedikit flu.

Sepertinya sebentar lagi. Kami teruskan pendakian. Jalur setapak berumput, mengarah ke Pos 2 Cirahong. Plangnya di sekitar tanaman kopi, sekeliling hutan lebat. Kami resapi keheningan rimba. Menenangkan jiwa.

Perjalanan yang mengesankan. Pukul 09.45 WIB, kami turun gunung. Melapor ke BC, lalu bergerak kembali ke titik awal: Masjid Agung Cilimus.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mochamad Rona Anggie

Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.

Mochamad Rona Anggie

Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menyusuri Jalan Raya Cilimus hingga Pos Cibunar Gunung Ciremai