Travelog

Suatu Malam di M Bloc Space

Jalanan Sudirman tampak lengang di Sabtu sore ini. Bekas-bekas pembangunan trotoar belum jadi tampak keluar dari kanan-kiri jalan. Jakarta tak henti-henti membangun, membuat saya yang jarang bertandang selalu dibuat terkagum-kagum dengan staminanya yang masih tetap prima di usia 492.

Tujuan saya adalah ke M Bloc Space. Ada janji dengan beberapa kawan di sana. Sempat saya berpikir itu adalah istilah slang untuk kawasan Blok M. Ternyata saya keliru. Itu memang nama tempat.

Ternyata tidak begitu susah untuk mencarinya. Bermodal Google Maps saja kamu pasti sudah bisa tiba di sana. Lokasinya persis di sisi kiri jalan sebelum Terminal Blok M.

Sekilas tampak deretan bangunan bergaya vintage 1950-an. Rumah-rumah tua itu tampak ramai oleh anak muda, mencolok sekali dari jalan raya, seperti bazar.

Dahulu kawasan ini adalah daerah rumah dinas karyawan Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) yang sudah puluhan tahun tidak digunakan. Kalau dihitung, setidaknya ada 16 petak rumah di lahan seluas 7.000 meter persegi ini. M Bloc Space sendiri baru diresmikan pada 26 September 2019 lalu.

Di tengah deretan rumah terdapat lorong. Ternyata masih ada bangunan lain di bagian dalamnya. Sekumpulan orang sudah di sana. Ternyata sedang berlangsung diskusi “Menulis Tanpa Ide.”

Wow, baru juga datang saya mesti mencicipi menu utama.

Suasana M Bloc Space/Fadwa

Awalnya saya berpikir untuk melihat-lihat etalase di M Bloc Space, tapi acara diskusi ini lebih menarik untuk disimak. Sambil menyelinap di antara kerumunan, saya mencari tempat terbaik untuk duduk di lantai.

Dasarnya saya ini tak pandai menulis. Dan itu alasan saya untuk menyimak. Siapa tahu diskusi ini bisa memberikan solusi bagi saya agar bisa lebih baik dalam menulis.

Sekitar setengah jam menyimak, entah sudah berapa kali saya menguap menangkap kantuk. Bukan karena acaranya tak menarik. Semalam saya memang kurang tidur. Semakin fokus saya menyimak, semakin berat rasanya mata ini.

Ah, merem sebentar aja.

Lama-lama suara dari pemateri diskusi sudah tak terdengar lagi. Saya tertidur di antara kerumunan orang.

Butuh waktu setengah jam bagi saya untuk tersentak bangun. Mata langsung segar, tapi saya mesti menerima tatapan keheranan dari beberapa orang. Tidak terbiasa melihat orang ketiduran rupanya.

Saya melihat ponsel dan membaca beberapa pesan. Ternyata kawan-kawan yang saya tunggu sudah datang. Agenda saya ke sini memang bertemu beberapa teman sekadar mengobrol.

Tempat yang kami tuju adalah Titik Temu Coffee. Mengobrol di ruang terbuka dan ramai memang ide yang buruk. Kami perlu setengah berteriak agar bisa berkomunikasi satu sama lain. Riuhnya orang dan distorsi musik bersaing dengan suara kami.

Di M Bloc Space, saya seperti melihat linimasa Instagram fesyen beredar di mana mana. Orang-orang tak hanya mengenakan kaos dan celana saja. Beragam aksesori, yang mungkin harganya bisa membuat para financial planner bergidik, menempel di mereka.

Saya yang notabene jarang berada di keramaian hanya sanggup duduk di emperan jalan melihat “fashion show” itu sembari menikmati sebotol kunir asem segar.

Makin malam suasana ternyata makin ramai. Musik-musik bervolume keras cukup mengundang orang untuk berkumpul. Saya tak terlalu memperhatikan sebenarnya, tapi lagunya membuat saya tak bisa menghindar untuk tidak melihat. Lagu yang diputar adalah OST anime populer, mulai dari One Piece, Inuyasha, sampai Naruto. Rasanya seperti kembali ke masa kecil berkumpul dan menonton film Minggu pagi.

Setelah letih berteriak-teriak menyanyikan lagu anime, rasanya sudah tak ada motivasi lagi untuk berlama-lama di M Bloc Space. Saya memutuskan untuk pulang.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Berimajinasi seperti anak-anak, bersemangat ala pemuda, dan bijaksana layaknya orang tua.

Avatar

Berimajinasi seperti anak-anak, bersemangat ala pemuda, dan bijaksana layaknya orang tua.
Related posts
Semasa CoronaTravelog

Aku pun Berjalan (2): Antara Raden Saleh Raya dan Kwitang

Semasa CoronaTravelog

Aku pun Berjalan (1): Menelusuri Trotoar Cikini

Travelog

Sisi Utara Pulau Seribu Pura

Travelog

Mencuri Waktu ke Kawah Kelimutu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *